
Weekend ini, sesuai janjinya pada Salma, Adit mengajak pergi jalan-jalan keluarga kecilnya yang sempat tertunda beberapa kali. Mereka pergi ke mini zoo, mencoba mengenalkan hewan-hewan kepada Rayyan dalam bentuk aslinya serta menikmati udara di area terbuka.
Adit mengambil alih untuk menggendong Rayyan, itulah yang selalu ia lakukan ketika bepergian. Apalagi sekarang Rayyan sedang aktif-aktifnya, hanya Adit yang mampu menandingi tenaga Rayyan untuk menuruti anaknya berjalan kesana dan kemari.
Setelah selesai berkeliling, Adit dan Salma beristirahat sebentar. Adit membenarkan posisi apron menyusui Salma yang sedikit terbuka. Tadi, Rayyan sempat rewel karena merasa haus dan sepertinya juga mengantuk. Karena begitu menyusu pada Salma, tak lama bayi laki-laki itu memejamkan matanya.
"Bulan depan ulang tahunnya Rayyan mau dirayain?" tanya Adit sambil menyodorkan botol minum pada Salma.
"Rayyan juga belum ngerti, mas"
"Tapi seenggaknya kita bisa bikin acara untuk keluarga dan temen deket"
Salma mengangguk sambil meletakkan botol minum yang baru saja ia teguk. "Kalo itu sih aku setuju aja, mas. Kalo mau ngerayain, besok aja pas dia udah sekolah. Temennya kan udah banyak"
"Terus, nambah adiknya Rayyan kapan dong?"
Salma mencubit lengan Adit. "Bisa-bisanya diluar bisa ngomong kayak gitu"
"Hahahaha... habisnya kalo di rumah kamunya fokus sama Rayyan mulu. Enggak KB juga kan Sal, tinggal ga usah pake pengaman lagi juga langsung jadi"
"Rayyan masih kecil, mas. Tau sendiri anaknya aktif banget. Kalo aku hamil, terus mual muntah gitu, ntar Rayyan gimana?"
"Kan ada bu Sari, kita juga bisa sewa babysitter sekalian untuk adiknya lahir nanti. Kamu tinggal ngawasin aja. Ya?"
Salma menghela nafasnya. Suaminya ini kenapa begitu semangat sekali untuk bisa segera menghamilinya kembali.
"Tunggu setahun lagi, oke?" tawar Salma.
"Ntar Rayyan keburu lari-larian, Sal. Dan pasti susah diasuh sama orang baru. Kalo sekarang kan dia masih gampang dideketin"
"Seenggaknya nunggu sampai Rayyan lulus ASI, mas"
Adit mengangguk, akhirnya dia mengalah juga. Untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan Rayyan, itu akan selalu jadi prioritasnya.
"Tapi mas Adit harus janji, setelah adiknya Rayyan lahir aku udah enggak mau nambah anak lagi. Mau itu cewek atau cowok, aku ga peduli"
"Kamu nurut banget sih sama programnya pemerintah, kata dokter Vania kan kalo caesar maksimal bisa tiga kali"
"Dulu mas Adit bilang terserah aku. Yang hamil dan lahiran, yang dikorbanin kan tubuhku" protes Salma sambil merapikan bajunya saat Rayyan telah selesai menyusu.
__ADS_1
"Iya-iya, aku ga lupa Sal. Cuma nyoba nawar aja barangkali kamu mau punya anak banyak. Aku siap kok hehehehe"
"Ya mas Adit mah enak, enggak ngerasain hamil dan lahiran" ketus Salma sambil melepas apron menyusuinya. "Udah deh ga usah ngeyel, sebelum aku berubah pikiran" sambung Salma.
"Ga usah ngambek, masa ngomongin anak aja ngambek sih" Adit mengusap rambut Salma. "Habis ini kemana lagi?"
"Cari makan, mas. Udah jamnya Rayyan makan juga kan. Ntar pas sampai tempat makannya paling dia juga bangun"
"Oke, ayo" Adit segera memasukkan barang-barang yang ada diluar, lalu mencangklong diaper bag Rayyan.
🎎
Adit dan Salma berjalan masuk ke dalam restoran untuk makan siang. Dan benar saja, Rayyan terbangun sesaat setelah Adit selesai memarkirkan mobilnya. Dalam gendongan papanya, Rayyan masih terlihat tenang karena baru saja bangun tidur. Setelah selesai memesan makanan, Salma mengambil alih Rayyan untuk menyuapinya. Adit akan makan terlebih dahulu sebelum akhirnya bertukar posisi dengan Salma.
"Rayyan udah makan nasi?" tanya Adit begitu melihat isi tempat makan Rayyan.
"Nasi lembek, mas. Habis giginya udah ada empat, biar belajar ngunyah juga"
"Tau nih, anak mama papa giginya udah banyak aja. Jangan gigitin mama kalo pas nyusu ya, nak" Adit mengusap kepala Rayyan yang tengah menikmati makan siangnya.
Begitu makanan yang dipesan datang, Adit segera menyantap makanannya. Tanpa banyak bicara dan sesekali menengok ke arah Rayyan, Adit menghabiskan makanannya. Ia ingin Salma dapat segera makan karena pasti istrinya itu telah kelaparan akibat Rayyan yang menyusu padanya.
"Iya, bentar ya sayang. Makan papa kurang dua sendok lagi" Adit segera melahap sisa makanannya dengan cepat.
"Pelan-pelan, mas. Ntar kesedak, aku ga laper-laper banget kok" ucap Salma sambil mengelus lengan Adit. "Aku bawa Rayyan kesana dulu sambil liat pemandangan laut, mas Adit pelan-pelan aja makannya"
Salma beranjak dari duduknya, mengajak Rayyan ke balkon restoran yang menghadap ke arah laut.
"Sal..."
Salma menoleh ke arah sumber suara yang menyapanya.
"Rama?"
"Ini anak kamu?" tanya Rama sambil memegang tangan kecil Rayyan.
"Iya, namanya Rayyan"
Rama menatap Rayyan dengan dalam. "Udah lama juga kita ga saling ketemu, sampai anak kamu udah segede ini aja"
__ADS_1
"Kamu yang ngilang gitu aja"
Rama tersenyum sambil menggaruk kepalanya. "Sejak ketemu sama suamimu, aku jadi ga berani untuk ketemu kamu lagi"
"Sekarang?"
"Kan ga sengaja, Sal hehehehe... Kalian, habis jalan-jalan?"
"Iya, ngajakin Rayyan ke mini zoo"
Rama mengangguk. "Dia mirip banget sama Adit, tapi... matanya mirip kamu banget"
"Semua orang ngomong kayak gitu, Ram"
Salma menoleh sekilas ke arah Adit yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Suaminya itu tampak menyedot minumannya dengan santai, tangannya bersidekap, tapi sorot matanya menatap ke arahnya dengan tajam.
"Aku pergi duluan ya, Ram. Mas Adit kayaknya udah selesai makan. Mungkin lain kali kita bisa ketemu lagi, ga usah mikirin sesuatu yang udah kejadian"
Rama mengangguk. "Thanks, Sal. Maaf atas kesalahan gue waktu itu"
"It's okay, Ram. Aku duluan ya" Salma berjalan meninggalkan Rama dan berjalan menuju Adit. Rayyan langsung merentangkan kedua tangannya sambil tertawa dan langsung disambut oleh Adit.
"Udah selesai reuninya?" tanya Adit.
"Udah, Rama minta maaf atas kejadian waktu itu"
"Baguslah" jawab Adit singkat.
"Ga usah cemburu kali, mas. Aku cuma ngobrol biasa sama Rama" Salma bergelayut manja dilengan Adit sambil mengusap pipi Rayyan yang bermain dipangkuan Adit.
Adit menoleh lalu mencium puncak kepala Salma. "Kan cemburu tandanya cinta"
Salma tersenyum ke arah Adit dan semakin mengeratkan pelukannya dilengan Adit.
"Buruan makan, ntar keburu dingin. Kalo mau manja-manjaan di rumah aja, jangan godain aku disini"
"Siapa juga yang godain? Kepedean!" Salma melepaskan pelukannya dan segera menyantap makanannya.
"Makan yang banyak, yang butuh nyusu kan ga cuma Rayyan"
__ADS_1
Salma tersedak mendengar perkataan Adit barusan, sedangkan Adit terkekeh sambil menyodorkan minum ke arah Salma. "Mesumnya yaa Allah!" dengus Salma sambil memukul lengan Adit.