MENIKAH

MENIKAH
Sunset


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir mereka berada di Lombok. Besok siang, mereka sudah harus kembali ke rumah. Setelah siang tadi berkeliling untuk makan siang di luar dan membeli oleh-oleh, sore ini tibalah waktunya untuk kembali menikmati sunset bersama.


"Rayyan anteng nih mas sama saya dan ibu. Barangkali mas Adit sama mbak Salma mau jalan-jalan atau main air gapapa, Rayyan ditinggal aja disini" ucap Asep sambil tersenyum pada Adit dan Salma.


"Itu yang saya tunggu-tunggu dari tadi, Sep" sahut Adit dengan cepat.


Sejurus kemudian, Salma menyikutkan sikunya ke perut Adit. "Apaan sih mas" gerutunya karena malu.


"Asep udah ngasih lampu hijau, Sal. Itu artinya Asep sama bu Sari ga keberatan kalo kita titipin Rayyan. Lagian juga Rayyan anteng tuh liat, dari tadi mepet Asep mulu. Mana mau sama kita"


"Ya tapi masa mau ninggalin bu Sari sama Asep gitu aja sih, mas? Nanti kalo Rayyan tiba-tiba nyariin aku gimana?"


"Enggak akan. Percaya deh sama aku" jawab Adit sambil berdiri dan mengibaskan pasir yang menempel dicelana pendeknya.


"Udah, mbak Salma tenang aja. Rayyan ga bakal nangis. Ya kan Rayyan?" kata bu Sari lalu menoleh ke arah Rayyan yang sedang asik bermain pasir dengan sebuah mobil-mobilan kecil ditangannya.


"Ayolah, Sal. Ntar keburu mataharinya ngilang, udah ga romantis lagi kalo kita mau jalan di pinggiran pantai" Adit mengulurkan tangannya ke hadapan Salma.


Salma melirik Adit yang terlihat begitu semangat untuk mengajaknya berjalan menikmati matahari terbenam ini. Kemudian pandangannya beralih menatap Rayyan yang terlihat cuek akan keberadaan dirinya dan Adit sedari tadi.


"Nitip Rayyan bentar ya bu... Sep.... Papanya Rayyan lagi agak manja ini" ucap Salma sembari meraih uluran tangan Adit dan beranjak dari duduknya.


"Santai, mbak. Mbak Salma sama mas Adit pacaran dulu aja gih, masih pantes kok" goda bu Sari.


"Udah ada Rayyan gini masa iya disuruh pacaran lagi sih bu?"


"Enggak keliatan, mbak. Lagian kan Rayyan sama kita, mana ada yang tau kalo mbak Salma udah jadi ibu-ibu. Iya kan, mas Adit? Hehehehehe"


"Wooo... jelas dong, mamanya Rayyan mah masih kayak anak gadis baru lulus SMA"


"Kayaknya kalian udah sekongkol kan ini?" selidik Salma. "Ayo buruan mas, sebelum aku berubah pikiran"


"Ya ayok, kan aku nungguin kamu"

__ADS_1


Adit segera menarik tangan Salma yang hendak melambaikan tangannya pada Rayyan.


"Jangan bye-bye ke Rayyan, ntar kita ga jadi pacarannya"


"Cih, sama anak sendiri aja ngiri"


"Halah, kamu juga gitu"


"Udah mas, buruan jalan kalo ga mau Rayyan sadar mau ditinggal papa mamanya pacaran hahahahaha" sela Asep saat suami istri itu akan kembali beradu argumen.


Adit segera mengangguk, lalu menggandeng tangan Salma sambil berjalan menjauh meninggalkan Rayyan bersama bu Sari dan Asep.


Adit dan Salma memang nampak seperti pasangan yang baru saja menikah. Mengenakan pakaian dengan warna yang senada, keduanya berjalan bergandengan dibibir pantai sambil menikmari matahari yang tersisa separuh bagian itu.


"Jangan jauh-jauh, mas. Kita mau jalan sampai mana?" Salma menghentikan langkahnya dan menarik tangan Adit.


"Kamu capek? Mau aku gendong?"


"Ga usah lebay gitu deh, mas. Kita udah jalan lumayan jauh tuh" ucap Salma sambil menunjuk hotel tempat mereka menginap yang terlihat sangat jauh.


Adit menarik tangan Salma, lalu memposisikan dirinya dibelakang tubuh Salma dan memeluknya dari belakang.


"Mas... malu ih"


"Malu sama siapa? Enggak ada yang kenal juga"


"Tapi tetep aja ga seharusnya kita mesra-mesraan disini, mas. Ini tempat umum"


"Kita masih pake baju, sayang. Dan banyak juga pasangan yang kayak kita juga" Adit menengok ke sekeliling. "Tuh liat" sambungnya sambil menunjuk pasangan yang sedang berpelukan juga tak jauh dari mereka.


"Tapi mereka kan bule, mas. Udah biasa mereka kayak gitu di tempat umum kan?"


"Udaahhhh... kamu diem aja, aku cuma mau nikmatin sunsetnya kayak gini" Adit mengeratkan pelukannya pada perut Salma.

__ADS_1


Mereka terdiam beberapa saat, sambil memandangi matahari yang mulai menghilang dengan perlahan.


"Maafin aku, Sal" ucap Adit lirih.


"Untuk?" Salma menoleh menatap Adit yang menopangkan dagunya pada bahu Salma.


"Untuk awal pertemuan kita. Mungkin itu memang bukan pertemuan yang manis, tapi saat itu aku memang menolak perjodohan dengan segala pertimbangan yang aku punya"


Adit menjeda perkatannya. Lalu tangan Salma bergerak untuk mengusap punggung tangan suaminya dengan lembut.


"Aku ga menyangka akan jatuh cinta padamu dengan begitu cepatnya. Padahal waktu itu aku udah mikirin banyak cara untuk ngebuat kamu benci sama aku hingga akhirnya kamu meminta perjodohan itu batal. Salah satunya dengan perjanjian bodoh yang sempet aku ajukan waktu itu"


Salma tersenyum. Entah kenapa suaminya ini tiba-tiba membahas masa lalu.


"Aku paham kok, mas. Perjodohan memang terkesan menakutkan. Memikirkan aku akan melewati pernikahan yang mengikat seumur hidup kita dengan orang yang ga aku kenal, bener-bener ngebuat aku merasa menyesal atas kehidupan yang aku jalani selama itu. Aku merasa ga adil, karena aku bahkan ga dikasih kesempatan untuk memilih pasanganku. Belahan jiwaku. Tapi dengan segala perubahan sikap mas Adit ke aku, aku akhirnya bisa menerima itu semua. Jalan takdirku emang sama mas Adit, dan aku bahagia"


"Kamu bahagia?" Adit mendongakkan wajahnya melirik Salma.


Salma mengangguk. "Sangat bahagia"


Salma melepaskan rengkuhan tangan Adit dan membalikkan badannya berhadapan dengan Adit.


"Aku memiliki suami yang begitu mencintai dan menyayangiku dan keluargaku, bertanggung jawab, dan luar biasa tampan ini" Salma menjepit hidung Adit dengan jarinya.


"Ditambah hadirnya Rayyan ditengah-tengah kita, yang benar-benar membuat hidupku kian sempurna. Cuma ucapan rasa syukur yang sekarang bisa aku lakukan. Bersyukur atas hadirnya kamu dan Rayyan dalam hidupku, aku bener-bener bahagia" sambung Salma yang kemudian mengusap pipi Adit dengan perlahan.


"Ini bagianku, Sal. Harusnya aku yang ngomong kata-kata romantis kayak gitu, terus kamunya klepek-klepek dan terharu. Ini kenapa malah kamu yang ngomong sih" Adit menyandarkan kepalanya pada bahu Salma.


"Hahahahaha... mas Adit udah sering romantis sama aku, sekarang gantian aku dong"


Adit mengangkat kepalanya, mendekatkan tubuhnya lebih dekat lagi pada Salma dan kembali melingkarkan tangannya pada pinggang Salma.


"I will love you more and more each day with every beat of my heart, until the day I die and my hearts stops beating. I love you, Sal"

__ADS_1


Begitulah senja hari itu berakhir. Ucapan kata cinta pada pasangan hingga pertautan bibir yang begitu manis, menjadi penutup hari yang indah itu.


"I'll be with you until the last sunset" bisik Salma disela-sela ciuman mereka.


__ADS_2