MENIKAH

MENIKAH
S2 - The Day (IV)


__ADS_3

Happy reading 😊


***


Pesta ini berlangsung dengan begitu 'wah'nya. Zahra bahkan tidak menduga jika tamu undangan mereka akan sebanyak ini. Pasalnya, tamu mereka yang hadir malam ini bukan hanya dari teman-temannya dengan Rayyan saja. Melainkan juga tamu penting dari kedua orangtua dan mertuanya.


Berbeda dengan Zahra yang nampak begitu senang dengan terus mengumbar senyum lebar dibibirnya, Rayyan justru ingin segera mengakhiri pesta malam ini. Baginya, waktu tiga jam kali ini benar-benar lama. Terasa lebih lama dari waktu seminggu yang lalu saat ia harus tak saling bertemu dengan Zahra.


Rayyan berulang kali mengecek jam tangannya, rasanya malah jam tangan mahal ditangannya itu tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Jarum jamnya seolah tidak bergerak, menghentikan waktu yang berputar dan membuatnya tertahan begitu lama dipesta pernikahannya malam itu.


"Kamu nungguin seseorang?" tanya Zahra saat kembali mendapati suaminya sedang melihat ke arah jam tangannya.


"Enggak, sayang." Rayyan mengalihkan pandangannya pada wajah cantik istrinya yang kini sedang menatapnya. "Aku ngerasa pestanya lama banget. Aku udah pengen pulang." jawab Rayyan dengan jujur.


Ada selipan nada menggoda saat Rayyan mengucapkannya, membuat Zahra tak bisa lagi menahan semburat merah yang menjalar dipipinya. Zahra tahu apa yang menyebabkan suaminya ingin segera pulang. Oleh sebab itu, sebuah pukulan manja sukses mendarat dilengan Rayyan yang kemudian membuat keduanya saling melempar senyum.


Namun senyum itu tiba-tiba hilang dari wajah cantik Zahra, saat melihat seorang wanita mendekat ke arah mereka. Nadine datang dengan gaun backless yang super seksi. Zahra tahu jika Nadine tentu masih berusaha untuk merayu Rayyan yang kini telah sah menjadi suaminya. Nadine pasti tidak akan semudah itu melepas Rayyan, apalagi untuk wanita yang Nadine anggap tidak selevel dengan Rayyan.


"Selamat ya atas pernikahan kalian, semoga kalian berbahagia selalu." ucap Nadine dengan senyum lebarnya.


Naiknya Nadine ke pelaminan tentu menarik perhatian banyak tamu undangan. Bukan karena mereka semua tahu jika Nadine adalah mantan kekasih sang pengantin pria, tapi karena penampilan Nadine yang begitu seksi itu. Penataan rambut yang sengaja digerai ke samping, membuat punggung mulusnya mencuri perhatian semua tamu undangan yang datang malam itu.


Zahra menggeram, menahan emosinya yang kini bercokol dalam dirinya saat Nadine hanya menatap dan menyalami Rayyan saja. Bukan karena ia ingin disalami juga, tapi setidaknya Nadine bisa menghargainya sebagai istri Rayyan.


"Terima kasih, Nadine. Terima kasih telah menyempatkan datang ke pesta pernikahan kami." jawab Rayyan dengan sopan, lalu merangkul pinggang Zahra agar mendekat padanya, dan memperlihatkan kemesraan mereka.

__ADS_1


Zahra tersenyum pada Nadine, ingin sekali ia menanas-manasi Nadine dengan menujukkan kemesraannya dengan Rayyan pada wanita itu. Tapi Zahra tahan sekuat tenaga, karena ia tak ingin merusak hari bahagianya itu hanya karena kedatangan sang mantan yang begitu sombong.


"Ahh, ini kado untuk kalian. Semoga kalian menyukainya." lagi-lagi Nadine kembali mengacuhkan Zahra. Dia menyerahkan kotak segiempat berwarna maroon dengan pita emas itu kepada Rayyan.


"Bukankah seharusnya kak Nadine menyerahkan kado ini di depan. Jadi tidak perlu repot-repot membawanya kesini." ucap Zahra dengan nada yang dibuat sok manis, padahal sebenarnya ia sedang menyindir Nadine.


"Gue sengaja mau nyerahin langsung ke pengantinnya, jadi gue bawa kesini." meskipun menjawab dengan tersenyum lebar, tapi nada bicara Nadine memang terdengar ketus.


Mendapati dua orang wanita didekatnya yang mungkin akan terlibat pertikaian ini, Rayyan segera berinisiatif untuk memisahkan keduanya. Tentu saja dengan mengusir Nadien kan? Tidak mungkin Rayyan meminta istrinya untuk pergi dari pelaminan mereka.


"Eee... maaf Nadine, sepertinya kau harus segera turun. Ada... banyak tamu yang mengantri dibelakangmu." ucap Rayyan dengan sopan.


"Ohh, astaga! Ternyata antriannya udah sepanjang itu hanya karena menunggu obrolan yang enggak penting ini selesai." Zahra menimpali, tentu saja dengan nada biacara yang tak kalah ketusnya dari Nadine tadi.


"Oh, maaf. Gue akan turun, sekali lagi selamat atas pernikahan kalian."


***


Selesai dengan acara resepsinya, Rayyan segera memboyong Zahra menuju rumah mereka. Rumah yang akan mereka tinggali bersama keluarga kecil mereka nanti, sekaligus rumah yang akan menjadi saksi bisu gairah cinta keduanya.


Diperjalanan pulang tadi, Zahra telah memaksa untuk membuka kado pemberian dari Nadine yang dia bilang begitu spesial itu. Namun dengan alasan sedang menyetir dan demi keselamatan bersama, Rayyan meminta kepada istrinya untuk bersabar dan membukanya di rumah. Karena kadonya diberikan secara langsung, tentu saja Rayyan mau tak mau membawanya. Kemudian meletakkannya dijok belakang agar tidak mudah dijangkau oleh Zahra.


"Apapun isinya ku mohon jangan salah paham, ya? Kamu tahu sendiri kalo aku udah enggak ada hubungan atau perasaan apapun sama Nadine." Rayyan memohon sebelum akhirnya menyerahkan kotak tersebut kepada Zahra saat kini keduanya telah berada di dalam kamar mereka.


Zahra mengangguk, sebelum akhirnya mengambil kotak tersebut dan membukanya. Sama-sama megernyitkan dahinya, tanpa sadar kini keduanya saling mendongak dan menatap satu sama lain secara bersamaan.

__ADS_1


"Gelang couple?" gumam Zahra.


Jika Zahra menatapnya karena ingin meminta penjelasan, Rayyan justru telah bersiap dengan penjelasannya.


"Kami punya itu dulu, tapi pas putus aku kasih ke dia lagi karena dia yang beli." jelas Rayyan dengan gaya bicaranya yang tenang.


"Terus maksud dia apa ngasih gelang ini ke kamu? Mau ngajak balikan gitu? Dasar enggak tahu malu!" Zahra mengomel sambil berjalan menuju tempat sampah tak jauh dari tempatnya berdiri dan membuang kado dari Nadine disana.


"Awas kalo sampai kamu ambil lagi ya." imbuh Zahra dengan nada mengancam. Namun Rayyan justru tersenyum dengan ancaman yang diberikan istrinya itu.


"Untuk apa ambil gelang couple itu, aku udah punya ini sekarang." jawab Rayyan sambil menunjuk cincin kawin dijarinya pada Zahra yang sedang melepaskan anting di depan meja rias.


Zahra menegang seketika, kini ia kembali sadar jika mereka berdua telah sah sebagai suami istri dan telah berada di rumah mereka. Dengan langkah Rayyan yang kini mendekat padanya, Zahra seolah kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri sebab Rayyan pasti telah bersiap untuk menerkamnya kapan saja.


Sentuhan jemari Rayyan yang kini mengusap pipi Zahra dengan lembut, membuat Zahra merasakan tubuhnya diserang hawa panas. Belum lagi kini bibir Rayyan yang mulai mengecupi kulit wajahnya dengan lembut, Zahra seolah merasa kesulitan bernafas.


"Kamu... enggak lagi dapet kan, sayang?" bisik Rayyan dengan nada menggoda tepat dihadapannya.


Entah mengapa lidah Zahra terasa begitu kelu untuk mengucapkan jawaban dari pertanyaan suaminya itu. Tentu saja apa yang akan terjadi malam ini tergantung dengan jawaban yang Zahra berikan. Malam pertama mereka.


***



Ehh, masih pada nungguin part abang lagi bobok ya? Hahahahaha....

__ADS_1



Author kalian emang semenyebalkan itu gaeessssss.... Ini The Day udah dibikin berapa part coba tapi adegan mantap-mantap abang belum keluar juga 😂🙏


__ADS_2