
Happy reading 😊
***
Seminggu telah berlalu sejak papa Harry meninggalkan keluarga yang dicintainya untuk selama-lamanya. Adit dan keluarganya mulai beraktifitas lagi seperti biasanya. Adit dan Salma berniat memboyong mama Mei untuk tinggal bersama mereka, namun mama Mei menolaknya. Salah satu kerabat mama Mei bersedia untuk menemaninya tinggal disana agar Adit dan Salma tidak khawatir dengan keadaan mamanya.
Pagi ini, Adit dan ketiga anaknya telah bersiap untuk berangkat kerja. Minggu depan adalah hari terakhir Rafa membantu ayahnya di kantor sebelum akhirnya kembali masuk kuliah. Adit telah memenuhi janjinya untuk membelikan mobil untuk Rafa. Dan akhirnya Rafa melepaskan motor kesayangannya yang penuh kisah cintanya dengan Alita ke tangan sang abang.
Rafa benar-benar ingin membuktinya kepada kedua orangtuanya jika sekarang ia telah berubah. Bahkan Rafa membuka rekening baru untuk menyimpan uang hasil menjual motor sport-nya dan menitipkan buku tabungan serta kartu ATMnya pada sang Mama.
***
"Siang nanti Mr. Kimura meminta bertemu untuk membahas kelanjutan progress yang telah saya lakukan minggu kemarin, Pak." Zahra melapor sambil mengikuti langkah Rayyan yang baru saja keluar dari lift.
"Jam makan siang?"
"Iya, Pak. Bapak ada kepentingan lain?"
Rayyan menghentikan langkahnya saat sampai di depan pintu ruangannya, sambil memegang handle pintu dan menoleh ke arah Zahra.
"Enggak." jawabnya singkat lalu segera masuk ke ruangannya. "Tolong bawakan aku berkas hasil pertemuan dengan Mr. Kimura minggu lalu ya, Zah."
"Baik, Pak." Zahra berjalan keluar ruangan Rayyan.
Setelah meninggalkan ruangan Rayyan beberapa saat untuk mengambil dokumen yang diminta Rayyan, Zahra kembali memasuki ruangan Rayyan. Keduanya berdiskusi mengenai perjanjian kerjasama yang akan disepakati oleh Rayyan dan kliennya, serta membereskan pekerjaan Rayyan yang tertunda karena libur masa berkabungnya.
"Pak..." Zahra yang duduk di depan Rayyan memanggil dengan pelan.
__ADS_1
Rayyan mendongakkan kepalanya, menatap Zahra yang sepertinya ingin menyampaikan sesuatu.
"Ini udah hampir jam sebelas, Pak. Apa... sebaiknya kita menuju restoran tempat pertemuan dengan Mr. Kimura sekarang? Takutnya nanti kejebak macet di jalan, biasanya kalo jam makan siang kan jalanan lumayan padat."
Rayyan melihat ke arah jam tangannya. Tanpa menjawab perkataan Zahra, Rayyan menutup berkas dokumen yang ada di depannya serta mematikan laptopnya. Melihat kegiatan yang dilakukan Rayyan, Zahra dengan sigap menangkap sinyal untuk segera bersiap-siap yang ditunjukkan Adit. Seperti biasanya, bosnya ini sangat irit sekali berbicara.
***
Empat puluh lima menit perjalanan yang mereka tempuh untuk menuju lokasi pertemuan dengan klien pentingnya itu. Rayyan menghela nafas lega sesaat setelah memarkir mobilnya. Jalanan yang cukup padat tadi membuatnya sedikit gugup jika harus datang terlambat dan membuatnya kliennya menunggu. Berjalan berdampingan dengan Zahra yang membawa tas laptop serta beberapa map dokumen ditangannya, Rayyan menyentuh dasinya untuk merapikan posisinya.
"Rayyan!" seorang gadis yang baru saja keluar dari dalam restoran seketika membuat Rayyan menghentikan langkahnya, begitu pula dengan Zahra.
"Dari kemarin aku coba telpon dan kirim pesan ke kamu, tapi enggak kamu respon sama sekali. Aku tau kamu masih berduka, tapi seenggaknya kan kamu bisa sempetin balas pesanku. Aku turut berduka cita ya." gadis itu memeluk Rayyan dengan tiba-tiba.
Rayyan mematung, terkejut dengan apa yang dilakukan gadis itu padanya. Ia membiarkan tangannya menggantung di udara tanpa berniat membalas pelukan gadis itu. Terlebih ini tempat umum, Zahra bahkan memalingkan wajahnya seakan enggan menonton drama yang tersaji secara live di depannya.
"Kamu pasti kehilangan banget kan? Maaf aku enggak bisa datang ke rumah, karena semalam aku baru balik dari Thailand." tangan gadis itu mengusap punggung Rayyan dengan lembut.
"Ahh, maaf." jawab Nadine sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya. "Kamu... ada pertemuan disini Rayyan? Aku baru saja bertemu temanku disini. Kalo aku tau kamu juga kesini, mungkin aku bisa menggeser jadwalku setelah makan siang ini."
Mendapat deheman keras dari Zahra, Rayyan mengerti ia harus segera menyingkir dari Nadine dan segera masuk ke dalam. Mungkin saja Mr. Kimura telah datang lebih dulu dan menunggu mereka di dalam.
"Enggak perlu, Nadine. Aku harus bertemu klien penting."
"Hmm... kalo gitu aku akan coba atur waktu di weekend ini, mungkin aku akan berkunjung ke rumahmu. Oke?"
Rayyan hanya membalasnya dengan senyuman. Ia bisa saja menjawab perkataan Nadine dengan menolak maksudnya yang ingin datang ke rumah, namun ia takut melukai perasaan Nadine.
__ADS_1
"Aku masuk dulu ya, kamu... hati-hati di jalan."
"Terima kasih, Rayyan." jawab Nadine sebelum akhirnya Rayyan berlalu dari hadapannya.
Seperti hilang konsentrasi, Rayyan telah beberapa kali menginjak heels Zahra yang berjalan di depannya. Hal itu tentu membuat Zahra naik pitam, karena itulah ia hampir beberapa kali juga jatuh terjerembab jika ia tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Zahra yang berbalik tiba-tiba, membuat Rayyan hampir menubruk tubuh Zahra. Dengan sigap, Zahra mengangkat tas laptopnya ke depan badannya, membuat Rayyan kaget saat kepalanya menabrak tas tersebut.
"Bapak ini kenapa sih? Dari tadi nginjek sepatu saya mulu. Bapak sengaja ya mau bikin saya jatuh?" Zahra berucap dengan kesal.
"E-enggak gitu, Zah. Aku enggak sengaja."
"Enggak sengaja tapi berulang-ulang. Oh, atau jangan-jangan Bapak jadi hilang konsentrasi gara-gara tadi habis ketemu mantannya di depan?"
"Kamu ngomong apa sih, Zah?" Rayyan mulai terpancing emosinya, namun tetap mencoba menahannya.
"Saya bener kan, Pak? Habis ketemu langsung nge-blank gini. Ehh, bukan karena ketemu doang tapi juga dipeluk. Bener-bener deh Bapak ini, cuma dipeluk gitu doang aja usaha move on bertahun-tahun langsung ambrol. Lembek banget Bapak jadi cowok."
Rayyan menatap Zahra dengan tatapan tajam. Dirinya benar-benar diuji hari ini, harus berulang kali meredam emosinya agar tidak meledak.
"KIta kesini untuk ketemu klien, kamu jangan gagalin usaha kita selama ini Zah!"
"Harusnya saya yang ngomong gitu ke Bapak. Minggu lalu saya udah mati-matian yang ngebujuk Mr. Kimura untuk menerima tawaran kerjasama dengan kita. Awas aja kalo kerjasama itu batal karena Bapak enggak bisa fokus gara-gara itu cewek." Zahra bersungut-sungut, lalu memutar tubuhnya dan melangkah menuju ruang pertemuan yang telah dipesan untuk bertemu dengan Mr. Kimura.
Rayyan yang masih berdiri di tempatnya menatap Zahra yang telah terlebih dulu berjalan meninggalkan dirinya. Ia merasa sedang dipermainkan. Bagaimana bisa si personal assistant itu mengancamnya dengan begitu santai? Terlebih statusnya juga masih pegawai kontrak dan belum memperoleh gelar pendidikannya secara resmi, namun bersikap seolah-olah ia yang memiliki tender besar ini.
***
Maaf ya agak telat up-nya. Ini juga ngebut ngetiknya 😂
__ADS_1
Seperti biasa, saya cuma mau ngingetin jangan lupa untuk nge-vote, likes dan comments hehehehe....
Sehat-sehat terus ya readers 😘