
Happy reading 😊
...****************...
Jam makan siang telah berjalan beberapa menit. Zach dan Eowyn memutuskan untuk makan siang di cafeteria kantor karena Zach sedang banyak pekerjaan. Sejak kejadian memalukan beberapa menit yang lalu, Eowyn lebih banyak terdiam saat berada di dekat Zach. Ia benar-benar merasa malu, mencurigai Zach berpaling darinya sungguh membuatnya kapok.
"Kenapa? Makanannya enggak enak?" tanya Zach saat memandangi Eowyn yang terlihat tidak berselera makan.
Eowyn menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Enak kok." jawabnya lirih.
"Terus kenapa dari tadi cuma diaduk-aduk aja?"
Eowyn menatap makanannya, semangkok nasi rawon. Menu yang biasanya selalu membuatnya makan dengan lahap saat makan di cafeteria.
Tidak juga mendapat jawaban dari kekasihnya, Zach kembali bersuara. "Soal yang tadi?"
Zach terkesan santai dengan ucapannya. Bahkan nada bicara Zach terdengar seperti mengolok Eowyn karena Zach mengucapkannya sambil menahan tawa.
"Kenapa dari pagi enggak bilang kalo bakal ada temen kamu yang main ke kantor? Kalo kamu ngomong dari pagi, aku kan enggak akan berbuat bodoh kayak tadi." gerutu Eowyn dengan kesal.
Pikirannya masih mengarah pada Venny. Teman kekasihnya itu pasti akan menertawakan kebodohannya tadi dan akan selalu mengingatnya.
"Aku kan bakal malu kalo ketemu kak Venny lagi."
"Iya deh, maaf." hanya itu jurus terakhir yang bisa Zach keluarkan. Terlebih ini semua memang kesalahannya karena tidak memberitahu Eowyn jika hari ini ia akan sangat sibuk dan ada temannya yang akan datang.
"Udah, buruan makan deh ya. Ntar kamu bisa sakit kalo enggak makan siang. Apa mau disuapin?"
"Isshh... lagi di kantor juga!"
"Jadi kalo enggak di kantor mau disuapin?" Zach semakin gencar menggoda kekasihnya.
Namun, semuanya harus berakhir saat seseorang yang tidak diharapkan hadir disela-sela waktu makan siang mereka. Seseorang yang sempat membuat Zach cemburu dan waspada. Tidak hanya pada saat itu, tapi juga setiap lelaki itu berada didekat Eowyn.
__ADS_1
"Bolehkan gue bergabung duduk disini? Cafetaria ini terlalu rame dijam makan siang, dan kayaknya enggak ada bangku kosong lain selain disini." ucap Andrew dengan nampan berisi makanan ditangannya.
Seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Andrew, mata Zach dan Eowyn tanpa sadar melihat ke sekeliling mereka. Dan benar saja, dua bangku kosong hanya ada disebelah mereka. Sial sekali!
"Kalian enggak mungkin kan ngebiarin gue makan sambil berdiri?" Andrew kembali bersuara saat sepasang kekasih didepannya ini masih belum mempersilahkannya duduk.
"Ohh, duduklah." Zach mempersilahkan Andrew duduk dengan menarik bangku disebelahnya.
Tetapi nampaknya Andrew memiliki pilihan sendiri, dia justru menarik kursi disebelah Eowyn dan duduk disana. Mengabaikan bagaimana Zach yang telah berbaik hati mempersilahkannya duduk bersama mereka dan menarikkan kursi untuknya.
Eowyn menatap Zach, wajah lelaki itu masih terlihat tenang. Tapi Eowyn tahu Zach pastilah merasa kesal, sama seperti kejadian dulu. Saat dirinya menerima tawaran Andrew untuk mencicipi hidangan di restoran barunya.
"Kak Andrew... dalam rangka apa ke kantor?" Eowyn merasa perlu menanyakan hal itu. Karena menurutnya tidak ada alasan penting bagi Andrew untuk kesini kecuali untuk bertemu dengan papanya.
"Gue disuruh papa nganterin oleh-oleh ke om Adit. Karena pas banget jam makan siang, jadi gue disuruh om Adit makan disini dulu. Gue baru tau makanan di kantor kalian enak-enak."
Eowyn menganggukkan kepalanya dan kembali melirik ke arah Zach yang kini tampak cuek dan memilih untuk kembali menikmati makanannya.
Zach dan Andrew sontak menatap Eowyn dengan wajah kebingungan.
"Aku lupa jika tadi kita belum pesen pudding, aku pesankan dulu ya, sayang." jelas Eowyn sambil tersenyum ke arah Zach, lalu pergi meninggalkan dua lelaki itu.
Zach dan Andrew saling bertukar pandang untuk beberapa detik, sebelum akhirnya mereka kembali mengalihkan pandangannya ke makanan mereka masing-masing.
"Sepertinya kita seumuran. Eowyn bilang lo temen Rayyan sekolah dulu." Zach bersuara tanpa menatap Andrew.
Andrew menganggukkan kepalanya, lalu terkekeh pelan. Entah apa maksud dari kekehannya itu, namun sepertinya dia sedang menertawakan dirinya sendiri.
"Lo tau, gue udah ngincer Eowyn sejak lama." jawab Andrew dengan santai.
Zach menganggukkan kepalanya. Tentu saja ia tahu karena Eowyn telah memberitahunya kala itu.
"Gue tau." Zach sengaja menjawabnya dengan singkat. Kali ini keduanya kembali beradu pandang dengan tatapan yang sengit.
__ADS_1
"Eowyn yang cerita ke elo? Atau yang lain? Rayyan misalnya."
Zach menggelengkan kepalanya. "Eowyn yang ngomong ke gue. Semuanya yang dia tau tentang elo, dia ceritakan ke gue."
"Semuanya?" Andrew kembali terkekeh. Seolah tak percaya Eowyn membicarakan tentangnya kepada orang lain.
"Sepertinya semuanya. Karena dia yakin enggak ada hal terlewat."
Andrew mengangguk. Dia yakin Eowyn juga bercerita perihal ancamannya pada Rayyan dulu. Andrew meyakini hal itu karena Eowyn masih mencoba untuk menghindar darinya, dan juga sikap Zach sekarang yang hampir mirip dengan yang Rayyan lakukan padanya.
Meskipun dia telah meminta maaf kepada Rayyan, tapi tetap saja Rayyan bersikap begitu dingin padanya. Begitu pula dengan Rafa, bahkan Eowyn masih terlihat waspada ketika berada didekatnya. Dan kini, kekasih Eowyn yang berada dihadapannya pun bersikap sama seperti Rayyan padanya.
"Sepertinya hubungan kalian berjalan dengan mulus, bahkan gue lihat om Adit dan tante Salma ngasih lampu hijau ke elo. Jadi kayaknya, gue emang harus mundur."
Zach mendongakkan kepalanya, melirik tajam ke arah Andrew yang malah tersenyum padanya.
"Lo emang harusnya mundur sejak dulu, bro. Karena sampai kapan pun lo enggak bakal bisa dapetin Eowyn, meskipun Eowyn enggak berjodoh dengan gue sekali pun." Zach berucap dengan tegas.
Ada sedikit perasaan tidak terima ketika kalimat terakhirnya meluncur begitu saja dari bibirnya. Tetapi meskipun nanti ia memang tidak berjodoh dengan Eowyn, ia pun juga akan ikut melindungi Eowyn sama seperti Rayyan dan juga Rafa.
Andrew tersenyum kecut, lalu memilih untuk menyudahi makan siangnya. Meskipun makan siang di cafeteria ini enak, namun situasi yang dia ciptakan barusan benar-benar menghilangkan nafsu makannya.
"Gue tau, dan gue sadar diri." Andrew menyeka mulutnya dengan selembar tisu, lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri kursi Zach.
"Tapi kita enggak tahu bagaimana takdir akan berjalan nantinya. Kita liat aja ntar, bro. Don't be too serious." sambung Andrew dengan menepuk pundak Zach dan pergi meninggalkan cafeteria itu.
Zach mengetatkan gerahamnya, meskipun Eowyn tidak meladeni segala godaan dari Andrew, tapi kehadiran pria itu sangat membuatnya cemburu. Dan sepertinya kali ini telah impas. Jika tadi Eowyn yang merasa cemburu, maka sekarang dirinya yang gantian cemburu.
Tak berselang lama, Eowyn datang dengan membawa beberapa cup puding ditangannya. Gadis itu tampak kebingungan dan memandangi ke sekeliling cafeteria.
"Kak Andrew... kemana?" tanya Eowyn sambil duduk dan meletakkan cup pudding itu dimeja.
"Pulang. Katanya mules." Zach menjawab dengan santai sambil meraih cup puding di depannya dan melahapnya.
__ADS_1