
Happy reading 😊
***
Dengan langkah yang tergesa-gesa, Rayyan berjalan cepat menuju ruangannya. Ia hanya ingin segera sampai di ruangannya, lalu membicarakan hal serius yang diucapkan Zahra tadi dimobil. Sesaat setelah Zahra berkata jika dia menerima lamarannya, Rayyan terdiam sepanjang sisa perjalanan menuju kantor.
Entah kenapa banyak pikiran yang muncul dibenaknya. Ia masih tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita, lebih utamanya pada Zahra. Disaat ia kini sedang berusaha memberikan sebuah momen lamaran yang akan berkesan sepanjang hidup mereka, Zahra malah dengan mudahnya langsung menerima ajakannya menikah yang ia sampaikan beberapa hari yang lalu.
Sedangkan Zahra, hanya diam dan mengikuti Rayyan dibelakangnya. Zahra tahu jika Rayyan mungkin agak shock dengan apa yang dia ucapkan tadi. Apalagi beberapa hari yang lalu dia menolak lamaran Rayyan hanya karena alasan yang sepele. Namun kini, hanya karena gertakan dari Nadine langsung membuatnya mengiyakan lamaran Rayyan dengan mudahnya.
"Pak, ada berkas yang harus segera ditanda tangani." ucap bu Meta saat Rayyan akan menarik handle pintu ruangannya.
"Nanti ya bu, saya ada masalah urgent." jawab Rayyan dan langsung mendapat anggukkan kepala dari bu Meta.
Rayyan segera masuk ke dalam ruangannya, diikuti Zahra yang masih membawa barang bawaannya dengan lengkap.
"Kita harus bicara, Zah." ucap Rayyan sambil mengambil alih barang bawaannya yang dipegang Zahra dan meletakkannya dimeja.
Rayyan lalu menggandeng tangan Zahra dan duduk bersebelahan di sofa.
"Katakan padaku, Zah. Sebenarnya apa yang terjadi di restoran tadi. Aku yakin terjadi sesuatu padamu dan itu pasti berkaitan sama Nadine."
"Apa sih maksudnya?" Zahra menjadi salah tingkah.
"Ayolah, sayang! Aku tau kamu merahasiakannya dariku."
Zahra menghela nafasnya. Entah apa yang mendorong dirinya, saat itu tubuhnya langsung tergerak untuk memeluk tubuh kekasihnya. Rayyan sedikit tersentak dengan pergerakan Zahra, namun kemudian ia mengusap punggung Zahra dengan lembut dan mengcup puncak kepala gadis dalam pelukannya itu.
"Apa Nadine mengatakan sesuatu padamu?" tanya Rayyan.
__ADS_1
"Bukan mengatakan sesuatu, tapi meminta sesuatu."
"Meminta apa?" Rayyan melonggarkan pelukannya agar dapat menatap wajah Zahra masih menempel pada dadanya.
"Ya apalagi, tentu saja dia memintamu. Dia menyuruhku untuk melepasskanmu, dia bilang aku enggak pantas untuk menjadi istrimu karena latar belakang keluargaku." Zahra mengucapkannya dengan nada bicara yang kesal. Namun Rayyan justru tergelak. Bukan karena mendengar apa yang telah Nadine lakukan kepada kekasihnya, tapi karena ekspresi Zahra yang menggemaskan itu.
"Jadi kau menerima lamaranku karena ancaman Nadine tadi?"
"Tentu saja." jawab Zahra dengan menganggukkan kepalanya. "Aku akan mengamankan posisiku. Aku juga enggak akan rela kalo kamu sampai jatuh ketangan kak Nadine."
"Apa aku terlihat seperti barang?" tanya Rayyan dengan dahi yang berkerut. "Dengar, Zah, udah berulang kali aku ngomong agar kamu enggak terlalu mikirin soal Nadine. Aku enggak akan berpaling darimu, entah dengan Nadine atau dengan wanita mana pun. Tapi... soal keputusanmu tadi...." Rayyan menjeda kalimatnya, mencoba merangkai kalimat yang pas untuk disampaikannya kepada Zahra.
"Kenapa? Kamu enggak seneng? Padahal aku udah nerima lamaranmu." Zahra mencebikkan bibirnya sambil melepaskan pelukannya pada tubuh Rayyan.
"Ehh? Bukan begitu... maksudku, sepertinya kita harus melakukan lamaran ini dengan baik. Seperti yang kamu pernah bilang, lamaran ini seharusnya menjadi momen yang paling berkesan bagi kita. Jadi mungkin... kita membutuhkan sebuah acara yang formal."
"Kapan? Mungkin aku harus ngomong ke ayah dan bunda dulu biar kami bisa mempersiapkan segalanya."
Zahra kembali mendengus kesal, jawaban Rayyan barusan merupakan jawaban yang tidak dia inginkan untuk didengar. "Ini terdengar seperti kamu tidak berniat melamarku." ucap Zahra sambil beranjak dari duduknya, mengambil tas kerja dan barang bawaannya yang tadi diletakkan oleh Rayyan dimeja, lalu keluar dari ruangan Rayyan.
Sementara Rayyan menahan senyumnya, membiarkan Zahra keluar ruangannya dengan perasaan sedih tanpa penjelasan jika ia tengah menyiapkan acara lamaran mereka. Tentu Rayyan akan tetap diam, karena Rafa mengatakan ini akan jadi sebuah kejutan bagi Zahra. Yang menurut Rafa, itu akan menambah kadar romantis dalam acara lamaran itu sendiri.
***
"Iiihhh... enggak bisa gitu dong, bang. Mana bisa dibatalin secara sepihak! Lagian kan kemarin abang enggak ngasih tenggat waktu, kenapa sekarang jadi buru-buru?" Rafa berucap dengan kesal.
Baru saja abangnya itu mengatakan jika ia akan mempercepat acara lamarannya. Karena tidak tega melihat wajah cemberut Zahra sesorean ini, Rayyan mengubah rencananya. Ia ingin segera mengajak papa dan mamanya ke rumah orangtua Zahra untuk melamar. Besok kalo perlu! Rayyan tidak ingin mengulur waktu lagi lebih lama, bahkan Rayyan tidak berpikiran lagi untuk mengadakan sebuah acara lamaran yang romantis seperti sebelumnya. Baginya sekarang, melihat Zahra kembali tersenyum adalah hal yang paling utama.
Namun tentu saja itu langsung ditolak mentah-mentah oleh Rafa. Seharian ini dia dan juga Alita telah berpusing-pusing ria merancang acara lamaran untuk abangnya. Bahkan Rafa pun tidak yakin jika besok dia dapat melakukan hal seperti ini pada Alita. Ini benar-benar memusingkan, Rafa bahkan harus survei langsung ke beberapa restoran untuk mencari tempat yang pas sesuai permintaan abangnya.
__ADS_1
"Ya gimana, Zahra udah ngambek Fa gara-gara gue enggak bisa ngasih kepastian kapan ngelamar dia." jawab Rayyan sambil tetap terfokus pekerjaan pada laptopnya.
"Sabar dululah, Bang. Abang udah kayak kak Zahra hamil duluan aja jadi harus buru-buru dilamar."
Perkataan Rafa barusan langsung mendapat lirikan tajam dari Rayyan.
"Besok malem! Pokoknya gue enggak mau tau besok malem semuanya harus siap. Sepulang kerja gue akan langsung bawa Zahra ke lokasi."
Rafa membelalak sambil melongo mendengar perkataan abangnya. "Emangnya Rafa sulap bisa langsung jadi semuanya?"
"Ya lo mau enggak? Kalo lo enggak mau gue enggak masalah. Besok pagi gue akan reservasi tempat sendiri, terus ngabarin keluarga kita sama keluarganya Zahra. Udah kan kelar. Dan seenggaknya gue enggak harus repot-repot bayar elo."
"Yaelah bang sama adiknya sendiri aja perhitunga gitu." Rafa refleks mendorong bahu abangnya yang membuatnya kembali mendapat lirikan tajam dari Rayyan.
"Iya deh, besok kelar. Tapi janjinya jangan kelupaan. Motornya buat gue, bayarin uang janjinya kak Eowyn sama bonusnya juga. Abang udah janjiin itu ke Rafa kemarin."
Rayyan menganggukkan kepalanya, lalu menggerakkan telapak tangannya dengan maksud mengusir Rafa agar keluar dari kamarnya.
"Gue rebahan disini dulu lah Bang, sambil mikirin yang buat besok. Jadi kalo ada apa-apa bisa langsung nanya abang." ucap Rafa sambil merebahkan tubuhnya disofa samping meja kerja Rayyan.
"Keluar, Fa. Gue pusing kalo elo disini karena ngomomg melulu."
"Yaelah Bang, biar Rafa bisa langsung konfirmasi ke abang."
"Gue percaya sama elo." jawab Rayyan dengan tegas dan tidak dapat dibantah lagi oleh Rafa. Rafa segera bangkit dari kursinya, lalu berjalan menuju pintu kamar Rayyan sambil meneriakkan apa saja yang harus abangnya itu berikan padanya saat semua acaranya selesai.
***
Terimakasih udah setia banget nungguin abang ke up lagi. Maaf kalo akhir-akhir ini jadi jarang up ehehehehe....
__ADS_1
Vote poinnya jangan lupa ya. Yang belum baca Lean On Me sama Cupcake's Love boleh mampir dulu hehehehe.... Makasih 😘😘