
Happy reading 😊
***
"Sep, nanti tolong berhenti di apotek bentar ya. Mas Adit minta dibeliin obat flu"
"Siap mbak"
Tak berapa lama, mobil yang ditumpangi Salma berhenti di sebuah apotek. Salma membuka payung kecilnya dan segera turun dari mobil.
Salma berkeliling sebentar mengitari rak-rak obat, mengambil sekardus vitamin C dan obat yang Adit minta. Saat akan berjalan menuju kasir, matanya terpaku pada sebuah alat kesehatan.
"Udah lama banget enggak pake ini" gumamnya sambil tersenyum.
Ia segera berjalan menuju kasir dan membayarnya. Begitu keluar apotek, hujannya menjadi sangat deras. Sepatu hak tinggi yang ia pakai cukup membuatnya was-was jika jatuh terpeleset. Hingga akhirnya, Salma memutuskan untuk melepas sepatunya dan menentengnya sambil berjalan menuju mobil.
"Deres banget ujannya" ucapnya saat memasuki.
"Iya mbak, tau gitu tadi biar saya aja yang keluar untuk beli obatnya"
"Gapapa, kamu santai aja. Tolong tisu dong, Sep"
"Oohh, iya. Ini mbak" jawab Asep sambil menyerahkan kotak tisu yang ada dimobil.
"Santai aja ya, Sep. Ga usah buru-buru, mas Adit katanya udah minum obat, ini cuma buat persediaan aja karena yang di rumah udah habis" ucap Salma sambil mengelap kakinya dengan tisu.
"Baik, mbak"
🎎
"Mas Adit dimana, bu?" tanya Salma ketika bertemu dengan bu Sari yang membukakan pintu untuknya.
"Di ruang kerjanya, mbak. Barusan minta dibikinin jus jeruk"
"Oohhh... oke, makasih bu"
Salma berjalan menuju ruang kerja Adit. Setelah pintu terbuka, nampak suaminya tengab sibuk berkutat di depan laptopnya.
"Hai, sayang. Keujanan ya?" tanya Adit dengan menatap Salma sekilas.
"Sedikit, tadi begitu keluar apotek hujannya jadi deres banget" jawabnya sambil meletakkan tasnya dimeja. "Jadi kantornya pindah ke rumah nih, mas? Hehehehe"
"Cuma untuk ngecek ini doang, tadi udah ga sanggup lagi untuk ngelanjutin di kantor. Jadi aku balik aja buat tidur dan minta pak Hendra untuk kirimin ke email, baru aja aku mulai cek"
"Ooohhh... yaudah aku mau mandi dulu"
"Pake air anget, Sal. Biar ga masuk angin"
__ADS_1
"Siap, pak bos" jawab Salma lalu mengecup pelipis kiri Adit.
🎎
"Udah selesai?" tanya Salma ketika Adit baru saja masuk ke dalam kamar dan dijawab anggukkan oleh Adit.
Adit langsung merebahkan tubuhnya disebelah Salma yang telah lebih dulu berbaring di kasur sambil nonton TV. Tangannya melingkar diperut Salma, memeluknya dengan erat dari samping.
"Tadi bilangnya cuma bentar, ternyata lama juga kan habis makan siang baru selesai" imbuh Salma sambil mengelus rambut Adit.
"Iya, ternyata banyak banget. Sorry ya sayaaaang"
"It's OK, yang penting Sabtu Minggu udah enggak mikirin kerjaan lagi kan?"
Adit menggeleng. "Besok aku sarapan oatmeal aja, Sal. Sama buah potong"
"Enggak mau makan bubur? Atau nasi pakai sup ayam gitu mas?"
Adit menggelengkan kepalanya. "Aku enggak sakit, sayaaaang... ini udah mendingan kok. Aku... mau tidur duluan boleh? Kayaknya efek obatnya udah mulai bereaksi, Sal"
"Tidurlah, mas Adit harus cepetan sehat ya" jawab Salma dengan mengecup puncak kepala Adit.
Tak berselang lama, terdengar suara dengkuran halus dari Adit. Salma memiringkan tubuhnya, dan mengamati wajah Adit yang tengah terlelap. Disentuhnya pipi Adit dan memberikan sentuhan lembut disana.
"Terimakasih udah bekerja keras untukku dan keluarga kita" gumam Salma.
🎎
Setelah selesai dengan urusannya, ia keluar dengan wajah sumringah. Berjalan menuju ruang kerja Adit, dan mempersiapkan sebuah hadiah untuk Adit. Setelah semuanya selesai, ia turun ke bawah untuk menyiapkan menu sarapan yang diminta Adit.
"Mas Adit masih sakit ya, mbak?" tanya bu Sari yang tengah sibuk memasak untuk sarapan.
"Udah enggak kok bu, dari semalem udah mendingan. Semoga aja enggaj jadi flu, biasanya kalo udah kena satu pasti nular kan ke yang lain" jawabnya sambil memotong buah melon.
"Iya, apalagi ke mbak Salma hehehehehe..."
"Oiya bu, nanti tolong bilangin Asep suruh beliin susu kacang ya. Minta dicampur aja yang susu kacang hijaunya"
"Oohhh, siap mbak. Mau beli berapa bungkus mbak?"
"Beli aja empat, tapi yang dicampur satu aja. Yang tiga susu kacang biasa, kalian pasti ga suka kalo susu kacangnya dicampur kan? Hehehehe"
"Saya sama Asep ga usah, mbak. Buat mbak Salma sama mas Adit aja"
Salma menggelengkan kepalanya. "Beli empat, kita kan disini tinggal bareng-bareng bu. Kalo minum satu ya harus minum semua, OK? Saya ke atas dulu deh ya bawain sarapannya mas Adit, nanti saya makannya disini aja bu. Ga usah disiapin" jawabnya lalu berjalan keluar dapur dengan membawa nampan makanan.
Salma meletakkan nampan makanannya dimeja samping sofa jendela. Ia berjalan menghampiri Adit yang masih meringkuk, tertidur dengan pulas di kasur.
__ADS_1
"Bangun, mas" ucapnya sambil mengecup pipi Adit dan mengelusnya.
Adit menggeliat, matanya mulai terbuka sedikit dan menguap. "Jam berapa, Sal?"
"Hmm.. sekarang udah hampir jam tujuh"
Adit segera menyingkap selimut dan berlari kecil menuju kamar mandi.
"Mas... ini hari Sabtu loh, bukan hari kerja" teriak Salma yang melihat tingkah Adit. Ia mengira jika Adit akan buru-buru untuk bersiap pergi ke kantor.
"Iya, aku cuma kebelet kencing" jawab Adit daru dalam kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Adit keluar dengan wajah yang telah dibasuh dan menggosok giginya.
"Sini, sarapan dulu" ucap Salma sambil menepuk kasur. Ia lalu bangkit mengambil nampan makanan dan menyerahkannya kepada Adit.
"Ngapain makan di kamar sih, Sal? Aku kan bisa turun ke bawah"
"Udah, dimakan aja jangan banyak comment"
Adit mulai menyendok oatmealnya, menghabiskan semua makanan yang telah disiapkan oleh Salma sambil menonton TV. Sesekali ia memberikan suapan buah potong pada Salma yang duduk disebelahnya.
"Udah selesai?" tanya Salma saat melihat Adit menyeka mulutnya. Adit mengangguk, ia lantas meraih nampan makanan tersebut dan meletakkannya dimeja.
Salma berjalan menuju lemari bajunya, lalu mengeluarkan sebuah kotak berwarna navy kepada Adit.
"Apa ini?" tanya Adit kepada Salma yang duduk dihadapannya.
"Hadiah, karena mas Adit udah bekerja keras selama ini"
Adit tersenyum. "Itu kan memang sudah jadi kewajibanku, sayaaang" jawabnya sembari mencubit gemas pipi kanan Salma.
"Boleh aku buka sekarang?" tanya Adit.
Salma menjawabnya dengan anggukkan, senyumnya terukir lebar dan matanya sedikit berkaca-kaca.
"Kamu kenapa?" tanya Adit yang bingung dengan ekspresi Salma.
"Enggak ada apa-apa, mas. Udah, buruan dibuka"
Adit segera membuka kotak tersebut, matanya membelalak menatap sebuah benda yang diletakkan Salma didalamnya.
"Sal, ini..."
Salma mengangguk. "Yep! Akhirnya kita dapat dua garis, mas" selanya dengan cepat, diiringi air mata yang mulai berjatuhan.
Adit pun tak mau kalah, air matanya juga ikut keluar tanpa aba-aba. Ia benar-benar speechless, tangannya yang gemetar masih memegangi testpack yang diberikan Salma.
__ADS_1
"Alhamdulillah yaa Allah, Alhamdulillah..." ucap Adit sambil menarik Salma dalam pelukannya, mengecupi puncak kepala Salma dan mendekapnya dengan erat.
Keduanya menangis bersama, meluapkan perasaan haru dan bahagia yang luar biasa atas moment yang telah mereka nantikan selama 14 bulan pernikahan ini.