
Happy reading 😊
****
Seperti yang telah ia katakan pada Eowyn tadi siang, malam ini Rayyan lembur dengan banyaknya pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Hal ini dikarenakan pak Hendra yang harus segera kembali ke sisi Papanya, dan melepas Rayyan melakukan tugasnya sendiri.
Ditemani pak Hendra, bu Meta dan Zahra, pekerjaan itu selesai saat jam hampir menunjukkan pukul sepuluh malam. Brownies yang Rayyan 'selamatkan' tadi siang turut menemani rapat di ruangan dan habis tak bersisa. Ya meskipun ketiga asisten Rayyan itu agak sungkan untuk memakannya, terutama Zahra yang mengetahui jika itu adalah kue buatan Salma dan menjadi favorit Rayyan sejak kecil.
"Lainnya udah pada pulang, Zah?" tegur Rayyan saat melihat Zahra yang sedang menunggu di depan pintu lift.
"Ohh, iya Pak. Pak Hendra dan Bu Meta sudah pulang sekitar lima menit yang lalu."
Rayyan mengangguk. "Rumah kamu dimana? Ini udah terlalu malam jika kamu mau balik naik transportasi umum."
"Eeee... enggak apa-apa, Pak. Saya akan naik ojek online aja yang lebih aman."
Denting suara pintu lift terbuka mengalihkan perhatian Rayyan dan Zahra. Keduanya segera masuk ke dalam lift dan keheningan mengambil alih untuk beberapa saat.
"Aku akan antar kamu pulang." ucap Rayyan memecah keheningan.
"Eh? Tidak perlu, Pak. Rumah saya berlawanan arah dengan rumah Bapak, biar saya naik ojol saja."
"Enggak masalah, Zah. Ini udah terlalu malam, ayo ikut saya ke parkiran." pinta Rayyan begitu pintu lift terbuka. Dan Zahra hanya bisa mengekori Rayyan yang berjalan di depannya menuju parkiran basement.
🎎
Sementara itu di rumah, Adit dan Salma beserta Rafa dan Eowyn masih berkumpul di ruang keluarga. Mereka menonton tayangan TV bersama sambil bercengkerama.
"Katanya mau ngajakin pacarmu buat ketemu Mama, Fa." ucap Salma sambil mengelus rambut Rafa yang menyenderkan kepalanya pada kaki Salma.
Rafa memang senang bersikap manja pada Salma. Jika sedang menonton TV bersama seperti ini, Rafa rela duduk di lantai demi bisa menyandarkan kepalanya pada kaki Salma dan mendapat elusan. Karena jika ia merebahkan disamping Salma hanya untuk bermanja-manjaan, maka ia akan berhadapan dengan Papanya yang tidak ingin posisi duduknya di sebelah Salma tergantikan.
"Mama bisanya kapan?" jawab Rafa dengan santainya.
Adit dan Salma saling menatap, bahkan Eowyn pun sampai melongo setelah mendengar jawaban Rafa. Karena biasanya, Rafa akan mengalihkan pembicaraan atau mengatakan jika pacar yang sebelumnya telah berganti.
"Mama mah kapan aja bisa, Mama kan di rumah mulu."
"Yaudah, nanti aku bilang Alita dulu dia bisanya kapan."
__ADS_1
"Eh, kamu seriusan?"
"Seriuslah, Ma. Kan kemarin Rafa juga udah bilang ke Mama kalo sama yang ini Rafa serius."
"Harusnya dari dulu begitu, Fa. Jangan berubah cuma karena enggak Papa kasih uang saku." jawab Adit sambil mendaratkan jitakan di kepala Rafa.
"Yeeee... Papa, namanya juga nyari yang pas. Enggak bisa langsung ketemu kan, dicoba dulu satu-satu."
"Maksud kamu dicoba itu gimana?" Adit mulai meninggikan suaranya dan memasang raut wajah marah.
Rafa segera mengangkat kepalanya, merelakan jemari Mamanya yang mengelus kepalanya terhenti seketika.
"Maksud Rafa, kita harus saling mengenal dulu gitu Pa. Pas udah pacaran biasanya sifat aslinya pada keliatan tuh, nah dari situ Rafa jadi tau cocok atau enggaknya hehehehe...."
"Halah, itu mah alasan lo doang. Emang dasar lonya aja yang playboy." Eowyn menimpali.
"Jomblo diem aja ya. Kakak itu enggak berpengalaman soal cinta, jadi jangan.ikut-ikutan."
"Ehhh... udah! Malah jadi rame gini sih?" Salma mengusap lengan Adit untuk menenangkannya.
"Jadi yang sekarang beneran serius nih, enggak main-main?" tanya Salma.
"Hati-hati Pa... Ma... bisa jadi itu akal-akalan Rafa doang biar cepet dibeliin mobil." sindir Eowyn.
"Sembarangan kalo ngomong. Cewek gue yang ini enggak masalah ya kemana-mana gue boncengin pake motor." bela Rafa.
"Kalo pacar kamu enggak masalah diajak kemana-mana naik motor, berarti beli mobilnya nunggu Papa berbaik hati sama kamu enggak masalah dong?" ucap Adit.
"Hmmm... Rafa sih enggak masalah, cuma kasian aja kalo ntar musim.ujan terus pacar Rafa kehujanan Pa."
"Tuuhhh kan, Pa! Itu tuh cuma akal-akalan si Rafa doang."
"Hahahahaha... ya kalo ujan neduh dong, biar enggak kehujanan." kata Salma.
"Ya kalo ujannya seharian, Rafa neduhnya bisa nginep di hotel Ma sambil tiduran."
"Jangan macem-macem, Fa!" bentak Adit.
"Hehehehehe... bercanda, Pa. Mana Rafa berani kayak gitu. Rafa enggak dapet uang jajan dari Papa aja takut, gimana Rafa mau macem-macemin anak orang? Serem Rafa ngebayangin digorok sama Papa."
__ADS_1
"Husshhh...." Salma memukul bahu Rafa. "Hati-hati kalo ngomong, Papa mana mungkin bertindak kayak gini. Paling bibir kamu doang yang pecah ditonjok sama Papa."
"Tuuuhhh, Mama ngomongnya enggak beda jauh sama Rafa."
"Bedalah. Kalo kamu kan bilangnya mau digorok sama Papa, Mama cuma bilang kamu bakal ditonjok."
"Yang jelas kamu bakal habis sama Papa kalo berani berbuat kayak gitu." ancam Adit sambil melempar tatapan tajam pada Rafa.
"Ampun, Pa. Rafa bakal jadi anak baik kok." jawab Rafa sambil menangkupkan kedua telapak tangannya seperti orang yang sedang memohon ampunan.
Hingga akhirnya perhatian mereka teralihkan dengan sapaan salam dari Rayyan yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Malem banget pulangnya. Kamu masih mau makan?" tanya Salma.
"Nanti Rayyan makan roti sama minum susu aja, Ma. Enggak laper banget kok."
"Jadi besok pak Hendra udah bisa ngantor sama Papa?" tanya Adit.
Rayyan mengangguk. "Bisa, Pa. Rayyan bisa handle kok."
"Bang...." panggil Eowyn. "Kalo abang aja jam segini baru sampai rumah, terus Zahra baliknya gimana, Bang?"
"Justru karena abang nganterin Zahra balik dulu, makanya jam segini abang baru nyampe."
Eowyn bernafas lega. "Kalo lembur sampai malam, tolong anterin Zahra balik dulu ya Bang. Kasian dia malem-malem kalo harus balik sendirian."
"Ciiieeee... nganterin kak Zahra balik! Bisa tumbuh cinta nih pada kakak cantik!" ledek Rafa.
"Diem lo!" jawab Rayyan sambil melotot ke arah Rafa.
"Rayyan ke kamar dulu Pa... Ma... mau bersih-bersih dulu." pamit Rayyan yang kemudian berjalan meninggalkan anggota keluarganya yang lain dan dengan sengaja memukulkan tas kerjanya pada kepala Rafa.
"Sakit woi!k teriak Rafa. "Ma, itu tas ada laptopnya Ma. Sengaja tuh kak Rayyan. Ntar kalo Rafa enggak dapet cumlaude itu berarti karena kak Rayyan ya Ma. Kenceng banget nih nimpuknya." sambungnya sambil mengusap kepalanya.
"Hahahahaha... IPK kamu keluar dalam beberapa minggu lagi, kalo enggak cumlaude berarti karena kamu kebanyakan pacaran daripada belajar." jawab Salma sambil mengusap kepala Rafa.
****
Jangan lupa like, comment sama vote-nya ya. Mohon maaf kalo up-nya kelamaan karena konsentrasinya kebagi sama bikin pesenan kue 😅 Setelah lebaran diusahakan rutin deh ya up-nya, terima kasih 😘
__ADS_1