
Happy reading 😊
***
"Jadi... kalian beneran bakal nikah?" tanya Nadine saat pertemuan siang itu di ruangan Rayyan.
Setelah pertemuan mereka selesai, Nadine meminta pak Alex dan bu Meta untuk meninggalkan ruangan terlebih dulu. Nadine tentu membutuhkan privasi untuk berbicara dengan mantan kekasihnya itu. Hatinya belum sepenuhnya rela melepaskan Rayyan begitu saja, terlebih setelah perpisahan mereka yang begitu lama.
Selama ini, Nadine begitu yakin jika Rayyan masih belum bisa berpaling darinya. Terbukti dengan Rayyan yang tak kunjung menjalin hubungan dengan wanita lain selepas perpisahan mereka saat SMA dulu.
"Seperti yang kamu tahu, pernikahan kami hanya tinggal hitungan hari lagi. Jadi bisa aku pastikan aku memang akan menikah dengan Zahra." jawab Rayyan dengan santai sambil melihat berkas yang ada ditangannya.
"Rayyan... ini terlalu cepat. Bahkan dulu kita pendekatan hampir setahun, Rayyan. Dan sekarang-"
"Sudah aku bilang jangan bandingkan rencana pernikahanku ini dengan hubungan kita dulu!" Rayyan menaikkan nada bicaranya sambil menatap Nadine dengan tajam. Kilatan amarah terpancar dari mata Rayyan yang lagi-lagi tak terima Nadine terus saja mengungkit masa lalu mereka.
"Cukup, Nadine. Sebaiknya kamu pun juga harus segera mencari pasangan dan menikah."
"Tapi enggak semudah itu, Rayyan. Aku tau perpisahan kita dulu bukan atas kemauanmu, dan sekian lama kamu enggak pacaran juga karena enggak bisa ngelupain aku kan?"
Rayyan tersenyum sinis, lalu meletakkan berkas dokumennya dengan asal disamping tempatnya duduk. "Aku sudah tau kamu akan sepercaya diri itu. Tapi nyatanya semuanya salah, semua dugaanmu atasku itu salah. Selama ini bukan karena aku enggak bisa ngelupain kamu, tapi aku hanya berusaha menyeleksi orang yang tepat untuk bersanding denganku, menua bersamaku hingga akhir hayat, sembari aku memastikan Eowyn baik-baik saja."
Rayyan menyeringai saat menatap wajah shock Nadine yang masih menatapnya.
"Tapi Zahra adalah teman Eowyn, dia bahkan lebih cocok menjadi adikmu daripada istrimu, Rayyan." Nadine berucap dengan bergetar. Ia masih mencoba mempertahankan keinginannya untuk kembali bersama Rayyan disisa-sisa tenaganya.
__ADS_1
Rayyan justru tertawa mendengar alasan tak masuk akal yang dikemukakan oleh Nadine. "Memangnya ada ketentuan usia bagi pasangan yang akan menikah? Lalu, apa kamu lupa jika papa dan mamaku berselisih usia delapan tahun? Tapi mereka bisa menikah dan berbahagia bersama keluarga kecilnya."
Tak ada lagi kata-kata yang bisa keluar dari bibir Nadine. Dengan air mata yang telah menggenang dipelupuk matanya, Nadine segera merain tasnya dan bergegas keluar dari ruangan Rayyan. Dengan membanting pintu, seperti kejadian yang sudah-sudah.
***
Pernikahan masih beberapa hari lagi, dan Rayyan masih menyibukkan dirinya dengan pekerjaan kantor sebelum cuti panjangnya. Sejak Zahra tak lagi bekerja dengannya, rasa lelah itu semakin terasa bagi Rayyan. Ditambah tradisi pingitan yang membuat Rayyan begitu merindukan kekasihnya itu.
Seperti malam-malam sebelumnya, Rayyan dan Zahra selalu menghabiskan waktu cukup lama untuk bertelepon. Melepas rindu dan saling bertukar cerita tentang keseharian mereka yang beberapa hari ini mereka lalui masing-masing.
Ketukan dipintu terdengar setelah selesai bertelepon dengan Zahra. Rayyan yang semula merebahkan tubuhnya di kasur, kini beralih menjadi duduk bersila. Pintu terbuka dan menampilkan sosok sang mama disana.
"Udah mau tidur?" tanya mama Salma sambil menutup pintu kamar Rayyan.
"Belum, ma." Rayyan menggeser duduknya ke pinggir ranjang, sebelum akhirnya sang mama duduk disebelahnya.
"Mama cuma enggak bisa tidur." mama Salma menghela nafasnya, lalu menggenggam tangan kiri Rayyan dan menepuk-nepuk punggung tangannya.
"Beberapa hari lagi kamu akan menikah, mama cuma masih belum percaya jika anak mama udah sebesar ini dan akan memiliki istri."
Meskipun senyuman itu mengiringi setiap perkataan yang diucapkan mama Salma, tapi mata sendunya tak bisa menyembunyikan perasaan hatinya.
"Rayyan emang udah sebesar ini, ma. Dan beberapa hari lagi akan resmi menjadi seorang suami. Mama enggak perlu khawatir soal Rayyan, Rayyan pasti akan selalu berusaha menjadi suami yang baik, penyayang dan bertanggung jawab. Seperti Papa."
"Setelah kamu menikah nanti, mama udah enggak bisa bangunin kamu tiap pagi lagi dong? Kan lucu kalo pas kamu nginep disini, terus mama masuk kamar kamu ehh ternyata kalian masih tidur sambil pelukan, malah mama gangguin disuruh bangun."
__ADS_1
"Rayyan pasti juga akan kangen dibangunin sama mama. Tapi, nanti kan ada Zahra yang gantiin mama buat bangunin Rayyan. Dia juga sama cerewetnya kayak mama, pasti dia juga akan ngomel kalo Rayyan lagi susah dibangunin."
Keduanya saling melempar senyuman. Nantinya memang bukan hanya Salma yang merindukan rutinitas paginya untuk membangunkan Rayyan, tapi Rayyan pun juga. Apalagi dengan kebiasaannya yang menyandarkan kepalanya dibahu sang mama saat baru bangun, lalu mamanya akan mengusap-usap rambutnya sambil mendengarkan omelan sang mama mengenai sifat manjanya yang satu itu.
Hingga akhirnya Rayyan menyandarkan kepalanya dibahu sang mama sambil memeluknya. "Rayyan akan tetep manja kok sama mama meskipun nanti Rayyan udah punya istri. Mama enggak keberatan kan?"
"Ya keberatan kalo kamu minta gendong."
"Hahahaha... enggaklah, ma. Kalo sekarang yang ada Rayyan yang gendong mama."
Salma mengusap-usap rambut Rayyan seperti yang biasa ia lakukan. Entah kenapa malam itu terasa begitu sendu bagi Salma. Melepas Rayyan yang akan menikah memang membuatnya bahagia, bahkan sejauh ini dialah yang begitu antusias untuk menyiapkan segala sesuatunya. Namun ketika kenangannya akan masa kecil Rayyan terulang, hatinya terasa begitu berat melepas Rayyan yang akan pindah ke rumahnya sendiri. Padahal rumah itu tak begitu jauh dari rumah yang mereka tinggali sekarang.
"Tidurlah, mama akan kembali ke kamar." ucap Salma sambil menepuk punggung Rayyan dengan lembut.
"Mama enggak tidur disini? Rayyan kan masih pengen manja-manjaan sama mama." Rayyan mencebikkan bibirnya seolah sedang merajuk.
"Bilang sama papa. Kalo papa oke, mama akan tidur disini." tantang Salma sambil mencubit gemas pipi anak sulungnya itu.
"Hahahaha... kalo harus begitu prosedurnya, Rayyan nyerah deh ma. Bisa kena pukul papa ntar gara-gara rebutan guling hidupnya papa."
***
*Jadi gaeessssss... ini part terakhir sebelum akhirnya nanti kalian harus kondangan ke abang dan masuk ke part yang hareudang. Duuhhh, udah dag dig dug aja ini akunya 😂😂😂
Oiya, beberapa hari yang lalu aku udah ngeluarin novel lagi sekuelnya si Rafa. Bagi para fansnya Rafa, bolehlah langsung menuju ke TKP. Judulnya Back to You ya gaeessssss, bukan back to school hahahahaha*...
__ADS_1
Votesnya jangan kelupaan ya, thank you 😘😘😘