
Seharian ini, Salma dan Adit berkeliling beberapa toko perlengkapan bayi untuk membeli segala kebutuhan sang bayi. Keduanya begitu bersemangat memilih baju dan perlengkapan lainnya. Untuk warnanya, keduanya memilih warna yang netral. Tidak condong ke warna pink atau warna biru yang identik dengan jenis kelamin anak. Karena keduanya sepakat untuk tidak mengetahui jenis kelamin anak saat USG, tentu ini jadi tantangan tersendiri bagi keduanya.
Apalagi Salma, ia begitu senang ketika matanya menangkap baju dan aksesoris yang lucu-lucu untuk bayi perempuan. Adit juga sama, ia pun tak kalah heboh dengan Salma. Hingga akhirnya mereka berdua sepakat untuk membeli sedikit perlengkapan sang buah hati. Mereka akan membelinya lagi nanti, setelah sang buah hati lahir.
Sore ini, keduanya disibukkan dengan menyusun barang-barang di kamar bayi yang telah direnov oleh Adit. Asep dan bu Sari turut serta membantu, karena Adit pasti tidak akan mengijinkannya ikut serta dalam pekerjaan menyusun perabotan ini. Ia memilih duduk di kursi yang akan ia gunakan untuk menyusui nanti, sambil memperhatikan Adit dan Asep yang telah selesai memindahkan baby tafel ke tempat yang diarahkan oleh Salma.
"Saya permisi keluar dulu, mas" ucap Asep.
"Oohh, oke Sep. Terimakasih banyak ya" jawab Adit dengan menepuk bahu Asep.
Adit berjalan mebghampiri Salma yang terlihat memejamkan matanya di nursing chairnya. Salma membuka matanya saat merasakan sentuhan lembut dipipinya.
"Nyaman?" tanya Adit dan dijawab anggukan oleh Salma.
"Aku takut nantinya aku yang ketiduran disini, sementara anak kita masih terjaga" Salma menegakkan posisi duduknya.
"Oiya mas, kita belum pernah sekalipun membahas nama anak kita. Mas Adit udah nyiapin nama?"
Adit menggelengkan kepalanya. "Mau kita bahas sekarang?" ucap Adit sambil menarik sebuah puff sofa tak jauh darinya.
"Eowyn" gumam Salma perlahan. "Kalo anak kita perempuan, aku pengen namanya Eowyn"
"Jadi kalo cowok, apa perlu kita menamainya Aragorn? Frodo? Atau bahkan Legolas?" jawab Adit dengan senyuman.
"Aku seriusan, mas"
"Kenapa bukan Arwen?"
Salma menggeleng. "Selama ini aku lebih suka karakter Eowyn. Dia sangat tangguh. Dia ga takut ikut berperang melawan pasukan mordor, dia juga cantik dan baik. Hebat banget pas dia bisa ngebunuh Nazgul. Padahal Nazgulnya udah kepedean bilang 'no man can kill me', ehh taunya si Eowyn lepas pelindung kepalanya trus bilang 'I am no man' hahahaha... Aku pengen anak kita jadi seorang wanita yang pemberani, mas" jelas Salma.
__ADS_1
Adit mengusak rambut Salma sambil tertawa. "Trus kalo cowok?"
Salma mengendikkan bahunya. "Aku hanya kepikiran nama itu doang, mas. Terserah mas Adit mau kasih nama siapa ke anak kita nanti"
"Kamu ga mau usul nama lain?"
Salma menggelengkan kepalanya. "Saking ga sabarnya pengen cepet ketemu dia, aku ga bisa mikirin namanya mas" jawab Salma sambil mengelus perutnya.
"Nanti aku akan pikirkan, aku butuh semedi dulu hahahaha"
"Semedi sambil tiduran ditoilet kayak tiap pagi ya? Hahahaha"
"Naahhhh... itu tau" jawab Adit sambil mencubit pipi Salma.
🎎
Menjelang hari pertama puasa, Adit dan Salma pergi di rumah orangtua Salma. Mereka akan menginap disana, agar bisa melakukan sahur bersama. Meskipun Salma dilarang Adit untuk melakukan puasa, tapi ia bertekad untuk tetap ikut bangun sahur dan melayani Adit seperti biasanya.
"Kamu enggak ada ngidam yang aneh-aneh, Sal?" tanya mama Tari.
Salma menggelengkan kepalanya sambil menikmati edamame yang disuguhkan mamanya. Sementara mamanya baru saja mulai memasak rendangnya.
"Muntah?" tanya mamanya kembali.
"Kadang-kadang, ma. Itu pun karena makan makanan yang ga dibolehin sama mas Adit. Dia kayak laporan, ma. Nurut banget sama omongan mas Adit"
"Bagus dong, jadi anak penurut"
"Tapi kan kadang aku juga pengen banget makan makanan itu, ma. Tapi dianya ga mau diajak kerjasama"
__ADS_1
Mama Tari tertawa, lalu menyerahkan spatula kotor kepada mbok Jum untuk dicuci. "Tolong diawas-awasin biar ga gosong, mbok" ucap mama Tari pada mbok Jum, lalu berjalan menuju kulkas dan menuang susu kedelai untuk Salma.
"Ma... protein mulu aku dari tadi" keluh Salma.
"Itu bagus buat kandunganmu, nanti kalo menyusui kamu juga butuh makan kacang-kacangan gini biar asinya banyak"
"Ma..."
"Hm?"
"Salma... udah pantes belum sih jadi seorang ibu?"
"Emangnya ada kriteria pantes ga pantesnya?"
"Enggak gitu, ma. Salma ngerasa... Salma aja masih suka manja ke mas Adit dan mama papa. Salma juga takut kalo nanti... Salma ga bisa jadi ibu yang baik, Salma ga bisa ngerawat dan ngedidik anak-anak dengan baik"
Mama Tari terkekeh. "Sal... untuk semua wanita yang baru pertama kali hamil, semuanya pasti akan ngerasa kayak gitu. Semuanya akan sama-sama belajar, Sal. Kamu pikir dulu pas mama ngelahirin kamu mama udah bisa semuanya gitu?" mama Tari menggeser kursinya mendekat pada Salma.
"Mama baru bisa mandiin kamu pas usiamu udah sebulan, belum lagi mama ngerasa jijik tiap nyebokin kamu habis pup, mama ga bisa masakin makananmu waktu kamu udah mulai bisa makan, banyak mama yang ga bisa. Semuanya butuh proses, Sal. Coba mama tanya ke kamu sekarang, gimana penilaian kamu ke mama selama ini? Apa mama ibu yang baik?"
Salma mengangguk. "Baik banget malah"
"Dapet predikat ibu yang baik itu ga harus didapat dari orang, Sal. Penilaian anak itu yang lebih penting, karena dialah yang akan menghabiskan banyak waktunya dengan kita. Ga perlu mentingin omongan orang untuk ngebuat mereka senang melihatnya, cukup perhatikan anak kamu nanti. Setiap orangtua punya cara ngedidik anaknya sendiri-sendiri. Ga semuanya bisa disamain, karena karakter masing-masing anak juga beda. Tujuannya sama, mereka ingin anaknya jadi anak yang baik dan sukses. Kuncinya cuma sabar, ikhlas, dan sabar. Karena setiap harinya akan banyak tantangan dalam ngasuh anak"
"Mama mau kan bantuin Salma? Mama tau sendiri Salma juga belum ngerti apa-apa soal ngasuh anak. Apa yang Salma pelajari dikelas kehamilan kan cuma pake boneka, Salma takut gemeteran begitu ngadepin anak Salma sendiri. Bahkan untuk gendong pun mungkin Salma takut dia bakal kesakitan ditubuhnya yang masih kecil banget itu"
"Tentu, mama akan selalu bantu kamu buat ngejagain cucu kesayangan mama ini" jawab mama Tari sambil mengusap perut Salma.
"Tuuhhh dianya aja nendang" seru mama Tari. "Kamu seneng ya mau digendong-gendong sama oma?" sambungnya lagi sambil mengelus perut Salma yang kian membesar itu.
__ADS_1
"Rambutku juga dielus-elus dong, mma Kayaknya sejak aku nikah mama udah ga pernah elus-elus aku lagi deh" protes Salma.
"Iiiihhh... kamu mah ngiri aja. Ini kan tugasnya udah digantiin Adit" jawab mama Tari sambil mengelus rambut Salma.