
"Ngantuk, Dit?" kata papa Hari saat masuk ke dalam ruang kerja Adit.
Adit terlihat merebahkan tubuhnya disofa dengan mata yang terpejam. Lelaki itu pasti sedang memiliki waktu tidur yang berantakan, karena tidak biasanya Adit akan tertidur saat berada di kantor. Bagaimana tidak, selama seminggu Rayyan pulang ke rumah bersama Salma dari rumah sakit, seminggu itu pula ia harus rela begadang hingga pagi menjelang.
"Iya, pa. Rayyan semalem rewel, maunya tidur kalo digendong. Pas mau subuh baru nyenyak tidurnya dan mau ditidurin di kasur" jelas Adit sambil mendudukkan dirinya.
"Punya anak bayi ya gitu, dinikmatin aja. Nanti kalo udah gede, udah ga ngerepotin kalian lagi, ga mau digendong-gendong dan dicium-cium lagi, baru kerasa kangennya sama masa momong anak kecil" papa Hari menjeda perkataannya, membuka toples kue diatas meja Adit.
"Kayak kamu itu, dulu pas kecil nempel mulu sama mama, kalo papa libur ngajakin main bola, naik bom bom car. Setelah kamu mulai sekolah, maunya sama temennya. Apalagi pas udah remaja, kayak ngerasa malu kalo jalan sama mama papanya" sambung papa Hari.
Adit mengangguk. "Tapi Adit ga malu kok jalan sama mama papa, buktinya Adit suka nemenin mama belanja atau kondangan kalo papa ga bisa. Cuma ya... makin gede kan main sama temen lebih seru dari pergi-pergi sama orangtua"
"Ya makanya, ga usah ngeluh kalo nanti capek, kurang tidur dan sebagainya. Apalagi kamu kan orangtua baru, cuma karena belum terbiasa aja. Semuanya butuh penyesuaian"
"Besok nitip Rayyan bentar ya, pa. Mama sama papanya Salma lagi ke luar kota. Adit mau anter Salma ke rumah sakit untuk kontrol jahitan, kasian kalo dibawa ke rumah sakit"
"Mau di rumah kita atau rumah kamu?"
"Terserah papa sama mama maunya dimana. Kalo mau di rumah papa ya nanti kita bawa Rayyan kesana"
"Nanti papa tanya mamamu dulu deh ya"
🎎
Adit baru saja pulang dari kantor. Malam ini ia terpaksa harus lembur untuk membantu proyek baru papanya.
"Salma udah tidur, bu?" tanya Adit sesaat setelah bu Sari membukakan pintu untuknya.
"Kayaknya udah, mas. Tadi terakhir bawa Rayyan ke bawah sih jam delapanan" jawab bu Sari.
"Rayyan masih rewel?"
"Enggak, mas. Seharian ini udah ga rewel lagi kayak sebelumnya. Mas Adit mau saya siapin makan malam atau butuh sesuatu"
__ADS_1
Adit menggeleng. "Nanti aja kalo saya butuh sesuatu saya telpon bu Sari"1
Adit segera naik ke atas. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu istri dan anak tercintanya. Langkahnya sengaja diperlebar untuk mempercepat lajunya menuju kamar.
Dibukanya pintu kamarnya dengan perlahan. Terlihat Salma yang telah tertidur pulas bersama Rayyan disebelahnya. Senyum lebar terukir diwajah Adit menyaksikan pemandangan yang begitu indah baginya.
Ia berjalan menuju kamar mandi sambil menggulung lengan kemejanya, lalu mendekati wastafel untuk mencuci tangannya. Setelahnya ia berjalan keluar kamar mandi dan mendekati Salma. Dikecupnya pipi sang istri dengan lembut, lalu membelai kepala dan menyibakkan rambutnya yang sedikit menutupi wajahnya.
"Mas Adit baru pulang?" ucap Salma setelah membuka matanya.
Adit mengangguk. "Aku bangunin kamu ya? Tidur lagi aja" kata Adit seraya tangannya mengusap rambut Salma.
Salma menggelengkan kepalanya, lalu mendudukkan dirinya.
"Kenapa ga ditidurin diboksnya?"
"Ini kan hari pertama mas Adit ke kantor, langsung lembur pula. Aku jadi kesepian, jadi aku bawa Rayyan tidur disini hehehehe..."
"Tapi kata bu Sari udah ga rewel ya?"
Adit tersenyum lalu beranjak mendekati Rayyan yang tidur dengan nyenyaknya.
"Pelan-pelan ih, ntar kebangun"
Adit tidak menghiraukan perkataan Salma. Seharian berada di kantor dan harus berjauhan dengan Rayyan sangat sulit baginya. Meskipun Salma rutin mengirimkan foto dan video Rayyan, namun itu tidak dapat mengobati rasa rindunya. Ia hanya belum terbiasa, sama seperti dulu ketika baru saja menikah.
"Mandi dulu, mas. Bau keringet tuh, banyak bakterinya" Salma menarik lengan Adit yang sedari tadi sibuk mencium gemas pipi bayinya yang gembul itu.
"Iya bentar" jawab Adit sambil terus mendaratkan ciuman dipipi Rayyan.
Bayi itu tetap tidak terusik. Rayyan hanya menggeliat kecil namun.matanya tetap rapat terpejam.
"Aku mau mandi dulu ya, habis mandi tolong siapin buah sama susu anget" pinta Adit yang dengan enggan menjauhkan dirinya dari Rayyan.
__ADS_1
Setelahnya, ia berjalan menuju kamar mandi. Salma menunggu Adit selesai mandi dengan memainkan ponselnya. Setelah kelahiran Rayyan, window shopping menjadi hobi barunya. Maklum saja, saat berbelanja kebutuhan bayi kemarin ia dan Adit belum mengetahui jenis kelamin anak mereka, jadi hanya membeli seperlunya. Sekarang, fokusnya tertuju pada baju bayi laki-laki dan perlengkapan lainnya.
Setelah Adit selesai mandi, Salma segera turun ke dapur untuk menyiapkan permintaan Adit. Sedangkan Adit membaringkan tubuhnya disebelah Rayyan, memandangi makhluk kecil yang minggu lalu hadir dalam kehidupannya.
Mata Adit terbelalak saat melihat Salma membuka pintu kamar. Sebuah kue ulang tahun dengan lilin yang telah menyala mencuri perhatiannya. Senyumannya makin tak bisa disembunyikan. Ia segera bangun dan duduk dipinggir ranjang.
Salma menyanyikan lagu ulang tahun untuk Adit, lalu mendudukkan dirinya disebelah Adit.
"Make a wish" ucap Salma.
Adit tersenyum, lalu memejamkan matanya. Mungkin ia mencoba untuk berdoa, menyampaikan keinginannya dipertambahan usianya ini. Tak lama ia membuka mata dan meniup lilinnya.
"Mas Adit pengen apa?" tanya Salma penasaran sambil berjalan menuju meja dan.meletakkan nampan makanan dimeja.
"Eowyn" jawabnya sambil terkekeh.
"Aku seriusan, mas"
"Aku juga serius, sayang. Mungkin tahun depan.kita bisa merayakan ulang tahunku atau ulang tahunmu dengan kehadiran Eowyn" ucap Adit sambil memeluk Salma dari belakang.
Salma membalikkan tubuhnya, lalu melingkarnya tangannya pada pinggang Adit. "Usia Rayyan baru dua belas hari, mas. Jahitanku juga belum kering, dan mas Adit udah kepikiran Eowyn hadir bersama kita hahahahaha"
"Enggak masalah, kata mama kan sekalian repot. Lagian itu kan aku baru pengajuan doa, belum tentu langsung dikabulkan sama Allah. Jangankan Allah, lampu hijau dari kamu aja belum"
"Sabar dulu" Salma mengusap dada Adit. "Maaf mas, aku bener-bener lupa sama ulang tahun mas Adit. Pikiranku udah kesedot semua sama Rayyan, aku baru inget tadi siang. Jadi... aku cuma bisa nyiapin kue, aku.belum bisa beliin kado buat mas Adit karena keterbatasan waktu"
"Harusnya aku cemburu, tapi karena yang menyedot perhatianmu adalah bayi gembul itu, aku malah seneng. Dia udah mencuri perhatian semua orang sejak dia lahir"
"Nanti kalo udah ada waktu, aku akan mulai cari kado untuk mas Adit"
"Kan udah aku bilang, kehadiranmu dalam hidupku udah jadi kado terindah bagiku. Sekarang tambah ada Rayyan, itu semua udah sempurna. Aku ga butuh yang lainnya, aku cuma butuh kalian yang selalu ada disampingku"
Salma mengangguk. Kedua telapak tangannya terulur untuk menangkup wajah Adit. "Kita akan selalu ada untukmu. Terimakasih banyak udah mau bekerja keras untuk kami, papa"
__ADS_1
"Aaahhh... aku ga sabar pengen denger Rayyan manggil-manggil aku 'papa'"