MENIKAH

MENIKAH
S2 - Bali (4)


__ADS_3

Happy reading 😊


***


"Seharian ini kamu banyak bicara, Zah." ucap Rayyan sebelum akhirnya menelusupkan masing-masing tangannya pada leher dan pinggang Zahra, dan menyatukan bibirnya pada bibir Zahra.


Let the angry word be answered only with a kiss.


Mungkin itu yang ingin Rayyan lakukan. Membungkam bibir Zahra dengan ciumannya, ciuman yang ingin selalu ia lakukan pada Zahra.


Merapatkan tubuh Zahra pada tubuhnya, lidah Rayyan kian menjelajah masuk ke dalam mulut Zahra. ******* habis bibir gadisnya itu tanpa memberikannya waktu untuk memikirkan hal yang lainnya.


Zahra mendekap erat pinggang Rayyan, sebelum akhirnya tubuhnya seolah dituntun oleh Rayyan berjalan menuju ranjangnya dan berbarin disana. Bibir mereka masih saling bertaut, seolah enggak untuk terlepas. Hingga akhirnya Rayyan yang melepaskan pertautan bibirnya terlebih dulu, memberikan Zahra jeda untuk mengambil nafas.


Bertumpu pada kedua sikunya, Rayyan menjaga berat tubuhnya yang mengungkung Zahra dibawahnya agar tidak menimpanya. Nafas Zahra tampak terengah, wajahnya juga memerah sama seperti ciuman pertama mereka saat di ruang kerja Rayyan beberapa hari yang lalu.


"Kayaknya aku harus sering nyium kamu, Zah. Terbukti kan sekarang kamu udah enggak kaku dan bisa ngebales ciumanku?" bisik Rayyan sambil mengusap bibir Zahra yang terlihat basah akibat ciumannya.


Merasa malu, Zahra hanya melayangkan pukulan kecil pada punggung Rayyan yang malah membuat Rayyan terkekeh. Rayyan lantas menarik kedua tangan Zahra dan melingkarkannya pada leherbya, matanya kembali mengawasi Zahra yang terlihat malu untuk menatapnya.


Rayyan kembali menarik dagu Zahra dan ******* kembali bibir Zahra. Ciuman kali ini lebih panjang, Rayyan benar-benar enggan melepaskannya. Ia hanya memberikan waktu sekian detik bagi Zahra untuk bernafas lega, sambil terus mengecupi wajah cantik gadisnya. Bagi Rayyan, ini adalah sebuah kesempatan dimana ia dapat menciuman dengan Zahra tanpa diganggu oleh siapa pun.


Rayyan tidak peduli jika mungkin saja bibir Zahra akan bengkak karena ulahnya. Apalagi setelah tiba di Bali, Zahra sering terbawa suasana hatinya akan perasaan cemburu pada Nadine. Rayyan hanya ingin menunjukkan kepada Zahra jika ia benar-benar menginginkannya.


Entah telah berapa lama mereka saling berciuman, sprei ranjang Zahra bahkan sudah terlihat acak-acakan.


"Aku harus menghentikannya, Zah." bisik Rayyan setelah melepaskan pagutannya dari bibir Zahra.


"Kalo diterusin bisa terjadi sesuatu yang diinginkan." imbuh Rayyan dengan senyuman dibibirnya, lalu mendaratkan sebuah kecupan dikening Zahra.


Rayyan berguling disamping Zahra, tangan kirinya menelusup ke leher Zahra dan mendekapnya dengan erat.


"Bibirku bengkak tau!" Zahra melayangkan sebuah pukulan pada dada Rayyan setelah meraba bibirnya yang terasa tebal itu.


"Mau aku bikin bengkak lagi? Biar kayak kesengat lebah?" jawab Rayyan sambil terkekeh.


"Iiihhh nyebelin deh! Lagian tadi lama banget sih nyiumnya."

__ADS_1


"Kamunya juga suka kan? Udah pinter ngebalesnya tadi, mana meluk lehernya kenceng banget. Ya mana bisa aku jauhin bibirku orang kamu kekepin kayak gitu."


Zahra hanya diam, sambil menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Rayyan yang begitu hangat.


"Makan malam disini aja ya, Zah? Aku males keluar. Males gerak malahan, udah terlanjur enak meluk kamu kayak gini." Rayyan mengeratkan pelukannya sambil mengecup puncak kepala Zahra.


"Disini?"


Rayyan mengangguk. "Kita pesen makanan aja, terus makan disini. Latihan, besok kalo honeymoon paling juga kita di kamar mulu kan?"


"Ngapain di kamar mulu?" tanya Zahra sambil mendongakkan kepalanya.


"Makanya, ayo nikah biar tau kenapa honeymoon besok kita di kamar mulu."


Zahra menggelengkan kepalanya, lalu menarik tubuhnya agar terbebas dari dekapan Rayyan. "Lama-lama kamu kayak Rafa beneran tau enggak. Udah gih pesen makan, aku mau ke kamar mandi bentar."


***


Rayyan dan Zahra tengah menikmati makan malam yang mereka pesan. Bukan candle light dinner yang romantis, ini hanya makan malam biasa. Rayyan dan Zahra bahkan duduk bersandar headboard ranjang sambil memegang piring ditangan mereka dan menonton acara TV.


"Siapa?" tanya Rayyan saat ponsel Zahra berdering.


"Angkat aja." jawab Rayyan dengan santai sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya.


"Zahraaaaaa... lo lagi ngapain?" tanya Eowyn begitu panggilan video itu tersambung.


"Lagi makan. Lo enggak kencan? Ngapain lo malah telpon gue?"


"Kencan. Ini lagi makan sama Zach." Eowyn menghadapkan kamera ponselnya pada Zach yang berada di sebelahnya.


"Justru gue telpon karena mau gangguin elo. Enak banget berduaannya jauh banget sampai ke Bali. Enggak diajak jalan sama abang?"


"Udah kok tadi sore. Cuma ya gitu deh." Zahra menjawab dengan nada malas.


"Yaudah kenapa? Abang sibuk sendiri atau enggak mau nemenin lo jalan?"


"Bukan gitu, jalan-jalan kami keganggu sama mantannya abang lo."

__ADS_1


"Hahahahaha... sabar ya, Zah. Terus sekarang abang enggak ngajakin lo makan di luar?"


"Ini kami lagi makan."


"Kami?"


Zahra mengangguk, lalu mengarahkan ponselnya pada Rayyan yang duduk disebelahnya dan sibuk dengan makanan dipiringnya.


"Abang! Ngapain di kamar Zahra?" suara Eowyn terdengar begitu melengking.


"Makanlah, emang ngapain lagi?" Rayyan menjawab dengan santai, lalu meletakkan piringnya pada meja troli dan menyeka mulutnya.


"Ya ngapain makannya di kamar Zahra? Itu pasti abang kan yang maksa masuk ke kamar Zahra?"


"Apa sih, Wyn? Berisik banget deh! Udah sana lo urusin Zach aja."


"Iihhh... aku laporin mama loh ya abang masuk ke kamar Zahra!"


"Zahra aja biasa aja, kenapa lo yang repot."


"Yaa Allah, Abang! Aku sambungin juga nih ke mama."


"Wyn!" Rayyan setengah berteriak, menahan sang adik agar tidak menghubungi mamanya.


"Awas kalo abang macem-macem sama Zahra ya."


"Enggak, gue cuma satu macem doang kok. Iya enggak, sayang?" Rayyan dengan tak tahu malu merangkul pundak Zahra dan mencium pelipis Zahra.


"Iiihhh... abang bener-bener deh! Udah deh gue tutup dulu, sana kalo mau mesra-mesraan."


"Yaudah tutup aja, lo ganggu tau, Wyn." Rayyan terkekeh melihat wajah adiknya yang tengah kesal terhadapnya itu.


"Oiya, Bang."


"Hm?"


"Bayarin uang taruhan gue ke Rafa dong. Kalo abang yang bayarin, rahasia tentang abang masuk ke kamar Zahra mah aman. Kebayang kan gimana marahnya Papa kalo tau abang begitu?"

__ADS_1


Rayyan menghela nafasnya, dua adiknya ternyata sama saja. Senang memanfaatkan keadaan yang sedang menimpa dirinya.


__ADS_2