MENIKAH

MENIKAH
S2 - Beda


__ADS_3

Happy reading 😊


***


Rayyan dan Zahra telah kembali ke kantor. Keduanya langsung disibukkan untuk mempersiapkan berkas dan segala kebutuhan pertemuan dengan Mr. Kimura sore nanti.


"Bu Meta, ini berkas rapat yang tadi." ucap Zahra sambil mengulurkan sebuah map hitam kepada Meta, sekretaris Rayyan.


Meta menerima uluran map itu, lalu menyuruh Zahra untuk duduk di kursi sebelahnya. Meta mengeluarkan sebuah sandal jepit dari kolong mejanya dan memberikannya pada Zahra.


"Pegel kan seharian mondar-mandir pake heels? Apalagi ngikutin langkah kaki Pak Rayyan yang lebar-lebar." tanya Meta sambil tersenyum. "Ini pertama kalinya aku liat kamu lemes setelah bolak-balik ngurusin kerjaan. Pasti kaki kamu pegel kan?"


Zahra duduk di kursi sebelah Meta sambil menghela nafasnya. "Bukan karena pegel, Bu. Tapi karena Pak Rayyan tuh."


"Kamu capek karena Pak Rayyan?"


Zahra menoleh ke arah Bu Meta yang telah memasang ekspresi penuh tanda tanya itu.


"Ehhh... bukan kayak yang Bu Meta bayangin!" Zahra menjawab sambil mengibaskan kedua pergelangan tangannya ke arah Meta.


"Aku tadi kelepasan, nyindir Pak Rayyan yang enggak pernah masukin jadwal pribadi. Aku bilang Pak Rayyan jomblo. Ehh, malah dianya marah. Kayaknya aku enggak akan dipertahanin diposisi ini." Zahra menundukkan kepalanya, sementara Meta tertawa terbahak-bahak sambil menutup mulutnya dengan tangannya.


"Lagian ya, kamu itu aneh-aneh aja pake nyindir Pak Bos."


"Dia nyindir aku duluan, Bu. Ya aku enggak terimalah."


"Udah, enggak usah terlalu dipikirin." Meta menepuk bahu kanan Zahra. "Mungkin Pak Rayyan cuma nakutin kamu doang. Lagian kerja kamu sebulan ini kan bagus. enggak ngecewain Beliau juga."


"Kalo beneran gimana dong, Bu?" Zahra menampilkan wajah melasnya.


"Yaaaa... mau gimana lagi. Tapi seenggaknya kan kamu punya pengalaman kerja. Siapa tau kalo besok kamu dapet kerjaan sebagai PA lagi, kamu udah ahli dibidangnya."


Zahra mengangguk, lalu tangannya terulur untuk melepas sepatu hak tinggi yang telah ia pakai dari pagi. "Aku pinjem sandalnya dulu ya, Bu."


Meta menganggukkan kepalanya. "Pakai aja, aku udah lama enggak pake itu sandal. Karena sejak habis lahiran kan aku udah jarang pake heels lagi."


Suara telpon masuk dari intercom menghentikan percakapan keduanya, karena Zahra harus segera masuk ke ruangan Rayyan.


Rayyan memperhatikan Zahra yang masuk ke ruangannya tanpa terdengar suara ketukan dari sepatu seperti biasanya. Lalu pandangan Rayyan turun memperhatikan alas kaki yang Zahra kenakan.


"Kakimu sakit?"

__ADS_1


Zahra menunduk memperhatikan kedua kakinya. "Ehhh, enggak Pak. Tadi cuma iseng aja pake sandalnya bu Meta. Saya izin keluar sebentar untuk ganti alas kaki, Pak."


"It's OK, Zah. Saya cuma mau kamu hubungin Pak Rendy aja untuk memastikan acara makan malam besok."


"Oohh, baik Pak." Zahra memutar tubuhnya. Namun setelah berjalan beberapa langkah, tubuhnya kembali berbalik menatap Rayyan.


"Oiya Pak, kalo saya tidak salah, makan malam besok bertepatan dengan hari ulang tahun anak Pak Rendy. Apa... perlu kita membawa hadiah?"


"Menurutmu begitu?"


"Saya... meminta persetujuan Bapak."


"Hmm... kamu atur aja. Jangan terlalu berlebihan, kita baru akan mrmulai kerja sama dengan Beliau. Dan juga... nanti kamu yang menyerahkan hadiahnya. Aku enggak mau terjadi kesalahpahaman jika aku yang memberikannya."


"Baik, Pak. Saya permisi dulu."


🎎


Rafa masih berkutat di depan laptopnya, mengerjakan tugasnya yang menumpuk hari ini. Bahkan sejak selesai makan siang tadi, ia mengabaikan ponselnya yang tergeletak di atas tumpukan map. Hingga akhirnya, dering ponsel yang berulang-ulang memaksanya berhenti mengerjakan tugasnya.


Baby ❤️


Rafa tersenyum, meskipun dalam hatinya ia merasa bersalah telah mengacuhkan kekasihnya sedari siang. Kali ini, ia pasti menelpon karena ingin memarahinya yang tidak membalas pesannya.


"Hm... kamu sibuk ya? Tadi udah makan siang kan?"


Rafa tercengang. Kekasihnya yang satu ini memang berbeda dengan semua mantan kekasihnya yang terdahulu. Bukannya marah karena terabaikan, Alita justru mengkhawatirkan Rafa yang mungkin melupakan makan siangnya karena sibuk bekerja.


"Udah, sayang. Tadi pagi dibawain bekal sam Mama."


"Syukurlah. Dari siang chat aku enggak kamu bales, padahal berapa kali aku nanyain kamu udah makan atau belum."


"Hehehehehe... maaf ya. Aku sibuk banget dari siang, ada kerjaan tambahan yang harus diselesaikan segera. Kata Papa, tugas ini berpengaruh pada penilaian kerjaku."


"Oohhh... yaudah deh, kamu lanjutin dulu kerjanya. Nanti malam aja kalo udah di rumah kita telponan lagi."


Rafa mengangguk, seolah Alita dapat melihatnya yang mengiyakan perkataannya barusan.


"Yaudah, ntar malem aku telpon lagi ya. Nanti kita bahas acara weekend ini kita mau kemana, oke?"


"Oke. Semangat ya kerjanya."

__ADS_1


"Iyaaa... I love you, sayang."


"Hm, I love you too!"


Setelah memutus panggilan telponnya, Rafa kembali berkutat dengan pekerjaannya. Masih tersisa empat puluh menit lagi sebelum jam pulang kerja. Jika ia bisa menyelesaikannya hari ini juga, tentu weekend ini ia dapat bersantai dan menikmati waktu dengan Alita dengan leluasa.


Diraihnya kembali ponselnya yang tergeletak dimeja, lalu Rafa memperhatikan foto yang menjadi wallpaper ponselnya. Foto dirinya bersama Alita yang ia ambil saat keduanya sedang berkencan dengan bermain ice skating bulan lalu. Senyumnya tersungging begitu lebar, sambil jemarinya mengusap layar ponselnya.


"Kenapa enggak dari dulu aja sih aku kenal sama kamu, biar aku enggak ngerasa berengsek banget sekarang karena sering main-main sama anak orang." gumam Rafa dalam hati.


"Rafa!" sebuah panggilan membuat Rafa mengalihkan pandangannya menuju arah pintu ruang kerjanya.


Eowyn berjalan mendekat ke bilik kerjanya dengan tas kerja yang udah tertenteng rapi.


"Belum jam pulang kerja udah mau balik lo?" tanya Rafa begitu Eowyn sampai dimeja kerjanya.


"Siap-siap doang, kan gue mau ke ruangan Papa dulu."


"Terus ngapain lo kesini? Gue masih banyak kerjaan ini, gangguin aja deh."


"Gue mau tanya sesuatu."


"Apaan? Buruan enggak usah basa-basi, ngebuang waktu gue aja." ucap Rafa sambil tetap terfokus pada layar laptopnya.


"Kalo misal Alita mau ke luar kota buat beberapa hari, lo bakal ngapain ke Alita?"


Rafa menatap Eowyn penuh curiga. "Maksudnya?"


"Udah jawab aja, katanya kerjaan lo masih banyak."


Rafa nampak berpikir sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Gue ajakin jalan-jalanlah, terus makan bareng. Ahhh, gue peluk sama cium juga biar gue enggak kangen pas dia tinggal. Ya meskipun tetep bakal kangen sih."


"Eeee... cium ya?"


"Kakak pacaran?" Rafa mendekatkan kursinya pada Eowyn. "Sama siapa?"


"Kepo aja lo!" Eowyn menoyor kening Rafa. "Udah, gue cabut duluan ya. Lo lanjutin aja kerjaan lo."


"Wooo... dasar enggak tau terima kasih." gerutu Rafa sambil mengamati Eowyn yang berjalan meninggalkan ruangannya.

__ADS_1


***


Vote, likes dan comments-nya jangan lupa ya. Authornya udah mulai cerewet ini ehehehehe 😅


__ADS_2