
Happy reading 😊
***
Sama seperti Rayyan yang tidak bisa tertidur menjelang pernikahannya, Zahra pun juga mengalaminya. Berbagai macam cara ia lakukan agar bisa segera terlelap, namun usahanya gagal. Membaca novel, mencoba menghitung gambar domba yang berada dilayar ponselnya, mendengarkan alunan musik klasik, namun pikirannya selalu melayang pada sosok Rayyan yang akan resmi menjadi suaminya.
Seminggu tak berjumpa dengan Rayyan benar-benar membuatnya rindu. Ingin sekali ia dan Rayyan melakukan video call untuk bisa melihat wajah masing-masing, namun keduanya sama-sama menahan sesuai dengan permintaan bunda Hetty. Mendengarkan suara Rayyan saat bertelepon membuat rindu itu semakin tak karuan.
Kembali membalikkan badannya menghadap ke arah yang berlawanan, Zahra bahkan tidak mengantuk sama sekali. Padahal biasanya dia akan sangat mudah tertidur setelah beberapa menit berbaring di kasur, namun malam ini benar-benar sulit. Pikirannya terua saja bekerja, memikirkan bagaimana kehidupan rumah tangganya kelak bersama Rayyan. Ia bahkan masih belum bisa mempercayai jika dirinya akan menikah secepat ini.
Memandangi ponselnya berulang-ulang, kini waktu telah menunjukkan pukul satu dini hari. Karena tak ada lagi pesan yang ia dapat dari sang calon suami sejak pulul sebelas tadi, Zahra menduga jika Rayyan kini telah tertidur pulas. Ia pun mengurungkan niatnya untuk mengirimkan pesan pada Rayyan karena tidak ingin mengganggu waktu tidur lelaki yang sebentar lagi akan sah menjadi suaminya itu.
Merasa putus asa dengan usaha tidurnya yang tak kunjung membuahkan hasil, Zahra bangkit dari tempat tidurnya lalu berjalan menuju meja belajarnya. Memanding tablet obat tidur yang siang tadi diberikan oleh Rafa, tanpa berpikir panjang lagi Zahra telah memutuskan untuk meminumnya. Zahra hanya ingin ia tidak terserang kantuk yang begitu parah saat hari bahagianya nanti.
Ya, siang tadi Rafa datang ke rumahnya atas utusan Rayyan. Rafa diminta untuk mengambil koper baju milik Zahra lalu membawa koper itu menuju rumah yang akan mereka tinggali nanti. Rafa memberikan obat itu secara sembunyi-sembunyi. Meskipun obat tidur itu memang dijual bebas di apotek, namun Rafa pasti merasa tidak enak hati jika ketahuan orang lain.
"Kenapa Rafa sih yang kepikiran untuk sedia kayak gini!" dengus Zahra dengan kesal sambil membuka kemasan obat itu.
Setelah selesai dengan urusan obat tidurnya, Zahra kembali menuju ranjangnya untuk bersiap tidur kembali. Sembari menunggu obat tidur itu bekerja, Zahra kembali membuka ponselnya. Menekan aplikasi galeri untuk kembali melihat foto-foto pre-weddingnya bersama Rayyan. Hingga akhirnya tanpa sadar Zahra terlelap dan masuk ke dalam alam mimpinya.
Dan hari itu, kedua calon pengantin ini sama-sama terbangun siang. Semua keluarga memaklumi jika keduanya sama-sama tak bisa tertidur menjelang hari bahagianya itu. Untung saja acara mereka dimulai pada sore harinya. Jika acaranya terjadi dipagi hari, bisa dipastikan Rayyan dan Zahra mungkin akan saling adu menguap saat duduk dipelaminan.
***
__ADS_1
Mama Salma kembali melangkahkan kakinya menuju kamar Rayyan. Waktu telah hampir menunjukkan jam makan siang, tapi belum ada tanda-tanda Rayyan keluar dari kamarnya.
Mama Salma menghela nafas lega saat mendapati tempat tidur Rayyan telah tertata rapi. Sesaat setelah mama Salma masuk ke dalam kamar, Rayyan keluar dari kamar mandi dengan tangan yang sibuk mengeringkan rambutnya yang basah.
"Mama khawatir ya kalo Rayyan belum bangun?" ledek Rayyan sambil duduk dipinggiran ranjang.
"Iyalah, kalo kamu masih tidur aja, kan bisa telat nanti kita ke hotelnya."
"Masih ada waktu, ma. Mama tenang aja."
"Jangan suka nyepelein gitu. Kita enggak tahu nanti lalu lintasnya gimana, kalo macet parah gimana?"
"Ya tinggal minta polisi buat bukain jalanlah, ma. Terus minta dikawal sampai hotel, beres kan?"
"Enggak, ma. Mama tenang aja sih, dari kemarin mama udah nanyain itu ratusan kali loh. Emang Rayyan enggak boleh balik kesini lagi sampai mama harus ngingetin terus ada yang ketinggalan atau enggak?" ucap Rayyan sambil menahan tawanya.
Rayyan kembali teringat saat dulu ia akan pergi untuk melanjutkan studinya diluar negeri, mamanya lah yang begitu repot menyiapkan segala sesuatunya. Bahkan mama Salma sampai membuat ceklist barang bawaan untuk memastikan Rayyan tidak melupakan sesuatu.
"Ya bukan gitu. Kalo segala sesuatunya kebawa semua kan kamu bisa tenang kalo butuh apa-apa udah ada."
"Rayyan udah gede, ma. Nanti bisa beli sendiri kalo memang ada yang kelupaan. Aku bukan lagi Rayyan yang mau pergi kemah terus nangis karena ada barang yang lupa dibawa."
Keduanya sama-sama tertawa, mengenang bagaimana dulu Rayyan ketika SD merengek pada sang mama yang bersiap untuk pulang karena lupa membawa korek api.
__ADS_1
"Kamu yakin bajunya enggak mau bawa lagi? Kemarin kamu cuma bawa dikit doang loh, Rayyan." tanya mama Salma saat membuka lemari baju Rayyan.
"Cukup, ma. Itu baju yang buat disana beberapa hari doang kok, nanti sebelum berangkat honeymoon kami akan kesini dulu untuk pamitan sama ambil beberapa barang."
Mama Salma menganggukkan kepalanya. "Cepetan turun ke bawah terus kita mulai makan siang."
"Ma...."
"Hm? Kenapa?" mama Salma kembali berbalik saat telah berjalan beberapa langkah menuju pintu kamar Rayyan.
Rayyan berjalan mendekati mamanya, lalu memeluknya dengan erat. "Maafin Rayyan kalo selama ini sering ngerepotin mama ya. Doain Rayyan sama Zahra biar selalu bahagia dan harmonis kayak papa dan mama. Rayyan juga pengen punya anak banyak kayak papa dan mama."
"Kenapa kamu ngomongnya sekarang? Nanti pas acara kan ada waktunya sendiri."
"Rayyan malulah ma kalo nangis terus dilihat banyak orang gitu." Rayyan masih mengeratkan pelukannya pada sang mama, menyembunyikan matanya yang berair itu.
"Biarin aja Zahra tau kalo anak mama ini juga sebenernya nangisan. Apa perlu mama ceritain ke Zahra pas bulan pertama kamu di LA terus telpon mama sambil nangis karena kangen mama dan pengen pulang?"
"Iihh, jangan dong ma! Ntar Zahra punya senjata buat ngeledekin Rayyan." Rayyan melepaskan pelukannya sambil menyeka air matanya.
"Udah, enggak usah nangis gitu. Mama pasti akan selalu doain yang terbaik buat anak-anak mama. Buruan turun, ntar keburu pada nyusulin kesini." mama Salma mengusap pipi Rayyan sebelum akhirnya keluar kamar Rayyan. Meninggalkan Rayyan agar segera mempersiapkan diri.
***
__ADS_1
Eh, masih pada nungguin abang mantap-mantap ya? Hehehehe.... sabaaaaaarrrrr, belum juga ijab 😂😂😂