
Happy reading 😊
***
Pagi ini, seperti biasa Zahra datang lebih awal ke kantor. Mengecek beberapa pekerjaan dan jadwal yang akan Rayyan lakukan hari ini, lalu mempersiapkan semua dokumennya sebelum Rayyan datang. Memasuki ruang kerja Rayyan sambil membawa beberapa dokumen ditangannya, entah kenapa membuat Zahra merasa ada sesuatu yang begitu sesak didadanya.
Setelah mencoba menenangkan dirinya, Zahra melangkah mendekati meja kerja Rayyan dan meletakkan dokumennya disana. Sejurus kemudian, matanya terpaku pada dua figura yang berada di meja kerja Rayyan. Figura yang memasang foto Rayyan bersama kedua orangtua dan dua adiknya saat ia diwisuda, lalu satunya foto Rayyan bersama kedua orangtuanya saat Rayyan masih bayi.
Ini bukan pertama kalinya Zahra melangkahkan kakinya di ruangan itu. Namun sejak kejadian dimalam mereka menginap di Bandung mengubah segalanya bagi Zahra. Semuanya terasa berat, bahkan untuk kembali bertemu dengan Rayyan pun dia masih belum siap. Segera setelah segala keresahannya menyingkir, Zahra berjalan keluar dari ruangan itu dan berpapasan dengan Rayyan yang baru saja datang di pintu ruangan.
"S-selamat pagi, Pak." sapa Zahra sambil menggeser tubuhnya, memberikan Rayyan ruang untuk melangkah masuk ke dalam ruangannya.
"Saya sudah menyiapkan semua dokumennya dimeja. Apa bapak ingin minum kopi sekarang?" tanya Zahra sambil mengikuti Rayyan dibelakangnya.
"Tidak. Kau sudah menyiapkan dokumen untuk pertemuan dengan klien siang nanti?" tanya Rayyan sambil menyampirkan jasnya dan duduk dikursinya.
"Akan saya siapkan segera, Pak."
"Kau bisa keluar sekarang, Zah. Aku akan memanggilmu jika memerlukan sesuatu." perkataan itu langsung membuat hati Zahra mencelos dan memandangi Rayyan yang masih sibuk membuka dokumen didepannya.
"Baik, Pak. Saya permisi."
Entah kenapa semua terasa begitu menyesakkan bagi Zahra. Padahal sebelumnya kata-kata yang Rayyan ucapkan terasa begitu biasa saja baginya. Namun sekarang, kalimat itu bagaikan sebuah penolakan untuknya.
Kembali menenggelamkan dirinya pada pekerjaan, Zahra hanya ingin melupakan apa yang terjadi belakangan ini. Ia ingin kembali pada dirinya yang dahulu, sebelum dia melakukan perjalanan kantor untuk pertama kalinya dalam karir bekerjanya.
***
"Halo, kakak cantik.... Halo, bu Meta...." sapa Rafa.
Zahra mendongakkan kepalanya, mengalihkan pandangannya dari layar laptop yang sedari tadi dipandanginya.
"Langsung masuk aja kalo mau ketemu pak Rayyan." ucap Zahra yang kemudian kembali memfokuskan dirinya pada pekerjaan di laptopnya.
"Hahahaha... Kak Zahra mah udah kayak lagi PMS aja. Atau emang lagi PMS?" goda Rafa sambil menundukkan wajahnya agar dapat mengamati wajah Zahra yang tertuju pada layar laptop.
__ADS_1
Belum sempat Zahra mengomel pada Rafa, pintu ruangan Rayyan terbuka dan menampilkan sang pemilik ruangan itu diambang pintu.
"Rafa, cepetan masuk!" panggil Rayyan dengan nada yang tegas.
"Dih, nadanya gitu amat kayak orang cemburu." Rafa menggerutu sambil berjalan menuju ruangan Rayyan.
Setelah masuk ke ruangan Rayyan dan menutup pintunya, Rafa langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Hal itu membuat Rayyan yang sedang mengambil dokumen dimeja kerjanya langsung melirik tajam ke arah adiknya.
"Baca dan pahami." Rayyan melempar map berwarna hitam itu ke sofa tempat Rafa yang sedang merebahkan tubuhnya. "Satu jam lagi kita baru berangkat ke lokasi."
***
Pertemuan klien siang ini berlangsung dengan cepat. Pertemuan guna membahas perihal kelanjutan kerjasama itu berjalan dengan lancar. Rafa yang duduk di jok belakang merengek pada Rayyan agar membelokkan mobilnya ke sebuah tempat makan. Wajar saja Rafa merengek, karena ini sudah lewat jam makan siang.
Rayyan akhirnya menuruti permintaan Rafa dengan berhenti di sebuah restoran cepat saji.
"Gue pesen duluan ya, abang sama kak Zahra duduk dulu ngamanin kursi sana." ucap Rafa yang langsung ngacir menuju meja kasir untuk memesan makanan.
Dan entah kenapa, lagi-lagi Rayyan menuruti perkataan Rafa. Ia dan Zahra duduk di sebuah meja yang dekat dengan playground anak. Sambil menunggu Rafa yang sedang memesan, keduanya justru asik dengan ponsel masing-masing.
Rayyan dan Zahra lalu beradu pandang, namun Zahra dengan cepat memalingkan wajahnya untuk menyimpan ponsel ke dalam tasnya.
"Kamu pesan duluan, Zah. Aku masih harus melapor hasil pertemuan barusan sama papa." kata Rayyan yang diangguki oleh Zahra.
Sesaat setelah Zahra beranjak dari kursinya, Rayyan masih saja berkutat dengan ponselnya. Membuat Rafa begitu gemas dibuatnya.
"Bang, pesen makan sana. Gue bisa amanin kursi ini sendirian." ucapnya sambil menyuap kulit ayam goreng ke dalam mulutnya.
"Bentar." Rayyan menjawab singkat tanpa mengalihkan pandangannya.
"Lapor Papa mah bisa ntar aja, Bang. Ntar di rumah juga ketemu. Lagian juga sekarang mungkin aja Papa lagi makan juga kan, ganggu aja deh Abang."
"Diem lo, Fa! Lo makan aja, enggak usah ngurusin gue." geram Rayyan sambil melotot ke arah Rafa.
Rafa terlihat santai dan asik menikmati makanannya, hingga akhirnya matanya menangkap pemandangan yang membuatnya tersenyum pada Rayyan.
__ADS_1
"Itu temennya kak Zahra ya, Bang? Akrab bener." ucap Rafa yang seketika itu juga membuat Rayyan memalingkan pandangannya menuju tempat Zahra berdiri sekarang.
Nampak Zahra sedang mengobrol dengan seorang laki-laki sambil mengantri memesan makanan. Keduanya terlihat cukup akrab, bahkan terlihat saling tertawa entah apa yang sedang mereka bicarakan.
"Itu kak Lutfi deh kayaknya, yang dulu pernah gue liat pas ketemu sama kak Eowyn sama kak Zahra di kampus."
Rayyan memutar tubuhnya, agar lebih jelas melihat ke arah Zahra yang masih asik mengobrol.
"Kalo enggak salah dulu kak Lutfi itu deketin kak Zahra deh. Gue pernah denger pas mereka berdua lagi sesi curhat di balkon atas." Rafa berucap santai sambil menyuap ayam goreng yang telah dicocol saos cabe ke dalam mulutnya.
"Tapi enggak tau deh gimana kelanjutannya. Atau jangan-jangan mereka masih pedekate ya Bang? Liat aja kak Zahra senyumnya malu-malu gitu ke arah cowoknya."
Mendengar penuturan Rafa, Rayyan semakin memfokuskan pandangannya pada Zahra. Tersenyum malu-malu? Bukannya kalo Zahra tersenyum seperti itu ya? Kenapa Rayyan mendadak lupa bagaimana wajah Zahra tersenyum saat dengannya? Apakah seperti itu juga? Atau berbeda?
"Ehh, tapi seingat gue itu cowok punya pacar deh. Jangan-jangan kak Zahra mau dijadiin pelampiasan tuh, Bang."
Rayyan tanpa sadar mengepalkan telapak tangannya dengan ponsel yang masih dipegangnya.
"Samperin, Bang. Biar itu cowok enggak gangguin kak Zahra lagi. Emang abang ikhlas kak Zahra diambil orang?"
Seperti terhipnotis oleh setiap kata-kata yang diucapkan Rafa barusan, Rayyan langsung berdiri dan berjalan menghampiri Zahra. Sedangkan Rafa, tak kuasa menahan senyumnya sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya.
Sungguh hari ini Rafa bagaikan seorang tukang hipnotis yang handal. Rafa menggelengkan kepalanya mendapati sang abang dengan mudahnya percaya setiap kata yang diucapkannya. Padahal biasanya, Rayyan akan bertindak penuh pertimbangan.
Senyum Rafa semakin mengembang melihat Rayyan yang telah mendekat pada Zahra dan membuat reuni kecil-kecilan itu berakhir seketika. Zahra dan abangnya bahkan sekarang nampak canggung berdiri bersebelahan sambil memesan makanan bersama.
Ia masih tak percaya abangnya percaya pada kata-kata yang ia ucapkan tadi. Padahal, semuanya hanyalah karangannya belaka. Rafa bahkan tak mengenal dan tak pernah bertemu dengan lelaki itu. Tapi tak mengapa, dengan kejadian barusan ia menjadi lebih semangat untuk membantu abangnya yang sepertinya menaruh rasa pada teman kakak perempuannya itu. Apapun akan Rafa lakukan demi mendapatkan hadiah kesepakatannya dengan Eowyn. Bahkan jika nanti berhasil, ia pun juga akan meminta imbalan pada Rayyan hehehehe....
***
Hari ini segini dulu cukup enggak? Hahahaha... tiap hari up 1 episode doang aja sok-sokan tanya cukup atau enggak 😅🙏
Maaf banget belum bisa crazy up karena lagi banyak banget kerjaan di rumah, hari ini aja sehari cuma bisa tidur 2 jam 😢 Gapapa ya, harap maklum. Nanti kalo sempet pasti nulisnya dibanyakin.
Votes, likes sama comments-nya jangan lupa. Kalo votes-nya banyak kayak pas Rayyan cium Zahra kan aku jadi semangat nulis karena sumbangan poin banyak sama rankingnya naik hehehehe....
__ADS_1
Pokoknya terima kasih banyak deh ya udah mau baca 😘😘