
Happy reading 😊
***
"Siapa?" tanya Adit saat Salma baru saja selesai mengangkat telponnya.
Mereka sedang menonton TV di ruang keluarga bersama kedua anaknya dan orangtua mereka yang sedang datang berkunjung.
"Rayyan. Dia bilang enggak jadi pulang hari ini karena urusannya belum beres, kemungkinan baru balik besok."
Adit mengerutkan keningnya. "Aku coba telpon Rayyan dulu, mungkin dia butuh bantuan." ucap Adit lalu meminta izin pada orangtuanya untuk menelpon Rayyan sebentar di ruang kerjanya.
Adit langsung menelpon Rayyan sesaat setelah menutup pintu ruangannya, sambil menunggu nada sambung itu terdengar beberapa kali dan tidak jug diangkat oleh Rayyan.
"Halo, Pa." ucap Rayyan saat sambungan telponnya terhubung.
"Kamu enggak jadi pulang malam ini?"
"I-iya, Pa. Soalnya... belum kelar."
"Kamu mau bohong juga sama Papa? Pak Hendra tadi siang udah laporan sama Papa kalo meeting kalian udah selesai dan sukses besar. Kamu jangan bohong karena mau macem-macem ya Rayyan!"
Terdengar suara helaan nafas dari Rayyan. "Maaf, Pa. Tadi... aku cuma enggak mau Mama jadi khawatir. Zahra sakit, Pa. Aku enggak mungkin bawa dia pulang dalam keadaan sakit kayak gini. Demamnya tinggi banget. Demi Allah Rayyan enggak ada niatan buat macem-macem, Pa."
"Oke. Minta bantuan orang hotel untuk panggil dokter kalo kondisi Zahra makin drop."
"Iya, Pa. Tolong jangan bilang ke Mama ya, Pa, nanti biar Rayyan yang ngomong sendiri."
"Hm. Papa tutup dulu ya telponnya."
Adit bernafas lega setelah mengetahui alasan Rayyan menunda kepulangannya. Setidaknya, apa yang ia khawatirkan tidak terjadi.
***
Kembali masuk ke kamar Zahra dengan membawa obat yang telah dibelikan oleh seorang karyawan hotel, Rayyan mengamati Zahra yang nampaknya masih sibuk dengan makanannya.
"Setelah makan, minum obatnya." Rayyan meletakkan kantong berisi obat dinampan makan Zahra.
Zahra mengangguk sambil melanjutkan makannya dalam diam. Sementara Rayyan, menarik kursi untuk duduk dan memperhatikan Zahra.
"Pak...." Zahra mendongakkan kepalanya, lalu tertunduk kembali saat mengetahui jika Rayyan sedang menatapnya.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Saya... harus bilang apa ke keluarga saya kalo baliknya diundur besok?"
"Kalo kamu mau jujur, bilang aja kamu lagi sakit dan aku yang ngelarang untuk pulang sekarang. Tapi kalo kamu enggak mau bikin keluarga kamu khawatir, bilang aja pekerjaan kita disini belum beres."
Zahra nampak berpikir, alasan mana yang akan ia berikan ke keluarganya. Tentu ia tidak ingin keluarganya merasa khawatir, tapi tentu dia juga tidak ingin berbohong pada mereka.
"Aku juga bohong ke orang rumah, Zah. Aku bilang ke Mama kalo kerjaan kita disini belum selesai. Kalo aku bilang kamu sakit, pasti Eowyn bakal heboh."
Zahra mengangguk. "Iya deh, kalo gitu saya juga mau pakai alasan yang sama biar kompak."
"Hmm... oiya Pak, saya makannya udahan boleh ya? Cuma sisa dikit doang ini, saya bener-bener enggak selera makan. Lagian juga makanannya udah dingin, jadi susah nelen saya."
"Salah kamu sendiri tadi enggak langsung dimakan."
Zahra hanya diam sambil membuka obat yang tadi diberikan Rayyan, lalu meminumnya. Setelahnya, Rayyan beranjak dari kursi dan mengambil nampan makan yang dipangku oleh Zahra.
"Tadi hapemu bunyi terus, kamu enggak mau ngecek?" tanya Rayyan sambil meletakkan nampan makan dimeja. Lalu berbalik dengan membawa tas Zahra dan menyerahkannya pada si empunya.
"Terima kasih, Pak."
Bukannya pergi, Rayyan malah duduk dipinggir ranjang berdekatan dengan Zahra. Dan Hal itu tentu saja membuat Zahra menjadi tidak nyaman dan salah tingkah.
"Suka-suka akulah." jawab Rayyan dengan santai sambil memainkan ponselnya.
Zahra menggeser tubuhnya, memberi jarak antara dirinya dengan Rayyan.
"Ngapain geser? Kayak aku bakal ngapa-ngapain kamu aja."
"Bukan begitu, Pak. Saya cuma ngerasa enggak nyaman."
"Tapi sebelumnya kamu selalu deket aku biasa aja. Kenapa sekarang kamu jadi salah tingkah gitu?" Dengan sengaja, Rayyan kembali menggoda Zahra yang wajahnya telah memerah itu.
"E-enggak, saya enggak salah tingkah. Lagian ya Pak, sebelumnya saya dekat Bapak kan karena pekerjaan. Masalahnya... ini kan di kamar, Pak."
"Justru karena di kamar, harusnya kita bisa lebih deket lagi kan?" Rayyan mencondongkan tubuhnya ke arah Zahra dengan seringaian senyum dibibirnya.
Dengan gerakan cepat, Zahra menarik selimut untuk menutupi bagian dadanya. Dan hal itu malah membuat Rayyan tertawa.
"Harusnya kamu tutupin itu dari tadi. Aku pikir kamu udah ngeh dari tadi kalo kancing kemejamu udah kebuka dua kancing, ternyata belum sadar juga?"
__ADS_1
Mendengar hal itu, Zahra langsung membuka selimut yang menutupi dadanya dan melihat dua kancingnya yang memang terbuka. Ia buru-buru mengancingkannya. Ia benar-benar malu dan merasa tidak memiliki nyali lagi untuk menghadapi Rayyan.
"Jangan teledor asal naruh tas kamu kayak tadi. Kalo itu dimobil driver online atau siapapun dan melihat ada kartu kamar ini lalu memiliki niat jahat, bisa habis kamu dimakan dia. Apalagi dalam kondisi kamu yang enggak berdaya kayak tadi." ucap Rayyan lalu merapikan rambut Zahra yang sedikit berantakan itu.
Zahra masih menunduk. Sekarang perasaannya bukan hanya malu karena kancing baju yang terbuka, tapi juga tersipu karena Rayyan mengusap rambutnya.
"Kalo kamu udah sehat, nanti kita jalan-jalan sebentar sekalian makan malam di luar. Aku akan nunggu disini untuk memastikan kalo kamu udah enggak demam lagi."
"Enggak perlu, Pak. Saya udah baikan. Mungkin tadi terasa panas karena dari siang saya enggak nyalain AC kamar."
"Kenapa enggak dinyalain?"
"Dingin, Pak. Merinding gitu, saya takut kalo nanti malah menggigil."
"Kamu kan bisa panggil saya."
"Gimana mau panggil Bapak kalo hape saya aja ada sama Bapak."
"Ya kamu ke kamar akulah."
"Diihh... Bapak pengen banget disamperin." cibir Zahra sambil menahan tawa.
"Oohhh, jadi kamu udah sembuh beneran ya sekarang? Pantes udah mulai cerewet." Rayyan mengulurkan tangannya untuk menyentuh dahi Zahra.
"Apaan sih, Pak? Seneng banget nyentuh saya, saya kan udah bilang enggak apa-apa." Zahra mencoba menyingkirkan tangan Rayyan yang mencoba menyentuh dahinya. Namun Rayyan tak mau kalah, ia sengaja naik ke ranjang agar dapat menggoda Zahra dengan menyentuhkan tangannya pada wajah Zahra.
"Bapak enggak sopan ih, wajah orang asal pegang aja." geram Zahra sambil terus menahan tangan Rayyan.
Kedua tangan Rayyan langsung menahan tangan Zahra yang mencoba untuk menghalaunya. Dengan posisi Rayyan yang kini duduk di ranjang berhadapan dengan Zahra, jarak diantara mereka tak lagi sejauh tadi saat Rayyan duduk dipinggir ranjang.
"Jangan sakit lagi. Aku khawatir banget pas liat kamu demam tinggi dan pucat banget kayak tadi." Rayyan melepaskan cekalannya pada tangan Zahra, lalu tangannya bergerak merapikan kembali anak rambut Zahra yang berantakan lagi.
"Istirahatlah, lalu mandi dengan air hangat. Malam nanti kita kencan, oke?" imbuh Rayyan sembari mengecup kening Zahra sebelum akhirnya pergi meninggalkan kamarnya.
Kencan?
Rayyan mengajaknya kencan? Apa yang Zahra denger barusan enggak salah kan? Zahra masih mencoba mencerna kata-kata Rayyan barusan dan juga menormalkan detak jantungnya. Baiklah, tubuhnya langsung terasa panas sekarang.
***
Minta votes-nya dong, masa yang baca banyak tapi peringkatnya turun mulu hehehehe....
__ADS_1
Tapi, terima kasih banyak loh ya udah mau baca ceritaku yang embuh ini 😅🙏