
Happy reading 😊
***
Salma mengernyitkan dahi saat memasuki kamar milik Rafa. Tidak biasanya anak bungsunya itu sudah bangun sepagi ini. Apalagi sampai melihat Rafa yang telah duduk manis di depan laptopnya dengan raut wajah yang serius.
"Kayaknya hari ini bakal hujan." ucap Salma sambil berjalan mendekati Rafa.
"Hah? Mama habis nonton ramalan cuaca?"Rafa menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop di depannya. Sementara mamanya telah berada disampingnya dan memberikan kecupan selamat pagi di pipi kirinya.
"Mana ada? Mama cuma heran aja kamu ngelakuin hal yang enggak biasanya dilakuin, mama khawatir itu akan membuat cuaca jadi berubah." Salma menyibakkan gorden di jendela kamar Rafa.
"Mama aneh-aneh aja." Rafa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya menanggapi gurauan mamanya yang aneh itu.
"Ngerjain tugas kuliah ya?"
Rafa menggelengkan kepalanya sambil mendongak menatap Salma yang kini telah berdiri disampingnya.
"Tugas dari abang, Ma."
"Ngapain abang ngasih kamu tugas?"
"Abang belum ngomong sama mama dan Papa?"
"Ngomong apaan?" dahi Salma berkerut saat mencoba menangkap maksud perkataan Rafa.
"Abang malam ini mau ngelamar kakak Zahra, naahhh abang minta tolong ke Rafa buat nyiapin segala sesuatunya."
"Yakin kamu dimintai tolong bukan karena minta imbalan?"
"Yaaa... dua-duanya sih, Ma ehehehehe...."
__ADS_1
Merasa tertarik dengan topik pembicaraan anak bungsunya, Salma menarik sebuah kursi kecil tak jauh dari sana dan duduk di sebelah Rafa.
"Abang sih udah ngomong sama Papa soal lamaran, tapi enggak ngasih tau kalo acaranya malam ini. Ayo cepetan kamu ceritain ke mama detailnya."
"Mama penasaran banget." Rafa tertawa kecil melihat respon mamanya yang begitu antusias dengan acara lamaran abangnya itu.
"Ya jelaslah. Ini kan pertama kalinya mama bakal ngerasain momen anak mama lamaran. Cepatan Rafa, waktunya mepet. Bentar lagi Papa akan selesai mandi dan butuh mama buat nyiapin segala sesuatunya."
"Cih, masih aja manja si Papa." gumam Rafa yang kemudian mendapat cubitan dipipi dari mamanya.
Setelah mengusap pipinya akibat cubitan dari mamanya, Rafa menjelaskan perihal acara lamaran abangnya. Namun siapa sangka mama Salma bersedia untuk membantu Rafa karena jika acaranya hari ini berbarengan dengan hari ulang tahun papa Adit. Setidaknya Rafa tidak perlu khawatir dengan restoran yang akan mereka booking, karena sudah pasti mamanya jauh lebih tahu tempat yang pas untuk acara keluarga seperti ini.
***
Hari ini untuk pertama kalinya Rayyan datang terlambat ke kantor. Bukan karena efek bangun kesiangan, karena setelah sarapan tadi ia harus berbicara enam mata dengan orangtua perihal acara lamarannya malam ini. Rayyan juga menyempatkan diri pergi ke rumah Zahra setelah memastikan gadis itu telah berangkat ke kantor.
Bukan maksud Rayyan untuk bermain kucing-kucingan dengan Zahra, tapi ini semua demi kejutan malam nanti. Rayyan menyampaikan maksud hatinya dan meminta restu kepada orangtua dan keluarga Zahra. Setelah kedua hal yang ia inginkan dari keluarga Zahra terlaksana, Rayyan mengatakan jika Rafa akan menjemput mereka petang nanti. Rayyan bahkan belum tahu dimana acara itu akan dilakukan, karena sang mama belum melakukan reservasi tempat pagi tadi.
Setidaknya Rayyan telah bisa bernafas lega karena segala persiapan acara yang dadakan ini hampir rampung. Membayangkan jika malam ini ia dan Zahra akan resmi bertunangan saja membuat Rayyan tak bisa berhenti tersenyum, bagaimana jika mereka sudah sah nanti?
Terlalu fokus mendengarkan penuturan adiknya dari sambungan telepon, Rayyan bahkan sampai mengabaikan Zahra dan bu Meta yang menyambutnya. Ia terlalu fokus dengan setiap kata yang diucapkan Eowyn, hingga membuatnya mengabaikan dua orang yang menyambutnya dan justru langsung masuk ke dalam ruangan.
Hal itu tentu membuat Zahra menjadi penasaran. Pagi tadi kekasihnya itu hanya mengatakan jika akan telat datang karena ada sesuatu yang harus diurus. Tanpa menjelaskan apa detailnya, Zahra juga tidak ingin menanyakan hal penting apa yang harus dihandle Rayyan pagi itu. Dan kini, Rayyan bahkan terlihat serius dengan panggilan teleponnya. Zahra bahkan mendengar Rayyan agak sedikit berucap dengan nada tinggi sebelum akhirnya pintu ruangan Rayyan tertutup dengan sempurna.
***
"Kamu yang bener aja kalo pilih baju, Wyn!" Rayyan menggeram kesal saat mendengar penjelasan adiknya mengenai detail baju yang akan dikenakan Zahra malam nanti. Saking kesalnya, bahkan Rayyan terlihat seperti membanting pintu saat pintu ruangannya tertutup dengan suara yang begitu keras.
"Enggak-enggak. Lo aja kalo mau pake, tapi jangan lo kasih ke Zahra. Disana nanti ada Sabian, Wyn. Adik bontot lu juga bakal jelalatan matanya kalo liat baju Zahra begitu terbuka dibagian punggungnya. Belum lagi pelayan yang ada di restoran. Cari yang lain, gue enggak masalah sama harganya."
Rayyan menutup sambungan telepon dari Eowyn. Nampaknya hari ini ia akan disibukkan dengan panggilan telepon dari adik-adiknya. Ternyata menyiapkan sebuah kejutan itu tidak mudah.
__ADS_1
***
"Kita jadi pulang sekarang enggak nih? Kalo kamu masih sibuk dengan telpon yang enggaj berhenti dari pagi itu, aku bisa pulang sendiri naik ojol." ucap Zahra dengan nada kesal.
Sejak Rayyan datang terlambat tadi, kekasihnya itu disibukkan dengan deringan telpon yang tidak seperti biasanya. Belum lagi Rayyan selalu menjauh saat menerima panggilan telepon dan sering menatap ke layar ponselnya.
"Udah selesai kok. Ayo, kita pulang." jawab Rayyan sambil tersenyum.
Meskipun Rayyan tersenyum dengan begitu manisnya, tapi tetap saja tidak membuat kekesalan Zahra hilang begitu saja. Gadis itu masih memasang wajah kesalnya saat digandeng Rayyan keluar ruangannya.
"Kita makan malam dulu ya?" kata Rayyan setelah menekan tombol lift.
"Enggak ah, aku mau langsung pulang aja."
"Bunda enggak masak loh, Zah."
"Sok tau!"
"Taulah, makanya aku ngajakin kamu makan di luar. Oke?"
Percuma juga Zahra menolak ajakan Rayyan, karena pastinya Rayyan akan tetap membawanya makan malam di luar. Sepanjang perjalanan pulang ini, entah kenapa Rayyan terlihat begitu sumringah. Lagu-lagu yang terputar dimobil juga lagu-lagu romantis.
"Kenapa ada Eowyn?" tanya Zahra saat melihat Eowyn yang telah menunggu mereka di depan restoran.
"Hm. Aku nyuruh dia kesini."
Sesaat setelah Zahra melepaskan seatbelt-nya, Eowyn telah membuka pintu mobil disebelah Zahra.
"Cepetan turun! Ikut gue bentar ya." Eowyn telah menggandeng tangan kiri Zahra.
"Eh? T-tapi...."
__ADS_1
"Ikut aja, aku tunggu di dalam ya."
Zahra menurut, mengikuti langkah Eowyn yang terlihat terburu-buru dan entah membawanya kemana.