MENIKAH

MENIKAH
S2 - Pengamatan


__ADS_3

Happy reading 😊


***


Zahra baru saja keluar dari lift, lalu berlari kecil menuju mobil Rayyan. Baru saja, bosnya itu menelpon jika ia telah menunggu Zahra di parkiran mobil.


"Tadi bilangnya setengah jam. Baru juga lima belas menitan udah ditinggal aja." gerutu Zahra sambil berlari menuju mobil Rayyan.


Nampak Rayyan tengah duduk bersandar di belakang kemudi sambil memainkan ponselnya. Wajahnya terlihat biasa saja, tidak terlihat sedang marah atau kesal karena harus menunggunya di parkiran.


"Maaf, Pak. Sepertinya saya kurang teliti dalam memperkirakan waktu." ucap Zahra sesaat setelah membuka pintu mobil.


Rayyan menengok, lalu mengangguk pelan.


"Enggak, kamu enggak telat kok. Saya aja yang turun lebih dulu karena Papa ada urusan dengan Pak Hendra."


"Tuh kan! Nyebelin deh, jadi ngos-ngosan gini kan gue." Zahra kembali menggerutu dalam hati.


Rayyan menyodorkan sebotol air mineral pada Zahra. "Kamu habis lari kan?"


Zahra mengangguk, lalu mengambil minuman yang disodorkan Rayyan.


"Terima kasih banyak, Pak."


"Gimana Eowyn?"


Zahra menautkan kedua alisnya. "Gimana apanya ya, Pak?"


Rayyan melirik Zahra dengan tatapan kesal. "Lupakan! Saya enggak jadi nanya."


Seketika Zahra tersedak mendengar jawaban Rayyan. Dengan sigap, Rayyan mengulurkan beberapa lembar tisu pada Zahra.


"Kamu kenapa sih? Minum aja bisa sampai kesedak gitu."


"Ya Bapak tuh yang kenapa. Tadi kan tanyanya enggak jelas, giliran saya perjelas malah Bapak bilang enggak jadi nanya."


Rayyan memijat pangkal hidungnya sambil menghela nafas. "Eowyn pasti cerita sama kamu soal Zach kan? Terus tadi dia gimana?"


"Naahhh, gitu dong Pak. Kan jelas tuh arah pembicaraannya. Saya kan bukan cenayang, yang bisa tau maksud Bapak apaan secara detail." Jawab Zahra sambil menutup botol minumannya.


"Eowyn bilang dia malu mau ngomongin soal perasaannya ke Pak Zach. Saya suruh lewat chat aja, ehh dia bilang enggak tau harus nulis apaan. Bener-bener deh itu anak, polosnya kayak kertas HVS baru dicetak."


"Terus, enggak kamu ajarin? Dia enggak ada pengalaman pacaran, Zah. Wajar kalo enggak tau."


"Emang Bapak pikir saya punya segudang pengalaman pacaran kayak Rafa? Saya pun juga sama kayak Eowyn, Pak. Tapi seenggaknya saya enggak seburuk Eowyn hehehehe...."

__ADS_1


"Terus?"


"Apanya yang terus, Pak?"


Rayyan berdecak. "Kamu kalo soal kerjaan aja nyambernya cepet. Giliran aku tanyain soal Eowyn lemot banget."


"Yaelah, Bapak mah nyalahin saya mulu. Padahal kan Bapak yang kebiasaan kalo nanya enggak jelas gitu."


Rayyan menghela nafasnya. Ya, mungkin memang dia yang salah karena terbiasa bertanya tanpa basa-basi.


"Maksud saya, terus tadi kalian ngobrolin apa aja?"


"Sampai disitu doang, Pak. Orang terus Pak Zach dateng, ngasih tau Eowyn kalo dia ada kerjaan yang harus kerjain. Soalnya kerjaan itu mau dibawa Pak Zach ke Bali besok."


"Zach mau bertugas ke luar?"


Zahra mengangguk. "Tadi sih bilangnya gitu, Pak. Eowyn kayaknya tau, cuma dianya aja yang lupa. Tau sendiri kan Pak kalo adik bapak itu gampang lupa."


Rayyan mengangguk. "Jam berapa kita mau ketemu Mr. Kimura?" ucap Rayyan yang kemudian menyalakan mesin mobilnya.


"Sore sih Pak, jam empat."


"Kita makan siang dulu, baru nanti kembali ke kantor."


🎎


"Setelah wisudamu selesai, apa kamu masih mau lanjut bekerja denganku?"


Zahra nampak berpikir. Sesekali matanya melirik ke arah Rayyan yang sedari tadi menatapnya.


"Eowyn bilang... kamu banyak yang naksir. Kenapa tadi kamu bilang kamu sama kayak Eowyn yang belum pernah pacaran?"


Zahra tersenyum. Sesungguhnya ia sedikit kesal terhadap Eowyn, bisa-bisanya dia menceritakan masalah pribadinya kepada kakaknya yang berstatus sebagai bosnya.


"Mana kepikiran, Pak. Dari awal kuliah, yang saya pikirin cuma pengen mandiri, jadi ya saya sibuk kerja part time. Kalo udah gitu, mana ada waktu untuk pacaran."


"Dan sekarang?"


"Sekarang? Hmmm... sama aja kayaknya, Pak. Lagian enggak ada juga cowok yang lagi deket sama saya hahahaha...."


"Kenapa?"


Zahra mengernyitkan dahinya. Ia bertanya-tanya dalam hati, kenapa bosnya ini menjadi ingin tahu sekali tentang kehidupan pribadinya.


Zahra mengendikkan bahunya. "Ya kalo saya tahu penyebab sebenernya kenapa saya masih sendirian, pasti udah saya pecahin dari kemarin-kemarin Pak. Dan sekarang saya pasti udah enggak jomblo lagi."

__ADS_1


Rayyan mengangguk, sambil memperhatikan menu makanan yang disajikan oleh pramusaji.


"Kamu jangan cuma ahli teori dan nasehatin Eowyn, tapi kamu juga harus membuktikannya pada diri kamu sendiri." ucap Rayyan sambil menyendok makanan di depannya.


"Maksud Bapak?"


"Pikirkan juga dirimu baik-baik, kamu pasti juga butuh seseorang yang lebih memperhatikanmu."


Zahra tersenyum sinis. "Bapak sendiri gimana? Bapak juga jangan cuma pinter nasehatin saya atau Eowyn, tapi Bapak juga masih sendiri."


"Kamu mulai sok tau." Rayyan menjawabnya dengan datar sambil tetap terfokus pada makanannya.


"Saya bukannya sok tau, Pak. Saya ngomong seperti itu tadi berdasarkan pengamatan saya."


"Hanya dengan mengamati dan kamu semudah itu menyimpulkan?"


"Saya mengamati jadwal Bapak yang saya susun sebulan ini. Tapi... saya enggak pernah tuh masukin jadwal untuk kepentingan pribadi Pak Rayyan. Berarti kan... Bapak masih jomblo juga kan, sama kayak saya." jelas Zahra dengan nada mengejek.


Rayyan menghentikan makannya, lalu menatap Zahra dengan pandangan kesal.


"Pak Hendra bilang, ada kalanya saya harus menyisipkan bahkan merubah jadwal kerja yang telah tersusun rapi hanya demi kepentingan pribadi Bapak. Itu biasa terjadi, sama seperti Om Adit dulu yang tiba-tiba minta reschedule jadwal hanya karena mau makan siang bahkan pergi honeymoon dengan Tante Salma. Tapi sampai sekarang, saya belum pernah disuruh Pak Rayyan untuk itu." sambung Zahra kembali denga nada yang datar.


"Tapi itu bukan jadi alasan kuat. Aku sebisa mungkin akan bersikap profesional, sebisa mungkin aku enggak akan merubah jadwal kerja yang telah kamu buat dengan susah payah itu hanya demi kepentingan pribadi."


Zahra mengangguk. "Bagus deh Pak kalo begitu, jadi saya enggak perlu pusing nyusun ulang jadwal lagi. Tapi beneran nih, Bapak harus janji kalo ga bakal ngerubah jadwal seenaknya."


"Berharap aja kamu masih aku pertahankan untuk berada diposisimu sekarang."


Zahra menghentikan sendok yang akan masuk ke dalam mulutnya. Lalu menatap Rayyan dengan pandangan menuntut penjelasan.


"Jadi... Bapak mau pecat saya nih gara-gara masalah barusan?" Zahra bertanya dengan ragu-ragu.


Rayyan mengendikkan bahunya, sambil tetap mengacuhkan Zahra dan menikmati makan siangnya.


"Pak? Maaf Pak, saya cuma bercanda. Saya enggak bermaksud untuk nyindir Bapak." Zahra memasang wajah memelas.


Namun Rayyan tetap enggan menanggapinya. "Cepetan habisin makananmu, setelah itu kita kembali ke kantor untuk mempersiapkan pertemuan dengan Mr. Kimura."


Zahra mencebikkan bibirnya. Ia benar-benar menyesal tidak bertindak sejauh itu kepada Rayyan. Dan sekarang, nasib pekerjaannya sedang dipertaruhkan. Bosnya itu memiliki segala kewenangan untuk memecatnya kapan pun ia mau.


Rayyan melirik sekilas Zahra, mengamati wajah gelisahnya yang tidak dapat ditutupi oleh Zahra. Sudut bibirnya tertarik, menampilkan senyum tertahan yang terlihat puas telah berhasil membuat gadis di depannya itu dilingkupi penuh rasa penyesalan.


***


Lagi-lagi saya ingatkan untuk ga lupa nge-vote, likes dan comments. Ya itung-itung buat penyemangat authornya deh ya hehehehe.... Yang belum baca Cupcake's Love sama Lean On Me, boleh mampir dulu sambil nunggu update-an disini 😁

__ADS_1


Sekali lagi terima kasih ya untuk segala dukungan dan selalu setia nunggu lanjutan ceritanya. ILY & semoga sehat selalu 😘


__ADS_2