MENIKAH

MENIKAH
S2 - Tahan


__ADS_3

Happy reading 😊


......................


"Zahra sama abang balik kesini, Ma?" tanya Eowyn yang baru saja masuk ke dapur bersama Zach.


Keduanya baru saja pulang kerja, dan Zach memutuskan untuk makan malam bersama keluarga Eowyn sekalian meminta ijin mengajak Eowyn liburan bersama keluarganya.


"Iya, baru setengah jam yang lalu sampai. Mungkin lagi pada istirahat di kamar." jawab mama Salma sembari menata meja makan.


"Duduk dulu, Zach. Kamu mau minum yang dingin atau panas? Biar diambilin sama bi Yati." imbuh Mama Salma.


"Apa aja, Tante hehehehe...."


"Sayang, duduk dulu ya. Aku mau ke atas dulu ganti baju sekalian nyapa Zahra."


"Hm, naiklah." Zach menarik kursi makan lalu menerima sodoran jus jeruk dari bi Yati.


"Tunggu ya, sebentar lagi mas Adit pasti turun. Kalian bisa ngobrol disini, jadi kamu enggak kesepian karena ditinggal Eowyn ke kamar."


"Hehehehe... iya, Tante." Zach tersenyum canggung. Calon mertuanya ini paham saja jika dia merasa tidak nyaman sekarang karena ditinggal sendirian di ruang makan itu.


Tak berselang lama, Papa Adit muncul dan langsung menyapa Zach dengan sumringah. Papa Adit memang selalu seperti itu. Itulah yang selalu membuat Zach bersyukur bisa mendapatkan calon mertua yang welcome kepadanya sejak awal.


"Eowyn bilang kamu datang untuk makan malam disini, jadi aku segera turun karena dia pasti akan sangat lama kangen-kangenan sama Zahra." ucap papa Adit yang menemani Zach duduk dimeja makan.


"Ahh, iya. Maaf jika saya mengganggu Pak, eee... maksud saya 'Om'."


Papa Adit tertawa, Zach masih saja salah memanggil sebutan panggilan untuknya jika sedang tidak berada di kantor.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku cuma sedang baca koran. Eowyn mengirim pesan padaku siang tadi, dia bilang kau mengajaknya untuk berlibur bersama keluargamu Jumat sore ini."


"I-iya, jika Om Adit mengijinkan."


"Aku selalu mengijinkanmu, Zach. Asal kamu bisa menjaga putriku dengan baik. Lagian keluargamu juga ada disana, jadi aku tidak perlu mencemaskan kalian."


Zach mengangguk. "Jika hanya pergi berdua justru saya tidak berani mengajak Eowyn, karena saya tau pasti Om Adit akan menolaknya."


"Baguslah kalo kamu udah ngerti, Zach hahahahaha...."


"Sabarlah, Zach. Tahun depan tidak akan lama." imbuh mama Salma sambil meletakkan piring berisi lauk dimeja makan.


Perkataan itu tentu saja membuat Zach tersipu malu. Bagaimana bisa Tuhan sebaik ini memberikannya kekasih dan calon mertua yang super baik.


......................


"Zaaaahhhhh!" seru Eowyn yang langsung nyelonong masuk ke kamar abangnya.


"Ketuk pintu dulu, Wyn." Rayyan memperingatkan dengan nada tegas. Rayyan bahkan harus merelakan usapan tangan lembut sang istri dikepalanya terhenti karena Zahra memintanya untuk bangun.


"Maaf, Bang. Soalnya aku udah kangen banget sama Zahra." jawab Eowyn seraya berjalan mendekati Zahra dan saling berpelukan.


"Sekarang abang udah enggak lagi sendiri, lain kali biasakan ketuk pintu sebelum masuk. Gimana tadi jadinya kalo pas kamu masuk sementara aku dan Zahra sedang telanjang?" Rayyan berucap sambil beranjak dari ranjang dan memakai sandal rumahnya.


Perkataannya itu tentu saja langsung mendapatkan pelototan dari Zahra. Tapi Rayyan tidak menggubrisnya, tujuannya kan baik. Lagian untuk apa pula Zahra malu-malu begitu, Eowyn kan juga sudah dewasa dan pastinya mengerti apa maksud dari perkataannya.


"Ya salah abang sendiri, siapa suruh mau mantap-mantap tapi enggak kunci pintu." Eowyn menjawab dengan santai, lalu menjulurkan lidahnya ke arah abangnya.


"Zach ikut kesini?" tanya Rayyan yang langsung mendapat anggukan oleh Eowyn.

__ADS_1


"Aku akan ke bawah, ada beberapa hal yang harus aku bicarakan dengan Zach. Kalian nikmatilah waktu kangen-kangennya."


Rayyan memilih mengalah. Lagian pasti juga akan membosankan jika dirinya memilih untuk tetap berada diantara dua perempuan yang disayanginya itu, terlebih lagi ia pasti juga tidak akan dianggap ada keberadaannya karena saking asiknya mereka mengobrol.


......................


Matahari baru saja kembali ke peraduannya. Cahaya gelap mulai menyergap diselingi pendar warna jingga hingga membuat pemandangan sore itu semakin indah.


Rafa dan Alita masih setia duduk dipasir sambil memandangi pemandangan indah di depannya. Meskipun belum banyak bicara dan seceria biasanya, namun kini Alita telah mau bersandar dibahunya. Bahkan gadis itu tertawa lebar saat Rafa mengeluarkan candaannya yang tak jarang garing itu.


"Masih mau disini?" tanya Rafa sembari mengecup punggung tangan Alita. Tangan yang sedari tadi ia genggam dengan erat.


Alita menggelengkan kepalanya. "Sepertinya air akan pasang, kita harus pulang sekarang."


Alita menarik tangannya dan mulai beranjak dari duduk, dan tentunya diikuti oleh Rafa. Keduanya lalu berjalan beriringan sambil bergandengan tangan menuju tempat dimana Rafa memarkirkan mobilnya.


"Jangan sedih lagi, OK? Katakan padaku kalo terjadi sesuatu atau kamu pengen pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri." lagi-lagi Rafa mengecup punggung tangan Alita.


Alita hanya menjawabnya dengan anggukan kepala dan tersenyum, dan itu tidak menjadi masalah bagi Rafa.


Setelah membukakan dan menutup pintu mobil disisi Alita duduk, Rafa segera berlari kecil memutari mobil untuk masuk ke sisi kemudi.


"Biar aku bantu." ucap Rafa saat melihat Alita menarik seatbelt-nya.


Alita tertegun sesaat. Betapa beruntungnya dirinya memiliki kekasih seperti Rafa. Meskipun sikapnya kini berbeda kepadanya karena suatu alasan, tapi lelaki itu tetap memperlakukannya dengan baik.


"S-sayang." Alita berucap lirih, dan Rafa yang dihadapannya pun langsung menoleh ke arahnya.


"Ya? Kamu butuh sesuatu?"

__ADS_1


Alita menggelengkan kepalanya. Dirinya tak bisa lagi menahan keinginannya untuk mencium bibir Rafa. Entah kenapa dia begitu menginginkannya, mungkin karena dorongan rasa cemburu memikirkan gadis lain yang kabarnya pernah tidur dengan kekasihnya.


Meskipun kaget dengan gerakan Alita yang menciumnya, akhirnya Rafa tersenyum samar dan langsung meladeni Alita. Tentu saja ia akan membalas ciuman Alita, gadis yang sedang menciumnya sekarang ini kan sangat dicintainya. Mana mungkin dia akan menolaknya.


__ADS_2