MENIKAH

MENIKAH
Sweet


__ADS_3

Hari ini, Salma dan Adit kembali memulai rutinitas kerjanya. Yang berbeda, sekarang Salma mulai diantar jemput oleh Asep. Adit benar-benar tidak memberinya ijin untuk menyetir mobil sendirian. Selama Salma bekerja, Asep akan stand by di sekolah dan mengobrol bersama satpam sekolah. Asep hanya akan kembali ke rumah saat ibunya, bu Sari, membutuhkannya untuk mengantarnya berbelanja.


"Capek ya Sep seharian nungguin saya di sekolah?" tanya Salma sesaat setelah mobil itu keluar dari halaman sekolah.


"Enggak mbak, biasa aja"


"Besok kamu pulang aja gapapa, nemenin ibu kamu di rumah biar ga kesepian. Kasian juga kan bu Sari di rumah sendirian. Nanti kalo saya butuh dijemput, baru saya kabarin kamu"


"Ahh gapapa mbak, saya ga berani. Mas Adit nyuruh saya buat stand by terus di sekolah mbak Salma. Boleh ditinggal kalo ada yang urgent"


"Hahahaha... Abis ini mampir dulu di warung mie ayam yang di deket taman itu ya, Sep. Saya pengen beli, tiap lewat kayaknya rame mulu"


"Oke mbak, siap"


🎎


"Bu Sari masak apa?" tanya Salma saat masuk ke dalam dapur.


"Ehh, ini mbak... tadi pagi mas Adit bilang minta dibikinin garang asem ayam"


"Ada belimbing wuluhnya?"


"Ada mbak, tadi beli di pasar"


"Wiihhh... seger dong! Itu tinggal dikukus doang kan bu?"


"Iya mbak" jawab bu Sari sambil menyalakan kompor.


Salma berjalan ke meja makan dengan membawa tiga mangkok dan meletakkannya di meja.


"Bu Sari, sini duduk. Temenin saya makan, tadi saya beli mie ayam" ucapnya sambil mengeluarkan bungkusan mie ayam.


"Asep! Sini bentar deh" teriak Salma memanggil Asep yang entah berada dimana.


"Ya mbak?"


"Sini, kita makan mie ayam bareng-bareng" jawab Salma yang sednag fokus memindahkan mie ayamnya ke mangkok.


Asep dan ibunya saling menatap, dan Salma melihatnya saat ia mendongakkan kepalanya.

__ADS_1


"Enggak usah sungkan, saya pengen makan mie ayam bareng-bareng. Ayo, sini duduk. Mie-nya keburu lodoh nanti" ucap Salma sembari menarik kursi makan yang kemudian diikuti oleh Asep dan bu Sari.


"Udah lama saya ga makan bareng-bareng gini, kecuali kalo mas Adit lagi libur atau kita lagi ke rumah orangtua. Makanya saya seneng banget pas bu Sari sama Asep bantuin kita di rumah ini" kata Salma disela-sela makannya.


"Justru kita yang seneng kalo dibantu sama mas Adit. Sejak ayahnya Asep meninggal, saya kesulitan mencari pekerjaan. Tau sendiri kan mbak kalo udah tua gini kan susah nyari kerjaan. Apalagi Asep, lulusan SMA doang. Dia bisa nyetir juga dulu disuruh ayahnya"


Salma mengangguk. "Asep sabar dulu ya, pasti nanti bisa lanjut kuliah"


"Iya mbak, ini lagi nabung dulu kok. Biaya kuliah kan ga murah, belum lagi biaya lain-lainnya"


"Makanya tinggal disini aja, kamar belakang kan juga kosong. Kita bisa bantuin mindahin barang di kontrakannya, lumayan kan bu bisa menghemat pengeluaran. Bawa baju sama barang yang diperluin aja. Lainnya ditinggal atau dijual aja, anggap aja disini juga rumah bu Sari sama Asep. Tapi kalian harus janji jangan pernah tinggalin saya, kalian harus sama saya dan mas Adit terus. Harus bantuin kita. Oke?"


Bu Sari mengangguk. "Insya Allah ya mbak"


🎎


"Kamu kenapa sih, Nis?" tanya Arga ditengah perjalanan pulang.


Sedari tadi Nisa lebih banyak diam. Padahal biasanya ia akan lebih banyak bercerita ini dan itu.


Nisa hanya menggelengkan kepalanya, matanya masih tetap terfokus menatap jalan di depan.


"Ada" jawab Nisa dengan singkat.


Arga diam sejenak, ia mencoba berpikir kesalahan apa yang telah ia lakukan seharian ini. Tapi seharian ini ia jarang bareng dengan Nisa karena ia sibuk dengan rapat departemennya.


"Kamu jelasin dong salahku apa, biar aku tau dan minta naaf sama kamu. Seharian ini kan kita jarang barengan, kecuali berangkat dan pulang sekolah ini"


Nisa menghela nafasnya, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Tadi aku disindir sama bu Retno dan bu Lina, katanya deket-deket doang sama kamu tapi ga dipacarin"


"Laahh, terus kenapa kamu marahnya sama aku?"


"Ya salah kamulah!" ketus Nisa.


"Kok bisa? Ya kan yang nyindir bu Retno sama bu Lina"


"Emang dasar kamu ga peka, Ga! Pantes aja sampai setahun lebih aku masih gini-gini aja statusnya sama kamu"

__ADS_1


Arga terdiam, ia lalu menepikan mobilnya dan memposisikan duduknya menghadap Nisa.


"Jadi karena status?" tanya Arga yang tidak mendapat respon dari Nisa.


"Nis..." ucap Arga dengan mengusap kepala Nisa yang tertunduk. "Kita itu kalo ngurusin omongan orang enggak asa habisnya. Nanti kalo misal kita udah pacaran, mereka pasti akan nanya kapan kita akan menikah. Giliran udah nikah, ditanyain soal anak. Seterusnya bakal kayak gitu, enggak akan ada habisnya" Arga menjeda perkataannya, tangannya masih tetap mengusap kepala Nisa dengan perlahan.


"Jadi kamu maunya gimana? Kita pacaran mulai sekarang?" sambung Arga.


Nisa melirik tajam ke arah Arga. "Kamu kayak ga ikhlas gitu ngajakin aku pacaran, ga romantis juga"


Arga terkekeh. "Aku emang ga romantis, Nis. Jadi mau kamu gimana? Hahahaha"


"Nyatain perasaannya yang so sweet gitu, seenggaknya bakal bisa bikin aku senyum-senyum sendiri kalo nanti inget kejadian ini" dengus Nisa.


"So sweet ya?" Arga nampak berpikir.


Lalu dengan gerakan cepat, ia meraih tengkuk leher Nisa dan mengecup bibir Nisa. Sebelum akhirnya ******* bibir Nisa untuk beberapa saat.


"Kamu mau pacaran sama aku?" tanya Arga setelah melepaskan ciumannya.


Wajah Nisa yang memerah dan terlihat bingung masih memandang Arga sambil mnegerjap beberapa kali.


"Nis? Kok malah ngelamun?" ucap Arga dengan mengibaskan telapak tangannya didepan mata Nisa.


"Kamu... seriusan?" tanya Nisa lirih.


Arga mengangguk dengan tersenyum. "Ga usah dijawab, aku udah tau jawabannya. Kamu ga bakal nolak aku kan?"


Nisa hanya tersenyum malu sambil menundukkan kepalanya.


"Kita lanjut jalan, ntar bisa-bisa kita digerebek dikira mesum dipinggir jalan hahahaha" ucap Arga sembari mengusak puncak kepala Nisa dan segera melajukan kembali mobilnya.


"Meskipun enggak romantis, tapi bakal bisa kamu senyum-senyum sendiri kan kalo inget hari dimana kita jadian?"


Nisa mengangguk malu sambil menahan senyum. Wajahnya benar-benar memerah, entah karena terlalu bahagia atau karena ciuman yang baru saja ia dapatkan.


"Kayaknya aku harus berterimakasih pada bu Retno dan bu Lina" gumamnya lirih.


***

__ADS_1


Jaga kesehatan ya readers, ini dari kemarin mau nulis banyak tapi enggak bisa konsen karena berita soal virus itu. Panik pasti ya, terlebih lokasinya ga jauh dari sini. Semoga kita semua sehat selalu ya 😘


__ADS_2