MENIKAH

MENIKAH
S2 - Waktu


__ADS_3

Happy reading 😊


***


Setelah mendapatkan restu dari orangtuanya untuk melamar Zahra, perasaan bahagia tak lagi dapat disembunyikan oleh Rayyan. Membayangkan hari-hari dimana ia dan Zahra akan menjalani hidup bersama sebagai suami istri begitu membuatnya bahagia.


Semuanya tentu terasa indah. Bahkan Rayyan ingin sesegera mungkin meresmikan hubungannya dengan Zahra. Benar kata mamanya, dirinya mungkin telah kebelet untuk segera menikahi Zahra. Bukan karena nafsu semata, namun lebih pada perasaan takut membayangkan jika Zahra akan lepas darinya dan menikah dengan pria lain jika Rayyan terlalu lama bertindak.


Tak pernah terbayangkan oleh Rayyan jika pada akhirnya ia menjatuhkan hatinya pada sahabat adik perempuannya. Sosok teman yang sering berkunjung ke rumah saat ia berkuliah di luar negeri. Rayyan bahkan menyesal ia menjadi orang paling terakhir di rumah itu yang mengenal Zahra.


Rayyan memang sering melihat Eowyn memajang foto kebersamaannya dengan Zahra. Namun pada saat itu ia merasa biasa saja karena belum bertemu Zahra secara langsung. Dan begitu bertemu, Rayyan justru dengan mudahnya tertarik pada Zahra. Padahal sejak memutuskan hubungannya dengan Nadine beberapa tahun lalu, dirinya selalu dilingkupi perasaan takut.


Rayyan takut untuk memulai suatu hubungan. bukan karena belum bisa move on dari Nadine, tapi takut jika ia berpacaran maka perhatiannya untuk menjaga Eowyn dari Andrew akan berkurang dan menjadi lengah. Namun dengan Zahra, Rayyan tak kuasa mengendalikan hatinya.


Gadis itu mampu membuatnya tak bisa berpaling sejak awal pertemuan mereka. Rayyan bahkan begitu sakit hati saat Zahra menolaknya untuk pertama kali. Hingga saat akhirnya keduanya saling mengungkapkan perasaannya, Rayyan tidak menyangka jika Zahra merasakan getaran yang sama dengan dirinya.


Menikah tentu menjadi impian semua orang, termasuk Rayyan. Namun tak pernah terpikirkan olehnya jika pilihan untuk menikah itu diambil secepat ini. Bahkan waktu keduanya saling mengenal dan berpacaran belum ada setahun. Rayyan tahu ini mungkin terlalu cepat, namun ia juga tak ingin menundanya terlalu lama. Masalah mengenal, mereka bisa lakukan itu setelah menikah nanti. Seperti kedua orangtuanya yang melakukan pacaran setelah menikah karena perjodohan.


"Sebenernya kita mau kemana sih?" tanya Zahra yang penasaran akan dibawa kemana dirinya saat ini.


Sepulang kerja tadi, Rayyan memberitahunya bahwa mereka akan mampir ke suatu tempat. Rayyan bilang itu rahasia, dan Zahra sungguh penasaran sekarang ini. Padatnya arus lalu lintas sore itu membuat perjalanan mereka memakan waktu cukup lama. Tapi tidak mengurangi minat Zahra untuk ikut kemana Rayyan membawanya pergi.


"Naahhh, kita udah sampai." jawab Rayyan saat mobilnya berbelok dan langsung masuk ke parkiran basement.


Zahra mengamati sekitarnya, ia menduga jika Rayyan akan mengajaknya menemui seseorang. Bukan Nadine kan?


"Kamu... mau menemui seseorang, sayang?"

__ADS_1


Rayyan tersenyum. Setelah selesai memarkirkan mobilnya dan melepaskan seatbelt, ia meraih tangan Zahra dan mendaratkan sebuah kecupan dipunggung tangannya.


"Aku akan menunjukkan sesuatu, ayo turunlah."


Menuruti perkataan Rayyan, Zahra segera melepaskan seatbelt dan turun dari mobil. Rayyan menggandeng tangannya, menggenggamnya dengan erat saat keduanya berjalan menuju sebuah lift yang membawa mereka naik ke lantai yang dituju.


Denting suara lift membuyarkan lamunan Zahra, membuatnya menoleh kecil menatap Rayyan yang tersenyum padanya. Langkah mereka terhenti saat Rayyan mengeluarkan sebuah kartu dan menempelkannya pada detector.


"Ayo masuk, sayang." ucap Rayyan setelah membuka lebar pintu apartemen itu.


Zahra masuk ke dalam apartemen dan melihat ke sekeliling. Apartemen itu nampak sepi, dan jantungnya berdebar hebat ketika Rayyan menutup pintu apartemen itu. Rayyan meraih sebuah remote AC, lalu membuka jendela dan pintu balkon di ruangan itu.


"Semalam, aku telah meminta restu pada mama papa untuk melamarmu. Mereka menyetujuinya, dan memberikan kartu apartemen ini. Bukan memberikannya untuk kita, tapi meminjamkannya. Mama bilang aku harus membeli sebuah rumah untuk keluarga kecil kita nanti." Rayyan tersenyum canggung dan menggaruk tengkuknya saat mengatakan permintaan mamanya itu.


"Ini apartemen milik papa yang dibelinya sewaktu masih kuliah. Mama dan papa tinggal disini diawal pernikahan mereka, dan sekarang apartemen ini hanya mereka gunakan untuk staycation saat papa merasa jenuh dengan pekerjaan. Apartemen ini memang tidak besar, tapi cukup untuk.kita tinggali setelah kita menikah nanti. Ini juga kali pertamaku menginjakkan kakiku disini. Kau... tidak keberatan kan kalo kita tinggal disini untuk sementara waktu setelah menikah?"


"Setelah kita menikah nanti, kita akan tinggal disini, Zah. Sambil menunggu aku membangun sebuah rumah untuk kita tinggalu nanti. Bagaimana menurutmu? Atau kamu punya usulan lain?"


Zahra nampak kebingungan. Tidak menyangka jika Rayyan benar-benar melanjutkan keinginan untuk menikahinya secepat ini.


"A-aku tidak tahu." jawab Zahra dengan lirih. "Aku... hanya tidak mengira jika kamu sungguh akan melakukannya secepat ini."


"Jadi kamu berpikir kemarin aku hanya bercanda?"


"Aku rasa, ini... terlalu cepat. Kita mungkin butuh waktu untuk mengenal pribadi kita satu sama lain. Menikah itu seumur hidup, sayang. Aku tidak mau jika nantinya kamu merasa menyesal telah memilihku saat kau menemukan bagaimana diriku yang sebenarnya."


Rayyan tersenyum tipis, mencoba menutupi kegelisahannya bahwa mungkin ia akan kembali ditolak oleh Zahra dengan alasan yang konyol baginya.

__ADS_1


"Kita bisa saling mengenal setelahnya, Zah. Orangtuaku bahkan melakukannya, berpacaran setelah menikah bukannya lebih seru? Kita bahkan bisa melakukan apapun yang kita mau tanpa takut dosa."


"T-tapi... aku...."


"Kau masih meragukanku, hm?" Rayyan memegang kedua bahu Zahra dan menatapnya dengan dalam. Berdoa dalam hati agar Zahra tidak menolaknya untuk mempercepat pernikahan mereka.


"Bukan begitu. Aku hanya merasa ini... terlalu cepat." jawab Zahra yang sukses mengundang sebuah senyuman dibibir Rayyan.


"Jadi, kamu mau kita menikah setelah berapa lama berpacaran?"


"Aku... tidak tahu." Zahra menunduk, suaranya terdengar lirih bahkan hampir tak terdengar.


Rayyan mengerti jika setiap orang tidak serta merta menerima begitu saja lamaran dari kekasihnya. Banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk menikah, terlebih kesiapan diri untuk menghabiskan sisa hidupnya bersama pasangan yang mereka pilih. Dan Zahra mungkin salah satunya. Entah pikiran apa yang berkecamuk dipikiran Zahra, yang jelas Rayyan tidak akan memaksanya sekarang.


"Aku akan memberimu waktu untuk berpikir, Zah. Beritahu aku jika kau telah siap untuk aku nikahi. Tapi aku minta, jangan membuatku menunggu terlalu lama. Oke?"


Ucapan Rayyan barusan cukup melegakan bagi Zahra. Setidaknya dia tidak harus mengiyakan keinginan Rayyan saat itu juga.


Anggukan kepala dari Zahra membuat Rayyan mengikis jarak diantara mereka dan menghadiahi sebuah kecupan didahi Zahra.


"Sepertinya... ruangan ini tidak ada cctv-nya. Jadi, bolehkan aku menciummu disini?"


Pertanyaan Rayyan itu sontak membuat Zahra melebarkan matanya. Rayyan benar-benar memanfaatkan keadaan. Jadi memang benar jika sedang berduaan itu pasti akan ada bisikan setan diantara mereka.


"Kita jarang mendapat kesempatan seperti ini, Zah. Enggak mungkin kan aku selalu menciummu di kantor terus? Bu Meta pasti akan mencurigai kita."


Tak perlu menunggu izin dari Zahra, Rayyan bahkan langsung mendaratkan bibirnya pada bibir Zahra sesaat setelah ia selesai dengan kalimatnya. Rayyan menciumnya, membawanya menuju sebuah sofa di ruang tamu itu untuk menikmati ciumannya. Sebuah ciuman panjang disore hari, di apartemen yang akan dipinjamkan untuk mereka, dan dengan cahaya matahari terbenam yang memenuhi ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2