
Happy reading 😊
***
Rayyan akhirnya tiba di hotel bersama Rafa. Sebelum berangkat tadi, mama Salma mengomel agar Rayyan tidak menyetir mobil sendirian. Untuk itu, mama Salma langsung memerintahkan Rafa agar menyetir mobil abangnya.
Setelah tiba di hotelnya, Rayyan segera diarahkan untuk menuju kamar yang akan menjadi tempat persiapannya. Seharusnya kamar itu akan digunakan Rayyan dan Zahra setelah acara selesai, namun Rayyan lebih memilih untuk pulang ke rumah mereka sendiri.
Berulang kali mengecek ponselnya, Rayyan belum juga mendapat kabar dari gadis yang beberapa jam lagi akan menjadi istrinya. Terakhir Zahra mengabarinya jika dia dan keluarganya baru saja sampai di hotel. Namun setelahnya, tak ada lagi kabar dari Zahra.
Buru-buru Rayyan menekan salah satu kontak dan menelponnya. Setelah menunggu beberapa saat, panggilan itu akhirnya terjawab juga.
"Wyn, lo udah ketemu Zahra?" Rayyan langsung bertanya pada intinya.
Rafa yang duduk tak jauh dari tempat Rayyan menelpon pun hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Abangnya ini benar-benar berlebihan, padahal Rayyan dan Zahra telah berada disatu tempat yang sama. Hanya karena tidak memberi kabar, Rayyan langsung sebingung itu. Padahal setelahnya kan mereka juga akan nempel berdua terus.
"Udah, Bang. Aku baru aja dari kamarnya, kenapa?"
"Zahra enggak ngasih kabar ke gue."
Terdengar suara tawa dari Eowyn yang cukup membuat Rayyan mendengus kesal. "Bang, cewek itu persiapannya banyak, ribet. Tadi aja Zahra baru sempet makan siang pas aku masuk ke kamarnya. Emangnya abang, yang cuma ganti baju terus udahan?"
"Tapi seenggaknya dia kan bisa whatsapp gue."
"Hahahaha... udah deh, Bang. Enggak usah kayak orang bingung gitu. Pokoknya Zahra baik-baik aja, dia lagi ribet dimake up sama ngepasin baju. Jadi abang tenang aja, siap-siap aja tuh jantung baik-baik aja pas ketemu Zahra entar. Aku tutup ya Bang, mau bantu mama ngecek tempat acaranya dulu."
Tanpa menunggu persetujuan abangnya, Eowyn sudah lebih dulu mematikan sambungan telepon itu, yang sontak membuat Rayyan menggerutu tidak jelas.
***
__ADS_1
Waktu yang dinantikan pun tiba. Rayyan telah duduk dihadapan penghulu serta ayah dari Zahra dan juga saksi pernikahan mereka. Degup jantungnya berdetak dengan cepat. Berulang kali ia merapalkan kalimat ijab dalam hati, berusaha agar tidak melupakan satu kata pun hingga tidak perlu mengulang kembali.
Tangannya benar-benar dingin, rada gugupnya bahkan tak bisa diukur lagi. Melebihi saat ia akan melakukan ujian atau sidang skripsi. Berulang kali menatap mama dan papanya, Rayyan berusaha menyerap kekuatan agar dapat segera melewati proses ijab ini dengan cepat.
Hingga saat itu tiba, dimana prosesi ijab yang khidmat itu dimulai. Semuanya berjalan dengan lancar, Rayyan bahkan berhasil mengucapkannya dalam satu tarikan nafas dan satu kali percobaan. Menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, Rayyan benar-benar merasa lega sekarang karena telah berhasil mempersunting Zahra sebagai istrinya.
Pandangannya belum beralih dari pintu ballroom, pintu yang akan dilewati oleh Zahra saat digandeng masuk oleh ibu dan kakak iparnya. Rayyan bahkan tak bisa membayangkan akan secantik apa Zahra dihari bahagia mereka ini. Rayyan bahkan tak mengetahui gaun seperti apa yang akan dikenakan oleh Zahra.
Degup jantung Rayyan berdetak semakin cepat dan nafasnya seolah terhenti saat pintu ballroom terbuka. Tak lama masuklah sosok gadis yang begitu dinantikannya, gadis yang begitu dirindukannya setelah seminggu tak berjumpa, gadis yang sekarang telah resmi menjadi istrinya.
Digandeng masuk oleh ibu dan kakak iparnya, ketiganya memang terlihat begitu memukau dengan pakaian dan make up khas adat Jawa. Namun tentulah Zahra yang paling cantik diantara mereka, Rayyan bahkan seperti enggan berkedip saat memandang Zahra yag digandeng masuk mendekat padanya.
Mengenakan kebaya putih model sabrina dengan taburan mutiara diseluruh bagian kebayanya, Zahra memang terlihat sangat cantik sore itu. Kebaya pilihan bunda Hetty dan mama Salma dan make up adat Jawa itu sukses menambah kecantikan berjuta kali lipat.
"Cantik banget sih, Zah." Rayyan bahkan tak bisa lagi mampu menahan kalimat itu untuk tidak meluncur keluar begitu saja dari bibirnya saat kini Zahra telah berada dihadapannya.
Kalimat yang tak hanya membuat Zahra menjadi tersipu, tapi juga membuat orang yang mendengarnya tak kuasa untuk menahan senyum.
***
Rayyan dan Zahra telah berada dalam satu kamar sekarang. Bukan untuk berduaan, melainkan berganti pakaian untuk acara resepsi. Rayyan telah selesai berganti pakaian dan duduk di sofa, tak jauh dari tempat Zahra yang sedang dibantu beberapa orang untuk kembali dimake up.
Untuk acara resepsi malam ini, sang mama mengusung konsep internasional. Beberapa saat yang lalu, Rayyan dilanda kebosanan saat harus berdiam diri saja di sofa sambil memandangi istrinya yang tengah dibantu membersihkan make up adatnya tadi. Namun Rayyan juga merasa bersyukur karena Zahra tak lagi mengenakan pakaian adat Jawa lagi. Itu berarti nanti mereka tak lagi dipusingkan dengan kegiatan mencopot atribut yang begitu banyaknya serta membersihkan make up yang begitu ribetnya.
Tiba-tiba saja Rayyan tersenyum sendiri, membayangkan beberapa jam lagi ia dan Zahra akan bisa langsung menghabiskan waktu bersama tanpa dipusingkan dengan dua hal tadi. Jika Zahra telah berdandan yang biasa saja, tentu Zahra tidak membutuhkan waktu untuk menghapus make up-nya kan? Jadi Rayyan bisa langsung memulai pada intinya saja.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" suara Zahra itu menarik Rayyan dari pikirannya yang berkelana.
Rayyan menoleh ke arah istrinya yang berdiri di depan meja rias besar itu. "Enggak, cuma baca pesan dari temen." jawab Rayyan sambil menunjukkan ponsel yang sedari tadi ia pegang. Rayyan tentu terpaksa berbohong, tidak mungkin kan ia menceritakan pada Zahra apa yang ia bayangkan tadi?
__ADS_1
"Pada kemana?" tanya Rayyan sambil melihat ke sekeliling, mencoba mencari tahu keberadaan dua orang yang sedari tadi membantu Zahra berias.
"Keluar, soalnya... udah selesai."
Jawaban itu langsung membuat senyuman tersungging dibibir Rayyan. Ia segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Zahra yang telah siap untuk pesta selanjutnya itu. Kali ini, Zahra telah berganti mengenakan gaun berpotongan halter neckline berwarna putih.
"Kenapa baru bilang sih?" suara Rayyan seolah menggoda Zahra, bahkan kini tangan Rayyan telah menarik melingkar dipinggang Zahra, menahan tubuh Zahra untuk tetap menempel padanya.
"K-kamunya aja yang sibuk sendiri dari tadi." Zahra benar-benar gugup sekarang. Dengan status yang sudah sah menjadi suami istri, tentu saja Rayyan telah bebas menjamah dirinya.
Sepertinya yang dikhawatirkan Zahra benar adanya, saat kini Rayyan telah membungkuk dan mengecup bahunya yang terbuka. Sebelum akhirnya suara bel terdengar, lalu kemudian pintu itu terbuka.
"Eh?" Rafa tersenyum canggung saat dua orang yang seperti sedang berpelukan itu saling menatapnya.
"Rafa dapet kartu ini dari Papa, Bang." Rafa menunjukkan kartu yang barusan ia gunakan untuk membuka pintu kamar tempat Zahra dan Rayyan berada. "Kalian harus segera turun sekarang, acaranya udah mau mulai hehehehehe...."
Buru-buru Rafa melarikan diri sebelum disemprot abangnya. Sedangkan Rayyan menghembuskan nafasnya dengan kasar saat adegan romantisnya harus terganggu dengan kehadiran adik bungsunya itu. Berbeda dengan Zahra yang merasa lega karena apa yang akan dilakukan Rayyan harus terhenti sekarang
"Kita lanjut entar habis resepsi ya, kalo di rumah enggak akan ada yang bisa gangguin kita." bisik Rayyan pada sang istri, sebelum akhirnya mencium pipi Zahra dan menggandeng tangannya untuk segera turun menuju ballroom.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Yang masih nunggu adegan mantap-mantapnya abang, sabar ya. Yang penting udah SAH kan sekarang ehehehehehe 😅🙏
Yang belum baca Cupcake's Love, Lean On Me, sama Back To You, bolehlah diramaiin dulu disana. Ya itung-itung sambil nungguin yang sini update 😘