MENIKAH

MENIKAH
Empat Bulan


__ADS_3

Setelah menyampaikan kabar kehamilan kepada kedua orangtuanya, Salma dan Adit langsung disibukkan dengan rencana empat bulanan kehamilan. Tentu saja hal ini membuat mereka kerepotan karena mereka masih merasa kaget dan belum percaya dengan tumbuhnya janin diperut Salma. Beruntung kedua mamanya itu dengan senang hati mengambil alih tugas itu, dengan alasan agar Salma tidak kelelahan setelah seharian mengajar di sekolah.


Hari ini acara empat bulanan akan diadakan di rumah Adit dan Salma. Meskipun acaranya digelar saat usia kandungan Salma telat lewat empat bulan, namun tidak masalah. Ini hanya lewat beberapa hari, yang penting niatnya baik, begitu kata kedua mamanya. Segala persiapannya telah rampung berkat pertolongan kedua mamanya. Salma juga mengundang guru dan staf di sekolahnya, meskipun tidak semuanya bisa datang. Tidak ketinggalan juga mengabari Widya, Taufik dan Shinta untuk meluangkan waktunya.


"Sal..." teriak Widya yang menghampiri Salma di dapur.


"Masuk bukannya salam malah teriak" celetuk Salma sambil mencubit pinggang Widya.


"Gue udah salam tadi, kalo kedengeran sampai sini sama aja gue teriak-teriak juga" Widya mengelus perut Salma. "Cepet amat udah empat bulan, dan lo baru ngabarin pula" imbuhnya dengan nada kesal.


"Hahahaha... gue sama mas Adit juga taunya udah tiga belas minggu, Wid. Enggak ada tanda-tanda kehamilan sama sekali. Untung dianya kuat banget" jawab Salma sembari mengelus perutnya yang telah terlihat membuncit.


"Bisa gitu ya"


"Makanya... tolong Fik buruan dihalalin, biar dia tau kalo hamil enggak pake muntah-muntah itu rasanya gimana"


"Dianya susah, padahal gue tinggal dateng ke rumahnya aja buat ngelamar"


"Lo pikir nikah segampang itu. Gue mesti mempersiapkan diri dulu biar pantes buat dijadiin istri" dengus Widya.


"Weiiitttsss... sabar ya, Fik. Ternyata dia sedang mempersiapkan diri buat jadi istri lo"


"Tau nih, so sweet amat ngomongnya. Bikin gue ga sabar pengen cepet-cepet ngawinin"


"Nikah dulu woi, baru deh lo kawinin. Sabar Fik"


"Bahasa lo berdua kawin-kawin mulu" geram Widya.


"Hahahaha... bercanda, Wid. Kalian mau duduk dimana? Atau mau duduk-duduk dulu di taman belakang, ada mas Adit sama mama papa juga disana"


"Gampanglah. Si Arga sama pacarnya belum dateng?"


Salma menggelengkan kepalanya. "Belum, paling bentar lagi. Setengah jam yang lalu sih udah bilang otewe"


"Ntar pas gue pindah ngajar ke sekolah pamannya Arga, lo pas cuti lahiran dong Sal?" tanya Widya.


Salma menggelengkan kepalanya. "Gue resign. Itu udah kesepakatan dari dulu sama mas Adit, gue mau ngurus anak aja di rumah"


"Yaaahhh sedihnya, ga jadi partner-an dong kita"


"Ga usah sedih, ntar gue temenin" sahut Taufik dengan cepat.


"Ngimpi! Sekolah lo dimana, guenya dimana"


"Ya kecuali kalo Taufik mau pindah juga ke sekolahan pamannya Arga"

__ADS_1


"Enggak... enggak..." Widya mengibaskan tangannya dihadapan Taufik.


"Kenapa? Lo ga mau gue temenin? Ntar lo kesepian loh. Udah Salma ga ada, Arga juga pasti bakal berduaan mulu sama Nisa"


"Pokoknya enggak! Gaji lo udah enakan di sekolah sekarang, ga usah pindah-pindah ngikutin gue"


"Kenapa jadi ngomongin gaji sih, Wid?"


"Tau nih Widya, kode kali Fik hahahaha"


"Iya, biar tabungan lo banyak. Katanya lo mau nanggung kehidupan gue" jawab Widya sambil menunduk malu.


"Tuuhhhh kaaannnn...." seru Salma sambil menepuk lengan Taufik.


"Alhamdulillah... kalo gini kan gue kerja juga tenang sekarang, Wid. Jadi lebih semangat lagi" ujar Taufik sambil tersenyum dengan lebarnya.


Tak berselang lama, acara empat bulanan pun dimulai. Banyaknya orang yang datang terlihat memenuhi ruang tamu hingga ruang keluarga. Semuanya kompak memakai baju berwarna putih. Pembacaan ayat suci dan doa-doa dipanjatkan untuk kebaikan sang janin dan juga Salma.


🎎


"Capek?" tanya Adit dengan mengusap lengan Salma yang sedang memakan cemilan sambil selonjoran di sofa.


Salma menggeleng. "Cuma laper aja, mas"


"Kenapa ga makan?"


"Maksudku makan nasi, sayaaaang"


"Nanggung, mas. Bentar lagi kan makan malam"


"Besok pagi jadi periksa?"


"Jadilah, mas. Emangnya mas Adit ga kangen liat anaknya? Ini udah lewat enam belas minggu tau, mas"


"Kangenlah, aku udah ga sabar pengen.liat udah seberapa gedenya dia. Meskipun perut kamu masih belum keliatan gede, tapi aku yakin dia udah gede banget di dalam. Tau sendiri kan mamanya aja makannya banyak banget"


"Iya nih, masa baru hamil empat bulan beratku udah naik sampai delapan kilo. Gimana kalo sampai lahiran nanti, mas?"


"Ga usah dipikirin, yang penting kalian sehat. Aku nikahin kamu bukan karena bobot kamu"


"Hmmm... mulai deh ngerayu, pasti ada maunya"


"Hahahaha... iyalah. Apalagi dengan tubuhmu sekarang yang makin berisi, dada juga makin gede, makin keliatan cantik juga, siapa yang ga tergoda"


"Halah, mesum banget sih mas. Malu tuh kalo kedengeran bu Sari sama Asep" Salma memukul bahu Adit.

__ADS_1


"Biarin, udah sah mah bebas"


Adit membaringkan tubuhnya dan berbantalkan paha Salma. Wajahnya menghadap ke perut Salma dan menciumnya berulang.


"Hai anak papa, hebat sekali kamu makan banyak hari ini" ucapnya yang kemudian kembali mengecup perut Salma.


"Sayang... kamu enggak ada ngidam gitu? Pengen makan apa atau pengen sesuatu"


Salma diam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya.


"Kok bisa sih kamu hamil enggak mual muntah, enggak ngidam juga"


"Ntar kalo aku ngidam, mas Adit kerepotan"


"Ya jangan yang susah-susah ngidamnya, Sal"


"Kan anaknya yang mau, mana bisa diatur mas"


"Tapi beneran sejauh ini kamu enggak pengen apa-apa?"


Salma kembali menggelengkan kepalanya.


"Kalo nanti hamil lagi dengan kondisi yang persis kayak sekarang, aku kan jadi semangat buat ngehamilin kamu mulu Sal. Enggak mual, enggak muntah, enggak ngidam, yang ada makin cantik, makin berisi"


"Ini ngegombal mulu ih dari tadi" ucap Salma sambil menjepit bibir Adit dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.


"So, do you wanna have early dinner right now?" tanya Adit dengan mendudukkan diri disebelah Salma. Tangannya merangkul bahu Salma, alisnya naik turun dan tersenyum yang menggoda.


"NO!" jawab Salma sambil melirik Adit dan meletakkan piring kuenya yang telah kosong.


"Nolak dosa loh, Sal"


"Tapi aku laper, mas. Nanti kalo pingsan gimana?"


"Mana pernah aku bikin kamu pingsan di ranjang?"


"Yaa Allah mas Adit mulutnya ya" Salma kembali mencubit bibir Adit.


"Quick deh, dalam hitungan menit"


"Menitnya itu berapa lama, mas? Semenit? Dua menit?"


"Ya mana bisa cuma semenit, Sal"


Salma menghela nafasnya dan memiringkan badanya seperti memunggungi Adit. "Enggak akan nambah?"

__ADS_1


"Ya nambahnya habis makan malam hehehehe"


"Yaudah, kalo gitu ntar aja sekalian" Salma beranjak dari duduknya dan mengambil piring kuenya yang kosong. "Sabar dulu ya, sayang" godanya sambil mengelus pipi Adit dan berjalan menuju dapur.


__ADS_2