MENIKAH

MENIKAH
Expecting


__ADS_3

*Satu bulan kemudian*


Salma tengah berdandan di depan meja riasnya, hari ini mereka akan menghadiri pernikahan Widya dan Taufik.


"Udah siap? Rayyan udah ga sabaran dibawah, Sal. Narik-narik Asep mulu sambil bilang 'mobil' terus" ucap Adit sesaat setelah membuka pintu kamar.


"Udah mas, ayok turun" Salma beranjak.dari kursi meja riasnya dan meraih clutch yang akan ia bawa.


Adit tersenyum sembari meraih pinggang Salma, merapatkan tubuh keduanya. Salma mendongak menatap Adit, yang terlihat begitu tampan dengan baju batik pemberian Widya dan Taufik itu.


"Aku takut nanti Widya kalah cantik sama kamu, bisa-bisa ntar dikira kamu yang nikah" kata Adit yang menatap Salma begitu dalam.


"Hahahahaha... enggaklah, mas. Bajunya aja jelas beda, ini kan baju bridemaids. Nanti aku bakal gendong-gendong Rayyan terus deh"


"Bisa encok kamu gendong-gendong dia, sekarang aja dia maunya lari-larian mulu"


Adit mendekatnya wajahnya pada Salma, mencuri kecupan sekilas pada bibir Salma.


"Jangan mulai deh, mas. Yang lain udah pada nungguin dibawah tuh, ntar Rayyan keburu heboh minta naik mobil"


"Aku cuma mau ngecup doang kok, emang kamu pikir aku bakal ngapain? Hahahahaha" ledek Adit sambil mengusap rambut Salma dengan perlahan.


Keduanya segera turun ke bawah, menyusul bu Sari dan Asep yang telah bersiap. Begitu pula dengan Rayyan yang sudah tidak sabaran untuk segera naik mobil.


🎎


Proses akad nikah Widya dan Taufik berlangsung dengan lancar dan khidmat. Salma dan Shinta sempat terlihat beberapa kali menghapus air mata yang keluar, menyaksikan sahabat mereka telah resmi menjadi istri seseorang.


Saat acara resepsi berlangsung, Rayyan terlihat tertidur dalam dekapan Adit. Anak laki-laki itu sepertinya telah kelelahan setelah banyak bergerak saat akad nikah tadi berlangsung.


Beberapa kali bu Sari menawarkan diri untuk mengambil alih Rayyan, beberapa kali juga permintaannya itu ditolak Adit. Alasannya karena Adit ingin menghindari tatapan genit dari wanita muda yang datang ke acara itu.


"Mas, Rayyan biar sama bu Sari ya? Nanti mas Adit capek loh" bujuk Salma.


Adit kembali menggelengkan kepalanya. "Nanti aku ga keliatan kalo jadi hot daddy"


Seketika itu pula Salma tergelak akan jawaban suaminya. "Mas Adit mau pamer ke siapa?" tanya Salma sambil menahan tawanya.


"Udah ya, Rayyan biar sama bu Sari aja. Biar kita bisa makan dulu, dari tadi aku cuma baru nyuapin mas Adit buah doang"


Akhirnya Adit mengalah, menyerahkan Rayyan pada bu Sari yang duduk disalah satu kursi yang telah disediakan bersama Asep. Adit menggandeng tangan Salma, seolah ingin memberitahukan kepada seluruh tamu undangan yang datang bahwa bridemaids yang satu ini adalah miliknya. Hanya miliknya!


🎎


Sepulang dari acara pernikahan Widya dan Taufik, Adit segera menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Ia merasa begitu lelah, lebih lelah saat ia dan Salma menikah dulu. Mungkin karena acara resepsi digelar tanpa adanya jeda waktu seperti pernikahannya dulu, mungkin itu yang membuatnya begitu kelelahan.


"Mana Rayyan?" tanya Adit begitu melihat Salma memasuki kamar.

__ADS_1


"Dibawah mas, maunya di kamar bu Sari. Aku mau ajak ke atas malah nangis" jawab Salma sembari berjalan menuju meja rias.


"Dia tau aja mama papanya lagi capek"


"Mas Adit ga mau mandi dulu?" tanya Salma.


"Ntar deh Sal, aku mau leyeh-leyeh bentar"


"Oyaudah, aku mandi duluan deh ya" Salma berjalan menuju kamar mandi. Saat pintu kamar mandi akan tertutup, Salma menyembulkan kepalanya keluar untuk berpesan kepada Adit.


"Kalo Rayyan kesini, tolong ajakin main dulu ya mas"


Adit hanya mengacungkan jempolnya ke arah Salma sambil tersenyum. Hingga beberapa menit kemudian, Salma yang keluar kamar mandi dengan rambut basahnya mendapati Adit yang tengah tertidur pulas.


Salma mendekati Adit dan duduk dipinggir ranjang. Lalu memberanikan diri untuk membangunkan Adit.


"Mas..." ucap Salma sambil mengusap lengan Adit yang tertidur miring.


Butuh waktu beberapa saat bagi Salma untuk membangunkan Adit, hingga akhirnya Adit terbangun dari tidur singkatnya.


"Ashar, mas. Kalo tidur ntar pusing loh" ucap Salma.


Adit segera mendudukkan dirinya, lalu menyandarkan punggungnya pada headboard kasur.


"Aku mau ngomong sama mas Adit, penting banget ini"


"Ini menyangkut hubungan kita berdua, mas. Serius dikitlah"


Adit menegakkan punggungnya, mencoba membuka kelopak matanya yang terasa berat itu.


"Aku udah feeling ini dari minggu lalu, dan bener aja kan kejadian"


"Apaan sih, Sal?" tanya Adit bingung sambil mengucek matanya.


Salma menyodorkan benda pipih berwarna putih itu kepada Adit. Adit menerimanya, menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.


"Kamu serius, Sal?" tanyanya tak percaya.


Salma mengangguk. "Aku pun ga nyangka bakalan secepet ini, mas. Tau sendiri kan usaha kita dulu buat dapetin Rayyan itu butuh berbulan?bulan. Ini cuma karena di Lombok kemarin aja kenapa bisa langsung jadi?" jawab Salma dengan menyunggingkan senyum manisnya.


"Aahhh... Alhamdulillah" seru Adit seraya menarik Salma dalam pelukannya.


Keduanya begitu bahagia, hingga tak terasa air mata itu hadir ditengah-tengah kebahagian mereka. Hingga akhirnya, Adit melepaskan pelukannya. Mengingat sesuatu. Ya, mengingat keberatan Salma untuk menambah momongan dalam waktu dekat.


"Kamu... gapapa kan, Sal?" tanya Adit dengan memegang kedua bahu Salma.


Salma tersenyum, menangkupkan kedua telapak tangannya pada kedua pipi Adit.

__ADS_1


"Aku seneng banget, mas. Sama sekali aku ga ngerasa keberatan kalo Rayyan bakalan punya adik. Yaahhh, meskipun kemarin aku sempet bilang begitu"


Adit menghela nafasnya. Merasa begitu lega dengan jawaban Salma barusan.


"Terus, kenapa baru dicek sekarang? Harusnya kamu bilang ke aku dari minggu lalu begitu kamu telat mens" protes Adit.


"Aku cuma pengen mastiin dulu, mas. Ini beneran hamil atau cuma telat, dan ternyata dapet dua garis. Enggak ada mual muntah lagi pula"


"Trus kalo kenapa-kenapa gimana? Mana tadi kamu berjam-jam pake high heels"


"Hehehehehe... maaf, mas" Salma mengusap lengan Adit lalu mengecup bibir Adit sekilas.


"Besok mau kan mas nemenin periksa ke dokter?" tanya Salma.


"Duuuhhhh... Sal, jangankan besok. Kamu minta sekarang aja bakalan langsung aku anter"


Salma menggeleng. "Aku maunya besok pagi aja, biar periksanya sama dokter Vania lagi"


"Jadi, kita bisa kasih tau mama papa kalo Rayyan bakal punya adik?"


"Nanti. Setelah kita dari dokter kandungan dan semuanya jelas, baru kita kasih tau.ke mama papa ya?"


"Oke" jawab Adit singkat, lalu merentangkan kedua tangannya, meminta Salma untuk memeluknya.


Senyum itu tak kunjung hilang dari wajah keduanya. Begitu pula rasa syukur yang tak henti-hentinya mereka ucap dalam hati. Doa mereka untuk mendapatkan adik bagi Rayyan terjawab dengan begitu cepatnya. Tanpa harus menunggu dan melewati banyak drama kehidupan.


"Kalo kamu ga keberatan, aku pengen punya tiga anak sebelum umurku genap 35 tahun. Kata dokter Vania, ga masalah kan kalo kamu caesar sampai tiga kali" bisik Adit.


Salma segera mencubit perut Adit begitu mendengar perkataan suaminya itu.


"Yang ini aja belum lahir, mas. Udah mikir anak ketiga aja" dengus Salma dengan kesal.


"Ga perlu ngoyo untuk lahiran normal, Sal. Aku ga maksa kamu untuk lahiran normal"


"Kenapa?" Salma mendongakkan kepalanya menatap Adit.


"Perut bawahmu udah terlanjur dibuka untuk keluar Rayyan, Sal. Aku ga mau akses masukku diganggu gugat"


"Tapi memang seharusnya itu jalan lahirnya kan, mas"


"Udah, pokoknya lahiran caesar aja. Kalo lahirannya normal, nanti aku malah nuntut punya banyak anak sama kamu. Aku kan sampai usia berapa pun masih bisa bikin kamu hamil"


"Mulai mesum deh" Salma kembali mencubit perut Adit.


Adit tergelak. Kemudian mendekatkan wajahnya pada Salma untuk menciumnya.


"With you by my side, my world was beautiful. With our babies in it, it would be glorious. I don't tell you often enough, but I love you so much" bisik Adit sembari mengusap pipi istrinya, sebelum akhirnya kembali menciumi Salma dengan penuh cinta. Mencurahkan seluruh perasaan bahagia dan cintanya.

__ADS_1


 


__ADS_2