MENIKAH

MENIKAH
S2 - Kesal


__ADS_3

Happy reading 😊


***


Siang ini, Rayyan dan Zahra menemui mama Salma dan bunda Hetty yang telah menunggu mereka di sebuah butik ternama. Sejak selesai pertunangan, mama Salma menjadi orang yang paling heboh mempersiapkan ini itu dibandingkan dengan Zahra. Maklum, mungkin mama Salma sedang balas dendam karena saat menikah dulu juga mamanya dan mama mertuanya yang menyiapkan segala sesuatunya.


"Duuhhh, kalian lama banget sih? Enggak kasian apa mamanya pada nunggu disini." Mama Salma langsung menggerutu saat Rayyan dan Zahra tiba.


"Maaf ma, tadi rapat sama kliennya sedikit molor." jelas Rayyan sambil mencium punggung tangan mamanya dan juga calon ibu mertuanya. Hal tersebut juga diikuti oleh Zahra.


"Mama udah siapin setelan jas kamu disana." mama Salma menunjuk sebuat fitting room tak jauh dari mereka. "Sana kamu cobain, mama sama bunda Hetty mau bantuin Zahra dulu nyobain bajunya."


Rayyan menganggukkan kepalanya, lalu dengan berat hati melepas Zahra yang digandeng mama dan calon ibu mertuanya ke ruangan lain. Padahal Zahra berada tak jauh darinya, ini masih di tempat yang sama. Namun entah kenapa Rayyan seolah berat berjauhan dengan tunangannya itu. Dasar orang kasmaran!


"Bunda enggak tahu kamu suka atau enggak sama kebaya ini. Tapi ini tadi bunda sama mama Rayyan milihnya bisa barengan gitu. Cantik kan?" jelas bunda Hetty sambil menunjukkan kebaya sabrina berwarna putih dengan detail geometrik dibagian lengannya.


"Kalo mama makin sukanya ada tambahan mutiara diseluruh bagian kebayanya, jadi makin cantik kan kayak kamu?" imbuh mama Salma.


Zahra tersenyum lebar, matanya berbinar menatap kebaya yang berada didepannya. Meskipun itu bukan pilihannya, tapi ia benar-benar menyukainya. Pilihan kedua mamanya ini sungguh luar biasa.


"Ini bagus banget!" ucap Zahra dengan mata yang berkaca-kaca. "Zahra enggak pernah kebayang bakal pakai kebaya secantik ini." kini air mata itu pun keluar dan membasahi pipi Zahra.


Mama Salma dan bunda Hetty lalu mendekat ke arah Zahra dan memeluknya secara bersamaan. Hal itu tentu saja membuat ketiga wanita itu terbawa suasana haru dan saling menitikkan air mata.

__ADS_1


***


Rayyan telah mengganti baju kerjanya dengan setelan yang dipilihkan oleh mama Salma. Warna putih dominan itu benar-benar membuat pesona Rayyan kian terpancar. Ia yang sedang duduk disebuah kursi sambil menunggu calon istrinya berganti baju itu sibuk.dengan ponselnya. Hingga tak mengetahui jika beberapa karyawan butik secara diam-diam mengambil fotonya dan terpesona.


"Zahra udah selesai, ma?" tanya Rayyan sambil mendongakkan kepalanya saat sang mama keluar dari ruang ganti yang dipakai oleh Zahra.


"Udah, sebentar lagi juga keluar. Cepet bangun ddulu mama mau liat ada yang enggak pas atau butuh dibenerin enggak."


Rayyan menurut. Ia segera bangkit dari duduknya masih dengan fokus pada ponsel yang berada ditangannya.


"Putar badan coba, mama mau lihat yang bagian belakang." pinta Salma dan segera dituruti oleh Rayyan.


Mama Salma sibuk mengecek baju yang dikenakan oleh anak sulungnya itu. Tentu ia tidak ingin dihari bersejarah anaknya nanti akan ada kesalahan dari baju yang dikenakan oleh Rayyan.


"Kenapa? Kamu mau pake celana agak kedodoran kayak gini?" tanya mama Salma kebingungan.


"Mama dari tadi ngomong terus sih, Rayyan jadi kurang fokus nih. Masa Rayyan ngetika pesan ke bu Meta ada kata kedodorannya. Kalo ke rekan kerja lainnya kan malu, ma."


"Iihhh... kamu kok jadi nyalahin mama? Harusnya kamu jangan ngurusin hape mulu. Ini tuh persiapan buat nikahan kamu ya! Harusnya kamu yang lebih antusias nyiapin segalanya dibanding mama." sungut mama Salma.


"Ya bantuin dong, ma. Rayyan mana ngerti, lagian mama kenapa enggak pakai WO aja sih? Kan tinggal terima beres."


"Mama masih bisa urus. Lagian daripada mama ngurusin bunga terus ya mending mama yang nyiapin acara nikahan kalian aja."

__ADS_1


"Iya deh, itung-itung buat ganti nikahan mama dulu hehehehehe...."


"Kamu, Rafa sama Papa emang enggak ada bedanya. Seneng banget godain mamanya."


"Ya kan satu pabrik, ma. Cuma beda kemasan aja hehehehe...."


Percakapan mereka terhenti saat Zahra dan bundanya keluar dari ruang ganti. Mata Rayyan membelalak, melihat penampilan calon istrinya itu.


"Kok... kamu pake baju kerja sih, sayang? Kata mama tadi kamu lagi nyobain bajunya."


Zahra menahan tawanya. Dia sudah menduga jika Rayyan pasti akan bereaksi seperti ini. "Iya, emang tadi nyobain di dalam. Udah pas kok."


"T-terus, kenapa dicopot? Aku kan juga pengen lihat." Rayyan memprotes dengan keras.


Mama Salma berdecak kesal, dan dengan segala mencubit lengan Rayyan yang terlihat berlebihan itu.


"Udah, beberapa minggu lagi kan juga bakal lihat pas akad. Kalo kamu udah lihat sekarang, nanti jadi enggak surprise hehehehe...." jawab bunda Hetty dengan sedikit menggoda Rayyan.


"Terus aku ngapain daritadi aku pakai baju ini terus, ma?" kini Rayyan beralih protes ke mamanya. "Setengah jam lebih loh ma aku pakai ginian, gerah tau, ma." sambungnya merajuk pada sang mama.


"Enggak lebay gitu deh, besok kalo pas nikah juga berjam-jam kamu pakai baju begitu. Harus ganti beberapa kali pula." mama Salma merasa benar-benar gemas dengan tingkah Rayyan yang entah kenapa menjadi kekanakan sekarang ini.


"Udah buruan ganti baju, mama mau bilang ke orang butiknya untuk benerin celana kamu. Terus kita makan siang dulu ya, mama sama bunda Hetty udah laper."

__ADS_1


Dengan langkah gontai, Rayyan berjalan menuju ruang ganti yang ia pakai tadi. Padahal tadi ia sudah tidak sabar untuk melihat Zahra dengan kebaya pernikahan mereka. Rayyan bahkan punya keinginan untuk mengabadikan moment fitting baju pernikahan mereka, tapi semuanya gagal.


__ADS_2