MENIKAH

MENIKAH
S2 - Sakit (1)


__ADS_3

Happy reading 😊


***


"Kamu yang kompreslah! Anggap aja itu sebagai bentuk pertanggung jawabanmu atas minuman spesial buatanmu tadi." ucap Rayyan sambil tiduran berbantal salah satu lengannya dan menyeringai ke arah Zahra.


Zahra terlihat enggan melakukan permintaan yang diutarakan Rayyan barusan. Ia masih saja memalingka wajahnya sambil menggenggam erat botol yang ia pegal.


"Kalo kayak gini caranya, malah tanganmu yang kekompres, Zah. Bukan perutku." Rayyan berucap manja, layaknya anak kecil yang sedang merengek untuk dibelikan sesuatu.


"Cepetan sih, Zah. Melilit banget ini." sambung Rayyan sambil meringkukkan badannya, membuat Zahra mau tidak mau menoleh ke arah Rayyan.


"I-iya, Pak. Tangan bapak awas dulu, saya mau naruh botolnya." Zahra berucap dengan terbata.


Ia semakin terjingkat saat tangan Rayyan mencekal pergelangan tangannya yang sedang memegang botol, lalu membawanya menempel pada perutnya. Matanya terpejam dan cekalan itu tak terlepas, Rayyan justru semakin mengeratkannya dan menekannya. Membuat Zahra kian merona saat kulit mereka bersinggungan seperti itu.


"Masih sakit, Pak?" tanya Zahra dengan hati-hati.


Rayyan hanya mengangguk, membuat Zahra terpaksa menatap tangannya yang masih dipegangi Rayyan. Pasti melilit sekali, Rayyan bahkan sampai harus menahan rasa sakitnya selama meeting dengan Nadine tadi.


Tanpa sadar, mata Zahra menelusuri perut Rayyan yang untuk pertama kalinya ia lihat itu. Merasa penasaran bagaimana rasanya jika menyentuh permukaan perut terlihat yang kotak-kotak itu disentuh. Akankah itu terasa keras? Atau malah sebaliknya?


Belum juga Zahra puas membayangkan kotak-kotak diperut Rayyan, mata Zahra teralihkan dengan sebuah lekukan diperut bawah Rayyan yang tampak mengintip dari balik celananya. Zahra tahu kemana arah lekukan itu. Ahh, Zahra kembali merona membayangkan ujung jemarinya yang menari-nari diatas sana. Zahra kembali memejamkan matanya, mencoba mengusir pikiran nakal yang baru saja muncul diotaknya


"Kamu lihat perutku aja udah seneng ya, Zah?" suara Rayyan benar-benar langsung berhasil mengusir pikiran kotor Zahra, secepat kilat!


"Enggak! S-siapa juga yang seneng." Zahra menundukkan kepalanya sambil mencoba menarik tangannya yang masih dicekal oleh Rayyan, namun usahanya sia-sia.


"Enggak usah bohong. Aku tau kok kamu dari tadi liatin bagian perutku. Kenapa? Belum pernah liat ya sebelumnya?" sepertinya Rayyan memang benar-benar beniat menggoda Zahra.


"Apaan sih, Pak?" Zahra berkilah sambil terus berusaha menarik tangannya, tapi Rayyan semakin erat memegangnya.


Rayyan tersenyum geli melihat ekspresi malu-malu Zahra. Berbeda dengan beberapa detik yang lalu saat ia mengintip dan mengamati Zahra yang nampak takjub dengan perutnya.


Rayyan mengangkat tangan Zahra yang ia pegang, lalu melepaskan botol yang sedari tadi Zahra pegang.

__ADS_1


"Bapak mau ngapain? Kok botolnya diambil?"


"Telapak tanganmu merah nih, aku yakin ini panasnya udah sama dengan botol yang buat ngompres tadi. Jadi sama aja kan kalo ngompresnya pake tangan kamu?" dan seketika itu pula Rayyan menempelkan telapak tangan Zahra diperutnya.


Tentu saja hal itu membuat Zahra menjadi gelagapan. Bahkan bibirnya seolah menjadi kelu dan susah berkata-kata untuk memaki Rayyan yang dengan seenaknya berbuat demikian. Parahnya lagi mata Zahra seakan enggan untuk berpaling, mengamati tangannya yang dipaksa Rayyan mengusap perutnya.


"Bapak beneran mesum deh!" Zahra menarik tangannya sekuat tenaga. Lalu setelahnya menggeser duduknya dan menjauh dari Rayyan.


Rayyan justru terlihat santai, ia malah tertawa. Menertawakan Zahra dan dirinya sendiri yang sudah begitu gila hingga menggoda Zahra demikian.


"Tapi dengan ini aku yakin kamu belum berpengalaman dengan cowok." ucap Rayyan sambil beranjak dari posisi tidurannya. "Dan aku jadi cowok mesum pertamamu kan?" tanyanya sambil merapikan kembali kemejanya.


"Aku mau pulang aja, Zah. Aku mau istirahat aja di rumah, nanti kamu balik sendiri enggak apa-apa kan?" Rayyan meraih jasnya yang tersampir disofa, lalu berjalan menuju pintu ruang kerjanya.


"Pak..." Zahra memanggil, menatap Rayyan seolah enggan untuk ditinggal pulang.


"Hm?" jawab Rayyan sambil menengok ke arah Zahra.


Zahra tidak langsung, matanya justru beradu pandang dengan Rayyan untuk.beberapa saat.


Rayyan tersenyum. "It's OK, Zah. Aku balik duluan ya." jawab Rayyan sambil tersenyum lalu keluar meninggalkan ruangannya.


***


Zahra memang tidak pulang malam hari ini. Setelah beberapa bulan bekerja dengan Rayyan, ini adalah kali pertama Rayyan tidak mengantarnya pulang. Mungkin karena permintaan Eowyn, Rayyan dengan terpaksa selalu mengantarnya pulang meskipun ia telah memaksa akan pulang naik transportasi umum.


Malam semakin larut, saat Zahra belum juga dapat memasuki alam mimpinya. Berulang kali memejamkan matanya, berulang kali itu pula matanya memaksa untuk terbuka. Pikirannya masih berkelana, memikirkan bagaimana kondisi Rayyan saat ini.


Ia tahu saat pulang menjelang sore tadi, kondisi Rayyan tidak baik-baik saja. Meskipun terlihat biasa saja, wajah Rayyan memang terlihat sedikit pucat. Itu pasti karena menahan sakit pada lambungnya.


Menyerah dengan usahanya, Zahra akhirnya bangun dan meraih ponselnya yang berada di nakas. Menggeser layar pada ponselnya, Zahra mencari kontak whatsapp bosnya. Zahra bertambah khawatir saat melihat keterangan last seen ponsel Rayyan terjadi pada siang hari. Mungkin itu saat makan siang mereka, saat Rayyan mengatakan jika ia ingin melaporkan hasil pertemuan pada papanya.


Zahra memutuskan untuk menekan foto profil Rayyan, foto yang diambil saat Rayyan sepertinya sedang berlibur dengan naik kapal pesiar.


"Pak Rayyan baik-baik aja kan?" gumam Zahra sambil mengusap foto Rayyan pada layar ponselnya.

__ADS_1


***


Pagi ini Zahra cukup dapat bersantai, karena ia tidak harus berangkat lebih pagi untuk membantu bu Meta menyiapkan segala pekerjaan Rayyan. Hari ini memang Rayyan tidak sibuk, tidak ada jadwal meeting atau lainnya. Rayyan akan seharian berada di kantor untuk melakukan pekerjaannya, atau malah rebahan di sofa sambil main game di ponsel seperti biasanya.


Saat sedang asik mengobrol dengan bu Meta, Zahra sedikit curiga Rayyan belum juga menampakkan dirinya.


"Bu... pak Rayyan kok tumben belum dateng ya?" tanya Zahra sambil melongok ke arah lift.


"Emang enggak ngabarin kamu, Zah?"


Zahra menggelengkan kepalanya, lalu mengambil ponselnya di dalam tas. Lagi-lagi ia mengecek ponselnya, tidak ada kabar sama sekali dari Rayyan.


"Last seen-nya kemarin siang jam satu empat lima, Bu."


"Coba kamu hubungin, barang kali pak Rayyan ada urusan mendadak."


Zahra mengangguk. "Aku ke dalam dulu ya bu, cek berkas. Takut-takut ntar ditanyain."


Zahra pergi meninggalkan bu Meta tepat setelah bu Meta menganggukkan kepalanya. Bukan karena ingin mengecek berkas, tapi Zahra tidak ingin ia terlihat canggung saat menelpon Rayyan.


Suara sambungan telpon sudah terdengar beberapa kali, tetapi tidak juga ada jawaban dari sang pemilik nomer. Hingga saat Zahra mulai putus asa, lelaki itu mengangkat telponnya.


"Kenapa, Zah?" suara itu terdengar seperti orang yang baru saja bangun tidur.


"Eeee... Bapak... enggak ke kantor hari ini?" Zahra mencoba menutupi kegugupannya.


"Kenapa? Kangen ya?" bahkan jika benar Rayyan baru saja bangun tidur, ternyata tak membuat Rayyan untuk tidak menggoda Zahra.


"Aku sakit, Zah. Hari ini aku enggak ke kantor ya? Kamu kesini aja."


"Hah? K-kenapa saya harus kesana, Pak?"


"Aku butuh kamu...."


Baru mendengar jawaban itu saja sudah membuat Zahra tersipu malu.

__ADS_1


"... untuk bawain berkas yang ada dimejaku sekarang. Tolong ya, Zah."


__ADS_2