MENIKAH

MENIKAH
S2 - Out


__ADS_3

Happy reading 😊


***


Kabar pertunangan Rayyan dan Zahra langsung membuat heboh dua kantor. Di kantor papa Adit, kehebohan terjadi lantaran Eowyn mengunggah foto-foto keseruan malam tadi. Caption ucapan selamat ulang tahun untuk sang papa nampaknya langsung tersingkir, karena teman-teman departemennya dan departemen lain hanya terfokus pada ucapan selamat atas pertunangan abangnya dengan wanita yang selama ini dikenal sebagai personal assistant itu.


Kehebohan itu tentu tidak berhenti disitu. Jemari para karyawan langsung bergerak lincah untuk menyebarkan kabar itu ke kantor yang dipimpin oleh Rayyan. Beberapa karyawan yang berhubungan langsung dengan Rayyan bahkan ikut mengiyakan kabar tersebut dengan mengirimkan screen shoot profile picture Rayyan pada salah satu aplikasi messaging. Foto yang sebelumnya memajang kebersamaan Rayyan dengan keluarganya kini berganti dengan fotonya yang memeluk Zahra dari samping sambil memamerkan cincinnya ke arah kamera.


Tidak ada yang menyangka jika pertunangan ini akan terjadi begitu cepat. Pasalnya Rayyan baru beberapa memegang jabatan itu dan mempekerjakan Zahra sebagai asistennya. Tentu saja hal itu menimbulkan banyak spekulasi yang beredar. Apalagi belum lama ini tersebar berita jika Zahra menggoda Rayyan hingga akhirnya berakhir di ranjang bersamanya.


Pagi ini, Zahra memaksa agar dapat berangkat kerja sendiri. Zahra hanya ingin menghindari kehebohan yang akan makin menjadi jika ia dan Rayyan datang secara bersamaan. Zahra belum siap menghadapi kembali komentar miring yang akan didengarnya.


"Zah!" panggil bu Meta yang baru saja keluar lift. Bu Meta nampak berlari kecil, wajahnya juga tampak begitu bahagia terlihat dari senyum lebarnya.


"Duuhhh, aku kaget banget loh semalem pas dapet broadcast-an dari anak marketing. Gue pikir cuma gosip, ehh tapi pas gue liat profile pak Rayyan sama punyamu, gue heboh banget. Sampai suami gue heran hehehehe...."


"Maaf aku enggak ngasih tau ke bu Meta, soalnya... itu mendadak banget. Aku bahkan enggak tau kalo pak Rayyan nyiapin acara itu."


"Iiihhh... udah mau nikah aja manggilnya masih 'pak'." Bu Meta sengaja menggoda Zahra dengan mencolek dagu Zahra. "Jadi... pak Rayyan enggak ngasih tau kamu kalo malam itu bakal ada acara lamaran?" tanya bu Meta penasaran.


Zahra menggelengkan kepalanya. Sebuah senyuman terbit diwajahnya mengingat bagaimana acara semalam benar-benar membuatnya jatuh hati pada Rayyan.


"Dia cuma ngajakin makan malam, taunya ada Eowyn disana yang langsung bawa aku ke sebuah ruangan untuk ganti baju dan dimake up. Pas masuk ke ruang tepat makan malamnya, taunya keluarga kami udah ada disana semua. Rame banget karena sekalian ngerayain ulang tahunnya pak Adit."


Disaat keduanya tengah asik bercerita, pintu lift terbuka dan menampilkan Rayyan keluar dari sana. Penampilannya seperti biasa, selalu terlihat gagah dan tampan. Namun pagi ini, lelaki itu tampak tak bisa menyembunyikan senyumannya saat melihat Zahra.


"Masuk ke ruanganku, Zah." ucap Rayyan sambil tersenyum ke arah Zahra.

__ADS_1


Bu Meta yang melihat adegan malu-malu kucing dari bosnya itu langsung menyikut Zahra yang tampak merona itu.


"Udah, masuk sana. Ayang beb udah kangen." goda bu Meta sambil menahan tawa.


Sedangkan Zahra menyibukkan dirinya dengan merapikan beberapa dokumen yang akan ia serahkan pada Rayyan.


Tidak seperti biasanya, kali ini Zahra merasa canggung saat memasuki ruangan Rayyan. Namun ia tetap berusaha untuk bersikap profesional. Ini menyangkut pekerjaan, dan juga berada di kantor, jadi Zahra harus bisa membedakannya dengan urusan pribadinya.


"Ini berkas yang bapak minta untuk rapat sore nanti, semuanya telah siap." Zahra meletakkan tumpukan map berwarna hitam itu dimeja Rayyan, sedangkan Rayyan masih berada di sudut ruangan untuk melepas jasnya dan menggantungnya.


"Bapak mau minum hangat apa pagi ini? Kopi atau teh?" sambung Zahra dengan nada bicara formal yang sontak membuat Rayyan terkekeh.


Rayyan berjalan mendekati Zahra, dan tanpa aba-aba Rayyan langsung menarik pinggang Zahra agar berdempet padanya.


"Formal banget sih, Zah? Ngomong biasa aja aku juga enggak keberatan. Apalagi kalo kamu manggil aku 'sayang', bukan 'pak' kayak tadi."


"T-tapi... ini kan masih di kantor."


"Bukan gitu. Aku... cuma mau profesional aja dalam bekerja. Biar enggak ada komentar miring lagi soal aku."


Rayyan menghela nafasnya, dia paham betul jika tunangannya ini masih ketakutan dengan gosip yang menerpa mereka beberapa waktu yang lalu.


"Baiklah, aku mengalah." Rayyan merenggangkan pelukannya pada tubuh Zahra. "Sebaiknya kamu konsentrasi karena bulan ini adalah bulan terakhir kamu bekerja."


"Apa?" Zahra tidak bisa menutupi rasa keterkejutannya. "Kamu... mau pecat aku?"


Rayyan mengangguk dengan mantap. "Tentu saja. Seminggu sebelum hari pernikahan kamu udah harus berhenti bekerja. Mama bilang kamu harus dipingit, haahh... bagaimana bisa selama seminggu nanti aku enggak ketemu sama kamu?"

__ADS_1


Zahra masih mengerutkan dahinya, mencoba mencerna arah perkataan Rayyan.


"Kalo kita udah nikah nanti, kamu cukup di rumah aja. Kamu cukup fokus ke aku aja, aku enggak mau lagi diduakan sama pekerjaan. Terlebih, aku takut enggak bisa nahan diri kalo sering-sering sama kamu. Bisa-bisa aku enggak kerja karena pengen sama kamu terus." Rayyan bergelayut manja, menyandarkan kepalanya dibahu Zahra.


"Dasar mesum!" Zahra mencubit.pinggang Rayyan sambil tersenyum.


"Di rumah aja oke? Kamu boleh seharian main di rumah bunda atau mama saat aku kerja, nanti aku akan antar jemput kamu. Yang penting kamu cuma fokus sama aku. Jadi untuk urusan pekerjaan, biar dipegang bu Meta aja. Atau mungkin aku akan cari personal assistant lain."


"Jangan cewek! Cari aja yang cowok, kayak pak Hendra gitu."


"Kamu cemburu?"


"Iyalah. Aku cuma takut kalo nantinya yang gantiin aku bakal lebih cantik dan berpenampilan seksi, jadi kamu tertarik sama dia." Zahra mengerucutkan bibirnya.


"Hahahahaha... enggaklah, sayang. Yaudah deh, aku sama bu Meta aja. Enggak ada personal assistant lainnya lagi."


Zahra langsung melebarkan senyumannya begitu mendengar jawaban dari Rayyan. Kedua tangannya langsung melingkar di pinggang Rayyan dan memeluknya dengan erat.


"Jadi mau minum apa pagi ini?" tanya Zahra sambil mendongakkan kepalanya.


"Kopi. Semalaman aku enggak bisa tidur gara-gara kamu."


"Aku? Kok bisa?"


"Ngebayangin aja kalo ntar kita udah nikah terus kamu tidur disebelahku, tidur sambil pelukan sampai pagi, bahkan bisa niban kamu juga." Rayyan benar-benar tergila-gila akan Zahra. Bahkan pikirannya bisa begitu.liar sepagi ini.


"Itu omong doang, sayang. Aku yakin enggak banyak pasangan yang tidur sambil pelukan sampai pagi. Mereka pasti udah heboh sama gaya tidurnya sendiri-sendiri." Zahra melepaskan pelukannya saat Rayyan mulai menggodanya.

__ADS_1


"Aku bikinin kopi pait aja, biar kamu sadar enggak semuanya berasa manis."


Rayyan tertawa saat melepas Zahra yang berjalan menjauh darinya. Setelah pertunangan mereka malam tadi, entah kenapa dirinya begitu merasa bahagia. Tiada detik yang ia lewatkan tanpa tersenyum atau tertawa. Bahkan semalam, mungkin Rayyan tidur sambil tersenyum karena merasa terlalu bahagia.


__ADS_2