
Happy reading 😊
***
Hari ini, tepat seminggu Salma dan Adit menempati rumah baru mereka. Rumah dua lantai dengan desain minimalis modern, tidak besar seperti rumah kedua orangtuanya, tapi itulah rumah impian Salma dan Adit.
Lantai dasar digunakan untuk ruang tamu, kamar mandi tamu, ruang keluarga, dapur dan ruang makan. Serta ada kolam renang yang cukup besar dibelakang, taman mini yang menghubungkannya dengan garasi mobil dan beberapa kamar untuk para pekerja di rumah, dan halaman depan yang luas dengan pepohonan yang menambahkan kesan asri. Sedangkan di lantai dua digunakan untuk tiga buah kamar tidur, ruang kerja yang tergabung dengan perpustakaan mini, dan sebuah ruangan untuk berolahraga.
Untuk menghindari kesan monoton seperti kebanyakan rumah minimalis lainnya, Adit dan Salma menambahkan tekstur menarik untuk interiornya. Penggunaan lantai kayu dan permainan pola dan komposisi warna untuk sofa, karpet dan beberapa barang lainnya di rumah itu. Adit dan Salma begitu puas dengan hasil akhir rumah mereka, rumah yang akan mereka tempati sepanjang hidup mereka.
"Mas, nanti agak siangan aku keluar sebentar boleh? Widya ngajakin ketemuan bareng Taufik dan Arga, soalnya hari ini Shinta balik kesini. Sekalian ngasih oleh-oleh yang dari Fiji kemarin" ucap Salma yang menyusul Adit sedang membaca buku di ruang kerjanya.
"Oke. Mau aku anter?"
Salma menggeleng. "Enggak usah, mas. Nanti biar aku sama Asep aja, mas Adit istirahat aja"
"Aku udah hampir dua minggu nganggur, Sal" Adit terkekeh sambil menutup bukunya dan meletakkannya di meja. Lalu menarik tubuh Salma dan mendekapnya.
"Ya gapapa, nanti kalo udah mulai kerja kan juga mas Adit jarang-jarang bisa santai kayak sekarang"
Adit mengangguk. "Nanti aku bantuin beresin barang-barang kamu yg masih di kotak deket lemari deh ya"
"Ga perlu repot mas, itu cuma aksesoris doang. Syal, kacamata dan sebagainya, jarang aku pake"
"Gapapa, daripada aku nganggur"
"Aku ga nyuruh loh ya"
"Iya enggak" jawab Adit lalu mengecup puncak kepala Salma.
🎎
Beberapa menit yang lalu, Salma baru saja meninggalkan rumah diantar oleh sang sopir, Asep. Adit mulai membongkar barang di dalam kotak cokelat yang berada di dekat lemari baju. Telah seminggu ini kotak itu masih tidak berpindah posisinya, sepertinya Salma masih enggan untuk merapikannya. Oleh sebab itu, tadi ia menawarkan diri untuk membantu merapikannya.
Adit mengambil beberapa kacamata dan menaruhnya di laci meja rias Salma. Ketika menarik sebuah syal, sebuah kotak terjatuh dan isinya terkeluar. Adit berjongkok, dahinya mengernyit ketika melihat isi kotak tersebut. Bukan hanya kalung bertuliskan nama istrinya disana, namun ternyata ada lipatan kertas dibawah busa tempat kalung itu.
Adit memungutnya, membaca dengan perlahan yang kemudian menyebabkan emosinya menjadi tersulut. Adit meraih kalung tersebut dan membaliknya, terdapat ukiran nama berukuran kecil yang mungkin Salma tidak mengetahuinya. Ramadhan A.
Adit meyakini kalung itu pemberian teman SMA Salma yang pernah dikenalkan istrinya di toko roti beberapa waktu yang lalu. Adit bergegas menyambar ponselnya dan mencari nomer yang belum lama ini dia simpan ketika Salma menghubunginya. Ya, itu nomer Widya.
📨 Jangan bilang Salma kalo aku
menghubungimu
__ADS_1
Aku mau minta bantuanmu
Widya yang baru saja tiba di cafe sedikit bingung, untuk apa suami Salma meminta bantuannya. Ia segera mengetikkan balasan pesan, terlebih hanya ada Shinta dan Arga di sebelahnya.
📩 Bantuan apa, mas?
📨 Aku minta nomer Arga
Widya segera menyenggol lengan Arga yang tengah terfokus pada ponselnya, lalu Widya menyodorkan ponselnya untuk menunjukkan isi pesan Adit kepadanya. Adit mengangguk, lalu Widya segera mengirimkan nomer kontak Arga kepada Adit.
Tak berapa lama, ponsel Arga berdering. Arga meminta ijin untuk keluar sebentar untuk menerima telpon yang tak lain dari Adit.
"Halo" ucap Arga.
"Salma belum sampai kan?"
"Belum, kenapa?"
"Lo mengenal Rama?"
Arga diam sejenak, lalu pandangan matanya menangkap sosok Salma yang baru saja tiba dan melambaikan tangan padanya sambil tersenyum. Arga membalasnya dengan anggukan kepala.
"Iya, dia temen SMA gue dan Salma. Ada apa?"
"Gue mau buat perhitungan sama dia"
"Lo tau?"
"Iya, Salma cerita itu ke gue. Dia udah nolak tapi Rama ga mau tau. Itu ga sepenuhnya salah Salma"
"Gue tau. Tolong kasih gue kontak Rama"
"Oke, habis ini gue kirimin. Jangan marah ke Salma"
"Enggak, lo tenang aja"
Arga segera mengakhiri panggilan telponnya. Setelah mengirimkan kontak Rama kepada Adit, Arga segera masuk ke dalam cafe bergabung dengan teman-temannya yang telah datang.
"Telpon dari siapa? Nisa ya?" goda Salma.
"Enggak, dari temen"
Salma mengangguk, lalu menyerahkan sebuah kotak untuknya.
__ADS_1
"Itu oleh-oleh untuk lo sama bunda. Buat Nisa besok gue kasih aja kalo pas di sekolah"
Arga mengangguk. "Thanks, Sal"
"Liburan kemana sama Nisa?"
"Belum kemana-mana? Dia lagi pergi sama keluarganya ke Surabaya"
"Yaahhh... akang Arga kangen dong?" canda Shinta.
"Tenang Ga, masih ada gue. Dari kemarin-kemarin kan kita selalu berdua" jawab Taufik.
"Ada hubungan apa lo berdua" sergah Widya.
"Cewek ga akan paham" jawab Taufik sambil merangkul bahu Arga.
"Kalian jadian?" celetuk Salma yang membuat Widya dan Shinta tertawa.
"Najis! Gue masih demen cewek" jawab Arga dengan kesal.
Pikiran Arga berkelana, sejak tadi ia tak fokus dengan obrolan teman-temannya. Haruskah ia memberitahukan ini pada Salma? Tapi, ia juga tak ingin menganggu keceriaannya berkumpul kembali dengan teman-teman dekatnya saat kuliah. Tapi baginya, Salma harus tahu. Ini masalah yang terjadi pada rumah tangganya.
Arga menarik tangan Salma yang sedang berjalan beriringan dengan Widya dan Shinta saat akan keluar cafe.
"Kalian duluan aja, gue ada perlu sama Salma" ucap Arga pada ketiga temannya.
"Ada apaan sih, Ga?" tanya Salma bingung.
"Adit tau kalung itu dari Rama, kayaknya dia marah besar"
"Se... seriusan, Ga? Lo... lo tau darimana?" ucap Salma terbata-bata.
"Tadi Adit telpon gue, dia tanya soal Rama. Dia bilang...."
"Mas Adit bilang apa?" potong Salma dengan cepat.
"Dia mau bikin perhitungan sama Rama"
Salma benar-benar ketakutan. "Gue balik dulu, Ga. Thanks..." Salma menarik pergelangan tangannya yang dipegang Arga, namun ditahan kembali oleh Arga.
"Jangan bikin Adit marah lagi. Lo cukup bilang maaf, meskipun lo ga sepenuhnya salah"
Salma mengangguk, lalu ia segera berjalan menuju ke mobil yang telah menunggunya, sesaat setelah Arga melepaskan cekalan tangannya.
__ADS_1
***
Sebelumnya mohon maaf karena kemarin sempet lama ga up. Sebenernya bukan karena enggak up, tapi entah kenapa kemarin proses review-nya lamaaaaa banget. Mau saya tulis ulang tapi takut up-nya double atau makin lama proses up-nya. Gatau juga kenapa, jadi saya udah setor dari tanggal 21 tapi baru bisa ke up pagi tadi. Makanya dari kemarin saya ga lanjutin dl karena takut yg baru malah ke up duluan dari yg sebelumnya. Okelah, dilanjut lagi ya ceritanya. Terimakasih banyak untuk yang masih setia nunggu kelanjutan ceritanya 😘