
Happy reading 😊
***
"Sorry, Bang." ucap Rafa sebelum pintu itu tertutup rapat.
Zahra telah membuka matanya, mengamati bagaimana ekspresi wajah Rayyan yang nampak menahan amarah serta ekspresi wajah ketakutan Rafa diambang pintu.
"Shit!" Rayyan mengumpat. Lalu meraih charger ponselnya dan beranjak dari duduknya untuk keluar mencari Rafa dan melampiaskan amarahnya.
Mengganggu saja!
Melangkahkan kakinya dengan lebar menuju kamar Rafa, Rayyan tak bisa lagi menahan rasa kesalnya. Bocah tengik itu selalu saja mengganggunya dari dulu. Jika dulu Rafa hanya mengganggu perihal meminjam barang-barang pribadinya, kali ini gangguan Rafa benar-benar membuatnya naik darah. Bagaimana bisa Rafa muncul disaat bibirnya tinggal beberapa centi lagi menempel pada bibir Zahra.
"Sialan lo, Fa!" umpat Rayyan begitu masuk ke kamar Rafa.
"Ih, sorry bang. Rafa beneran enggak sengaja, Rafa enggak tahu kalo abang sama kak Zahra lagi mau... kissing hehehehe...." jawab Rayyan dengan tersenyum tanpa dosa.
Melihat Rayyan yang mendekat padanya, Rafa langsung melompat dari kursi belajarnya menuju ranjang kamarnya.
"Gue kan udah sering bilang buat ketuk pintu, kalo perlu enggak perlu sekalian lo ke kamar gue!" Rayyan melempar chargernya pada Rafa yang masih berdiri di atas ranjang.
"Tadi buru-buru, Bang. Hape Rafa udah lowbatt banget ini. Lagian abang kalo mau begituan, dikuncilah bang. Cih, abang amatiran banget sih!"
Rayyan kian menjadi kesal mendengar ucapan Rafa barusan. Anak itu memang harus benar-benar diberi pelajaran.
"Sialan! Sini lo!" Rayyan ikut naik ke ranjang dan kemudian menarik tangan Rafa yang mencoba turun dari ranjang untuk kabur darinya.
"Aduh... sakit, Bang!" Rafa meronta saat Rayyan menecengkeram tangannya dengan kuat.
"Lepasin deh Bang, please.... Sebagai imbalannya gue bantuin deh."
Rayyan menautkan kedua alisnya. "Bantuan macam apaan?"
"Biar bisa dapetin kakak cantik. Secepat kilat! Gue jamin hehehehe...."
Rayyan berdecak, lalu menyentakkan tangan Rafa dan melepaskannya.
__ADS_1
"Ayolah Bang, enggak usah gengsi. Abang tau sendiri kan pengalaman gue soal percintaan. Naahh... abang kalo masih pake cara yang model kayak tadi, yang ada kak Zahra keburu diambil orang tau enggak."
Rayyan memicingkan matanya, nampak menimbang tawaran yang diberikan oleh Rafa. Namun melihat sifat Rafa yang begitu jahil, ia juga was-was jika ini hanya gurauan Rafa belaka.
"Udaahhh... enggak usah gengsi, Bang." Rafa mendekat sambil menepuk bahu abangnya. "Percaya deh Bang, ini bakal berhasil 100%. Rafa beri garansi deh."
"Ceh, lo kira ikutan bimbel kalo enggak lulus uang kembali?"
"Iiihhh, seriusan Bang. Kalo gagal, Rafa punya segudang cara. Tapi ada syaratnya, yaahhh... sebagai imbalannya kalo Rafa berhasil hehehehe..."
"Lo banyak maunya!" Rayyan mendorong tubuh Rafa dengan geram, sedangkan Rafa malah tertawa dengan tingkah abangnya.
"Ini ilmu, Bang. Rafa ngumpulinnya bertahun-tahun, ngumpulin cara dari A sampai Z hingga akhirnya berakhir sama Alita. Mana bisa Rafa kasih cuma-cuma ke abang? Lagian ya, abang tuh cuma cukup ngelakuin apa yang Rafa saranin aja. Enggak perlu keluar uang buat modal."
"Tapi tadi lo bilang minta imbalan, beg*!" Rayyan menoyor kepala Rafa
"Ya kan diakhir eksekusi ini kalo berhasil kan abang harus ngasih tanda terima kasih buat Rafa. Masa Rafa dapet ucapan terima kasih doang sih? Enak diabang dong!"
Rayyan kembali terdiam, kembali memikirkan tawaran yang begitu menggiurkan ini. Memang Rafa lebih ahli soal percintaan dibandingkan dengan dirinya, mungkin tidak ada salahnya meminta bantuan Rafa.
"Lo minta apaan?"
"Gue udah beli itu motor tau! Gue bayar kan waktu itu empat puluh lima juta, lo lupa?"
"Inget, Bang. Tapi Rafa mau minta itu balik kalo rencana Rafa berhasil." Rafa mendekat pada Rayyanl lalu merangkulkan tangan kanannya pada pundak Rayyan.
"Lagian ya Bang, kalo nanti abang udah nikah sama kak Zahra, abang enggak butuh motor itu lagi. Kalo kak Zahra hamil, masa iya mau dibonceng motor sport? Naik mobillah, Bang. Nah... kalo mau naik motor, abang beli aja motor matic gitu. Itu mau kak Zahra lagi hamil kek atau bahkan gendong anak juga aman, bang."
"Nikah aja belum lo perumpamaannya udah Zahra hamil aja." Rayyan kembali menoyor kepala Rafa.
"Namanya juga perumpamaan, Bang. Kan berandai-andai tentang sesuatu yang belum terjadi. Jadi gimana, abang setuju enggak?"
Sekuat tenaga ia mencoba meluluhkan Rayyan, lumayan kan jika berhasil. Motor sport itu akan kembali ke tangannya, bahkan uang dari Rayyan saat membeli motornya kemarin masih aman tersimpan di bank. Belum lagi ia akan mendapat satu kali gaji milik Eowyn. Rafa tiba-tiba kembali tersenyum lebar karena merasa begitu kaya.
"Lo beneran mau bantuin gue?"
"Diihh... beneran Bang, demi Allah. Abang enggak percayaan aja sih sama Rafa."
__ADS_1
"Lo yakin kan kalo pasti berhasil?"
Rafa langsung mengangkat jarinya membentuk huruf V ke depan wajah Rayyan. "Janji bang, pasti berhasil."
"Kalo gagal, lo ganti rugi ke gue sepuluh juta. Oke?"
"Lahhh... kok gitu, bang?" Rafa menggaruk kepalanya. Kenapa ia tak terpikirkan jika abangnya bakal meminta ganti rugi padanya.
"Lo harus ganti rugi sama perasaan gue kalo sampai gue ditolak Zahra."
"Oohh... jadi harga diri abang cuma sepuluh juta ya?"
Rayyan kembali kesal mendengar jawaban dari Rafa. "Emang lo punya duit berapa, hah?"
"Iya-iya bang, maaf. Rafa bercanda. Tabungan Rafa enggak sebanyak abang yang nolnya kebanyakan."
"Jadi gimana, lo setuju enggak?" kini giliran Rafa yang dibuat berpikir dengan penawaran Rayyan.
"Iya deh, sepuluh juta doang kan bang?" jawab Rafa dengan nada sedikit tidak ikhlas jika nantinya harus kehilangan tabungannya untuk membayar ganti rugi pada abangnya.
"Makanya lo usaha, biar berhasil." Rayyan menepuk pundak Rafa lalu berjalan menuju pintu kamar Rafa.
"Bang...." panggilan Rafa menghentikan langkah Rayyan yang sudah akan menarik handle pintu.
"Yang tadi tertunda dilanjutin gih, Rafa janji enggak akan ganggu deh hehehehe...."
Bukannya merasa senang karena mendapat nasehat pertama setelah kesepakatan mereka, Rayyan justru merasa kesal karena kembali teringat atas kejadian beberapa saat yang lalu.
"Iihhh... seriusan bang dilanjutin aja. Itu pasti kak Zahra sebel juga tuh sama Rafa. Abang juga pasti kepengen banget kan? Hehehehehe... trust me deh, Bang. Kalo sekarang abang lanjutin, nanti kak Zahra bukan hanya malu-malu meong lagi sama abang."
Rafa mendekati abangnya, lalu berbisik dengan nada yang menggoda dan terdengar menggiurkan bagi Rayyan untuk mencobanya.
"Nanti pasti kalian akan saling ketagihan, jadi besok-besok pasti ada yang mancing. Ngasih kode biar dicium duluan." dan seringaian itu muncul setelah Rafa selesai membisikkan kalimatnya.
***
*Terima kasih karena selalu setia nungguin kelanjutan ceritanya. Votes, likes dan comments-nya jangan lupa ya. Pokoknya dinikmatin aja alurnya, mau abang cepet-cepet halalin Zahra atau bakal lama, atau bahkan malah sama yang lain, yang penting diikuti pelan-pelan deh ya hehehehe....
__ADS_1
Sekali lagi thank you ya 😘*