MENIKAH

MENIKAH
S2 - Saran


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, Eowyn membantu Mamanya dan Bi Yati untuk membereskan ruang makan. Ini memang telah menjadi kebiasaannya, meskipun terkadang Salma sering menyuruhnya ke kamar untuk beristirahat atau mengerjakan tugas kuliah.


"Papa bilang... tadi kamu jalan berdua sama pimpinan departemen kamu." ucap Salma sambil mengambil piring-piring kotor di meja.


"Cuma ke kafe depan kantor, Ma."


"Papa bilang... dia seusia Rayyan ya?"


Eowyn hanya menjawabnya dengan anggukan. Sesungguhnya, ia ingin sekali membicarakan hal sore tadi pada Salma. Namun, ia kesulitan untuk mengutarakannya. Ketakutannya bermula karena sang Papa mengenal Zach sebagai karyawannya. Ia takut jika curhatannya sampai ke telingan Papanya, maka karir kerja Zach akan terancam.


"Kalo kamu mikir yang enggak-enggak soal Papa, mending kamu segera singkirin pikiran itu."


Eowyn segera menatap Mamanya yang telah berdiri di depannya. Salma tersenyum, lalu mengusap dan merapikan anak rambut Eowyn.


"Kamu udah dewasa, Eowyn. Udah saatnya kamu memiliki seseorang yang akan menjadi teman hidupmu nanti. Mama tetap akan selalu siap untuk menjadi teman curhatmu. Jangan sungkan untuk cerita ke Mama, atau bahkan ke Papa, Rayyan dan Rafa. Oke?"


Eowyn mengangguk, lalu menghambur memeluk tubuh ibunya.


"Makasih ya, Ma. Karena selalu ngertiin aku."


🎎


Eowyn naik ke atas setelah membantu beberes ruang makan. Sesampainya di atas, ia melihat Rayyan yang akan masuk ke kamarnya setelah berjalan dari balkon.


"Abang...." panggil Eowyn.


"Hm?" Rayyan menoleh ke arah Eowyn.


Eowyn mempercepat langkahnya mendekati Rayyan yang telah berdiri di depan pintu sambil memegang handle pintunya.


"Abang... lagi sibuk?"


Rayyan menggelengkan kepalanya. "Kenapa?"


"Boleh aku cerita dan minta saran ke abang?"


Rayyan mengangguk. Ia segera membuka pintu kamarnya dan memberikan kode agar Eowyn masuk terlebih dulu.


Eowyn duduk di pinggir ranjang, sedangkan Rayyan menarik kursi kerjanya mendekat ke adiknya.


"Ada apa?" tanya Rayyan sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Tapi janji... abang jangan marah."


"Soal Andrew lagi?"


Eowyn menggelengkan kepalanya. "Bukan. Tapi cowok lain."


"Kamu pacaran?"


"Belum, Bang. Tapi... tadi dia udah ngomongin perasaannya ke aku."


"Siapa?"


"Pak Zach." jawab Eowyn dengan pelan.

__ADS_1


Rayyan diam sejenak. Ia tampak berpikir dan mengingat nama orang yang baru saja Eowyn sebutkan.


"Zachary? Ketua tim kamu?"


Eowyn mengangguk. Tatapan matanya begitu takut menatap Rayyan.


"Dia... nembak kamu?" tanya Rayyan lagi.


"Iya, Bang. Aku belum jawab, karena... ini dadakan banget. Terlebih, selama ini pak Zach juga biasa aja ke aku. Cuma sering aja ngajak aku meeting di luar sama ngasih kerjaan ini itu."


"Kamu sendiri, gimana perasaannya ke dia?"


"Aku bingung, Bang."


"Bingung kenapa?"


"Disisi lain, aku seneng banget karena Pak Zach ternyata naksir aku. Siapa sih yang enggak seneng ditaksir cowok ganteng gitu. Tapi disisi lain, aku juga takut."


"Takut?"


Eowyn mengangguk. "Takut kalo ntar ada apa-apa sama hubungan kita, karir dia di perusahaan Papa langsung berakhir."


Rayyan tersenyum sinis. "Karirnya pasti berakhir karena dia pasti akan mengundurkan diri. Dia enggak akan punya muka untuk ngadepin Papa."


"Terus aku harus gimana, Bang?"


"Ya kamu ikutin aja apa kata hati kamu. Enggak ada salahnya juga kamu pacaran sama dia." Rayyan berpindah duduk di sebelah Eowyn.


"Dia orang yang baik, dulu abang pernah kerja bareng dia. Tapi status dia magang disitu, kalo abang kan cuma ngikut Papa. Kalo kamu pacaran sama dia, abang seneng karena akan nambah satu orang lagi yang bantu ngejagain kamu."


"Bukan cuma Andrew, Wyn. Tapi cowok lainnya juga. Rafa bilang banyak cowok-cowok di kantor yang mulai ngomongin kamu."


"Ya gitu deh, Bang. Nasib cewek cantik mah dimana-mana diomongin."


Rayyan memutar bola matanya malas. "Kepedean! Zahra di kantorku enggak sepede ini kayak kamu."


"Ya bedalah, Bang. Zahra kan cuek, dia ditaksir banyak cowok juga biasa aja."


Rayyan melirik ke arah Eowyn. "Dia banyak yang naksir?"


Eowyn mengangguk. Lalu mencoba menilai raut wajah abangnya.


"Kenapa? Abang cemburu?"


"Siapa bilang? Aku... cuma heran aja, dia banyak yang naksir tapi kamu kok enggak hahahahaha...."


Abang iiihhh...." Eowyn memukul punggung Rayyan.


"Hahahaha... makanya, kamu terima aja Zachary. Biar kamu ada pengalaman ditaksir cowok, punya pacar juga. Siapa tau nanti nular juga ke Zahra."


"Tapi... apa enggak terlalu cepet, Bang? Aku sama dia kan baru.kenal sebulanan?"


"Kamu kan cuma mau pacaran, bukan mau nikah." Rayyan.mencubit pipi Eowyn dengan gemas.


"Papa sama Mama yang enggak kenal tiba-tiba disuruh nikah aja bisa, apalagi kamu yang cuma mau pacaran. Emang harus kenal berapa lama biar bisa menjalin sebuah hubungan?"

__ADS_1


Eowyn menggelengkan kepalanya.


"Kamu suka kan sama dia? Yaudah, kalian pacaran aja. Syukur-syukur nanti cocok terus nikah."


"Terus... abang gimana?"


"Aku? Emangnya aku kenapa?"


"Abang aja belum ada pacar. Kalo aku terima pak Zach terus kita pacaran dan nikah, aku ngeduluin abang dong?"


Seketika Eowyn langsung mendapat sentilan di dahinya.


"Mikirmu kejauhan! Lagian... abang juga enggak masalah kalo kamu mau nikah duluan."


"Abang harus cepet cari pengganti kak Nadine. Ini udah terlalu lama bang sejak abang putus sama kak Nadine. Kesannya kayak abang enggak bisa move on aja."


"Jadi tujuanmu kesini.ini mau minta saran atau mau nyeramahin?"


"Hahahaha... dua-duanya, Bang. Aku kasian tau sama abang. Masa ganteng-ganteng gini masih jomblo."


"Masalah?"


"Ya masalah! Abang jomblonya udah kelamaan, berguru tuh sama Rafa yang jago ngegaet cewek dalam waktu kilat."


"Ceh! Najis kalo harus minta pendapat dia."


"Jangan gitu, Bang. Nanti kemakan omongan sendiri loh. Abang enggak tau juga kan kalo suatu saat nanti butuh bantuan Rafa buat nanganin cewek."


"Enggak akan! Seleraku sama dia beda. Enggak akan aku minta saran dari dia."


"Hahahahaha... awas ya kalo nanti abang sampai minta saran dari Rafa, aku minta dibayarin jalan-jalan full pokoknya!"


Rayyan hanya menggelengkan kepalanya. "Kalo udah selesai, keluar deh. Abang mau istirahat."


"Yeeee... abang marah ya? Bercanda, Bang."


"Udaaahhh... buruan sana."


"Iyaaaa...." jawab Eowyn yang kemudian memeluk tubuh Rayyan.


"Makasih ya Bang sarannya. Nanti kalo aku jadi pacaran sama pak Zach, abang jangan terlalu khawatir lagi sama aku. Abang juga harus mikirin diri abang sendiri. Abang harus cepet dapat pacar lagi, yang bisa ngertiin abang dan jadi temen hidupnya abang."


"Kamu tadi makan sama apa sih, Wyn? Tadi bilangnya mau cerita dan minta saran ke aku, sekarang malah ganti kamu yang ngasih saran."


"Itu karena aku sayang banget sama abang. Aku pengen liat abang sebahagia dulu pas sama kak Nadine lagi. Enggak harus sama kak Nadine, Bang. Diluar masih banyak cewek yang lebih baik lagi dari kak Nadine."


Rayyan menghela nafasnya, lalu menarik tangan Eowyn yang masih memeluknya.


"Keluar deh, Wyn. Aku pusing denger kamu ngomong mulu dari tadi, udah mirip Mama tau ga? Cerewet suruh nyari pacar mulu."


"Makanya buruan cari biar aku sama Mama enggak cerewet lagi."


Rayyan beranjak dari duduknya, memutari ranjang dan menyingkap selimutnya. Setelah merebahkan dirinya di ranjang, Rayyan segera mematikan lampu dengan remote di atas nakas.


"Kalo keluar jangan lupa tutup lagi pintunya."

__ADS_1


__ADS_2