
Happy reading 😊
***
Banyak orang yang mengatakan membenci hari Senin. Mereka bilang belum bisa berpaling dari nikmatnya hari libur yang mereka rasakan. Namun, banyak juga orang yang menyukai hari Senin. Disinilah semua energi yang dikumpulkan selama weekend telah memenuhi diri dan siap untuk dikeluarkan untuk menghadapi kerasnya kehidupan.
Zahra, tidak pernah memilih hari mana yang paling ia sukai dan mana yang tidak. Baginya, semua hari sama saja. Tidak ada yang spesial baginya, maupun sebuah long weekend yang disuguhkan untuknya. TToh dia juga tetap harus bekerja keras demi hidupnya.
Terlahir dari keluarga yang biasa saja, Zahra terbiasa untuk bekerja keras dari usia muda. Dia selalu membantu ibunya yang memiliki usaha warung makan sederhana yang tak jauh dari rumahnya. Bukan tanpa alasan ketika dia memutuskan untuk bekerja di kafe saat kuliah. Kebutuhannya yang semakin banyak membuatnya harus mencari cara agar mendapatkan penghasilan yang lebih banyak dibanding membantu ibunya mengelola warung makannya.
Pagi ini, Zahra berangkat ke kantor lebih awal. Ia dan bu Meta akan merampungkan bahan presentasi rapat siang ini. Selama dua bulan bekerja di perusahaan keluarga temannya, dia merasa bersyukur dengan pendapatannya yang begitu banyak. Oleh sebab itu, ia tidak masalah jika harus berangkat pagi dan lembut. Demi mengamankan dirinya tetap pada posisi itu sampai setelah selesai wisuda pun, Zahra tidak keberatan.
Suara langkah kaki yang mendekat mengalihkan pandangan Zahra dan bu Meta yang masih sibuk menyelesaikan tugas. Bosnya telah tiba. Zahra langsung bersiap, mengambil buku catatannya dan mengikuti Rayyan masuk ke dalam ruangannya.
"Selamat pagi, Pak. Bapak mau minum sesuatu?" tanya Zahra begitu sampai di depan meja Rayyan.
"Enggak. Ada agenda apa aja hari ini selain meeting siang nanti?" tanya Rayyan sambil melepas jasnya dan menyampirkannya dikursi tempatnya duduk.
"Hanya pertemuan dengan pihak periklanan jam 4 sore nanti, Pak."
"Selebihnya aku kosong?"
Zahra mengangguk. "Bapak ada keperluan lain?"
"Tidak, aku cuma bersantai."
"Baik, Pak. Kalo begitu saya permisi."
Baru saja keluar dari ruangan Rayyan, Zahra dikagetkan dengan seorang wanita yang berjalan mendekat padanya.
"Rayyan ada di ruangannya kan?" tanya Nadine yang berhenti di depan Zahra.
__ADS_1
"I-iya, ada. Tapi... Anda harus membuat janji temu dulu."
"Aku udah buat kok sama Rayyan, permisi ya." Nadine memaksa Zahra untuk bergeser dari depan pintu ruangan Rayyan.
Zahra memutar tubuhnya saat Nadine hampir selesai menutup pintu ruangan Rayyan. Zahra masih dapat melihat jelas senyum Nadine yang terarah padanya. Pikirannya berkecamuk, mungkinkah bosnya akan marah karena membiarkan tamu masuk begitu saja tanpa melapor padanya terlebih dulu? Tapi tadi wanita itu bilang telah membuat janji dengan Rayyan.
Zahra masih mematung di depan pintu ruangan Rayyan, saat interkom dimeja Meta berbunyi. Zahra dapat mendengar jelas jika bosnya itu meminta tolong kepada Meta untuk membuatkan minuman. Bahkan Rayyan meminta dua cangkir minuman! Padahal beberapa saat yang lalu, Rayyan menolak ketika dirinya menawarkan minum.
"Zah." panggil bu Meta dari meja kerjanya. "Tolong lanjutin dulu, ya. Aku mau buatin minuman dulu buat Pak Rayyan sama tamunya."
Zahra hanya mengangguk, lalu segera berjalan menuju meja kerja bu Meta. Entah kenapa pikirannya menjadi kacau, moodnya juga berubah menjadi tak karuan. Beberapa menit melanjutkan pekerjaannya dengan bu Meta, Zahra bernafas lega saat ia berhasil memaksa otaknya untuk terfokus dan menyelesaikan materi untuk meeting nanti.
"Yang didalam itu... pacarnya pak Rayyan ya, Zah?" tanya bu Meta saat kembali ke meja kerjanya.
"Aku... enggak tau, bu. Mungkin saja iya."
"Aku baru kali ini sih liat ada yang nyariin pak Rayyan secara pribadi. Sejak mengambil alih perusahaan ini kan pak Rayyan seringnya sama kamu, siapa tau kalian pernah ketemu di luar kan?"
Zahra hanya terdiam sambil terus sibuk berfokus dengan laptopnya untuk memindahkan file.
"Emangnya... sekarang akan gimana?" Zahra menatap bu Meta dengan tatapan penuh penasaran.
"Ya aku juga enggak taulah, Zah. Kan mereka di dalam, aku di luar. Mereka duduknya aja udah sebelah-sebelahan, ya bisa jadi sekarang mereka udah mepet satu sama lain kan?"
Perkataan bu Meta barusan membuat Zahra refleks menatap pintu ruangan Rayyan yang tertutup rapat itu.
"Ahh... kamu mah polos banget, Zah. Jadi teracuni kan sama aku yang udah berpengalaman ini." bu Meta kembali terkekeh geli dengan perkataannya sendiri. Wanita beranak dua itu bahkan tidak mengetahui perubahan ekspresi wajah Zahra yang masih memandangi pintu ruangan Rayyan.
***
Sudah satu jam lebih tamu wanita Rayyan itu berkunjung, dan nampaknya belum ada tanda-tanda mereka akan mengakhiri pertemuannya. Zahra terlihat gusar, waktu menuju meeting tersisa beberapa menit lagi.
__ADS_1
"Mereka ngapain sih? Lama banget enggak kelar-kelar!" Zahra akhirnya bersuara setelah sedari tadi terus menahannya. Zahra berucap kesal sambil kembali menatap pintu ruangan Rayyan.
"Yaahhh, namanya juga orang pacaran Zah. Mana bisa sebentar? Mungkin aja mereka habis LDR-an kan, jadi kangen-kangenan dulu." ucap bu Meta santai tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan dokumen di depannya.
"LDR? Hah, balikan iya!" Zahra menggerutu dalam hati.
"Enggak inget apa kalo bentar lagi ada meeting penting!" Zahra beranjak dari kursinya yang membuat bu Meta terkejut karena hentakan kursi Zahra.
"Kamu mau ngapain?"
"Mau aku ketok pintu ruangannya bu, biar udahan tuh acara berduaannya."
"Udaaaahhh.... biarin aja. Kamu duduk aja sini." bu Meta menarik lengan Zahra agar ia duduk kembali. "Rapat juga enggak akan dimulai kalo pak Rayyan belum dateng kan?" imbuhnya.
Zahra hanya menghela nafasnya, mencoba menyingkirkan entah perasaan apa yang sedari tadi bercokol dihatinya. Pandangannya dan bu Meta langsung menatap ke arah ruangan Rayyan saat pintu ruangannya terbuka, menampilkan Rayyan dan Nadine yang tak berhenti mengumbar senyumnya.
"Enggak perlu nganterin aku, kamu siap-siap aja untuk rapat sebentar lagi." Nadine mengusap lengan Rayyan sambil tersenyum.
Rayyan hanya mengangguk, lalu membiarkan Nadine pergi meninggalkannya. Nadine tersenyum pada Zahra dan bu Meta saat berjalan melewati meja keduanya, membuat Zahra memusatkan pandangannya pada Nadine yang berjalan menuju lift.
"Zah, ke ruanganku bentar." ucap Rayyan yang nampaknya tidak digubris oleh Zahra yang masih sibuk memandangi Nadine.
"Zah?" Rayyan kembali memanggil Zahra yang masih mengabaikannya.
Rayyan berjalan mendekati meja Zahra, lalu dengan sengaja menyentil telinga Zahra.
"Awwww! Sakit tau, Pak!" pekik Zahra sambil mengelus telinga kirinya.
"Salahmu sendiri enggak dengerin aku. Cepet ke ruanganku sekarang." Rayyan memutar tubuhnya lalu berjalan masuk ke ruangannya, meninggalkan Zahra yang masih menggerutu akibat sentilannya.
***
__ADS_1
Maaf ya baru up lagi, karena dari Sabtu kemarin meriang. Jadi dirapel deh ya up-nya hari ini hehehehehe....
Jangan lupa mampir baca Cupcake's Love dan Lean On Me. Vote, likes dan comments-nya jangan ketinggalan. Terima kasih 🤗😘