
Happy reading 😊
***
"Terima kasih telah memenuhi undangan makan malam dari kami. Semoga lain waktu kita bisa memiliki kesempatan untuk melakukannya kembali." ucap Pak Rendy sembari menyalami Rayyan.
Rayyan hanya tersenyum. Sedari tadi ia sudah ingin keluar dari rumah itu dan pulang ke rumahnya. Bertemu Nadine merupakan hal yang selalu ia hindari. Ia hanya tidak ingin kenangan masa lalu akan cintanya yang belum usai kembali hadir, juga ketakutan akan ancaman Andrew yang semakin menghantui hidupnya.
"Aku akan menghubungimu nanti, Rayyan." kata Nadine sambil mengusap lengan Rayyan.
Lagi-lagi Rayyan hanya menjawabnya dengan senyuman. Demi kesopanan, dia terpaksa membagi nomer ponselnya kepada Nadine. Padahal Nadine bisa saja meminta nomer ponselnya kepada ayahnya, entah mengapa Nadine justru memilih untuk bertanya kepadanya secara langsung.
Setelah berpamitan, Rayyan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pikirannya kacau, kehadiran Nadine malam ini sama sekali tak ia dduga Bahkan ia baru tahu jika Nadine merupakan anak dari rekan bisnisnya.
Zahra melirik ke arah Rayyan beberapa kali, tangannya perlahan memegang handle hand grip yang berada diatasnya. Kecepatan mobil ini bertambah, membelah jalan tol dalam kota yang cukup lengang. Zahra mulai ketakutan, ia merasa Rayyan kehilangan konsentrasinya saat menyetir. Malah Zahra menduga bosnya itu tidak sadar telah menginjak pedal gas terlalu dalam.
"Pak Rayyan awas!" pekik Zahra saat terlihat mobil di depan menyalakan lampu hazard, sepertinya sedang mogok.
Matanya terpejam, sedangkan tangan kanannya meremas lengan Rayyan dengan kuat. Remasan tangan Zahra menyadarkan Rayyan, ia buru-buru menginjak pedal rem secara mendadak dan menimbulkan decitan suara ban begitu keras.
Kepala Zahra hampir terantuk dashboard. Ia buru-buru menangkupkan kedua tangannya pada wajahnya, mengatur nafasnya yang tersengal dan mencoba membendung air matanya yang mendesak keluar.
"Kamu enggak apa-apa kan, Zah?" tanya Rayyan sambil memegang bahu Zahra.
"Pak Rayyan kenapa sih? Kalo mau mati sendiri aja, enggak usah bawa-bawa aku!" ucap Zahra dengan suara tinggi dan air mata yang mengalir diwajahnya.
Rayyan terdiam, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Ia mengumpat dalam hati, memaki dirinya yang dengan bodohnya masih belum bisa lepas dari bayang-bayang Nadine.
"Sorry, Zah. Sorry." hanya kata-kata itulah yang dapat Rayyan ucapkan.
Ia tak tahu harus berkata apa untuk menenangkan Zahra yang mulai terisak. Kejadian tadi memang menakutkan. Jika saja ia tidak bisa mengendalikan mobilnya, sebuah kecelakaan tragis pasti telah menimpa mereka berdua.
__ADS_1
"Kita keluar tol sini aja ya, Zah. Aku mau istirahat bentar, sekalian cari minum." ucapnya sambil melajukan mobilnya dengan perlahan.
Zahra masih menunduk dengan kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya. Hingga kemudian, lengannya merasakan sentuhan tangan Rayyan.
Ia menoleh ke arah, dan menyadari bahwa bosnya itu mengulurkan beberapa lembar tisu untuknya.
"Udah Zah, jangan nangis lagi. Aku beneran minta maaf ya karena telah membahayakanmu tadi."
Zahra menerima uluran tisu tersebut dengan tarikan kasar. "Liat depan tuh, Pak. Kalo nyetir tuh yang konsen!" ucapnya sambil menahan isak tangisnya.
"Iya-iya, sorry."
Setelah keluar dari tol dalam kota, tak lama Rayyan membelokkan mobilnya ke sebuah mini market yang buka 24 jam.
"Tunggu disini, aku masuk dulu mau beli minum. Kamu mau minum apa?" tanya Rayyan sesaat setelah memarkir mobilnya.
"Aku mau ikut turun, Pak. Mau milih dulu minumannya."
Rayyan hanya mengangguk, lalu keduanya turun dari mobil dan masuk ke dalam mini market. Zahra berjalan lebih dulu setelah mengambil keranjang belanja. Ia terlihat bingung dan berjalan mondar-mandir di depan deretan lemari pendingin yang berisi berbagai jenis minuman.
Zahra tersenyum. "Kirain Bapak mau minum minuman beralkohol atau bersoda, enggak taunya yang diambil susu." sindir Zahra.
"Aku masih harus nganterin kamu pulang, Zah. Mana mungkin aku minum minuman begituan."
"Berarti kalo enggak nganterin saya pulang, Bapak bakal ambil minuman itu?"
Rayyan hanya mengendikkan bahunya, sambil berjalan melewati Zahra dan menuju rak makanan ringan. Zahra segera mengambil minuman teh susu favoritnya dan menyusul Rayyan yang terlihat telah memegang beberapa bungkus keripik.
"Bapak mau ngemil?" tanya Zahra begitu berada di sebelah Rayyan
Rayyan mengangguk. "Aku harus menjernihkan pikiranku dulu, Zah. Enggak apa-apa kan kalo aku nganter kamu pulang agak maleman?"
__ADS_1
"Bukan agak malem, Pak. Mungkin malah tengah malam." Zahra tersenyum tipis. "Yang penting sampai rumah selamat, Pak. Daripada kejadian kayak tadi."
"Ada lagi yang mau kamu beli?" tanya Rayyan sambil meletakkan bungkusan keripiknya di keranjang.
"Enggak, Pak. Ini aja Bapak belinya udah banyak."
"Oke." jawab Rayyan singkat sambil mengambil alih keranjang yang dipegang Zahra dan membawanya ke kasir.
Keduanya duduk di kursi yang disediakan di depan mini market. Menikmati padatnya jalanan dimalam Minggu sambil menikmati cemilan yang mereka beli tadi. Ada banyak pertanyaan yang bersarang dikepala Zahra, semuanya tentang keingintahuannya akan cerita bosnya dengan anak gadis pak Rendy tadi. Namun ia urungkan niatnya, demi kedamaian pikiran bosnya agar bisa berkendara dengan konsentrasi penuh.
"Nadine itu temen SMA-ku, Zah. Dulu kita sempat punya hubungan sebentar. Itu aja yang harus kamu tau, jadi enggak usah banyak kepo tentang kehidupanku dimasa lalu." ucap Rayyan sambil tetap fokus pada ponselnya.
Zahra menengok ke arah Rayyan. Menatap penuh ketidakpercayaan mengapa bosnya itu tiba-tiba bercerita tentang hal pribadinya.
"Saya enggak kepo, Pak." Zahra mengelak.
"Aku tau dipikiranmu banyak pertanyaan soalku dan Nadine." jawab Rayyan sambil menatap Zahra.
"Yaaaa... cuma penasaran dikit sih Pak, hehehehe...."
Rayyan tidak merespon, ia masih tetap terfokus pada layar ponselnya. Zahra menduga jika Rayyan tengah bertukar pesan dengan Nadine, karena tadi Nadine mengatakan akan mengirimkan pesan untuknya.
"Balikan aja sih, Pak. Anaknya Pak Rendy cantik banget, terlebih... dulu Bapak sama dia pernah punya hubungan kan? Jadi, enggak ada salahnya kalo sekarang dilanjutin. Ya siapa tau bisa lebih mempererat bisnisnya kan Pak, hehehehe...."
Rayyan menatap tajam ke arah Zahra. "Kamu tidak dalam posisi untuk mengaturku, Zah!"
"Bukan ngatur, Pak. Saya kan cuma ngasih saran. Ya kalo Bapak enggak mau ya enggak apa-apa, saya juga enggak tersinggung. Saya kan cuma pengen bantuin Bapak biar enggak jomblo lagi hehehehe...."
"Cukup, Zah!" Rayyan berucap tegas sambil melempar tatapan mata yanga semakin tajam ke arahnya.
"Sekali lagi kamu ngomongin omong kosong soal wanita tadi ke aku, kamu harus siap terima hukumannya, Zah!" Rayyan mengancam.
__ADS_1
***
Jangan lupa vote, likes dan comments-nya ya. Thank you ❤️