
Happy reading 😊
****
Sambil memainkan ponselnya, Rafa yang sedang duduk dimotor sport-nya menunggu sang kekasih keluar dari fakultasnya. Meskipun cuaca hari ini cukup terik, namun demi sang pujaan hati, itu tak menjadi masalah besar baginya.
"Sayang...." panggilan itu membuat Rafa menengok ke arah gerbang fakultas.
Alita nampak berlari kecil sambil menenteng backpack-nya. Rafa tersenyum, gadis satu ini benar-benar mencuri segala perhatiannya. Bahkan membuatnya enggan berpaling hanya untuk sekedar melirik gadis lain seperti yang ia lakukan dulu.
"Pelan-pelan, kenapa sih lari-lari?" tanya Rafa sambil mengulurkan helm pada Alita.
"Aku laper hehehehe...."
Rafa diam sejenak, mungkin ini adalah kesempatan baginya mengajak Alita untuk menemui Mamanya. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Alita bisa makan dan kenyang, dirinya juga berhasil mempertemukan Alita dengan Mamanya. Dan yang lebih penting, ia bisa menghemat uang sakunya bulan ini. Mantap!
"Mau makan di rumah enggak?" ucapnya sambil tersenyum penuh arti.
"Rumahku? Jauhlah, Yang."
Rafa menggelengkan kepalanya. "Ke rumahku lah. Mamaku pengen ketemu sama kamu."
"Eh? Kenapa? Kan... dulu udah pernah pas kita baru awal jadian." Alita mulai gelagapan.
"Ya itu kan dulu, Mama udah lupa. Semalem Mama bilang pengen ketemu sama pacar aku yang udah bikin anaknya tobat ini."
Alita terdiam, ia nampak menimbang ajakan Rafa. Terlebih ini dadakan, ia bahkan belum sempat mempersiapkan diri untuk menemui calon mertuanya itu.
"Iiihhh... aku belum siap-siap, Yang. Agak bau asem juga ini tadi bolak-balik ke ruang dosen." kata Alita sembari mencium aroma dari ketiaknya secara bergantian.
"Enggak apa-apa. Mama justru akan lebih seneng kalo kamu tampil apa adanya, kamu tetep cantik kok."
"Hmmm... yaudah deh." jawab Alita yang kemudian mencangklong tasnya dan naik ke motor Rafa.
🎎
Sementara di rumah, Eowyn sedang membantu Mamanya menyiapkan menu makan siang bersama bi Yati. Beberapa waktu yang lalu, Rafa memberitahukan kepada Eowyn bahwa ia akan makan siang di rumah bersama Alita.
Salma benar-benar tidak menyangka jika si bungsu akan secepat itu mengajak kekasihnya ke rumah. Diantara tiga anaknya, memang Rafa-lah yang sering membawa gadis ke rumah dan diperkenalkan sebagai pacar. Ya meskipun wajahnya akan berubah beberapa bulan kemudian jika masa berlakunya telah habis.
"Kamu buruan cari pacar tuh, masa kalah sama Rafa." goda Salma sambil menumis bumbu.
__ADS_1
"Hahahahaha... Mama ngebandinginnya sama Rafa, enggak bakal pengen aku. Tapi kalo Mama ngebandinginnya sama Zahra, baru deh aku bisa mupeng."
"Yaudah buruan nyari bareng Zahra."
"Iiihhh... Zahra mah susah, Ma. Dulu dia pernah ditembak anak hukum aja ditolak, padahal cowoknya cakep."
"Nah, Zahra ada cerita pernah ditembak. Kamu kok enggak pernah?"
"Pernah lho, dulu tapi pas SMA hahahahaha...."
"Oohhh... yang anak OSIS sering antar jemput kamu itu ya?"
Eowyn mengangguk. "Aku kena karma karena dia kayaknya, Ma. Dulu mau dianter jemput tapi enggak mau sama orangnya. Ehh, sekarang boro-boro ada yang deketin. Dulu Mama habis wisuda, nikah sama Papa. Lah aku? Mau wisuda aja enggak ada gandengannya."
Salma tersenyum. "Sabar, nanti kalo udah waktunya juga dateng jodohnya."
"Mama enggak akan buru-buruin aku buat nikah kan?"
"Kenapa kamu tanya gitu?"
"Ya barangkali karena aku anak cewek dan biasanya nikahnya paling cepet."
"Kamu enggak usah khawatir, Mama sama Papa enggak akan maksa kalian untuk cepet-cepet nikah. Kalo kamu mau lanjur S2 di luar negeri kayak abang, Mama setuju aja."
"Nanti aku pikirin deh, Ma."
"Udah, cuci tangan sana. Mama mau bikin bumbu semur ayamnya dulu, ntar Rafa keburu sampai di rumah."
Bi Yati segera mengambil alih tugas membuat bumbu semur ayam. Eowyn nampak beralih menikmati puding yang baru saja dia ambil dari kulkas. Ia memang tidak pandai memasak seperti Mamanya, tapi ia senang mengamati Mamanya memasak. Baginya, Mamanya itu layaknya chef.
Sang Mama selalu memastikan anggota keluarga selalu makan makanan sehat dan bergizi, dengan menu yang bervariatif dan rasa yang luar biasa enaknya. Inilah yang dulu menjadi penghalang langkahnya untuk kuliah di luar negeri. Karena ia takut berjauhan dan tak bisa menahan rindu pada masakan sang Mama.
Suara sapaan mengalihkan pandangan Salma dan Eowyn. Rafa baru saja datang dengan menggandeng Alita yang nampak malu-malu itu.
"Widiiihhh... di dalem rumah aja pake acara digandeng, takut ilang ya?" goda Eowyn.
"Wooo... kita mah selalu mesra ya, Yang?" jawab Rafa sambil menoleh ke arah Alita yang tersenyum malu.
"Udah cuci tangan dulu sana, Mama siapin makanannya di meja dulu ya." perintah Salma yang dijawab anggukan oleh Rafa dan Alita.
Setelahnya, Alita mendekati Salma untuk menyalaminya.
__ADS_1
"Maaf ya Rafa jadi maksa kamu kesini, Tante cuma pengen ketemu dan ngobrol sama kamu."
"Enggak dipaksa kok, Tante. Kebetulan emang hari ini cuma sampai jam sebelah doang, jadi bisa main kesini."
"Ayo duduk, kita makan siang dulu. Eowyn, udahan makan puddingnya. Kita harus makan siang sekarang."
Alita nampak sedikit canggung, ini adalah pertama kalinya ia makan bersama keluarga Rafa, meskipun hanya ada Mamanya dan Eowyn. Sebelumnya, ia hanya mampir sebentar untuk menunggui Rafa yang akan berganti pakaian.
"Kamu mau semur ayam?" tanya Salma pada Alita dan dijawab dengan anggukan. "Dari kecil Rafa seneng banget sama semur ayam. Kalo Tante masak ini, kadang dia suka gadoin." imbuhnya sambil meletakkan daging ayam di piring Alita.
"Ini ada sayur kesukaanmu, Yang. Tau aja nih Mama kalo Alita suka tumis kacang panjang." ucap Rafa sambil menyendok sayur tersebut ke piringnya.
"Emangnya Mama peramal? Tadi asal aja Mama sama bi Yati nyiapinnya. Tapi karena sekarang udah tau kalo Alita suka tumis kacang, besok kalo kita makan bareng lagi Tante masakin deh ya."
"Hehehehe... iya Tante, terima kasih."
"Enggak usah canggung, Lit. Anggap aja kayak makan sama keluarga lo sendiri. Tapi ya makanannya gini ya, seadanya. Cuma masakan rumahan biasa." ucap Eowyn sambil tersenyum ke arah Alita.
"Iya Kak, aku malah seneng kok. Di rumah aku masakannya juga masakan rumahan, karena Papa enggak mau makan kalo menunya aneh-aneh."
"Rafa pernah main ke rumah kamu?" tanya Salma.
"Eee... kalo yang main sampai masuk rumah terus makan bareng gini belum pernah, Tante. Cuma kalo anter jemput ke rumah ya sering." Alita menjawab dengan terbata-bata.
Salma segera melemparkan tatapan tajam ke arah Rafa yang asik menikmati makan siangnya.
"Main, Fa! Kalo kamu bilang beneran serius sama Alita, kamu itu harus kenal keluarganya juga. Kamu tuh bukan tukang ojek yang cuma anter jemput Alita sampai depan rumah doang, enggak sopan itu namanya!" omel Salma.
"Iya, Ma. Nanti Rafa main deh ke rumah Alita." Rafa tersenyum imut untuk meredakan omelan Mamanya.
"Udah, Ma. kita makan dulu aja, kasian tuh Alita kelaperan." kata Eowyn sambil mengusap punggung tangan Mamanya.
Salma mengangguk. "Maaf ya, Alita. Rafa emang gitu, harus diomelin dulu baru paham. Nanti Tante juga minta nomer hape kamu ya, biar kalo ada apa-apa kamu bisa lapor ke Tante."
Alita mengangguk dan tersenyum. Sedangkan Eowyn terlihat tersenyum puas sambil mencibir Rafa yang masih ternganga dengan ucapan Mamanya barusan.
"Mati lo!" ucap Eowyn tanpa bersuara.
***
Hari ini 1 episode aja ya, besok insya Allah di-up lagi kalo enggak sibuk ehehehehe.... Jangan lupa kasih likes, comments sama vote-nya. Terima kasih 😊😘
__ADS_1