MENIKAH

MENIKAH
S2 - Bohong


__ADS_3

Happy reading 😊


***


Sang waktu dengan cepat berlalu. Ini sudah bulan keempat Zahra bekerja sebagai personal assistant dari kakak sahabatnya. Beberapa hari lagi adalah hari wisudanya, dan Zahra memutuskan untuk menemui Rayyan guna membicarakan izinnya serta kelanjutan pekerjaannya.


Setelah mengumpulkan keberaniannya dari pagi, menjelang makan siang ini Zahra baru berani membicarakannya dengan Rayyan. Ia mencari waktu yang tepat, karena Rayyan sedang banyak pekerjaan. Ia takut jika timing-nya kurang pas maka akan mempengaruhi perihal izinnya atau bahkan nasib pekerjaannya.


"Pak... Bapak mau makan siang disini atau diluar?" tanya Zahra dengan hati-hati.


"Pesenin aja lewat aplikasi ditempat biasa ya, Zah. Aku mau makan iga bakar sama nasi merah." jawab Rayyan sambil tetap fokus pada laptopnya.


"Sekalian kamu sama bu Meta mau makan apa, pesen aja. Saldonya masih cukup kan?" barulah Rayyan mendongak menatap Zahra yang berdiri di depan meja kerjanya.


Zahra mengangguk. "Oiya pak, saya mau ngomong soal izin wisuda. Bolehkan Pak saya izin? Paling enggak sehari aja pas hari wisudanya."


"Memangnya aku enggak ngebolehin?"


"Ya tapi kan saya butuh izin dari Bapak." Zahra berucap lirih.


"Izin aja, aku enggak ngelarang." Rayyan kembali memfokuskan pandangannya pada pekerjaannya.


"Trus... saya masih boleh kerja disini, Pak?"


Pertanyaan Zahra membua Rayyan menghentikan jari-jarinya yang menekan keyboard pada laptop, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan menatap Zahra.


"Kamu masih mau kerja disini?" tanya Rayyan sambil bersedekap dan dijawab dengan anggukkan yang bersemangat oleh Zahra.


"Masih mau dengan posisimu yang sekarang?"


"Maulah, Pak. Tapi... kalo Bapak mau mindahin saya ke bagian lainnya juga enggak masalah."


"Alasan apa yang bisa meyakinkanku biar posisimu itu enggak aku geser."


"Ya selama saya kerja sama Bapak kan enggak ada masalah kan? Semua jadwal dan kerjaan saya juga bisa handle meskipun enggak ada Bapak. Itu... masih kurang, Pak?"


Rayyan menghela nafasnya, lalu mengendikkan kedua bahunya. "Entahlah. Aku enggak yakin itu bisa jadi bahan pertimbanganku atau enggak."


Ekspresi wajah Zahra langsung berubah menjadi kecewa. "Terserah Bapak deh. Saya keluar dulu Pak untuk tanya bu Meta mau pesan makan apaan." Rayyan hanya menjawabnya dengan deheman, dan hal itu semakin membuat Zahra semakin sedih.


"Sehari setelah wisuda ikut aku ke Bandung, Zah. Ada pertemuan dengan klien penting disana. Kalo kita berhasil untuk menggaet kerja sama dengan Beliau, posisimu aman."

__ADS_1


"Terus kalo gagal, Pak?"


"Ya kamu harus berusaha dong biar berhasil itu gimana. Itu namanya kamu udah enggak percaya diri duluan."


Zahra menghela nafasnya, lalu menarik kursi disebelahnya dan duduk disana.


"Bukannya enggak PD, Pak. Tapi... karena tadi Bapak bilang itu klien penting, dan kayaknya susah untuk diajakin kerja sama, jadi saya merasa kalo... itu susah buat saya, Pak." tanpa sadar, Zahra mengacak rambutnya di depan Rayyan. Hal itu tentu menarik perhatian Rayyan yang kemudian menahan senyum memperhatikan tingkah Zahra.


"Udahlah, sekarang pesenin makan siang dulu. Itu bisa kamu usahain nanti." Rayyan kembali meraih laptopnya.


Dengan lemas, Zahra melangkahkan kakinya keluar ruangan Rayyan untuk memesankan makan siang sesuai perintahnya tadi.


***


Rayyan dan Zahra baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka. Jam masih menunjukkan pukul 6.30 petang, belum terlalu malam bagi mereka untuk pulang kantor. Sesaat setelah selesai merapikan file, pintu ruangan Rayyan terbuka dan menampilkan sosok Nadine yang tersenyum lebar disana.


"Benar kan kamu belum pulang." ucapnya begitu.menangkap sosok Rayyan masih berada dimeja kerjanya.


Nadine melangkah menuju meja Rayyan, seolah tidak mempedulikan Zahra yang juga berada satu meja dengan Rayyan.


"Kebetulan aku lewat sini, aku telpon kamu tapi enggak ada jawaban. Jadi aku sengaja mampir dan tanya ke resepsionis ternyata kamu masih di kantor." sambung Nadine ketika berdiri disamping Rayyan.


"Iya, ada banyak kerjaan. Dan... hape aku silent." jawab Rayyan sambil menggeser posisi berdirinya agar berjarak dengan Nadine.


Rayyan menatap Zahra sekilas saat Nadine selesai berucap. Zahra sangat cuek, gadis itu masih pura-pura sibuk dengan susunan map yang tak berhenti ia cek sedari tadi.


"Eee... maaf, Nadine. Aku ada janji bertemu klien dengan Zahra." Rayyan menolak dengan tegas sambil mengambil jasnya yang tersampir dikursinya.


Zahra terkejut dengan jawaban Rayyan. Dia sedikit mengangkat wajahnya dan melirik ke arah Rayyan yang nampak tenang itu.


"Oh, benarkah? Kenapa tidak bertemu klien disiang hari seperti biasanya."


"Seperti ayahmu yang mengundangku dan Zahra untuk makan malam, malah ayahmu mengundang kami diweekend. Hari dimana seharusnya kami beristirahat, tapi kami tidak menolak kan? Apalagi kalo bukan demi kerjasama." Rayyan masih menjawab dengan tenang, sambil memasukkan barang bawaannya pada tas kerjanya.


"Kita berangkat beberapa menit lagi ya, Zah. Kamu siap-siap dulu aja." sambung Rayyan dengan menatap wajah Zahra yang kebingungan itu.


"Baik, Pak. Saya permisi dulu." Zahra menundukkan kepalanya, lalu berjalan keluar ruangan sambil membawa tumpukan dokumen.


"Ahhh, jadi aku diusir?"


Nadine sedikit kesal dengan sikap Rayyan. Padahal kemarin, Rayyan menerima kedatangannya dengan baik. Bahkan mau mengobrol dengannya meskipun menunjukkan sikap malasnya sepanjang obrolan mereka.

__ADS_1


"Bukannya aku ngusir, Nadine. Tapi memang aku ada janji. Maaf ya. Kamu... mau ikut turun denganku?"


"Tidak. Aku akan turun sekarang, aku pulang duluan ya." Meskipun kesal, Nadine tetap mencoba tersenyum pada Rayyan sebelum akhirnya keluar dari ruangan Rayyan.


Setelah kepergian Nadine, ada banyak hal yang ingin Zahra tanyakan kepada Rayyan. Namun ia tahan, karena ia tak mau dianggap mencampuri urusan pribadi bosnya. Sejak turun ke parkiran bersama dan kini telah menempuh beberapa menit perjalanan, Zahra dan Rayyan masih tetap memilih diam.


"Kamu mau makan dulu, Zah? Kayaknya masih macet parah ini sampai perempatan depan." Rayyan mencoba memulai obrolannya dengan Zahra.


"Bapak udah lapar? Kalo Bapak mau makan, enggak apa-apa. Saya akan temani."


"Terus kamu enggak makan?"


"Saya bisa makan di rumah, Pak."


"Kenapa enggak makan sekalian?" tanya Rayyan sambil menoleh ke arah Zahra.


"Selama saya kerja sama Bapak, saya udah sering dibayarin makan sama Bapak. Saya enggak enak, Pak."


"Emangnya aku mempermasalahkan? Cuma makan doang, Zah. Lagian kamu juga bantuin aku ngurus segala kerjaan kan? Anggap aja itu sebagai bentuk ucapan terima kasihku sama kamu. Jadi kamu bisa simpan uang makanmu untuk keperluan yang lain."


Zahra terdiam, hingga akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya.


"Tadi... kenapa Bapak bohong?"


"Bohong?" Rayyan bertanya dan dijawab anggukan oleh Zahra.


"Ohh, soal Nadine?" tanya Rayyan lagi dan Zahra kembali menganggukkan kepalanya.


"Aku cuma enggak mau berulah."


"Berulah?" kini giliran Zahra yang bertanya dan Rayyan menganggukkan kepalanya.


"Bukannya itu yang bikin kamu ngomel mulu seharian kemarin? Aku cuma menghindari itu, Zah."


Zahra terpaku mendengar penuturan Rayyan. Entah apa yang sebenarnya ia rasakan. Tapi mendengar Rayyan yang berbohong kepada mantan kekasihnya demi menjaga agar dirinya tak lagi mengomel seperti kemarin, itu membuat perasaannya sungguh senang.


"Kita makan dulu disini, nanti baru aku antar kamu pulang." ucap Rayyan sambil membelokkan mobilnya ke sebuah restoran.


***


Maafkan daku ya karena baru sempet ngedit sekarang. Dua part ini harusnya ke up semalem, tapi karena mata udah sepet duluan jadinya ya daku memilih untuk tidur ssaja Ehhh... ini seharian malah mager 😅😅

__ADS_1


Btw, rasa penasarannya soal Rayyan sama Nadine kemarin sejam berduaan di ruangan Rayyan udah kejawab ya. Jadi jangan suudzon dulu tuh sama si abang ehehehehehe....


Vote, likes sama comments-nya jangan lupa. Aku kan juga seneng balesin komen kalian hahahahaha.... Terima kasih 🤗😘


__ADS_2