MENIKAH

MENIKAH
S2 - Persiapan


__ADS_3

Happy reading 😊


***


Sepeninggal Nadine, Rayyan dan Zahra saling bertatapan. Awalnya karena keterkejutan mereka saat Nadine membanting pintu, tapi sekarang keduanya justru saling melempar senyuman.


"Terima kasih." ucap Zahra dengan pelan.


"Untuk apa?" Rayyan bertanya dengan tangan yang masih mengusap rambut Zahra.


"Karena... telah ngebelain aku dari kak Nadine."


Rayyan tersenyum, ia merasa tidak melakukan apa-apa tapi kekasihnya bmerasa begitu terkesan padanya.


"Kamu tahu kan sekarang kalo aku masih jadi inceran banyak cewek?"


"Banyak cewek? Siapa aja? Aku taunya cuma kak Nadine doang." cibir Zahra sambil memukul bahu Rayyan dengan perlahan.


"Itu yang kamu tahu. Untuk urusan secret admirer kan kamu enggak tahu siapa aja. Jadi, ayo kita nikah aja, Zah. Biar orang-orang yang berniat untuk deketin kamu atau aku bakal mundur."


"Kalo mundur, enggak akan ada pelakor dalam kehidupan rumah tangga."


"Yaaa... itu kan tergantung pada orangnya. Kalo dia ngasih jalan ke pelakornya ya kejadian."


"Terus kamu sendiri gimana?" tanya Zahra sambil merubah posisi duduknya menghadap Rayyan.


"Kamu masih ngeraguin aku? Kamu liat sendiri kan selama ini sikapku ke Nadine gimana? Dia bahkan sampai rela pakai baju seksi gitu sekarang, lebih cantik juga dari waktu SMA dulu. Kalo aku ngasih jalan dengan ngebuka hatiku buat dia, mungkin aku juga udah selingkuh sama dia, Zah. Kayak kucing dikasih ikan mana ada sih Zah yang nolak?"


Namun Zahra tidak merasa senang dengan jawaban Rayyan. Zahra merasa cemburu karena merasa Rayyan memuji fisik Nadine yang mungkin memang melebihi dirinya.


"Iya, aku emang enggak cantik dan seksi kayak kak Nadine. Kamu bisa berpaling ke dia kalo kamu mau." Zahra mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Yeeeee... ngambek." Rayyan mencolek dagu Zahra. "Itu cuma perumpamaan, sayang. Aku enggak akan kayak gitu." Rayyan menarik bahu Zahra agar bersandar padanya.


"Iiiihhhhh... ini kan lagi di kantor!" seru Zahra sambil mendorong tubuh Rayyan, namun Rayyan kembali menarik tubuh Zahra dan mendekapnya.


"Nanti bakal ada muncul gosip lagi. Apalagi kalo wangi parfummu nempel dibajuku, bisa geger ntar."


"Kenapa mikirinnya sejauh itu sih, Zah? Lagian kita juga enggak ngapa-ngapain kan? Atau kita mau ngapa-ngapain aja?" goda Rayyan yang langsung mendapat cubitan diperutnya oleh Zahra.


Keduanya sama-sama terkekeh. Zahra melingkarkan tangannya pada pinggang Rayyan dan menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang Rayyan.


"Jadi gimana, mau kalo kita nikah aja?" tanya Rayyan yang mendapat gelengan kepala dari Zahra.


"K-kenapa?" Rayyan melonggarkan pelukannya agar dapat melihat wajah Zahra yang bersandar didadanya.


Zahra mendongak sambil tersenyum, lalu mengulurkan tangan kirinya untuk membelai pipi Rayyan.


"Aku enggak pernah kepikiran atau kepengen dilamar dengan cara yang romantis atau dengan cincin yang mahal. Tapi aku juga enggak mau dilamar dengan cara kayak gini. Kamu kayak enggak niat mau nikahin aku."


Rayyan terkesiap, matanya mengerjap beberapa kali dengan cepat. Benar juga apa yang dikatakan oleh Zahra. Harusnya momen lamaran berlangsung dengan romantis dan berkesan. Ia justru mengatakan hal itu dengan spontan dan tanpa persiapan apapun. Bahkan cincin pun belum ia beli sama sekali.


Mendengar jawaban Rayyan, Zahra melengkungkan bibirnya. Wajahnya berbinar, dirinya begitu bahagia mendengar Rayyan akan menyiapkan acara lamarannya. Itu berarti Rayyan serius dengan hubungan yang mereka jalani sekarang kan?


***


Rafa duduk dibangku tak jauh dari ruang kuliah Alita. Waktu kuliah Alita akan selesai dalam beberapa menit lagi, dan Rafa tampak masih nyaman menunggu kekasihnya itu meskipun ia telah menunggu disana lebih dari tiga puluh menit yang lalu.


Berpacaran dengan Alita telah mengubah banyak sisi dalam diri Rafa. Dulu, ia tidak akan mau menunggu kekasihnya. Walaupun hanya untuk waktu lima menit. Namun dengan Alita, Rafa bahkan tidak pernah menolak jika harus menunggu dalam waktu yang lama. Rafa memilih untuk menyibukkan diri dengan bermain game diponselnya daripada meladeni para gadis yang berseliweran di depannya dan menggoda.


"Rafa? Ngapain lo disini?" suara seorang gadis membuat Rafa menghentikan aktifitasnya bermain games.


Ada Jihan berdiri di depannya. Jihan adalah salah satu dari sederet mantan pacarnya, yang entah keberapa dan berapa lama mereka menjalin hubungan. Rafa hanya mengingat namanya.

__ADS_1


"Jihan? Gue... gue lagi nungguin pacar."


"Pacar lo kuliah di fakultas ini?" tanya Jihan dan diangguki oleh Rafa.


"Waahhh, gue malah baru tau. Siapa namanya? Kuliah ambil apa?"


Rafa menggelengkan kepalanya. "Lo enggak perlu tau sampai sedetil itu, Han." jawab Rafa sambil tersenyum.


"Terus, mana cewek lo?" tanya Jihan sambil melihat kesekeliling.


"Masih ada kuliah."


"Dan lo nungguin dia disini?" Jihan membelalak, merasa tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Lo... enggak lagi bercanda kan, Fa?"


"Emang... gue keliatan lagi bercanda?" Rafa menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


Jihan terkekeh, dia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum sinis ke arah Rafa.


"Dulu lo nungguin gue selesai nyalon sepuluh menit aja enggak mau, tapi sekarang lo mau nungguin cewek lo selesai kuliah? Gue jadi penasaran kayak gimana sih pacar lo sekarang."


"Itu bukan urusan lo, Han." Rafa lantas melirik jam tangannya. "Gue pergi dulu." ucap Rayyan sambil menenteng tasnya lalu pergi meninggalkan Jihan.


Di depan ruang kelas, Alita yang telah keluar kelas belum lama ini memperhatikan interaksi antara Rafa dan perempuan itu. Tidak ada pergerakan yang mencurigakan dari Rafa, dan hal itu membuat Alita bernafas lega.


"Mantan ya?" sindir Alita saat Rafa mendekat padanya dan Rafa menganggukkan kepalanya.


"Banyak amat, mantannya ada dimana-mana."


"Tapi kan pacarku cuma kamu." jawab Rafa dengan santai sambil menggandeng tangan Alita dan mengecup punggung tangannya. "Mau makan dulu?"


Alita mengangguk. "Liat kamu ngobrol sama cewek tadi bikin aku laper."

__ADS_1


"Hahahaha... cemburu memang menguras energi, sayang."


Ya begitulah Rafa, yang selalu menyikapi segala sesuatu dengan santai.


__ADS_2