
"Rafa!" pekik Eowyn saat pintu kamarnya terbuka begitu saja tanpa adanya suara ketukan meminta ijin untuk masuk.
"Apaan?" tanya Rafa dengan santai sambil melenggang masuk ke dalam kamar dan meletakkan nampak berisi minuman dan snack di meja.
"Biasain ketuk pintu!"
"Ya mana sempet, tangan gue udah terlanjur pegel bawa itu nampan dari bawah."
"Kok lo mau? Kan tadi Mama bilang mau Bi Yati yang bawa ke atas."
"Kata Mama sekalian aku naik ke atas, jadi Bi Yati enggak capek." Rafa mengalihkan pandangannya ke arah Zahra yang duduk bersila di atas kasur dan tersenyum padanya.
"Udah sana lo keluar!" usir Eowyn pada Rafa.
"Bilang makasih dulu, baru nyuruh gue keluar. Udah gede adab gitu aja lo enggak tau!"
"Berisik lo ah! Iya, terima kasih. Udah sana keluar, ganggu aja lo!" Eowyn mendorong tubuh Rafa dan memaksanya keluar kamarnya.
"Masih suka gonta-ganti pacar dia?" tanya Zahra sambil meminum minumannya.
Eowyn menggelengkan kepalanya. "Gue enggak tau, tapi tadi pagi dia bilang sama pacaranya yang sekarang dia enggak bisa berpaling. Enggak percaya gue sama omongan dia" cibir Eowyn.
"Lo kan enggak tau pacarnya Rafa yang sekarang kayak gimana, bisa jadi emang yang sekarang klop sama Rafa dibanding pacar-pacarnya yang dulu."
"Iya juga sih. Tau ah, gue enggak paham soal begituan."
"Hahahaha... lagian, lo kalah telak sama Rafa. Dia udah berapa kali ganti pacar, elo satu pun belum."
"Yeeee... elo sendiri begimane? Selama kita temanan, elo juga belom sekali pun keliatan pacaran."
"Hahahaha... sialan lo! Ntarlah, pasti ada saatnya gue pacaran."
"Gue juga sama, yaaa... meskipun belum tau pacarannya sama siapa hahahaha...."
"Cowok yang ketemu di toko buku tadi aja. Dia kayaknya ada feeling sama elo."
__ADS_1
"Sok tau!" Eowyn mencubit lengan Zahra. "Rafa bilang dia playboy, ogah gue!"
"Sama kayak adek lo dong hahahaha.... Jangan-jangan abang lo playboy juga, Wyn."
Eowyn menggeleng dengan cepat. "Di rumah ini itu cuma Rafa yang playboy, Papa sama abang Rayyan mah anteng. Kalo Papa dulunya playboy, mana dia ngomelin Rafa yang gonta-ganti pacar mulu. Orang nikah sama Mama aja karena dijodohin kok."
"Eh? Seriusan?"
Eowyn mengangguk sambil terus melahap cemilannya. "Makanya gue takut bakal dijodohin juga, secara gue anak cewek satu-satunya."
"Itu mah pikiran lo aja, belum tentu Om Adit sama Tante Salma punya pemikiran kayak begitu."
"Iya sih, semoga aja."
🎎
Rafa mengekori Salma yang tengah menyiram dan merapikan tanaman di taman belakang.
"Kamu daripada ngalangin jalan Mama gitu mending bantuin aja deh, Fa." ucap Salma dengan kesal.
Rafa mengambil alih bangku kecil yang tadi diduduki Salma dan mulai mencabuti rumput yang tumbuh di sekitar bunga kesayangan Mamanya itu.
"Ya beneranlah, emang kamu pernah liat Papa kamu ngeprank?"
"Tapi kan Rafa udah enggak ganti-ganti pacar lagi, Ma."
Salma menoleh. "Oiya? Jadi anak Mama yang playboy ini udah tobat?"
"Yaaa... bisa jadi begitu, Ma. Ini Rafa udah lima bulan jalan sama dia, dan... Rafa enggak ada pemikiran untuk ngelirik cewek lain." jawabnya sambil tetap mencabuti rumput kecil-kecil.
"Ya kan emang harusnya kayak gitu, Fa."
"Namanya juga proses mengenal, Ma. Biar nanti Rafa enggak asal nikahin orang."
Salma tersenyum. "Rafa, proses mengenal yang kamu maksud itu enggak harus ganti cewek sampai lusinan kayak yang kamu lakuin sekarang. Mama yakin selama ini kamu punya pacar pasti cuma karena liat fisiknya doang, patokanmu cuma cantik, cantik dan cantik. Iya kan?"
__ADS_1
Rafa tersenyum canggung, apa yang dikatakan Mamanya memang benar adanya.
"Sekarang Mama tanya, apa yang membedakan pacar kamu yang sekarang dengan yang dulu-dulu?"
Rafa nampak berpikir, sambil mengingat wajah kekasihnya dan tersenyum simpul.
"Ya beda bangetlah, Ma. Yang sekarang enggak banyak nuntut. Sering enggak enakan karena kalo dia beli-beli sesuatu terus Rafa yang bayar, besoknya dia tiba-tiba ngasih Rafa hadiah, katanya buat gantiin yang kemarin Rafa bayarin. Kalo yang dulu-dulu mah kebanyakan pada ngelunjak."
"Ini nih yang Mama sama Papa enggak suka!" Salma mencubit pipi Rafa. "Kamu belum bisa menghasilkan uang sendiri aja udah sok-sokan beliin ini itu buat pacarnya."
"Ya kan biar dia seneng, Ma."
"Kalo sesekali ya enggak apa-apa, Fa. Tapi kalo tiap jalan kamu beliin dia mulu, itu namanya apaan? Besok kalo kamu udah kerja, mau beliin pacar kamu barang apa aja tuh terserah. Tapi lebih bagusnya lagi kamu tabung, buat beliin istri kamu aja biar makin cinta sama kamu."
"Yeeee... Mama, udah ngomongin istri Rafa aja. Rafa aja belum mikirin sampai kesana, Ma hehehehehe...."
"Makanya Mama bantuin mikirin jangka panjangnya, biar kamu paham. Kamu boleh traktir pacar kamu makan, beliin hadiah pas dia ulang tahun, tapi jangan berlebihan. Mau itu uang dari Mama Papa atau uang kamu sendiri, seenggaknya kamu juga harus nabung Fa. Bagaimana pun dia statusnya cuma sebagai pacar, bisa putus kapan aja. Kalo udah putus, enggak mungkin kan kamu minta balik barang-barang yang kamu beliin buat dia?"
Rafa menggelengkan kepalanya.
"Makanya jangan berlebihan. Besok tuh kalo udah punya istri, kamu kasih apa aja ke dia. Itu bukan cuma buat istri kamu jadi seneng dan makin cinta sama kamu, tapi juga makin memperbanyak rejeki kamu dalam bekerja nanti."
"Mama nasehatin gini juga enggak sih ke abang?"
"Hmmm... enggak. Karena abang enggak pusing soal pacar kayak kamu sekarang hahahahaha...."
"Jadi aku doang nih yang dibawelin sama Mama?" Rafa nampak memanyunkan bibirnya dan membuat Salma tersenyum melihat ekspresi putra bungsunya itu.
"Rafa, itu bukan berarti Mama enggak sayang kamu. Tapi karena ya... selama ini abang kamu itu enggak pernah cerita soal pacar lagi. Mungkin nanti, kalo abang udah punya pacar atau siap untuk menikah, Mama juga akan bawel kayak gini sama abang. Kalian itu cowok, Fa. Nantinya bakal nanggung kehidupan anak orang sepenuhnya. Kalo kebiasaanmu ini enggak dirubah, takutnya genitmu ini masih kebawa sampai nikah. Bisa bahaya."
"Hahahahaha... enggaklah, Ma. Sekarang aja Rafa udah berubah kan, buktinya bisa bertahan nih pacaran udah lima bulan." jawab Rafa sambil membusungkan dadanya.
"Baru juga lima bulan." Salma kembali mencubit pipi Rafa. "Kapan-kapan ajakin main lagi ke rumah, Mama pengen lebih kenal sama pacar kamu yang sekarang. Yang katanya udah berhasil bikin anak Mama ini tobat jadi playboy."
"Tapi enggak akan Mama apa-apain kan?"
__ADS_1
Salma berdecak. "Emang Mama ada tampang jadi mertua yang judes ya?"
Rafa tertawa, lalu memeluk Salma dengan erat. "Jelas enggaklah. Mama bakal jadi mertua paling cantik dan baik di dunia."