
Happy reading 😊
***
Boleh jadi ini adalah hari spesial bagi Rayyan, tapi itu tak berlaku untuk semua kondisi. Setelah acara makan malam itu berakhir, kini Rayyan masih merasa kesal dalam perjalanan pulang ke rumah. Niatnya untuk mengantar pulang Zahra dan memberinya hukuman karena telah mengerjainya gagal total. Siapa lagi penyebabnya kalo bukan karena Rafa.
Adik bungsunya yang menyebalkan itu berkata jika Zahra lebih baik pulang bersama keluarganya. Rafa bahkan mengatakan jika mungkin saja abangnya akan mengajak Zahra berhenti ditengah perjalanannya dan menagih kadonya. Diucapkan dengan nada bercanda khas Rafa, kalimat itu sukses memancing gelak tawa yang hadir dalam acara makan malam. Tapi tentu saja Rayyan tidak tertawa, ia justru memaki Rafa dalam hati dan mengatainya sesuka hati.
"Udah sih, Bang. Enggak usah ngambek lagi, masa cowok ngambekan gitu sih?" goda Rafa pada sang abang yang duduk dibangku penumpang disebelahnya.
Karena merasa kesal akibat candaan Rafa tadi, Rayyan melemparkan kunci mobilnya pada Rafa dan memintanya untuk menyetir mobilnya di perjalanan pulang. Sementara mobil Rafa dibawa pulang oleh Sabian.
"Diem lo ah! Cowok kebanyakan ngomong!" geram Rayyan sambil tetap fokus pada ponselnya dan bertukar pesan dengan Zahra.
"Yaelah Bang, gitu aja marahnya enggak kelar-kelar. Besok juga bisa sih, Bang. Makanya buruan dilamar terus nikah aja, biar kalo maj ngapa-ngapain udah bebas."
Rayyan langsung menoleh dan menatap tajam Rafa. "Lo sendiri ngaca sama perkataan lo tadi. Sendirinya gimana kalo pacaran? Sok-sokan nasehatin orang."
"Tapi kan Rafa mainnya alus, Bang. Buktinya sampai sekarang meskipun udah ganti puluhan kali aman-aman aja kan?"
"Maksud lo apaan? Mau gue bilangin Papa?" Rayyan sengaja menyentil telinga Rafa dengan begitu kerasnya.
"Enggak gitu, Bang. Rafa cuma ciuman doang kok. Emangnya abang yang sampai bobok bareng." cibir Rafa.
"Diem lo, Fa! Ngomong lagi gue tampol lo."
"Diihhh, galaknya ngalahin cewek PMS." cibir Rafa tanpa mempedulikan abangnya yang semakin kesal disebelahnya.
__ADS_1
***
Adit dan Salma telah bersiap untuk menghadiri sebuah acara makan malam. Keduanya masih tampak memukau meskipun usia mereka yang tak muda lagi.
"Papa sama Mama mau kemana?" tanya Eowyn.yang sedang tiduran sambil menonton TV di ruang keluarga.
"Ada undangan makan malam, tante Michelle ulang tahun." jawab Salma.
"Aku di rumah sendirian dong?"
"Ya kan ada bibi." jawab Salma dengan santai sambil terfokus pada cermin kecil ditangannya.
"Kalo mau ikut, cepetan ganti baju. Enggak usah dandan terlalu lama, waktunya udah mepet." Adit yang baru saja masuk ke ruang keluarga langsung menawarkan sebuah pilihan pada Eowyn.
"Ikut deh, Pa. Aku ganti baju bentar deh ya." Eowyn buru-buru menuju kamarnya untuk segera bersiap.
Sesuai permintaan papanya, Eowyn tidak membutuhkan waktu yang lama untuk berganti baju dan juga memoles make up. Memakai gaun berwarna hitam yang senada dengan gaun mamanya, Eowyn memilih menggerai rambutnya karena tidak memiliki waktu untuk menata rambutnya.
***
Ini acara ulang tahun mamanya, tidak mungkin kan jika Andrew tidak hadir diacara ini? Terlebih sekarang Andrew telah menyelesaikan kuliahnya, jadi tidak ada alasan untuk Andrew tidak datang.
"Hai, Wyn." sebuah suara terdengar saat Eowyn sedang sibuk memilih hidangan makan malamnya.
Huh, panjang umur sekali. Baru saja Eowyn memikirkan pertemuannya dengan Andrew, dan kini malah Andrew benar menemuinya.
"Sendirian?" tanya Andrew dengan senyuman khasnya.
__ADS_1
"Enggak. Mama sama papa ada disana." Eowyn menunjuk ke arah sebuah meja dimana orangtuanya duduk dan sedang asik bercengkerama dengan tamu lainnya.
"Maksudku, kamu enggak sama pacarmu yang itu? Ahh, Zach ya namanya?"
"Enggak mungkin kan aku ngajak dia kesini?"
"Jadi, aku punya waktu buat ngobol sama kamu?"
Eowyn nampak berpikir sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya. "Hmmm, asal tidak membahas tentang hal-hal yang bersikap pribadi, aku enggak keberatan."
Andrew tersenyum. Eowyn tidak berubah sampai sekarang. Meskipun Eowyn tidak menolak untuk berbicara dengannya, namun Eowyn selalu menjaga jarak. Rayyan benar-benar memperingatkan adiknya dengan sangat baik.
"Padahal... justru hal itu yang ingin aku bicarakan."
Eowyn langsung menggelengkan kepalanya. "Aku enggak bisa. Kalo mau ngobrol, kita bisa bahas hal lainnya. Soal makanan contohnya."
"Oke, soal makanan. Apa kau mau meluangkan satu hari untuk menemaniku?"
Eowyn tersedak. Apa tadi Andrew bilang? Menemaninya seharian? Yang benar saja!
Andrew mengulurkan segelas air putih kepada Eowyn. "Tenanglah, aku enggak bermaksud macam-macam padamu." kini Andrew berganti menyerahkan beberapa lembar tisu pada Eowyn.
"Aku akan membuka sebuah restoran, dan... aku berencana untuk mencicipi beberapa makanan yang akan dijadikan menu andalannya. Aku membutuhkan bantuanmu untuk menilainya. Karena kamu suka makan, pasti kamu akan menyukai ajakanku."
"Hmmm... aku enggak yakin. Mungkin aku akan menanyakannya dulu pada Zach, atau mungkin pada abang."
"Kalo kamu tanya pada Rayyan, dia pasti akan melarangmu. Kamu tau sendiri kan kalo abangmu masih dendam denganku?" Andrew tersenyum tipis. "Coba tanyakan pada Zach, aku pikir dia enggak akan keberatan."
__ADS_1
"Hm. Nanti akan aku kabari. Kamu beritahu aja kapan waktunya. Aku akan ke meja orangtuaku dulu, permisi."
Andrew masih menatap Eowyn hingga gadis itu duduk di sebelah mamanya. Sejujurnya, Andrew merasa menyesal karena dulu sempat mengatakan ancaman yang fatal pada Rayyan. Dan kini, ia menyesalinya. Tidak bisa mendekati Eowyn dan bahkan gadis incarannya itu telah memiliki seorang kekasih.