
Happy readingย ๐
***
Disinilah mereka, dua anak manusia yang sedang dimabuk asmara, duduk berhadapan sambil saling terus memandang, tersenyum dan melempar pujian sembari menunggu hidangan makan malam mereka tersaji. Seperti yang telah direncanakan, malam ini Eowyn dan Zachary pergi makan malam untuk kencan pertama mereka. Meskipun masih mengenakan pakaian kerja mereka, namun hal itu tak mengurangi keromantisan yang melingkupi keduanya.
"Aku masih berasa mimpi. Duduk disini, berdua sama kamu, dengan status sebagai kekasih." ucap Zach.
Sejak tadi, tangannya tak mau melepaskan tangan Eowyn. Ia terus menggenggamnya, mengusap punggung tangan kekasihnya dengan begitu lembut, bahkan sesekali mencium punggung tangannya yang sontak membuat Eowyn menjadi tersipu malu.
Saat seorang pelayan datang dengan membawa makanan yang mereka pesan, mau tak mau genggaman tangan itu terlepas. Zach segera memotong daging steak miliknya, lalu menukarnya dengan milik Eowyn yang masih belum tersentuh.
"Banyak adegan difilm romantis yang melakukan hal ini. Hari ini aku melakukannya untukmu." ucap Zach sambil tersenyum.
Eowyn tersenyum. Ia merasa malu, mungkin sekarang pipinya benar-benar telah merah merona. Ia lantas menusuk potongan daging dengan garpunya lalu mengarahkannya ke mulut Zach.
"Dan banyak pula adegan difilm romantis yang melakukan hal ini. Hari ini, aku juga melakukannya untukmu." ucap Eowyn sambil tersenyum.
Zach segera membuka mulutnya, lalu melahap potongan daging yang disodorkan oleh Eowyn. Keduanya menikmati makan malam bersama, menikmati suasana candle light dinner yang membawa mereka terhanyut dalam suasana romantis yang tercipta.
"Nanti kita harus kembali melakukan ini, tentunya dengan pakaian formal. Jadi kita bisa menikmati alunan musiknya dan berdansa seperti pasangan itu." Zachary menunjuk beberapa pasangan yang sedang berdansa.
"Aku enggak bisa dansa, pasti akan sangat memalukan kalo kamu ngajakin aku dansa disana."
Zach terkekeh. "Emang kamu pikir aku bisa berdansa? Kita bisa berlatih bersama, sayang."
Sayang.
Ahhh, mendengar Zach kembali menyebutnya dengan panggilan itu membuat hati Eowyn berdesir bahagia.
"Setelah ini, kamu mau langsung pulang atau mau ke suatu tempat dulu?" tanya Zach.
"Emangnya kamu mau kemana?"
"Entahlah. Aku ngikut kamu aja."
"Bukannya besok ke Bali penerbangan pagi?"
"Jam delapan sih. Tapi aku enggak akan telat, kamu tenang aja. Lagian besok kan pertemuannya sore."
"Aku... terserah deh mau kamu ajak kemana. Asal baliknya enggak kemaleman aja."
Zachary menggelengkan kepalanya. "Aku enggak akan berani, sayang. Berhadapan dengan Papamu untuk dapet omelan adalah bagian yang selalu aku hindari." ucap Zach sembari tersenyum.
"Kita pulang sekarang?" tanya Zachary.
Eowyn mengangguk, lalu mengambil tasnya dan menerima uluran tangan Zach yang telah bersiap menggandengnya. Sesampainya dimobil, Zach menarik seatbelt Eowyn, berniat untuk membantu memakaikannya. Namun ia menahannya dan kembali melepaskan seatbelt itu.
Wajahnya mendekat ke arah Eowyn, jemarinya mengelus pipi Eowyn dengan lembut. Tanpa berkata sepatah kata pun, Zachary mencium bibir Eowyn. Berawal dengan sebuah kecupan, dan berubah menjadi ******* yang begitu dalam.
__ADS_1
"Aku tau aku adalah orang pertama menikmatinya." ucap Zachary sesaat setelah melepaskan pagutannya sambil mengusap bibir Eowyn.
Eowyn masih terpaku, hanya memandangi Zach yang sekarang sibuk memasang seatbelt-nya dengan wajah yang merona.
"Maaf." Eowyn berucap lirih.
"Maaf? Untuk apa?"
"Karena... aku belum bisa membalasnya."
"Membalas ciumanku?" Zachary tergelak sambil meraih tangan Eowyn dan ditangkupkan pada kedua pipinya.
"Itu wajar, sayang. Kamu baru pertama kali melakukannya." Zachary mendekatkan bibirnya pada Eowyn, dan berbisik. "Nanti kita akan sering melakukannya, dan kamu akan semakin ahli untuk membalas ciumanku. Dan kita akan menikmati ciuman panas kita untuk waktu yang lama."
Eowyn merasakan panas yang membakar wajahnya, ia tak menyangka Zach akan berucap sevulgar ini. Tiba-tiba ia jadi membayangkan, apakah abangnya juga bersikap demikian? Kalo Rafa, sudah pasti akan lebih mesum dari yang Zachary lakukan.
"Aku antar pulang sekarang ya." ucap Zachary sambil mengecup pipi Eowyn.
๐
Pagi ini, Rafa bangun lebih awal. Setelah sarapan, ia bergegas bersiap-siap. Hari ini ia akan pergi ke pantai bersama Alita. Semalam, gadis itu berkata kepada Rafa jika ingin bermain air dan pasir di pantai.
"Mau kemana, Fa?" tanya Adit saat melihat Rafa yang menuruni tangga sambil bersiul.
"Kencan, Pa hehehehe...." jawab Rafa sambil tersenyum dan duduk di sofa di sebelah Adit.
"Jangan macem-macem loh ya."
Adit mengangguk. "Pak Hendra secara langsung udah ngecek kerjaan kamu yang kemarin. Sangat mengejutkan, kamu mengerjakannya dengan sangat bagus. Papa bangga sama kamu!" Adit menepuk bahu Rafa sambil tersenyum.
"Alhamdulillah... jadi ditambahin dong Pa uang jajannya, hehehehe...."
Adit kembali mengangguk. "Iya, Papa tambahin. Tapi itu buat uang bensin."
"Ya kan diuang saku yang sebelumnya udah ada uang bensinnya, Pa."
"Buat uang bensin mobil. Papa akan beliin kamu mobil, tapi kamu harus janji untuk kerja yang bener dan enggak macem-macem sama pacar kamu itu."
"Papa bercanda nih, enggak asik ah!"
"Siapa yang bercanda? Bukannya kamu pengen mobil biar pacar kamu enggak kepanasan dan kehujanan?"
"Tapi... Alita enggak pernah ngeluh kok Pa kalo diajakin kemana-mana naik motor."
"Oh, jadi kamu nolak mobilnya? Papa sih enggak masalah untuk batalin pemesanannya."
"Ehhhhh... jangan dong Pa. Aku kaget ini Papa tiba-tiba mau beliin mobil."
Adit tersenyum. "Papa liat sekarang kamu udah banyak berubah. Mama juga bilang kalo kamu udah enggak ganti-ganti pacar kayak dulu lagi, jadi ya... Papa rasa, ini waktunya buat ngasih kamu mobil."
__ADS_1
"Eh? Seriusan nih, Pa? Waaahhhh... terima kasih banyak Pa!" Rafa memeluk Adit dari samping dan mencium pipinya.
"Papa doang nih yang dicium? Mama enggak?" ucap Salma yang baru saja datang sambil meletakkan segelas jus dimeja dan duduk di sofa.
"Woooo... kalo buat Mama mah selalu spesial hehehehehe...." Rafa segera bangkit dan menghampiri Salma, lalu memcium pipi Salma.bertubi-tubi.
๐
"Bahagia banget!" ucap Alita saat menggandeng tangan Rafa masuk ke dalam rumahnya.
"Iyalah, ketemu kamu masa sedih sih?"
"Coba ngomong gitu dihadapan Papa Mamaku, berani enggak?" bisik Alita sambil memberikan kode pada Rafa bahwa ada kedua orangtuanya sedang bersantai di ruang keluarga
Rafa tersenyum malu. Ini adalah kedua kalinya ia bertemu orangtua Alita setelah enam bulan lebih berpacaran. Tentu saja hal ini masih terasa asing untuknya, karena sejak pengalaman pacarannya yang pertama hingga yang terakhir sebelum bersama Alita, bertemu orangtua pacar adalah hal yang paling dia hindari.
"Selamat siang Om... Tante...." sapa Rafa dengan senyum manis.
"Kalian udah mau jalan sekarang? Atau mau ikut ngemil dulu nih? Papanya Alita lagi ngidam makan jajanan pasar. Ada klepon, kue cucur, sama nagasari nih." jawab Mama Alita.
"Hehehehe... Iya Tante, terima kasih banyak. Saya masih kenyang. Ini mau langsung jalan aja biar nanti baliknya enggak kemaleman."
Papa Alita mengangguk. "Kapan-kapan main aja disini, Rafa. Ngobrol-ngobrol sama kita. Kamu juga belum kenalan sama kakak dan adiknya Alita kan?"
"Iya Om, nanti Rafa bakal sering main kesini."
"Yaudah Ma... Pa... kita jalan dulu ya." ucap Alita sambil menyalami kedua orangtuanya diikuti oleh Rafa.
Keduanya berjalan keluar rumah masih dengan bergandengan tangan. Lalu Rafa memasangkan helm pada kepala Alita.
"Terima kasih ya untuk semuanya." ucap Rafa sambil memasangkan pengait helm.
"Emang aku ngelakuin apa?"
"Kamu udah mau sabar sama aku, perhatian dan sayang banget sama aku, dan yang lebih penting... kamu jadi alasan utamaku untuk berubah menjadi lebih baik lagi."
Alita tersenyum. "Aku yakin kamu sebenernya cowok baik, cuma lagi tersesat aja. Makanya aku tuntun kamu buat kembali ke jalan yang bener hehehehe...." Alita mengangkat tangannta yang menggenggam tangan Rafa.
"Sampai kapan pun jangan dilepasin. Aku maunya sama kamu doang pokoknya, oke?" Rafa mencium punggung tangan Alita.
"Iiiihhhh.. udah, malu ih kalo ntar diintip Mama."
"Cuma cium tangan doang, bukan cium yang lain mah aman." jawab Rafa sambil nyengir dan menaiki motornya.
"Ayo naik, jangan lupa pegangan yang kenceng." sambung Rafa.
Alita mengangguk dan segera naik ke motor Rafa. Setelah melingkarkan tangannya diperut Rafa, motor itu melaju meninggalkan pekarangan rumah Alita. Senyum itu masih melekat diwajah Rafa. Gadis satu ini, benar-benar membuatnya tergila-gila.
***
__ADS_1
Terima kasih udah sabar nungguin kelanjutan cerita anak-anak Salma dan Adit. Jangan lupa vote, likes dan comments-nya ya. Thank you ๐