MENIKAH

MENIKAH
S2 - Ketahuan


__ADS_3

Happy reading 😊


***


"Jadi kamu mau pake aspri?" tanya Adit memastikan keputusan yang telah diambil oleh Rayyan.


Seperti biasanya, acara makan malam selalu diisi dengan Adit yang menanyakan keseharian anak-anaknya satu per satu. Kali ini, obrolan lebih terpusat pada Rayyan yang baru saja mengambil alih perusahaan kakeknya.


"Sama kayak Papa waktu dulu ngerekrut pak Hendra, aku juga mau punya PA yang bisa bantu aku dalam segala urusan, Pa."


"Tapi kalo kamu butuhkan minggu ini, akan terlalu terburu-buru proses seleksinya. Papa enggak yakin kamu akan nemuin orang yang sesuai."


"Pilih aja antara Eowyn atau Zahra. Mereka bilang udah siap untuk bantu di kantor kan?" usul Salma.


Eowyn langsung menatap wajah abangnya sambil mengedipkan matanya.


"Kalo tugasnya cuma ngurusin jadwal abang, aku mah bisa Bang. Beres deh pokoknya." ucap Eowyn.


Rayyan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Kamu harus di perusahaan sama Papa, biar enggak manja mulu sama aku." ketus Rayyan yang kemudian menolehkan pandangannya pada Salma.


"Zahra siapa, Ma?"


"Temen Eowyn, dia diajakin Eowyn untuk bantu juga di kantor Papa. Ahhh... kalian belum pernah saling ketemu ya?"


Rayyan mengangguk. Belum sempat bibirnya berucap, Eowyn telah lebih dulu menyerobot.


"Nahhh... cocok tuh, Bang! Zahra pinter kok anaknya, dia juga teliti banget. Seenggaknya abang dapet PA yang enggak ceroboh kayak aku."


"Kerjaan lo beres pokoknya, Bang. Kak Zahra itu top-lah." imbuh Rafa.


"Yeeee... sok tau lo!" ketus Eowyn.


"Taulah, kak. Gue kan sering ketemu kak Zahra kalo pas main kesini. Lo aja yang pusing mikirin awal-awal skripsi juga ditolong dia kan? Ngaku lo!"


"Berisik lo ahh!"


"Udah, kalian berdua jangan buat abang jadi pusing. Semua keputusannya ada sama Rayyan, terserah dia maunya gimana." sela Adit.


"Tapi kan... kalo temen Eowyn cuma sementara, Pa... Ma.... Terus selanjutnya, Rayyan harus cari PA baru lagi kan?"

__ADS_1


"Zahra dan Eowyn selesai skripsinya di semester ini, jadi menurut Papa... itu enggak masalah kalo kamu mau lanjutin kerjanya Zahra. Sekalian kamu bisa nilai kinerjanya dia gimana." usul Adit.


"Yaahhh... kalo gini caranya, ntar aku enggak ada temennya dong di kantor Papa?" keluh Eowyn.


"Kan ada Papa, nanti juga ada Rafa juga yang gabung. Iya kan, Fa?" Adit berucap sambil menaik turunkan kedua alisnya pada Rafa.


"Tentu dong!" ucap Rafa dengan semangat.


Rayyan melirik ke arah Eowyn yang sedang menatapnya. Jika ia hanya mengambil Zahra untuk membantunya, itu berarti ia harus kembali menyerahkan pengawasan Eowyn padan Rafa. Dan tentunya sang Papa yang akan over protective kepada anak perempuan kesayangannya itu.


"Oke, aku akan coba rekrut teman Eowyn." ucap Rayyan sambil menegakkan duduknya.


"Aku enggak sekalian, Bang? Kan bisa ditempatin dibagian mana gitu." pinta Eowyn.


Rayyan menggelengkan kepalanya. "Aku belum butuh karyawan baru selain PA, kamu ikut Papa aja."


"Diihhh, sombongnya! Aku dibuang begitu aja." gerutu Eowyn yang kemudian mendapat usapan di rambutnya oleh Salma.


🎎


"Jadi besok gue harus ke kantor abang lo dan mulai kerja?" seru Zahra dengan mata berbinar.


Eowyn mengangguk. "Tapi kita misah, Zah. Abang bilang cuma butuh satu orang doang buat jadi PA-nya dia, jadi gue di kantor Papa, sama Rafa ntar."


"Yaahhh... gue dong yang kayak anak ilang." ekspresi sedih langsung terpancar dari wajah Zahra.


"Kan lo bakal ngekorin abang gue mulu, semisal ada gue juga pasti lo yang bakal sibuk daripada gue."


"Ya tapi kan gue enggak kenal sama abang lo, Wyn."


"Halah, besok juga kenal." ucap Eowyn sambil menepuk pundak Zahra. "Eeee... betewe, berhubung lo udah dapet kerjaan sambil nungguin wisuda, gue boleh dong minta tolong sama lo? Hehehehehe...."


"Minta tolong apaan?" Zahra sudah memasang wajah curiga kepada Eowyn.


"Kalem sih, Zah. Jangan langsung menaruh curiga sama gue hehehehe...."


"Gimana gue enggak curiga? Terakhir kali lo minta tolong kayak gini gue jadi tumbal elo ya nemenin temen lo nonton."


"Ya kan emang dia naksir elo, Zah. Gue perantara doang."

__ADS_1


"Cepetan minta tolong apaan, awas aja kalo aneh-aneh lagi."


"Enggak. Lo inget Andrew kan? Cowok yang ketemu kita pas di toko buku minggu lalu?"


Zahra mengangguk. "Lo mau ketemuan sama dia?"


"Iya, temenin gue ya, Zah. Di Kafe deket sini. Gue kalo mau sendirian, takut ketahuan Rafa atau abang. Bisa habis gue."


"Yaahhh... gue jadi CCTV dong?"


"Lo ikutan ngobrol juga enggak apa-apa, pokoknya gue enggak mau ketemu dia sendirian."


Zahra melihat sekilas ke arah jam tangannya. "Lama enggak? Gue janji mau anterin istrinya mas Rifqi periksa ke dokter kandungan."


"Bentar doang kok." jawab Eowyn sambil menarik pergelangan tangan Zahra menuju tempat mobilnya diparkir.


🎎


"Kamu bilang lagi ngirit karena bakal enggak dapet uang jajan dari papa kamu selama liburan, kenapa sekarang malah ngajak aku ke Kafe?" tanya Alita saat Rafa menghentikan laju motornya di depan sebuah kafe.


"Udah lama kan kita enggak makan siang bareng karena kamu selalu sibuk. Mumpung sekarang ada kesempatan, jadi dimanfaatin ya." ujar Rafa sembari membantu Alita melepaskan helm.


"Yaudah, kita bayar sendiri-sendiri aja ya. Aku enggak mau ntar kamu enggak jadi ngirit gara-gara ngajakin aku makan."


"Kalo cuma makan aku masih sanggup, sayang." Rafa mengusap rambut Alita. "Ayo!" sambungnya sembari menggandeng tangan Alita masuk ke dalam kafe.


Saat matanya menatap sekeliling mencari tempat yang pas untuk makan siang berdua dengan sang kekasih, mata Rafa terpaku pada sosok Zahra yang duduk berseberangan dengan Andrew. Rafa mengernyitkan dahinya, tidak mungkin Zahra menemui Andrew. Karena ia yakin Zahra tidak mengenal Andrew yang baru saja pulang dari UK.


Hingga akhirnya sebuah gerakan tangan dari samping Zahra membuatnya tersenyum sinis. Ada orang lain di sebelah Zahra, dan Rafa yakin itu adalah kakaknya, Eowyn. Rafa menarik tangan Alita menuju meja di dekat jendela kaca yang berhadapan dengan parkiran mobil. Matanya langsung menyapu mobil-mobil yang terlihat dari tempatnya, dan menemukan plat mobil yang ia yakini milik Eowyn.


"Kamu kenapa?" tanya Alita curiga.


"Ada kakak aku disini."


"Kamu takut kita ketahuan pacaran?"


Rafa tergelak mendengar perkataan Alita. "Justru dia yang bakal takut kalo ngeliat ada aku disini." jawabnya sambil membalikkan buku menu.


"Makanya kamu nyari tempat disini?"

__ADS_1


Rafa mengangguk. "Biarin aja dia seneng-seneng dulu sekarang, ntar baru nangis-nangis kena omelan abang."


__ADS_2