
Happy reading 😊
***
Rayyan dan Zahra telah bersiap untuk jalan-jalan sore. Kembali mengenakan baju dengan warna yang senada, Rayyan dan Zahra melangkah dengan penuh senyuman menuju lift.
"Kalian mau jalan-jalan juga?" suara Nadine yang berada di belakang mereka langsung membuat Rayyan dan Zahra membalikkan menoleh.
Zahra langsung menghela nafasnya. Dengan kehadiran Nadine sekarang ini merupakan pertanda jika acara jalan-jalan mereka berdua akan gagal. Karena Nadine pasti akan mengekori mereka dan membuat dirinya tersisih karena Nadine pasti ingin selalu menempel pada Rayyan.
"Kau mau pergi?" tanya Rayyan.
"Iya, tadi siang aku hanya pergi keluar untuk mencari tempat makan. Terlebih panas juga, ternyata malah sekarang bisa bareng sama kamu. Jadi, mau pergi kemana? Gimana kalo kita barengan? Kan bisa lebih seru."
Rayyan langsung menoleh ke arah Zahra yang telah memasang raut malas itu. "Eee... aku dan Zahra harus ke suatu tempat dulu. Ada... sesuatu yang harus kita ambil disana."
"Kemana? Kalian pesan barang?" Nadine penasaran.
"I-iya, pesanan mama. Mama nitip sesuatu pada Zahra, dan kami... akan mengambilnya sekarang."
"Kita bisa kesana sekarang, ayo... pintu lift udah kebuka." Nadine menarik tangan Rayyan dan langsung membuat Zahra menjadi kesal.
Rayyan segera menarik tangannya dari genggaman Nadine. Sentakan yang cukup keras membuat Nadine terkejut.
"Kenapa? Apa... aku memegang tanganmu terlalu keras, Rayyan?" tanya Nadine.
"Enggak, aku mau ambil hape untuk ngehubungin mama." Rayyan merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya, lalu mengetikkan sebuah pesan untuk Zahra yang berdiri di sebelahnya.
📩 Sayang ❤️
Maaf ya, aku akan berusaha untuk membebaskan diri dari Nadine.
__ADS_1
Pesan itu hanya dibaca oleh Zahra, ia sedang benar-benar kesal bercampur cemburu sekarang. Zahra justru sibuk dengan ponselnya tanpa mempedulikan Rayyan yang menatap ke arahnya.
"Jadi kita mau kemana?" Nadine bertanya saat mereka bertiga keluar dari lift.
"Kita mau kemana, Zah?" Rayyan menoleh pada Zahra yang masih terlihat sangat kesal itu.
"Ikut aja, nanti juga tau." Zahra berjalan lebih dulu menuju mobil yang telah menunggu mereka di depan lobi.
"Kenapa bisa sih kamu pilih PA kayak dia, Rayyan? Dia enggak ada sopan-sopannya sama sekali tau."
Rayyan tidak menggubris, ia buru-buru berjalan mengejar Zahra. Lagian jika Rayyan harus menggubris omongan Nadine, sudah pasti Rayyan akan melampiaskan amarahnya karena Nadine telah mengganggu acara kencannya dan mengatai kekasihnya.
***
Rayyan berjalan bersisihan dengan Zahra. Meskipun Nadine terus mencoba menempel padanya, namun Rayyan seolah tak mempedulikannya. Fokusnya sekarang hanya pada Zahra, ia tidak ingin gadis itu semakin kesal padanya.
Menemani Zahra memilih tas yang tidak tau akan dibeli untuk siapa, Rayyan selalu memberikan komentar pada setiap tas yang diambil oleh Zahra. Hal itu membuat Nadine menjadi kesal.
"Jadi sebenernya barangnya udah dipesen belum sih, Zah? Tadi bilangnya udah dipesen!" Nadine menggerutu dengan kesal.
"Belum. Tante Salma kelupaan, bukan disini tempat yang Beliau pesan tas." Zahra menjawab dengan santai.
"Terus ngapain masih disini?"
"Ya pilih tas-lah, memang apalagi? Kalo kak Nadine bosen, silahkan aja keliling lebih dulu."
Rayyan tersenyum, menatap wajah kekasihnya yang begitu berani menghadapi Nadine.
"Rayyan... temenin aku liat-liat disana dong." Nadine merengek dengan begitu manjanya.
"Ahh, maaf Nadine. Aku harus menemani Zahra. Karena... aku harus membayar belanjaannya kan?"
__ADS_1
"Kasih aja kartunya ke Zahra, dia pasti sering melakukan itu saat kalian pergi keluar kan?"
Rayyan menggelengkan kepalanya. "Aku tertarik melihat benda-benda disini, Nadine. Sorry." ucap Rayyan lalu berjalan menuju ke rak lain tempat Zahra berdiri sekarang.
Nadine benar-benar dibuat kesal, namun ia tak kehilangan akal. Nadine tetap saja mengekori Rayyan, mencoba mencari perhatian pada Rayyan yang terlalu sibuk dengan barang-barang yang Zahra pegang.
"Rayyan... kayaknya ini cocok sama kamu." Nadine membawa sebuah kaos dan langsung menempelkannya pada tubuh Rayyan.
"Ini baju couple loh, lucu kali ya kalo kita pake ini barengan."
"Maaf Nadine, setauku ini baju untuk sepasang kekasih. Sementara kita tidak memiliki hubungan apapun, jadi itu enggak akan pantes kalo kita pake."
Nadine terdiam beberapa saat, ia merasa sakit hati dengan ucapan Rayyan barusan. "Tapi bukankah ini warna kesukaan kamu?" Nadine kembali menempelkan baju itu.pada Rayyan.
"Kak Nadine salah. Pak Rayyan enggak lagi suka warna abu-abu, sekarang warna favoritnya jadi navy."
"Masa sih?" Nadine merasa bingung, namun Rayyan dan Zahra tak ada yang menanggapi.
Rayyan kembali mengekori Zahra yang telah berpindah tempat dengan berjalan begitu cepatnya.
"Sayang...." Rayyan meraih tangan Zahra agar menghentikan langkahnya.
"Mulai besok buang semua baju yang warna abu-abu, aku enggak mau lagi kamu pake baju atau apapun warna abu-abu gitu."
Rayyan mengangguk dengan cepat. "Weekend ini temenin aku belanja ya. Sekalian kita kencan, oke?"
"Kamar kamu juga cat dan semua barangnya yang abu-abu diganti."
"Iya, sayang. Nanti aku rombak ulang deh ya. Tapi jangan ngambek lagi dong."
Zahra memandangi wajah Rayyan, lalu mengangguk perlahan. "Aku mau beli tas anyam dulu kembaran sama Eowyn, enggak apa-apa kan?"
__ADS_1
Rayyan kembali menganggukkan kepalanya. "Iya, aku temenin kamu terus pokoknya. Ayo, kita liat disebelah sana. Biarin aja Nadine masih sibuk disana."
Rayyan menggandeng tangan Zahra, menjauh dari pertokoan tempat Nadine masih sibuk melihat-lihat aksesoris.