MENIKAH

MENIKAH
S2 - Perasaan


__ADS_3

Happy reading 😊


***


"Ada apa?" tanya Zach sambil mengusap rambut Eowyn yang duduk disebelahnya.


Sejak menerima sebuah pesan beberapa menit yg lalu, Eowyn terlihat kesal dan sesekali menggerutu. Sehingga membuat Zach yang sedang menyetir menjadi penasaran pada hal yang membuat Eowyn kesal.


"Ini, Zahra bilang tadi dia ke rumah karena abang yang suruh. Tapi sampai di rumah malah abang sibuk main game."


"Rayyan melakukannya?" ucap Zach dengan nada tidak percaya. "Kamu yakin diantara mereka tidak ada cinta, sayang?" Zach menimpali sambil tersenyum ke arah Eowyn.


Eowyn diam sejenak, mencoba mengingat bagaimana interaksi antara Zahra dengan abangnya selama ini. Menurutnya tidak ada kejanggalan dalam hubungan mereka. Seingat Eowyn, pernah sekali Zahra bercerita pertemuan abangnya dengan mantan kekasihnya. Namun Eowyn tidak mendapati ada kecemburuan pada diri Zahra.


"Menurutmu begitu?" Eowyn kembali bertanya pada Zach.


Zach yang tengah memfokuskan pandangannya pada lalu lintas yang cukup ramai mengangguk dengan yakin untuk menjawab pertanyaan Eowyn.


"Kenapa bisa kamu punya pemikiran seperti itu?" Eowyn menuntut Zach untuk memberikan penjelasan sejelas mungkin.

__ADS_1


"Zahra memang PA Rayyan, yang berarti Zahra berhak tau atas semua kehidupan pribadi Rayyan. Tapi, kalo Rayyan sakit dan nyuruh Zahra ke rumah hanya untuk nemenin Rayyan main game, aku pikir Rayyan sedang butuh perhatian dari Zahra."


"Butuh... perhatian?" Eowyn mencoba menerima penjelasan Zach. Jikalau benar selama ini abangnya menaruh perhatian pada Zahra, kenapa Zahra tak sekali pun bercerita padanya.


"Aku juga laki-laki. Saat aku diposisi Rayyan dan kamu sebagai Zahra, mungkin aku juga akan nyuruh kamu buat datang ke rumah dengan berbagai alasan yang menyangkut pekerjaan. Tujuannya ya cuma satu, walaupun aku sakit dan harus istirahat di rumah, aku tetep bisa liat wajah kamu seharian di rumah."


"Tapi sejak kapan? Zahra bahkan enggak pernah cerita atau tanya soal abang ke aku."


Zach kembali tersenyum sambil mengusap rambut Eowyn. "Itu soal perasaan, sayang. Kita enggak tau dengan pasti kapan perasaan itu muncul. Kita hanya tau perasaan semakin besar setiap harinya."


"Nanti aku harus minta penjelasan sama abang."


"Bukan begitu, sayang. Aku... aku cuma takut kalo nanti abang sama Zahra pacaran, terus terjadi sesuatu sama hubungan mereka, maka itu juga akan berimbas dengan hubungan pertemanan kami. Kamu tau sendiri kan gimana deketnya aku sama Zahra? Aku enggak bisa bayangin kalo hal itu sampai terjadi."


"Jangan berpikiran terlalu jauh seperti itu. Aku cukup kenal Rayyan, dia bukanlah orang yang suka main-main sama suatu hubungan. Dia juga begitu dewasa. Kamu tenang aja karena Zahra dekat dengan Rayyan, karena Zahra berada ditangan yang tepat. Makanya kemarin aku ngangguk pas Rafa ngajakin kamu taruhan, karena aku juga yakin sama kayak Rafa kalo nantinya mereka akan menikah."


Entah kenapa setelah mendengar penjelasab panjang lebar dari Zach, Eowyn mulai bisa merelakan Zahra pada abangnya. Ia tahu benar abangnya adalah sosok laki-laki yang begitu baik. Rayyan bukan hanya sosok kakak yang bisa dia andalkan dalam segala hal, tetapi juga selalu siap berkorban untuk menjadi pelindungnya.


"Semoga saja hubungan mereka tidak serumit yang aku bayangkan, karena selama ini Zahra selalu menutup diri hanya karena laki-laki yang selalu mendekatinya itu berasal dari keluarga berada."

__ADS_1


***


Rayyan memasuki kamarnya setelah beberapa menit yang lalu Rafa baru saja pergi untuk mengantarkan Zahra pulang ke rumahnya. Menatap sebuah buku agenda dimejanya, Rayyan menyadari jika Zahra sepertinya lupa untuk memasukkan buku agenda yang ia keluarkan tadi.


Dengan sengaja, Rayyan membuka buku tersebut untuk mengobati rasa ingin tahunya. Sepertinya Zahra baru membeli buku itu saat akan mulai bekerja dengannya. Rayyan memperhatikan tulisan tangan Zahra yang mencatat segala penjelasan pak Hendra, hasil pertemuan bahkan deadline pekerjaannya.


Belum puas dengan apa yang telah ia lihat, Rayyan terus saja membalik halaman demi halaman buku itu. Terselip beberapa catatan pribadi Zahra disana, seperti besaran uang yang Zahra keluarkan untuk berbelanja keperluan pribadinya. Hingga akhirnya, Rayyan berhenti pada satu catatan yang membuat senyumnya mengembang dengan lebar disana.


Entah kapan Zahra menulisnya, yang jelas Rayyan yakin jika Zahra menulisnya setelah perjalanan mereka ke Bandung. Zahra menghubungkan bunga tulip yang ia terima saat wisuda dengan ajakan berkencannya malam itu. Zahra memang menolaknya, tapi dengan tulisan ini Rayyan yakin jika Zahra sedang mencoba menganalisis seberapa besar keseriusan dirinya.


Rayyan kembali teringat dengan ekspresi Zahra siang tadi saat dirinya menyebut sedang belajar menjadi suami siaga bagi Zahra. Wajah merona yang ia tutupi dengan menutup pintu kamar terburu-buru, ternyata berimbas cukup dalam. Setelahnya, Zahra bahkan terlihat malu-malu berada di dekatnya. Dan yang lebih parah, gadis itu seolah tak berani bertatapan dengannya. Padahal sebelumnya Zahra begitu berani padanya.


"Liat aja nanti siapa yang akan nyerah duluan, Zah." gumam Rayyan sambil menutup buku agenda milik Zahra.


Berpindah merebahkan dirinya di kasur, Rayyan merogoh ponselnya dari saku celana pendeknya. Rayyan membuka album galerinya dan mencari folder yang sengaja ia sembunyikan. Mengamati foto-foto Zahra disana, Rayyan merasa senang karena berhasil menyalin foto itu dari ponsel Zahra yang terbawa olehnya saat berada di Bandung.


Rayyan tersenyum sinis, mengingat bagaimana ia harus merelakan harga dirinya jatuh di depan Rafa demi mendapatkan bantuan untuk bisa meluluhkan hati Zahra. Padahal dulu, Rayyan dengan begitu yakinnya menolak mentah-mentah jika harus berhubungan dengan Rafa apalagi untuk masalah percintaan.


"Ini bukan sekedar obsesi, Zah. Aku tau kalo ini adalah perasaan jatuh cinta meskipun udah lama aku enggak merasakannya." Rayyan kembali bergumam sambil terus mengamati foto Zahra pada ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2