
Seminggu berlalu sejak pertengkaran Adit dan Salma. Hubungan mereka kembali seperti semula, meskipun sesekali Salma menjadikan kesalahan Adit tersebut sebagai bahan candaan. Tya juga sudah kembali ke rumahnya dan menerima perjodohan yang diatur oleh kedua orangtuanya.
"Mbak Salma, coba ini dicicipin dulu, barangkali ada bumbu yang kurang" ucap bu Sari sambil menyodorkan sesendok makanan yang baru saja selesai dimasak.
Sarah mengambil alih sendok tersebut dan segera mencicipi makanannya. "Enggak kok bu, udah pas" jawabnya sambil meletakkan sendok ke bak cuci piring.
"Kalo leunca rasanya gimana sih bu? Yang kemarin temen saya bawa ke sekolah, tumis oncomnya dikasih leunca. Keliatannya enak, cuma giliran tadi liat leuncanya saya jadi takut rasanya aneh"
"Ya gitu deh mbak, susah jelasinnya. Kalo menurut saya ya ada rasa pahitnya dikit. Tapi kalo yang seneng ya enak-enak aja, apalagi dicampur oncom gini"
"Pahit kayak pare?"
"Masih pahitan pare, mbak. Cuma kalo parenya diirisnya tipis trus diremas-remas dulu pake garam kasar, pahitnya juga ga kerasa. Trus ditumis deh dipakein teri, udang atau tempe gitu. Campur pete lebih enak lagi"
"Hahahahaha... bu Sari nih bikin saya pengen makan pare juga. Bolehlah kapan-kapan dicobain, tapi saya makannya dikit aja dulu. Nanti kalo suka, baru deh besok-besoknya minta dimasakin lagi"
"Siap deh mbak" jawab bu Sari sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Udah siap aja sarapannya" ucap Adit disela-sela obrolan Salma dan bu Sari.
"Mas Adit juga tumben hari Sabtu jam segini udah bangun dan mandi hahahahaha" canda Salma.
"Abisnya ga ada yang nemenin ngedusel"
"Hahahahaha... iya, aku tadi ikut bu Sari ke pasar pagi. Sekalian beli jajanan pasar"
Adit melongok menatap piring makanan yang ditunjukkan Salma. "Wiihh... cucur" serunya sambil mengambil kue tersebut.
"Iya, enak banget itu mas"
__ADS_1
"Abis sarapan aku keluar bentar ya, Sal. Ryan ngajak ketemuan"
"Oohhh... oke. Mas Adit mau makan sekarang?"
"Boleh"
Salma segera menyiapkan sarapan untuk Adit. Ia sengaja melewati mangkok yang berisi tumis oncon, karena Salma yakin dengan pasti bahwa Adit akan menolaknya.
Setelah memberikan piring sarapan kepada Adit, Salma menyendok nasi untuk sarapannya. Mengabaikan menu sarapan lainnya, Salma hanya terfokus pada semangkok tumis oncom yang ditarik ke depannya.
"Kenapa ga pake udang dan sayur lainnya?" tanya Adit penasaran.
Salma menggelengkan kepalanya sambil asik mengunyah makanannya.
"Itu apaan?" tanya Adit penasaran.
"Oncom"
"Mas Adit kenapa sih? Aku kan cuma pengen makan oncom"
"Ganti menu yang lain, sayang. Itu tuh cuma ampas, kalo proses pembuatan dan penyimpanannya enggak higenis kamu bisa sakit perut"
"Ya kan aku makan sekali ini aja mas, ntar siang juga makan yang lain"
"Berarti sekarang kamu niat mau ngabisin semangkok itu kan? Udah, ambil makanan yang lain. Buat apa kamu sama bu Sari masak menu macem-macem gini kalo kamu cuma makan oncom doang. Ini tuh ampas, Sal. Limbah tau ga?" Adit sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Tapi oncom kan juga ada kandungan gizinya, mas. Kandungan proteinnya juga tinggi kok. Kalo emang berbahaya, ga mungkin kan dijual dan dikonsumsi banyak orang? Mas Adit ga usah berlebihan gitu deh"
"Berlebihan kamu bilang? Aku kan cuma ga pengen.kamu kenapa-kenapa, lagian kamu juga udah makan dua sendok kan tadi? Yaudah, ga usah makan lagi. Aku udah bilang dari tadi biar kamu ganti menu yang lain"
__ADS_1
"Enggak! Siniin deh oncomnya. Ngeselin deh, pagi-pagi udah ngajak ribut pas makan. Ga tau apa aku udah laper banget" Salma mulai geram. Tatapannya juga tak kalah tajam dengan Adit.
Adit bangkit dari duduknya. Berjalan menuju tempat sampah dan membuang tumis oncomnya, lalu meletakkan mangkoknya dibak cuci piring.
"Enggak ada acara makan oncom lagi. Kamu sarapan pake lauk yang lain" ucapnya sambil kembali duduk di kursi dan menyuap makanan kembali.
"Makan aja sendiri, aku udah ga pengen" ketus Salma dengan beranjak meninggalkan kursi dan berjalan menuju kamarnya.
Adit merasa kesal. Bagaimana bisa pagi yang cerah ini dilalui dengan pertengkaran dengan istrinya hanya karena oncom. Benar-benar merusak mood saja. Ia pun jadi tidak berselera makan, lalu mengambil gelas minumnya dan menyudahi sarapannya.
Adit segera berjalan menuju kamar dan mendapati Salma yang sedang duduk di sofa jendela sambil membaca sebuah buku. Ia berjalan mendekatinya dan duduk dihadapan Salma.
"Sorry Sal, mungkin aku memang berlebihan. Aku cuma ga pengen kamu kenapa-kenapa"
"Tapi itu kan cuma oncom, banyak orang yang makan juga ga kenapa-napa" jawab Salma tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang ia baca.
"Tapi daya tahan tubuh dan sistem pencernaan orang kan beda-beda, sayang"
"Tapi kan mas Adit bisa ngomonginnya dengan baik-baik, enggak harus bentak-bentak kayak tadi. Ga perlu juga sampai dibuang segala, itu kan bisa dimakan bu Sari atau Asep" Salma menutup bukunya, lalu menatap Adit denga raut wajahnya yang kesal.
"Aku tau mas Adit menghasilkan banyak uang, jadi bagi mas Adit ga masalah kan buang uang yang cuma beberapa ribu perak gitu aja ke tempat sampah? Tapi itu sama aja mas Adit ga ngehargain makanan. Mas Adit juga ga ngerhargain bu Sari yang udah capek-capek masak tau ga?"
"Oke-oke, aku akan minta maaf ke bu Sari. Sekarang turun dulu ya, kamu belum sarapan dengan bener. Tadi kan bilangnya laper"
"Udah ga nafsu! Mas Adit makan aja sendiri kalo masih laper. Nikmatin aja makanan yang bagi mas Adit sehat dan bukan berasal dari limbah itu" ucap Salma sambil kembali melanjutkan membaca bukunya.
Adit menghela nafasnya, lalu mengacak rambutnya kasar.
"Mas Adit sendiri kan yang bilang oncom itu limbah? Jadi ga usah tersinggung kalo aku bilang begitu" sambung Salma dengan nada yang ketus.
__ADS_1
"Terserah" balas Adit dengan nada yang tak kalah ketus kemudian beranjak dari duduknya dan keluar kamar.
Tak lama setelahnya, Salma melihat dari jendela kamarnya mobil Adit yang melaju meninggalkan rumah. Sedahsyat ini efek perdebatan oncom bagi mereka, hingga membuat Adit pergi keluar rumah tanpa berpamitan dengan Salma untuk pertama kalinya. Meskipun sebelumnya Salma telah mengetahui kemana suaminya itu akan pergi.