
Happy reading 😊
***
"Baiklah, Pak. Mari kita coba."
Jawaban Zahra memang terkesan seperti keterpaksaan. Gadis yang jemarinya masih digenggam oleh Rayyan itu seolah masih bingung dengan perasaannya sendiri. Namun Rayyan menerimanya, ia tersenyum lebar mendengar jawaban dari Zahra.
"Terima kasih." Rayyan berbisik sembari memeluk Zahra dengan erat.
Masih merasa canggung dengan situasi sekarang, Zahra tidak melingkarkan tangannya pada pinggang Rayyan. Ia hanya memegangi kemeja Rayyan sambil mengontrol detak jantungnya yang tak terkendali hanya karena sebuah pelukan dari Rayyan.
"Karena sekarang kita telah menjalin sebuah hubungan, jadi berhentilah memanggilku 'Pak' saat kita sedang bersama atau tidak sedang berurusan dengan pekerjaan." ucap Rayyan saat melepaskan pelukannya. "Kamu masih ingat kan harus memanggilku dengan sebutan apa? Aku udah pernah bilang ke kamu waktu di Bandung."
Zahra diam sejenak, mencoba mengingat kejadian di Bandung kala itu. Setelah dirasa menemukan jawabannya, barulah ia menganggukkan kepalanya.
"Apa coba?"
"Sayang?" Zahra berucap dengan hati-hati. Detak jantungnya bahkan kembali berdebar dengan kencang saat bibirnya mengucapkan kalimat itu.
"Iya, sayang." jawab Rayyan sembari merapikan rambut Zahra yang sedikit berantakan akibat pelukannya tadi.
Rayyan nampaknya sengaja memancing Zahra untuk mengucapkan kata panggilan itu terlebih dulu. Lalu mendengar Rayyan menjawabnya dengan memanggil Zahra dengan sebutan yang sama, hal itu sukses membuat pipi Salma langsung bersemu merah.
"Bapak kayaknya mulai ketularan Rafa!" Zahra mencoba melepaskan diri dari Rayyan dengan mencubit perut Rayyan, namun usahanya sia-sia. Rayyan malah kembali mendekapnya dengan erat.
"Aku kan udah bilang untuk enggak pake panggilan itu. Sebagai gantinya kan bisa pake 'aku' sama 'kamu'."
"Belum terbiasa." jawab Zahra dengan lirih. Kini, kedua lengan gadis itu telah melingkar sempurna dipinggang Rayyan.
Rayyan terkekeh, ia mengerti akan hal itu karena sejak awal perjumpaan mereka keduanya langsung berada pada situasi yang formal.
"Emangnya kenapa kalo aku mirip Rafa? Aku kan kakaknya."
"Mau jadi playboy juga kayak Rafa?" tanya Zahra sambil mendongakkan kepalanya menatap ke arah Rayyan.
"Emang aku punya tampang playboy?"
"Rafa juga enggak punya tampang playboy, tapi kamu..." Zahra menjeda perkataannya, merasa canggung untuk berbicara tidak formal seperti biasanya dengan Rayyan.
__ADS_1
"Aku kenapa?" Rayyan penasaran dengan kalimat Zahra yang belum terselesaikan itu.
"Kamu... udah mulai pinter ngomong manis. Itu kan modalnya Rafa buat ngegaet banyak cewek."
Rayyan tertawa, rengkuhan tangannya masih erat melingkar dipinggang Zahra. "Aku udah sering ngomong manis ke kamu aja kamu enggak takluk-takluk sama aku, Zah. Gimana aku bisa ngoleksi cewek kayak Rafa kalo buat dapetin kamu aja aku harus berjuang berkali-kali lipat dari Rafa."
"Sesusah itukah?" Zahra bertanya kembali dengan suara yang pelan, dan langsung menjawab anggukkan kepala oleh Rayyan.
"Untuk itu jangan mengeluh kalo nanti kamu enggak bisa lepas dariku. Karena aku enggak punya planning untuk melepasmu." ucap Rayyan dengan wajah yang semakin mendekat kenwajah Zahra.
"Ini... di kantor." Zahra menjauhkan wajahnya.
"Lalu kalo enggak di kantor apa kamu mau?" tanya Rayyan dengan nada yang menggoda.
Pipi Zahra kembali memerah, sepertinya memang bakat terpendam Rayyan yang tukang menggoda mulai menampakkan diri ke permukaan.
"Bukan begitu. Kamu sendiri kan yang pernah kalo... enggak akan berbuat hal begitu di kantor."
"Tapi untukmu pengecualian, sayang." jawab Rayyan yang kemudian menarik tubuh Zahra untuk menempel padanya dan mulai mencicipi bibir yang beberapa bulan ini selalu membuatnya tergoda.
Ciuman manis itu terjadi beberapa saat, cukup lama hingga harus terlepas saat Zahra mulai kesulitan mengatur nafasnya.
***
Rayyan baru saja selesai mandi saat mamanya masuk Salma mengetuk pintu kamarnya dan membawakannya segelas susu hangat.
"Kenapa dibawain ke kamar sih, ma? Rayyan kan bisa turun ke bawah." ucap Rayyan sambil berjalan mendekati mamanya dan mengenakan kaosnya.
"Mama yang pengen. Kata Papa minggu depan kamu mau ke Bali?"
Rayyan mengangguk sambil terus meminum susunya. "Cuma dua malam disana. Nadine minta minggu depan, dadakan banget."
"Mama jadi curiga kenapa sekarang dia jadi mau ambil alih kerjaan papanya. Padahal sebelumnya kan enggak."
"Coba tanya bi Yati, barangkali bibi tau. Bi Yati kan suka gosip hehehehe...."
"Hmmm... tumben kamu bisa ngelucu, ada angin apa?" selidik Salma sambil duduk dipinggir ranjang yang kemudian diikuti Rayyan.
"Jadi mama maunya aku kayak gimana?" Rayyan menggaruk kepalanya.
__ADS_1
"Bukan begitu, mama ngerasa aneh aja. Biasanya kamu bakal nolak berkomentar kalo udah berhubungan sama Nadine, tapi barusan kamu malah ngelucu. Ada apa?"
"Enggak ada apa-apa, ma. Rayyan-"
"Wajah kamu juga keliatan lebih happy, kayak habis dapet rezeki." Salma menyela dengan cepat. "Masih belum mau cerita sama mama?."
"Cerita apa sih, ma?"
"Ya cerita yang bikin kamu se-happy inilah."
"Tapi janji, mama jangan kaget ya?" kata Rayyan yang kemudian diangguki oleh Salma.
"Rayyan... jadian sama Zahra, ma."
Bukannya terkejut, Salma justru tersenyum dengan lebar. Hal itu tentu membuat Rayyan penasaran, kenapa mamanya bereaksi demikian.
"Laaahhh... abang! Rafa kan belum suruh abang bertindak secepat itu, kenapa udah jadian aja sih?" ucap Rafa yang tiba-tiba menyelinap masuk ke kamar Rayyan karena pintunya terbuka sebagian.
"Kamu ngapain pula ngatur-ngatur abang?" Salma mencubit pipi Rafa yang duduk disebelahnya. "Lagian kan bagus kalo abang akhirnya jadian sama Zahra. Biar kamu bisa cepet-cepet dapet motormu kembali kan?"
"Mama kok tau?" Rayyan langsung mengernyitkan dahinya, lalu menatap tajam ke arah Rafa.
Rafa hanya diam saja sambil menyembunyikan tubuhnya dibelakang Salma. "Mama sih, pake bilang segala." Rafa berbisik pada sang mama.
"Rafa ngasih tau mama kalo kamu lagi pendekatan sama Zahra. Rafa cuma mau mastiin kalo mama atau papa enggak masalah sama hubungan kalian, jadi nanti usahamu enggak sia-sia karena ditentang mama dan papa."
"Tapi tetep aja enggak boleh gitu dong, ma. Itu namanya dia enggak bisa menjaga rahasia."
"Udaaahhh... yang penting kan sekarang udah jadian. Berarti mama sama papa udah harus siap-siap buat bikin hajatan dong ya? Iya enggak, Fa?"
"Betul tuh kata mama. Abang emang the best-lah!" Rafa langsung mengarahkan kedua ibu jari tangannya ke arah Rayyan.
"Tapi perjanjian kita batal, enggak ada imbalan motor buat lo. Sana keluar!" usir. Rayyan sambil menendangi kaki Rafa yang masih bersembunyi dibelakang Salma.
***
Votes, likes dan comments-nya jangan lupa ya. Crazy up dikasih kalo masuk 100 besar ya, jadi kalo belum masuk 100 besar ya up-nya cuma 1 eps aja ehehehehe.... 😅🙏
Yang belum baca Cupcake's Love sama Lean On Me bisa mampir dulu ya. Terima kasih....😊
__ADS_1