
"Kamu ga usah mikirin mobilnya, besok aku suruh Yohan buat ngurusin itu" ucap Adit sesaat setelah mengantarkan Widya pulang ke rumahnya.
"Trus aku kerjanya gimana, mas?"
Adit terkekeh. "Sal... Sal... kan ada aku, jangan bilang kamu lupa kalo udah berstatus sebagai istri Aditya Widjaja?"
"Hahahaha... enggaklah, mas. Kalo mas Adit nganterin aku, ntar jalannya jadi kepagian"
"Ya gapapa, emangnya kenapa?"
"Gapapa, mas hehehehe..."
"Kita nikah udah udah hampir setahun, Sal. Masih aja kamu sungkan sama suami sendiri" ucap Adit dengan mengusak rambut Salma.
"Bukan sungkan, mas. Tapi mas Adit juga banyak kerjaan, pastinya juga makin capek kalo mesti nganterin aku dulu"
"Itu namanya sungkan, Sal. Kamu tanggung jawabku sekarang, aku ga mau biarin kamu berangkat kerja sendirian naik ojek atau transportasi lain sementara aku santai-santai di rumah"
Salma mengusap lengan kiri Adit. "Mas Adit udah makan?"
"Belum, tadi niatnya mau makan di rumah mama sambil nunggu kamu balik. Eh, malah kamu ngabarin mobilnya mogok. Jadi aku langsung nyusulin kamu"
"Yaudah mampir makan dulu aja, mas"
"Kamu belum makan?"
"Udah mas, tapi kan mas Adit belum makan. Mampir makan aja dulu mas, ini agak macet juga kan. Kalo harus nunggu sampai rumah, nanti mas Adit keburu kelaperan"
Adit menganggukkan kepalanya. "Mau makan apa?"
"Kok nanya aku, kan yang mau makan mas Adit"
"Hmm... bakso mau? Yang di ujung jalan tuh, nanti aku suapin. Kamu harus makan beberapa suap, jangan cuma minum aja"
"Bener ya disuapin?"
"Iya, nanti aku suapin langsung pake bibir hahahaha"
"Hahahaha... mesum!" jawab Salma sembari mencubit pinggang Adit.
"Akhir tahun ini papa bebas tugasin aku dari kerjaan. Jadi selama kamu libur sekolah, aku juga akan libur"
"Hah? Kenapa, mas?"
"Kita harus pergi honeymoon, sayang" tangan Adit terulur untuk membelai pipi Salma sekilas. "Kita udah hampir setahun, dan kita belum honeymoon"
Salma mengangguk. "Aku mau ke pantai, tapi ga mau yang ramai. Pengen banyak main-main air pokoknya"
"Biar sukses ya program hamilnya?"
"Iya, selain itu biar kita bisa bener-bener bisa rileks mas"
"Nanti kita pikirin lagi, sekarang kita makan dulu"
__ADS_1
Adit dan Salma segera melangkahkan kakinya memasuki tempat makan yang masih ramai karena bakso disini terkenal enak. Salma yang awalnya berniat untuk menemani Adit makan dan menerima beberapa suapan dari Adit pun akhirnya memutuskan untuk memesan sendiri. Air liurnya tak bisa dibendung ketika aroma kuah bakso masuk ke dalam hidungnya.
"Mau nambah?" tanya Adit sembari mengelap mulutnya dengan tisu.
"Enggak" Salma menggelengkan kepalanya. "Mas Adit aja kalo mau nambah, aku kan tadi udah makan"
"Nanti aja nambah makan buah di rumah" Mata Adit tertuju pada dua orang yang baru saja memasuki tempat makan tersebut.
"Sal, itu kayaknya temenmu" ucap Adit sambil menunjukkan arah dengan dagunya.
Salma menoleh dan senyumnya langsung mengembang dengan lebarnya.
"Arga... Nisa!" panggil Salma dengan melambaikan tangannya.
Arga dan Nisa yang melihat Salma langsung memutar arahnya, berjalan menuju meja Salma dan Adit.
"Yaelah... ini masih pedekate atau udah pacaran?" goda Salma.
"Kepo lo!" jawab Adit sesaat setelah menyalami Adit.
"Jangan kelamaan pedekatenya, kasian Nisa. Lo berperasaan dikit gitu loh, Ga"
"Betah amat mas sama istri yang bawelnya ga ketulungan gitu" dengus Adit dengan menatap Adit.
"Hahahaha... justru kalo Salma diem aja malah bikin takut. Takut kalo dia ngambek"
"Tuuuhhh... makanya buruan dijadiin sama Nisa, biar lo tau yang dirasain mas Adit"
"Seenggaknya Nisa ga secerewet elo" ketus Arga.
"Bodo amat!" jawab Salma sambil merapikan tasnya. "Kita duluan ya Nis, sambelin aja tuh mulutnya Arga kalo ntar ngomongin gue"
"Hahahaha... iyaaaa, hati-hati ya"
"Duluan ya" pamit Adit pada Arga dan Nisa.
Arga dan Nisa menatap kepergian Salma dan Adit.
"Mereka kayak masih orang pacaran ya, Ga. Mas Adit aja ga keliatan kalo udah kepala tiga"
"Iya, sekarang. Ntar kalo udah punya anak, Salma yang keliatan lebih tua karena bawelnya"
"Udah ah, aku sambelin nih sesuai pesennya Salma" canda Nisa sambil mengarahkan sendok sambal ke arah Arga.
"Eits, jangan dong. Masa lebih belain Salma dibanding calon imamnya?" goda Arga sembari menjawil hidung Nisa.
"Hah... kayaknya sambelnya nyiprat ke pipi. Tiba-tiba pipiku jadi panas" gumam Nisa sambil mengibaskan tangannya ke arah pipi.
🎎🎎🎎🎎🎎
"Serius amat, mas. Ngeliatin apa?" tanya Salma saat selesai mandi dan mendapati Adit serius memandangi ponselnya, sambil bersandar di headboard kasur dan makan buah.
"Liat lokasi" jawab Adit tanpa menatap Salma yang sedang berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Lokasi proyeknya papa?"
"Bukan, buat honeymoon kita"
"Kan masih lama mas, 3 bulanan lagi" ujar Salma sambil duduk disebelah Adit, lalu menerima suapan buah dari suaminya.
"Tempat ini ga bisa kita datengin secara dadakan, harus booking jauh-jauh hari"
Salma mengerutkan dahinya. "Private island?"
"Hmm... lebih ke... eksklusif resort. Pulau itu cuma terima 28 wisatawan untuk 14 cottage-nya. Kamu pengen yang ga ramai pengunjung sama main air kan?" Adit kembali menyuapi Salma dengan buah potong.
"Kita bisa snorkeling, kayak, selancar angin, bahkan kita bisa bersepedaan santai. Aku udah review semuanya, ini bener-bener cocok untuk honeymoon kita. Terbebas dari gangguan apapin"
"Wow! Dimana, mas?"
"Turtle island, di Fiji"
"Seriusan, mas? Itu jauh banget loh"
"Kamu enggak mau?" tanya Adit sambil meletakkan mangkok buah yang kosong itu di meja samping kasur.
"Mau sih, mas. Tapi kan..."
"Kita kan pergi pas kamu libur semester, sayang. Aku juga enggak ngantor, enggak masalah kita pergi jauh dan lama"
"Yakin mas mau kesana?"
"Yakinlah, kamu mau kan?"
"Maulah, asal sama mas Adit" ucap Salma dengan memeluk Adit dari samping.
"Ya sama akulah, emang kamu mau honeymoon sendirian? Hahahaha"
"Pasti mahal kan mas?"
"Uang bisa dicari lagi, Sal. Kamu ga usah khawatir soal itu"
Salma mendongakkan wajahnya dan menatap Adit. "Seriusan mas, kita bisa cari tepat lain deket sini yang budget-nya enggak semahal itu"
Adit tersenyum. "Sal, honeymoon kita ini tertunda lama banget. Banyak hal yang udah kita lalui, mesra-mesraan kayak gini sampai berantem hebat. Kamu itu magnet rezekiku, Sal. Aku udah pernah bilang ke kamu, rezeki suami itu berbanding lurus dengan kebahagiaan istri?"
"Tapi ngebahagiain aku enggak harus honeymoon sejauh dan semahal itu, mas" sela Salma dengan cepat.
"Hmmm... anggap aja itu juga sebagai kado ulang tahun dan anniversary kita. Kadonya dirapel gapapa kan? Hahahaha... jujur aku belum nemu kado yang cocok untuk ulang tahunmu minggu depan"
Salma terkekeh. "Oke, diterima!"
"Huffttt... akhirnya, ga perlu pusing lagi mikirin kado"
***
Jangan lupa like dan comment-nya ya. Yang mau nge-vote juga boleh banget 😘
__ADS_1
Yang belum baca Cupcake's Love, boleh mampir dulu untuk baca ceritanya. Terimakasih 😊