MENIKAH

MENIKAH
S2 - Gosip


__ADS_3

Happy reading 😊


***


Rayyan mengerjapkan matanya dengan perlahan. Sepertinya matahari telah terbit dan sinarnya masuk melalui sela-sela gordin yang menutup jendela besar tempatnya menginap. Tidak seperti biasanya, Rayyan yang biasanya akan langsung beranjak dari tempat tidurnya dan membersihkan diri, sejak menikah Rayyan justru betah untuk berlama-lama ditempat tidur.


Memandangi wajah Zahra yang terlihat damai dalam tidurnya, Rayyan tak kuasa untuk menahan senyuman disudut bibirnya. Pertemuannya dengan Zahra terjadi begitu cepat. Ia bahkan tidak menduga jika dirinya akan menikah secepat ini, disaat dirinya berandai akan menikah sama seperti papanya dulu.


Bertemu dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama baru kali ini dirasakan oleh Rayyan. Dan tentu saja ia tak mau melepaskannya begitu Zahra. Mungkin memang keputusannya untuk menikah ini terlalu cepat, tapi setiap hari berada di dekat Zahra membuatnya yakin bahwa ia tak akan pernah menyesali keputusannya ini.


Menarik selimut sebatas leher untuk menutupi bahu telanjang sang istri, tangan Rayyan lalu terulur untuk merapikan anak rambut Zahra yang sedikit menutupi wajahnya, lalu mengusap pipi Zahra dengan perlahan.


"Good morning!" bisik Rayyan saat mendapati Zahra yang baru saja membuka mata dan menatapnya.


Zahra menggeliat, ia masih mencoba mengumpulkan kesadarannya. Sebelum akhirnya mendekatkan tubuhnya pada Rayyan, menyerukkan kepalanya pad adada bidang Rayyan dan memeluknya dengan erat.


"Kenapa? Baru bangun udah langsung ndusel aja." meskipun terkejut, Rayyan tetap merengkuh Zahra dalam pelukannya dan mengusap punggungnya dengan perlahan.


"Aku mimpi buruk."


"Mimpi apaan?" tanya Rayyan penasaran.


"Mimpiin kamu milih pergi sama kak Nadine dan ninggalin aku disini." suara Zahra yang serak khas orang bangun tidur, ditambah dengan suasana hatinya yang sedang sendu, membuat suaranya terdengar menyedihkan sekali.


Rayyan malah terkekeh mendengar penuturan Zahra barusan. Padahal tadi ia melihat wajah tidur istrinya yang begitu damai, tapi siapa sangka Zahra justru malah sedang bermimpi buruk.


"Makanya, kalo mau tidur itu berdoa." Rayyan mengeratkan pelukannya sambil mengecup puncak kepala Zahra. "Mimpi itu hanya bunga tidur, sayang. Bisa jadi apa yang muncul dalam mimpi kamu adalah sesuatu yang sedang mengganggu pikiran kamu."


Rayyan melonggarkan pelukannya untuk dapat menatap wajah Zahra. "Kamu... masih mikirin soal dia?"

__ADS_1


Zahra memalingkan pandangannya dari Rayyan dan kembali menundukkan kepalanya. "Masihlah. Tau sendiri kan dia masih aja ngejar-ngejar kamu meskipun kamunya udah sah nikah sama aku."


"Hahahahaha... ya itu kan maunya Nadine, mauku kan belum tentu sama dengan dia. Udah deh ya, mulai sekarang enggak usah bahas-bahas soal dia lagi. Hanya ngebahas soal kita dan masa depan kita aja, oke?"


Zahra menganggukkan kepalanya, tapi masih enggan untuk kembali menatap suaminya. Hingga akhirnya Rayyan memegang dagu Zahra untuk mendongakkan kepalanya.


"Sini aku kasih morning kiss dulu biar sebelnya ilang."


"Yakin morning kiss doang?" selidik Zahra yang tidak mempercayai perkataan suaminya barusan.


"Ya enggaklah. Kamu kayak enggak tahu aja suaminya kayak gimana."


Lalu bibir mereka pun bertaut sebelum akhirnya berpindah menuju kebiasaan Rayyan setelah menikah itu. Kebiasaan yang Rayyan sebut sebagai pembangkit tenaga dan menstabilkan mood. Kebiasaan yang Rayyan bilang sebagai olahraga alternatif yang menyenangkan. Kebiasaan yang akan dilakukannya setiap saat ada kesempatan. Kebiasaan yang hanya ia lakukan bersama Zahra, istrinya tercinta.


***


Siang ini Rafa sedang menemani Alita untuk menghadiri sebuah acara di fakultas Alita. Mungkin ini adalah kali pertama Rafa akan datang ke acara fakultas lain tanpa teman-temannya. Biasanya ia akan memilih datang bersama William atau yang lainnya, daripada dengan kekasihnya. Tapi sekarang karena Alita, Rafa merubah kebiasaannya itu.


Rafa menggelengkan kepalanya, lalu menerima uluran minuman itu dan menenggaknya. "Dia bilang mau jemput pacarnya dulu."


Alita mengangguk. Ia tahu sebenarnya Rafa tidak nyaman berada di back stage bersamanya. Selain bukan berasal dari fakultas yang sama dengannya, Rafa juga merasa tidak nyaman selalu diperhatikan oleh mahasiswa lain yang berseliweran disana.


"kamu yakin mau nemenin aku sampai acara selesai? Kamu bisa pulang kok kalo emang William enggak bisa datang kesini, aku tahu kamu bosen berada disini."


Meskipun tidak ada nada pengusiran atau kekecewaan dari perkataan Alita, tapi Rafa tetap tidak akan meninggalkan Alita-nya.


"Enggak apa-apa. Aku cuma enggak terbiasa aja." Raga mengusap rambut Alita dengan lembut.


"Aku ke kamar mandi sebentar ya, gapapa kan?"

__ADS_1


Rafa mengangguk. "Tentu aja enggak apa-apa. Kalo aku ikut kamu ke toilet cewek itu baru apa-apa."


"Bisa aja kamu!" Alita mencubit pipi Rafa dengan gemas, lalu beranjak dari duduknya dan meninggalkan Rafa disana.


Memasuki sebuah bilik toilet, Alita menggelengkan kepalanya saat terdengar suara tertawa yang begitu berisik disebelah-sebelahnya. Nampaknya ada beberapa mahasiswi yang baru saja memakainya.


"Gue enggak nyangka aja Rafa bakal datang kesini. Tadinya gue kira dia nyariin Jihan, taunya pacar barunya kuliah di fakultas sini juga."


Mendengar nama kekasihnya disebut, Alita segera memasang pendengarannya sebaik mungkin.


"Tapi sayang banget hari ini Jihan pas enggak lagi ngampus. Coba aja kalo dia ngampus, pasti waktunya bakal habis buat nguber-uber Rafa hahahaha...."


"Hahahaha... ya jelaslah. Gimana enggak diuber-uber, si Rafa itu cum manfaatin Jihan doang. Setelah udah icip si Jihan, baru deh dia ganti yang lain."


Icip?


Alita mengerutkan keningnya, mencoba mencerna maksud dari perkataan mereka.


"Gue denger mereka sering pacaran di apartemen Jihan, pasti mereka udah ngelakuin banyak hal. Dengan body Jihan yang kayak gitu, enggak mungkin kan si Rafa bisa tahan kalo cuma ciuman doang."


"Yaaa... paling enggak tangannya *****-***** lah ya."


"Hahahaha... enggak mungkinlah. Si Jihan itu tiap pacaran pasti ada tidur barengnya, lo inget kan sama si Ricky anak sastra yang pernah ngepost foto pacaran mereka dulu. Cuma ketutupan selimut putih loh, trus kalo liburan ke pantai kan si Jihan juga pake bikini seksi mulu."


Tidur bareng?


Alita dengan susah payah menelan ludahnya. Meskipun ia telah selesai dengan urusannya, namun ia enggan keluar dari bilik toilet hingga akhirnya suara beberapa mahasiswi itu menghilang.


Alita keluar dari bilik toilet. Entah kenapa dirinya terasa lemas seolah kehilangan kekuatan untuk menopang. Mendengar perkataan tadi, dadanya terasa sesak. Ia tak percaya jika Rafa melakukan hal seperti itu dengan kekasihnya yang terdahulu, sebelum akhirnya Rafa menyatakan cintanya padanya.

__ADS_1


Benarkah Rafa berbuat seperti itu?


__ADS_2