MENIKAH

MENIKAH
S2 - Penjelasan


__ADS_3

Eowyn menerobos masuk ke dalam kamar Rayyan tanpa mengetuk pintu. Kamar abangnya itu masih gelap, bahkan Rayyan masih tertidur dengan pulasnya sambil tengkurap.


"Abang!" panggil Eowyn sambil menggoyang punggung Rayyan.


"Abang bangun!" Eowyn makin meninggikan suaranya.


"Apaan sih, Wyn? Ganggu orang tidur aja deh!" Rayyan menarik bantal di sebelahnya untuk menutupi kepalanya.


Ia masih mengantuk. Semalam, ia baru sampai rumah pukul 1 dini hari setelah mengantarkan Zahra pulang terlebih dulu. Belum lagi pikirannya harus kembali disibukkan dengan kenangan masa lalunya. Dan pagi ini, Rayyan masih membutuhkan waktu untuk memejamkan matanya.


"Bangun ih! Aku mau ngomong penting, Bang!"


Mendengar suara berisik dari kamar Rayyan, Salma yang baru saja keluar dari kamarnya langsung mengalihkan langkah kakinya menuju kamar Rayyan.


"Ada apa sih, Wyn?" tanya Salma ketika melihat putrinya itu berusaha dengan kuat membangunkan abangnya.


"Abang semalem hampir kecelakaan Ma di tol dalam kota. Zahra bilang hampir mau nabrak mobil gara-gara abang enggak fokus nyetirnya." adu Eowyn pada sang Mama.


Rayyan mau tak mau bangun, mendudukkan dirinya sambil mengucek matanya yang masih terasa berat untuk terbuka.


"Rayyan, itu beneran?" tanya Salma sambil mendekat ke ranjang Rayyan.


Rayyan hanya mengangguk. Ia malas menjelaskan karena pasti akan kembali mengingatkannya pada Nadine.


"Kamu ngantuk? Kok bisa sampai gitu sih, Yan?" Salma kembali mencecar pertanyaan pada Rayyan.


Rayyan kembali mengangguk. "Aku capek kemarin, Ma. Makanya aku ajak Zahra berhenti sebentar di mini market buat istirahat."


"Zahra masih ketakutan tau, Bang. Semaleman dia enggak bisa tidur karena masih kebayang-bayang." ucap Eowyn yang kemudian mendapat lirikan dari Rayyan.


"Yaudah, kamu tidur lagi aja. Nanti Mama bawain sarapanmu ke kamar." Salma mengusap rambut Rayyan dengan lembut.


"Ayo Wyn, bantu Mama nyiapin sarapan. Biarin abang istirahat dulu." Salma menarik tangan Eowyn untuk keluar dari kamar Rayyan.


"Ada apa?" tanya Adit yang baru saja keluar dari kamarnya, bersamaan dengan Salma yang menutup pintu kamar Rayyan.


"Kata Eowyn, semalam Rayyan hampir mau nabrak mobil di tol dalam kota."


"Terus keadaannya gimana?" tanya Adit kembali.


"Abang sih enggak kenapa-napa, Pa. Cuma Zahra shock, semaleman enggak bisa tidur karena masih keinget mulu."

__ADS_1


"Nanti kamu tanya lagi keadaan Zahra gimana ya, biar Papa yang ngomong sama abang." jawab Adit lalu ketiganya berjala turun ke bawah.


🎎


Siang ini, Eowyn memutuskan untuk mengunjungi Zahra. Bagaimana pun ia mendapat tugas dari Papanya untuk memastikan keadaan Zahra. Sahabatnya itu terlihat begitu shock dengan kejadian semalam.


"Halo, sayang." ucap Eowyn saat mengangkat telpon dari Zach.


"........."


"Aku baru aja sampai di rumah Zahra. Nanti kalo udah selesai aku telpon balik deh ya."


"........."


"Hm, aku juga kangen sama kamu. I love you!"


Eowyn mematikan ponselnya setelah mendengar balasan kalimat cinta dari kekasihnya. Ia segera membuka pintu mobil dan berjalan menuju Zahra yang telah menunggunya di teras rumah.


Seperti biasa, mereka mengobrol di kamar Zahra. Gadis itu terlihat kurang tidur, tidak biasanya Zahra terlihat kusut seperti itu. Meskipun sibuk dengan kerja part time dan tugas kuliahnya, Zahra tetap terlihat cantik seperti biasanya. Namun sekarang, penampilannya berubah menjadi menyedihkan karena abangnya.


"Gue udah kayak mau setor nyawa, Wyn. Itu kalo gue enggak teriak dan nyengkeram lengan abang lo, engga tau lagi deh gimana kondisi gue sekarang. Semuanya masih terekam jelas Wyn, selalu muncul pas gue merem." jelas Zahra yang duduk dengan bersandarkan headboard kasurnya.


"Maafin abang gue ya, Zah. Mungkin dia lagi capek, jadinya ngantuk pas pulang dari acara itu."


"Maksud lo?"


"Semalem, yang ngundang kita makan malam ternyata keluarga mantan pacarnya abang lo. Gue enggak tau deh gimana ceritanya abang lo bisa enggak kenal sama kedua orangtuanya padahal abang lo udah beberapa kali ketemu pak Rendy."


"Jadi, semalem kalian makan malam sama keluarga kak Nadine?"


Zahra mengangguk. "Iya. Abang lo emang keliatan kaget banget. Setelah cewek itu keluar, selama acara makan malam abang lo langsung jadi kacau banget. Makanya pas nyetir itu kayak lagi banyak pikiran, sampai enggak ngeh nginjek pedal gasnya berlebihan."


"Dasar si abang. Gitu tadi ngakunya sama Mama dia lagi capek. Lagian sengaja banget sih itu cewek muncul lagi." Eowyn menggerutu. "Orangtua lo gimana?"


"Orang rumah pada enggak tau alasannya, karena emang gue enggak cerita. Semuanya bilang mungkin emang abang lo kecapekan aja."


"Ntar gue coba ngomong deh sama abang."


Zahra menangkap ekspresi Eowyn yang menunjukkan ketidaksukaannya pada sosok Nadine. Sama seperti Rayyan ketika ia asal berbicara semalam.


"Wyn, kalo gue boleh tau, sebenernya ada masalah apa sih? Kok abang lo bisa sampai segitunya ketemu itu cewek?"

__ADS_1


Eowyn menghela nafasnya, lalu membenarkan posisi duduknya menghadap ke Zahra.


"Gue ceritain tapi lo jangan bilang abang ya. Biar lo tau aja gitu." tanya Eowyn yang mendapat anggukkan kepala oleh Zahra.


"Lo masih inget Andrew, cowok yang ketemu kita di toko buku sama kafe itu?"


Zahra kembali mengangguk.


"Jadi dulu pas SMA, Andrew juga naksir sam kak Nadine. Tapi kak Nadine lwbih milih buat jadi pacarnya abang. Naahhh, si Andrew ini enggak terima. Nuduh kalo abang sengaja nikung. Sampai akhirnya...."


"Akhirnya?"


"Andrew ngancam bakal jadiin gue pelampiasannya. Sejak itu, enggak lama abang terpaksa mutusin kak Nadine demi ngelindungin gue. Makanya abang sama Rafa kalo sama gue cerewet banget."


"Tunggu deh, maksud lo buat jadiin pelampiasannya itu gimana? Lo mau dijadiin pacarnya Andrew gitu ya?"


"Iya, dijadiin pacar. Terus dikotorin."


"Heh? Maksud lo?"


"Andrew itu menganut pergaulan bebas gitu, Zah. Ya mungkin karena pengaruh pertemanannya dia diluar sekolah, kurang perhatian juga kan dari Mama Papanya yang sibuk modeling sama photography. Jadi ya kalo pacaran sama dia bakal berakhir di... ranjang gitu."


"Seriusan, Wyn? Terus kenapa waktu itu lo ketemuan sama dia b*go!" ucap Zahra sambil memukul paha Eowyn.


"Enggak enak Zah selalu nolak ajakan dia mulu."


"Ya kenapa pake acara enggak enak sih? Emang lo mau diapa-apain sama dia?"


Keduanya diam sejenak, lalu Zahra mulai bersuara. "Berarti, gue harus memastikan kalo pak Rayyan enggak ketemu sama itu cewek dong ya?"


"Gue enggak tau gimana perasaan abanga ke dia, Zah. Cuma selama ini tiap ditanya soal kak Nadine sama aku atau Mama, pasti langsung marah dia."


"Ya gimana enggaj marah, orang harus ngelepasin tanpa kemauan sendiri. Wajar kalo sampai sekarang abang lo enggak bisa move on."


"Tau tuh, gue takut kalo abang trauma trus enggak mau nikah dan berkeluarga."


"Hahahahaha... sampai segitunya sih mikirnya."


"Soalnya dari SMA Zah, sampai sekarang belum ada tanda-tanda punya pacar."


"Ntar kalo abang lo punya pacar aja, repot deh lo kasih sayangnya terbagi hahahahaha...."

__ADS_1


"Lo aja gih yang jadi pacar abang, biar gue ikhlas lahir batin karena perhatiannya abang terbagi hahahahaha...."


"Hahahahaha.... ngaco lo!"


__ADS_2