
Happy reading 😊
***
Mengakhiri hari pertama usai ikrar pernikahan mereka dengan makan malam di rumah orangtua Rayyan, keduanya memutuskan untuk kembali ke rumah mereka sendiri. Meskipun mama Salma telah membujuk dengan berbagai macam cara, namun tetap saja Rayyan membawa istrinya pulang ke rumah. Alasannya karena koper dan segala perlengkapan honeymoon mereka ada di rumah. Jika mereka menginap di rumah orangtua Rayyan, bisa dipastikan mereka pasti akan terlambat untuk penerbangan mereka besok pagi.
Menenteng paper bag berisi makanan yang dibawakan oleh mama Salma untuk sarapan mereka besok pagi, Zahra mengeluarkan kunci untuk membuka pintu rumah mereka. Sementara Rayyan sedang menurunkan sebuah figura yang ia bawa dari kamar istrinya tadi. Rayyan belum memutuskan untuk menyewa asisten rumah tangga, ia masih menunggu sampai mereka menyelesaikan honeymoon-nya. Terlebih, Rayyan menginginkan suasana yang sepi seperti ini untuk mendukung romansa pengantin barunya.
Setelah meletakkan makanan dari mertuanya di kulkas, Zahra masuk ke dalam kamar menyusul Rayyan yang telah masuk terlebih dulu. Dipandanginya sang suami yang terlihat senang memandangi figura yang dibawanya tadi dari kamar tidurnya.
"Seseneng itu ya sampai diliatin mulu dari tadi?" ucap Zahra sambil menutup pintu kamar.
Rayyan tersenyum ke arah Zahra, lalu mengulurkan tangannya ke arah Zahra, bermaksud meminta sang istri mendekat padanya. Zahra menurut, ia berjalan mendekati Rayyan dan menerima uluran tangannya. Dan seketika itu pula Rayyan menarik tubuh Zahra agar menempel padanya.
"Kenapa enggak pernah ngomong kalo bunga yang aku kasih pas wisuda ternyata kamu awetin? Bahkan sampai kamu bikin pajangan kayak gini." tanya Rayyan lagi.
Ini sudah kesekian kalinya Rayyan menanyakan hal itu sejak menemukan pajangan bunga yang diawetkan ini di kamar istrinya. Dan kesekian kalinya itu juga Rayyan mendapatkan jawaban yang sama dari Zahra.
"Udah dibilang malu. Takut kamu katain lebay. Perkara bunga aja sampai diawetin, padahal kamu bisa beliin aku sampai setoko bunganya."
__ADS_1
Rayyan tak bisa menahan tawanya mendengar jawaban sang istri. Lalu ia tak bisa menahan lagi untuk kemudian mengecup pipi Zahra, membuat Zahra terlonjak karena kaget dan menimbulkan rona merah diwajahnya.
"Masih aja malu-malu gini, padahal udah dimasukin beberapa kali." Rayyan mencubit gemas pipi Zahra. "Malam ini kamu bebas tugas. Kita hanya akan tidur sambil berpelukan sampai pagi menjelang, karena aku enggak mau kita begadang sampai malam dan kelelahan sehingga besok kita akan ketinggalan pesawat."
Zahra tersenyum, dirinya menghela nafas lega karena setidaknya ia bisa memulihkan tubuhnya efek dari malam pertama kemarin.
"Tapi jangan seneng dulu. Nanti pas kita honeymoon kita akan bener-bener ngabisin waktu berduaan. Aku bahkan enggak punya rencana untuk meninggalkan kamar dan berjalan-jalan karena kita bis melakukannya lain kali. Aku hanya ingin kita menikmati masa pengantin baru kita dengan benar." sambung Rayyan dengan nada menggoda, sambil mengusapkan jemarinya dipipi Zahra dan mengerlingkan matanya.
***
Sepulangnya Rayyan dan Zahra, keluarga papa Adit kini tengah berkumpul di ruang keluarga. Bersama-sama menikmati waktu menonton program TV yang sepertinya akhir-akhir ini sudah jarang dilakukan.
"Besok kamu enggak ada acara kan, Fa?" tanya mama Salma pada Rafa yang berbaring disofa disebelahnya.
"Kalo Alita enggak ngajakin pergi ya Rafa di rumah, ma. Kenapa? Mama mau minta dianterin kemana?"
"Emang peka banget kamu jadi cowok." puji sang mama sambil menahan tawanya.
"Whoaaa... jelas dong, ma!" jawab Rafa membanggakan diri, namun justru mendapat respon decakan sebal dari sang papa dan kakak perempuannya.
__ADS_1
"Mama besok mau ke rumah tante Widya. Kemarin pas dinikahan abang, kita cuma bisa ngobrol sebentar doang. Jadi mama pengen main kesana. Kamu mau kan nemenin mama kesana?"
"Siap, mamaku sayang." Rafa menjawab dengan nada sumringah sambil mengedipkan sebelah matanya pada sang mama.
Namun sial, sebuah bantal langsung mendarat tepat diwajahnya. "Sama mama enggak usah genit-genit gitu! Kebiasaan kamu suka genit di luar." papa Adit mengomel. Tangannya langsung merangkul pundak istrinya dan menariknya untuk semakin mendekat padanya.
"Yaelah, Pa. Sama anak sendiri aja dicemburuin gitu. Rafa bukannya genit Pa, ya kali Rafa genitin mama." Rafa mendengus kesal. Sepertinya hal seperti ini telah terjadi ratusan kali, dan papanya masih saja bersikap demikian. Entah sampai kapan papanya itu akan selalu cemburu jika istringya mendapat godaan darinya.
"Siapa yang bisa jamin, Fa? Kamu enggak liat diberita ada anak yang bahkan sampai berhubungan badan sama ibunya?"
"Astaga, papa!" kali ini Rafa benar-benar terkejut dengan jawaban papanya, ia bahkan langsung mendudukkan dirinya dan menatap sang papa dengan tatapan terkejut.
Sang mama bahkan refleks memukul paha papa Adit yang entah kenapa seperti asal berbicara itu. Sementara Eowyn hanya menggelengkan kepalanya dan menahan senyum melihat pertengkaran ayah dan anak merebutkan perhatian sang mama yang tiada ujungnya ini.
Sebegitu cemburunyakah papanya itu terhadapnya sampai takut ia akan berbuat hal-hal yang tidak senonoh seperti itu? Meskipun mamanya ini masih cantik dan memiliki tubuh yang masih terjaga indahnya, namun tak pernah terbesit pikiran semacam itu pada otaknya. Ia memang playboy, penggoda gadis yang ulung, tetapi bukan kepada mamanya. Lagian kan mamanya juga bukan gadis lagi, apalagi dengan suami segalak singa jantan seperti ini.
"Rafa tau papa itu cinta banget sama mama, tapi jangan gitu dong Pa ke Rafa. Rafa kan juga pengen manja-manjaan sama mama. Lagian pasti papa ada waktunya sendiri kan untuk manja-manjaan sama mama? Rafa kan anak bungsu, Pa. Yang selalu butuh kasih sayang ekstra." Rafa memajang raut wajah sok sedihnya, yang membuat sang papa langsung memalingkan wajahnya.
Anak bungsunya ini memang manja sejak kecil pada sang istri. Bahkan saat kecil, Rafa selalu enggan ditidurkan diboks tidurnya dan meminta tidur bersebelahan dengan mamanya. Hal itu berlangsung sampai Rafa berusia delapan tahun, sebelum akhirnya Rafa meminta untuk tidur dikamarnya sendiri karena sering diejek oleh teman-temannya.
__ADS_1
Mungkin inilah yang membuat dirinya sering merasa sebal jika Rafa mulai bersikap manja dan mencari perhatian pada istrinya. Karena mau tidak mau ia langsung teringat pada masa sebagian besar waktunya untuk berduaan dengan Salma terlewatkan begitu saja. Bahkan tak jarang ia gagal mendapatkan jatahnya karena Rafa merajuk saat sang mama beranjak dari tempat tidur.
Jadi disitulah awal mula 'perang' antara papa Adit dan si bungsu Rafa.