
Happy reading 😊
***
Lebaran memang identik dengan makanan bersantan, dan Salma tak bisa lepas dari makanan itu. Ditambah lagi dengan nafsu makannya yang memang meningkat, membuatnya semakin tidak dapat menahan godaan itu.
Hari ini sudah H+5 lebaran, dan usia kehamilan Salma telah melebihi HPL. Salma menjadi lebih meningkatkan keawasannya dalam pergerakan janinnya. Hingga akhirnya hari ini, tepat hari pertama sang dokter kembali praktik setelah cuti lebaran, Salma memaksa Adit untuk segera pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan.
"Jadi ini udah lebih lima hari dari HPL ya?" tanya dokter Vania.
"Iya dok, apakah wajar? Soalnya sampai sekarang saya belum dapet tanda-tanda cinta itu" jawab Salma.
"Pergerakan janinnya?"
"Hmm... menurut saya enggak seaktif biasanya sih dok, saya jadi takut karena kan ini udah lewat HPL"
"Yaudah, kita periksa dulu ya. Kalo ketubannya masih oke, saya saranin untuk sabar dan nunggu dulu. Tapi kalo udah enggak, bagaimanapun ini udah lewat HPL, jadi enggak ada salahnya opsi c-section harus kita ambil"
Salma segera membaringkan tubuhnya dan dokter Vania bersiap untuk melakukan pemeriksaan USGnya.
"Ada kayak rembes ga di celana?" tanya dokter Vania dan dijawab gelengan kepala oleh Salma.
"Ini jumlah ketubannya udah berkurang, saya takutnya itu keminum baby-nya karena enggak ada rembes. Jadi saran saya, c-section aja" ucap dokter Vania sambil meminta perawat untuk membersihkan gel diperut Salma. "Saya ga mau nunggu lama-lama, daripada nanti kenapa-napa. Lebih cepat lebih baik. Saya juga enggak sarankan untuk induksi, karena kondisi ketuban yang seperti itu pasti akan ngaruh"
Salma terdiam, Adit pun tak bisa berkata banyak. Tangannya terulur untuk menggenggam tangan Salma. "It's oke, Sal. Ini yang terbaik untuk keselamatanmu dan anak kita"
Salma menatap Adit, matanya mulai berkaca-kaca. Nafasnya juga terlihat memburu, seperti ingin menangis dengan kencangnya.
"Kalo untuk c-section, bisa kita mulai observasinya mulai dari sekarang dok?" tanya Adit.
"Bisa, saya akan bantu. Setelah ini bu Salma bisa segera masuk ruangan. Tapi jika belum siap, kita bisa atur untuk besok pagi"
__ADS_1
"Gimana?" tanya Adit pada Salma.
"Ngabarin mama papa dulu, mas. Perlengkapan baby-nya kan juga masih di rumah"
"Iya, nanti biar Asep sama bu Sari yang bawa kesini"
Keputusan c-section akhirnya diambil oleh Adit dan Salma. Meskipun Salma merasa kecewa karena tidak memiliki kesempatan untuk melahirkan secara normal, tapi ia harus bisa menerimanya. Ini untuk keselamatannya dan sang buah hati yang telah lama mereka nantikan.
Salma telah berada di ruang inapnya, c-section akan dilakukan besok siang. Adit tak mau beranjak meninggalkan Salma, ia akan selalu berada disampingnya. Memberikan dukungan semangat pada istrinya. Beberapa waktu yang lalu bu Sari dan Asep baru saja datang mengantarkan tas bayi dan keperluan lainnya, kemudian disusul oleh kedua orangtua mereka sedang juga terburu-buru untuk segera menyusul ke rumah sakit. Sepertinya malam ini ruang inap itu akan ramai penghuni.
"Mama papa pulang aja, tidur di rumah. Besok pagi baru kesini, operasi Salma kan mulai jam sebelas" ucap Adit.
"Nanti kalo kalian butuh apa-apa gimana?" ucap mama Tari.
"Kan ada perawat, ma. Salma juga masih bisa jalan gini kan, Salma ga lagi sakit ma hehehehe"
"Beneran nih kita tinggal gapapa?" tanya mama Mei.
Salma mengangguk. Lalu mengusap punggung tangan Adit yang merangkul bahunya.
Setelah tawar menawar yang cukup alot, akhirnya kedua orangtua mereka pulang ke rumah masing-masing.
"Kamu kenapa?" tanya Adit yang melihat Salma melamun, menatap TV dengan pandangan yang kosong.
"Aku caesar gapapa kan mas?" tanya Salma lirih.
"Emang aku pernah maksa kamu untuk lahiran normal?" Adit berpindah duduk dipinggir ranjang. "Aku ga peduli kamu mau lahiran normal atau caesar. Bagiku keselamatan kalian itu yang paling penting"
"Tapi banyak yang bilang kalo lahiran caesar itu bukan ibu yang sesungguhnya, mas. Karena ga ngerasain gimana sakitnya melahirkan secara normal"
"Lalu apa mereka pikir perutmu yang dibuka paksa itu enggak sakit setelah biusnya hilang?"
__ADS_1
Salma terdiam, kepalanya menunduk dan air matanya mulai bercucuran.
"Sayang... perjuangan seorang ibu itu bukan hanya saat melahirkan saja. Kalo menjadi ibu yang sesungguhnya itu hanya karena bisa melahirkan secara normal, apa mereka yang membuang anaknya setelah anaknya lahir itu pantas disebut ibu? Mereka bahkan dengan mudahnya melahirkan disembarang tempat, dan bahkan tanpa bantuan petugas medis sama sekali"
Adit mengangkat dagu Salma dan mengusap bekas air mata Salma dengan ibu jarinya. "Menjadi ibu yang sesungguhnya adalah mereka yang berjuang selama hamil, melahirkan dan membesarkan anaknya dengan sepenuh hati. Mama sering bilang kan kalo perjuangan ngerawat itu ga gampang?"
Salma mengangguk, isak tangisnya belum juga mau berhenti. Entah karena keputusan harus melakukan c-section atau karena penjelasan Adit barusan.
"Kamu akan jadi ibu yang baik bagi anak-anak kita nantinya. Jangan merasa kecewa terhadap diri kamu sendiri karena keputusan yang harus kita ambil sekarang. Kita harus berbahagia, besok siang kita udah bisa lihat anak kita secara langsung. Aku bahkan udah siapin namanya"
"Benaran udah siap, mas? Kok ga pernah ngomong?"
"Kamu bilang namanya terserah aku, jadi besok aja pas anaknya udah lahir, kita udah tau anak kita cewek atau cowok, baru deh aku kasih tau namanya"
"Tapi kalo cewek kasih namanya Eowyn loh ya"
Adit mengangguk. "Iya, Eowyn blablabla Widjaja"
"Blablablanya itu siapa?" Salma mencubit perut Adit.
"Rahasia sayaaaaang hahahaha"
Salma tertawa dan menghapus air mata disudut matanya.
"Jangan sedih lagi ya? Besok kamu udah resmi jadi seorang ibu, harus happy"
Salma mengangguk. "Mas Adit janji loh ya bakal bantuin aku nantinya. Ga cuma begadang, ganti popok, mandiin dan sebagainya. Pelajaran dikelas kehamilan yang ikut aku kemarin masih inget kan?"
"Iya inget, ga tau besok kalo sama anaknya langsung bisa atau enggak hahahahaha.... Tenang aja, akan selalu ada duo mama dan bu Sari yang akan siap sedia ngajarin dan bantuin kita"
Salma mengusap pipi Adit dengan kedua telapak tangannya. "Terimakasih papa udah mau nguatin mama dan bikin mama happy lagi"
__ADS_1
Adit tersenyum, mendengar panggilan 'papa' untuk dirinya sendiri benar-benar membuatnya merasa senang luar biasa. Besok pagi, ia akan resmi menjadi seorang papa. Menjadi lelaki yang akan semakin diandalkan dalam keluarga kecilnya.
"My pleasure, sayang" jawab Adit lalu mengecup kening Salma dan memeluknya.