MENIKAH

MENIKAH
Episode 53


__ADS_3

Masih di hari yang sama, tepat hari ketiga Audy berada di Bali, hari yang seharusnya penuh kebahagian dan ketenangan kini sekarang berahli menjadi hari yang menyebalkan


Hari semakin sore, Audy memutuskan untuk berjemur, kali ini Audy menggunakan pakaian yang lebih terbuka serta mengekspos diri.



Albert sekarang seperti kepiting rebus, wajahnya kian memerah karena menahan kekesalan dan juga marah, ia harus mengontrol emosinya agar gadis yang ia suka dan cintai tidak menjadi takut terhadap dirinya.


Albert memberikan tatapan tajam dan dingin kepada orang yang dengan terang-terangan memandang wanita, rasanya Albert ingin mencabut mata orang yang berani memandan wanitanya,


Ingat untuk saat ini Albert sudah mengklaim Audy menjadi wanitanya, jadi wajar saja jika ia marah karena wanitanya sedang ditatap oleh orang lain, dengan tatapan penuh minat atau bisa dikatakan kekasihnya mendapat tatapan penuh nafsu.


Audy saat ini tidak terlalu peka dengan Albert yang sedang bersusah payah menahan amarah, ia sibuk berjemur dan juga bermain handphone, terlihat asik sendiri tanpa menyadari sebentar lagi akan ada bom yang meledak.


"Sayang, sudah cukup berjemur, jadi ayo kita pulang." Ucap Albert dengan lemut menutupi kekesalannya.


"Kalau kamu mau pulang, silakan pulang saja tuan Albert, saya tidak meminta anda untuk berada disamping saya, jadi jika anda ingin pulang deluan saya tidak merasa keberatan sama sekali." Ucap Audy dengan mengedikkan bahu.


"Ayolah berhenti memanggil aku dengan sebutan tuan, aku bukan tuanmu dan aku juga bukan bos kamu, jadi berhenti memanggil saya tuan." Kesal Albert dengan tatapan tidak suka.


"Hmm, terserah aku mau memanggil tuan dengan apa saja, jadi jika merasa tidak nyaman sebaiknya tuan Albert menjauh dari saya." Cetus Audy dengan wajah juteknya.


"Jangan seperti itu, aku terlihat sangat tua jika kamu terus menerus menyebutku tuan, kamu cukup memanggil ku dengan sebutan nama saja, tanpa embel-embel tuan." Lirih Albert yang masih terdengar oleh orang yang ada disampingnya Audy.


"Huft, baiklah aku akan memanggil kamu dengan nama." Putus Audy yang merasa tidak enak melihat raut wajah sedih dari Albert.


Ternyata dengan memasang wajah sedih Albert kian berhasil untuk membuat Audy untuk merubah nama panggilan, Albert yang mendengar itu tersenyum cerah dalam hati, ia tentu sangat senang, sebentar lagi jika mereka semakin dekat maka Albert perlahan akan mengubah nama panggilan menjadi sayang.

__ADS_1


"Terima kasih." Tulus Albert sambil menyunggingkan senyum.


"Hmm." Hanya di balas dengan dheman singkat.


Hari sudah menunjukan pukul 18.00 malam, Audy memutuskan untuk segera kembali ke hotel untuk membersihkan diri dan kemungkinan ia akan langsung beristirahat mengingat besok ia sudah kembali ke kantor dan bekerja seperti biasa.


"Sayang, malam ini kita dinner bareng yuk." Ajak Albert dengan tatapan memohon, ia seolah sangat berharap Audy akan menyetujui.


"Baiklah, tawaran anda diterima." Jawab Audy sambil menyunggingkan senyum, malam ini ia akan mendapat makanan gratis, tidak mungkin jika ia yang akan membayar makanan jika pergi bersama dengan Albert.


"Baik, kalau begitu nanti malam aku akan jemput kamu jam stengah delapan, bagaimana ?" Tanya Albert bersemangat, ia sangat senang Audy menerima tawarannya tanpa ada perdebatan terlebih dahulu.


"Bole, jam stengah delapan malam ." Audy menyetujui, bagaimanapun yang akan membayar makanan adalah Albert jadi ia tak apa mengikuti perkataan Albert selama dalam batas normal.


"Oke, aku pergi dulu, byee." Ucap Albert sambil tersenyum cerah.


"Bye, hati-hati di jalan." Jawab Audy pelan, tidak ada yang tahu jika Albert mendengar atau tidak.


Jam delapan malam.


"Hei, apa kamu sudah lama menunggu ?" Tanya Albert yang datang menghampiri Audy di lobby hotel.


"Tidak, aku baru saja turun, dan secara kebetulan kamu juga baru tiba." Jawab Audy sesuai kenyataan, jika memang ia baru saja sampai, dan bertepatan ketika Albert sampai.


"Ayo kita berangkat." Jawab Albert, dan menarik tangan Audy tanpa meminta persetujuan dari Audy, Audy yang ditarik tanpa persetujuan membulatkan mata.


Bagaimana bisa lelaki yang ada di depannya bertindak semau itu, baru saja ia bersikap baik pada mantan bosnya, sekarang mantan bosnya kembali menunjukan sifat menyebalkan, sifat menyebalkan Albert mampu membuat Audy mengembungkan pipi.

__ADS_1


"Hei, aku berbicara sopan denganmu bukan berarti aku mau ditarik seperti itu sama kamu." Ketus Audy dengan nada merajuk, serta menyilangkan kedua tangan di depan dada.


Ekspresi serta tindakan Audy, membuat Albert terkekeh geli, memang wanita yang saat ini sedang berada di sampingnya sedikit unik, ia sangat menyukai pipi Audy yang mengembung karena merajuk, terlihat sangat lucu dan juga menggemaskan, ingin rasanya Albert menarik kedua pipi Audy, tapi ia urungkan melihat mood Audy yang perlahan menjadi jelek.


"Baiklah, sekarang tolong maafkan aku, aku tidak akan melakukan sesuatu semauku, aku akan lebi menghargai kamu, meski sebenarnya aku sudah sangat menghargai kamu." Ucap Albert meminta maaf, meski cara ia meminta maaf cukup membuat Audy bertambah kesal.


"Hei, kalau mau minta maaf, minta maaf yang benar, kalau kamu tidak ikhlas maka jangan minta maaf, dasar menyebalkan." Kesal Audy dengan tatapan datar serta suara yang tak enak untuk didengar.


"Baiklah, maafkan aku." Ucap Albert dengan lembut, serta sedikit senyum mengembang.


"Dimaafkan." Putus Audy tanpa melirik kesamping.


Malam ini Audy dan Albert pergi berdua, keduanya pergi tanpa menggunakan supir, Albert memang ingin menghabiskan waktu berdua dengan Audy.




Kemanapun keduanya pergi, pasti keduanya akan me jadi pusat perhatian, Tapi malam ini berbeda, Audy dan Albert berpakaian casual, mereka terlihat seperti orang biasa saja.


Tidak ada yang mengenali Audy sebagai cucu dark keluarga Trisumajaya, dan juga tidak ada yang mengenali Albert sebagai pengusaha sukses terbaru.


"Huft, rasanya menyenangkan bisa hidup seperti ini, tanpa ada orang yang fake." Ucap Audy sambil tersenyum kecil, pasalnya selalu banyak orang yang mendekati dirinya karena kekuasaannya dan niat-niat tertentu.


"Hmm, itu adalah resiko lu sebagai pemimpin perusahan besar, bakalan banyak, eh salah bukan bakalan banyak tapi memang banyak sekali orang yanh ada disekitar lu, bukan orang yang benar-benar tulus, tapi orang-orang yang mencari celah." Terang Albert sambil tersenyum kecut.


"Yah benar, banyak penghianat dimana-mana, kembali lagi di diri kita." Balas Audy, mengingat mantannya yang tega menghianatinya, sangat miris bukan percintaan Audy, tapi itu dulu yah, sekarang ia sudah berteman baik dengan mantannya tapi tidak lebi dari hubungan bisnis semata.

__ADS_1


Malam ini Audy dan Albert menghabiskan waktu dengan canda tawa, tapi sekali-sekali mereka berdua melakukan perang adu mulut, hari yang cukup dan sangat bahagia.


"Awal yang bagus bukan ? ...."


__ADS_2