
Happy reading 😊
***
"Untuk apa dia ikutan datang? Pak Alex kan udah sehat." bisik Zahra pada Rayyan.
Mereka sedang mengadakan pertemuan di sebuah restoran siang ini, untuk membahaa kelanjutan proyek dan juga sekalian makan siang. Memang saat membuat janji, pak Alex-lah yang menghubungi Zahra. Namun kini, Nadine justru ikut serta dalam pertemuan mereka siang itu.
"Enggak tau. Mungkin Nadine tau kalo aku masih kamu gantungin, jadi dia sengaja datang untuk coba godain aku." jawab Rayyan yang juga berbisik.
"Dihh, kepedean." jawab Zahra dengan kesal, lalu berdiri dari duduknya untuk menyambut kedatangan pak Alex dan juga Nadine.
"Maaf membuat kalian menunggu, jalanan cukup macet. Tapi kurasa, kalian senang bukan karena punya waktu untuk berduaan?" ucap Nadine sembari duduk. Dia terlihat santai, namun saat melirik ke arah Zahra terlihat sekali jika perempuan itu tidak menyukai Zahra.
"Tidak masalah. Aku dan Zahra memang butuh waktu berduaan yang lama untuk membahas persiapan pernikahan kami. Jika berada di kantor, kita udah saling sibuk sendiri."
Rayyan langsung mendapat sikutan dari Zahra. Sementara Nadine dan pak Alex yang duduk dihadapan mereka membelalakkan matanya karena terkejut mendengar pernyataan Rayyan.
"A-apa kamu bilang? Kalian akan... m-menikah?" Nadine berucap dengan terbata, dan Rayyan menjawabnya dengan anggukan kepala.
Dia tidak menyangka jika akan mendengar hal itu dipertemuan siang ini. Terlebih Rayyan dan asistennya itu baru beberapa bulan yang lalu mulai menjalin hubungan, dan kini mereka sudah akan menikah?
"Kau... bercanda kan, Rayyan?" Nadine memastikan kembali.
"Enggak. Aku enggak bercanda, apalagi untuk hal yang berhubungan dengan pernikahan." Rayyan masih menjawab dengan santai, sementara Zahra mulai gelisah karena Nadine terlihat begitu terpukul dengan apa yang baru saja diucapkan kekasihnya itu.
"T-tapi... kalian baru saja menjalin hubungan. Bagaimana bisa... bagaimana bisa kalian udah langsung memutuskan untuk menikah?"
"Menikah tidak harus menunggu sebuah hubungan bertahan hingga bertahun-tahun lamanya, Nadine. Bahkan yang telah berjalan lama pun bisa saja kandas dan tidak jadi menikah kan?" Rayyan mengucapkannya tegas.
"Aku rasa ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya. Ini masalah pribadi kami, dan kalian datang kesini untuk membahas pekerjaan. Tapi, akan aku pastikan kalian menerima undangan pernikahan kami nanti. Jadi nantinya tidak perlu menanyakan hal ini berulang-ulang." imbuh Rayyan.
__ADS_1
Rayyan hanya ingin Nadine menyadari posisinya, lalu mundur dan tidak membuat Zahra terancam akan posisinya. Pertemuan siang itu tentu membuat Nadine semakin tidak nyaman. Berulang kali dia berusaha untuk kembali mendapatkan Rayyan, namun kini Rayyan seolah telah menutup semua aksesnya.
***
"Kita harus bicara." ucap Nadine pada Zahra. Nadine sengaja menunggui Zahra yang saat itu sedang di toilet.
Bagi Nadine, ini belum terlambat. Katanya jika janur kuning belum melengkung, apapun bisa terjadi. Bahkan pada beberapa pernikahan juga hancur karena godaan orang ketiga kan?
"Ya, bicara saja. Aku akan mendengarkannya sambil cuci tangan." jawab Zahra sambil berjalan menuju wastafel.
Nadine mendengus kesal. Dia tidak menyangka jika Zahra bisa semenyebalkan ini sekarang. Namun akhirnya, dia menuruti permintaan Zahra juga.
"Tinggalkan Rayyan!" ucap Nadine tanpa malu-malu.
Zahra menghentikan gerakan cuci tangannya. Zahra sempat mematung memandangi pantulan bayangan Nadine yang berdiri dibelakangnya dari cermin. Menghembuskan nafasnya dengan perlahan, Zahra mencoba menenangkan dirinya untuk tidak terpengaruh dengan perkataan Nadine.
"Kenapa? Kenapa aku harus meninggalkannya?" tanya Zahra sambil mematikan keran air, lalu membalikkan badannya berhadapan dengan Nadine.
"Apa karena aku terlahir dari keluarga yang biasa-biasa saja jadi aku tidak pantas bersanding dengannya?"
"Kamu seharusnya memahami itu sebelum mulai menjalin hubungan dengan Rayyan, Zahra. Rayyan merupakan pewaris di keluarganya, Rayyan butuh sosok yang sepadan dengannya."
Zahra tertawa sinis. "Jadi kak Nadine sepadan dengan kak Rayyan?"
"Rayyan hanya tergoda padamu karena kau menawarkan diri padanya. Lelaki tidak akan menolak jika ada wanita yang menyerahkan dirinya pada mereka."
"Apa kakak bilang?" Zahra benar-benar terpancing sekarang. Ingin rasanya ia menarik bibir Nadine dengan tang.
"Aku udah cukup sabar selama ini, tapi kayaknya ini udah mulai kelewatan. Asal kakak tau ya, aku sama sekali enggak pernah godain kak Rayyan atau sampai menyerahkan diri padanya. Semua ini terjadi karena kak Rayyan yang ngejar-ngejar aku. Bahkan soal kejadian sekamar berdua, itu juga karena kak Rayyan yang memaksa. Tapi kami tidak melakukan tidur bersama seperti yang kakak pikirkan. Jadi kalo sekarang kakak memintaku untuk melepaskan kak Rayyan, makan jawabanku 'enggak'. Sampai kapan pun enggak akan aku lepaskan, jadi aku rasa urusan kita selesai sekarang." Zahra melangkahkan kakinya dan dengan sengaja menabrakkan bahunya pada tubuh Nadine.
Zahra berjalan dengan cepat menuju meja tempat Rayyan dan pak Alex masih duduk santai disana. Sebisa mungkin ia menahan emosinya untuk tidak marah saat itu juga. Ia tidak ingin pak Alex menduga yang tidak-tidak terhadapnya.
__ADS_1
"Udah selesai?" tanya Rayyan begitu Zahra telah kembali ke tempat duduknya.
"Hm, kita bisa kembali ke kantor sekarang kan?" ucap Zahra sambil membereskan barang bawaannya.
"Oke, kita kembali sekarang."
***
"Kamu kenapa sih? Kalo kamu diem aja kan aku juga enggak tau apa penyebabnya." tanya Rayyan sambil mengusap rambut Zahra.
Sejak meninggalkan restoran tadi hingga hampir separuh perjalanan mereka, Zahra hanya diam saja dan menatap ke arah luar jendela. Zahra selalu menggelengkan kepalanya setiap Rayyan bertanya padanya.
"Kamu marah gara-gara Nadine?"
Zahra tidak menjawab, ia hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Nampaknya Zahra masih merasa emosi dengan kejadian di kamar mandi tadi.
"Baiklaaahhh... kayaknya aku harus ngasih kamu waktu dulu untuk menenangkan diri. Aku akan nunggu sampai kamu siap buat cerita." Rayyan memiringkan kepalanya setelah menginjak rem berhenti di lampu merah.
Rayyan mencoba mencuri pandang wajah kekasihnya yang sedang marah itu. Sambil tersenyum, Rayyan mencubit gemas pipi Zahra.
"Iiihhh... sakit tau!" dengus Zahra dengan kesal, lalu meraih tangan Rayyan untuk digenggamnya.
"Soal... lamaran kamu beberapa waktu yang lalu, aku sudah memikirkannya."
Ucapan Zahra barusan membuat Rayyan mengatupkan bibirnya, membuka telinganya selebar mungkin untuk mendengar dengan seksama apa yang mungkin akan Zahra katakan padanya.
"Aku menyetujuinya." jawaban Zahra barusan nampaknya masih membuat Rayyan kebingungan, Rayyan masih terpaku memandangi Zahra.
"Ayo kita menikah. Aku bersedia menikah denganmu dan menjalani sisa hidupku denganmu."
Belum sempat bibir Rayyan terbuka untuk memberikan responnya, suara klakson mobil dibelakangnya membuatnya bergegas untuk melajukan mobilnya.
__ADS_1